
Ketika Rara dan
Arnold menikmati makan siang di kantor Arnold, Alex tampak sedang meeting
dengan salah satu clientnya di sebuah restaurant. Romi belum datang saat itu
dan kebetulan clientnya yang datang adalah seorang wanita muda dan seksi.
Linda : “Pak Alex
ini baik sekali ya. Saya minta diskon dikasi, minta tambahan desain juga dikasi
free. Kalo minta yang lain, dikasi nggak ya?”
Alex : “Bu Linda
bisa saja. Memangnya apa lagi yang masih kurang dari proposal penawaran kami?”
Linda : “Gak ada
sich. Saya cuma penasaran, Pak Alex masih single atau...”
Alex : “Saya sudah
menikah dan punya anak 5.”
Linda : “5?! Wah,
hebat sekali ya. Kuat sekali sampai punya anak 5.”
Alex : “Ya, dikasi
rejekinya 5, bu Linda. Silakan minum dulu. Asisten saya akan datang sebentar
lagi membawa perjanjiannya.”
Linda : “Kenapa
buru-buru, Pak Alex. Kita bisa ngobrol lebih banyak kan kalau asisten bapak
masih lama.”
Alex hanya
tersenyum menanggapi clientnya yang mulai menggoda dengan tatapan genit.
Resikonya berwajah tampan meskipun sudah kepala 4, yang penting ia tetap bisa
menjaga batasannya antara pekerjaan dengan masalah pribadi.
Linda : “Istri pak
Alex seperti apa? Pasti cantik kan?”
Alex : “Iya, dia
sangat cantik. Sangat menawan malah.”
Linda : “Saya jadi
penasaran ingin bertemu dengan istri bapak.”
Alex : “Dia sedang
di rumah, menjaga anak kembar kami.”
Linda : “Oh, ibu
rumah tangga. Pasti biasa pakai daster aja.”
Alex : “Saya gak
pernah lihat dia pakai daster. Saya berangkat ke kantor sama pulang dari kantor
dia selalu pakai lingerie.”
Linda : “Bapak suka
yang seperti itu?”
Alex : “Maksud,
ibu?”
Linda : “Lingerie.
Bapak suka yang model apa?”
Alex : “Sepertinya
pembicaraan kita agak menyimpang.”
Alex merasakan
sesuatu merayap di kakinya dan terus naik sampai ke pahanya. Tanpa melihat,
Alex tahu kalau kaki wanita yang duduk di depannya ini adalah pelakunya. Alex
tersenyum masam, ia tidak bergerak dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
Sungguh kalau bisa
ia ingin meninggalkan wanita ini saja, toh perjanjiannya bisa dikirim lewat
Romi. Tapi Alex berusaha tenang dan tidak terprovokasi dengan aksi nakal wanita
ini. Melihat pria di depannya tetap tenang setelah serangan yang
dilancarkannya, Linda semakin tertarik dengan Alex.
Ia semakin
penasaran seberapa kuat Alex sampai bertahan dari wanita cantik seperti
dirinya. Linda menggeser duduknya dan semakin berani merayapkan kakinya
mendekati bawah perut Alex. Saat itu Alex tersenyum melihat seseorang muncul
dari pintu restaurant,
Alex : “Mia!”
Mia menoleh ketika
namanya dipanggil dan tersenyum pada Alex. Tapi keningnya mengkerut melihat
kalau Alex tidak sendirian. Mia berjalan dengan cepat mendekati meja Alex dan
Linda.
Alex : “Sayang,
kamu disini? Mau beli apa?”
Melihat suaminya
duduk bersama seorang wanita cantik, Mia sebenarnya ingin marah-marah, tapi ia
melihat kalau Alex tidak berniat berselingkuh darinya. Kalau iya, wajahnya
pasti sudah panik dan gak mungkin Alex akan memanggil dirinya.
Mia : “Ibu lagi gak
enak badan, mas. Aku mampir ke apotek nebus obat. Sekalian mampir kesini mau
beli puding pesanan Rara. Mas ngapain disini? Udah makan?”
Alex : “Mas udah
makan. Kenalkan ini ibu Linda, client kita, sayang. Ibu Linda, ini Mia, istri
__ADS_1
saya.”
Mia mengulurkan
tangannya diiringi senyuman manis yang disambut enggan oleh Linda.
Linda : “Ini
istrinya Alex, muda sekali. Uda punya 5 anak, badannya mekar. Lebih bagus
badanku.” Batin Linda sambil men-scan tubuh Mia.
Mia : “Apa-apaan
wanita ini? Ngeliatin aku sampai begitu. Emang kenapa kalau badanku mekar? Yang
penting dadaku lebih besar darimu, *****.” Batin Mia.
Entah kenapa Mia
gak suka melihat wanita client Alex ini. Ia mencium bau pelakor dari parfum
wanita ini. Alex melihat kilatan petir diantara kedua wanita di depannya. Ia
tidak mau ambil resiko kesetrum dan segera meredakan suasana yang mulai
memanas.
Alex : “Sayang, aku
ada meeting disini sama Ibu Linda, Romi juga mau datang. Kamu pesen pudingnya
dulu ya.”
Mia : “Iya, mas.”
Pelayan berjalan
cepat menghampiri Mia dan mencatat pesanannya. Ia juga memesan jus jeruk untuk
dibawa pulang.
Alex : “Kamu gak
minum disini sambil nunggu?”
Mia : “Aku gak bisa
lama-lama, mas. Mb Minah jagain si kembar sendirian. Takutnya mereka rewel.”
Alex menyodorkan
jus jeruknya pada Mia,
Alex : “Ini minum
dulu, diluar kan panas banget.”
Mia : “Iya, mas.”
Linda mengepalkan
tangannya di bawah meja. Kakinya bergerak mencari sebelah sepatunya yang tadi
ia lepaskan untuk menggoda Alex, tapi tidak ia temukan. Linda tidak tahu, saat
perhatiannya teralihkan dengan kedatangan Mia, Alex sudah menendang sepatunya
sampai jauh ke bawah meja pelanggan di belakangnya.
Alex meraba
punggung Mia yang duduk di sebelahnya, membuat istrinya itu merinding karena
baju yang dipakainya saat itu terbuat dari bahan yang tipis berlapis.
Mia : “Uhuk!”
saat Alex meraba pinggangnya. Sebagai gantinya Mia mencubit pelan paha Alex.
Keduanya tersenyum penuh arti satu sama lain, mengacuhkan Linda yang semakin
kesal melihat kemesraan pasangan suami istri itu.
Linda : “Romi
kenapa lama sekali ya?”
Alex : “Oh, apa Ibu
Linda terburu-buru?”
Linda : “Tidak
sich, tapi saya ada janji lain setelah ini, disini juga.”
Alex : “Coba saya
telpon. Ach, itu dia datang.”
Romi datang sambil
melambaikan map yang dibawanya. Romi tersenyum melihat Mia duduk bersama Alex.
Romi : “Hai, Mia.
Kau disini juga. Selamat siang, Bu Linda. Ini perjanjiannya.”
Linda segera
membaca perjanjian itu dengan cepat,
Linda : “Dimana
saya harus tanda tangan?”
Romi menyerahkan
pulpen dan menunjuk setiap lembar perjanjian yang harus di tanda tangani oleh
Linda. Setelah selesai, Romi menyerahkannya pada Alex dan melakukan hal yang
sama. Alex memberikan perjanjian itu pada Romi.
Romi : “Ini untuk
Ibu Linda dan ini untuk kami.”
Alex : “Terima
kasih atas kerja samanya, Bu Linda.”
Alex menjabat
tangan Linda dan Romi juga melakukan hal yang sama. Saat itu pesanan puding Mia
juga sudah siap. Pelayan memberikannya pada Mia,
Mia : “Terima
kasih.”
Romi : “Mb, minta
bill-nya sekalian.”
Linda : “Ach, biar
saya saja yang selesaikan bill-nya. Sebagai tanda kerja sama kita.”
Sungguh, Linda
__ADS_1
ingin agar Alex, Mia, dan Romi segera pergi dari sana agar ia bisa menemukan
sepatunya.
Alex : “Oh, terima
kasih Ibu Linda. Kalau begitu kami permisi dulu.”
Alex segera
menggiring Mia dan Romi keluar dari restaurant dan mengintip dari celah kaca
yang ada di depan restaurant.
Mia : “Kenapa sich,
mas?”
Alex : “Tunggu dan
lihat pertunjukan yang menarik.”
Segera setelah
ketiganya menghilang, Linda melongok ke bawah meja, tampak mencari sesuatu. Ia
melihat sepatunya ada di dekat kaki pelanggan yang duduk di belakangnya. Mata
Linda jelalatan melihat ke belakang, menunggu pelanggan di meja itu pergi dari
sana.
Ia tampak berpikir
dan memanggil pelayan. Setelah berbisik, pelayan itu segera ke meja di belakang
Linda dan menyampaikan sesuatu. Entah apa yang dikatakan Linda pada pelayan
itu, tapi pelanggan di belakangnya langsung bersiap-siap keluar dari
restaurant.
Setelah meja
sebelahnya kosong, Linda dengan cepat berdiri dan mengambil sepatunya tanpa
menarik perhatian pelanggan lain di restaurant itu.
Alex : “Hihihi...
hahaha... lucu banget sich.”
Mia : “Apanya yang
lucu?”
Mia dan Romi kepo
menatap Alex yang berjalan menuju mobilnya sambil tertawa geli. Mereka mengekor
dibelakang Alex.
Romi : “Iya, nich. Bikin
penasaran aja. Apa yang lucu?”
Alex berhenti
tertawa dan menatap keduanya. Ia menceritakan apa yang terjadi tadi sebelum Mia
datang.
Mia : “Iih...
beneran tuch pelakor. Minta dijambak!!”
Alex : “Sabar,
sayang. Aku gak tergoda sama sekali dengan dia. Kan ada kamu.”
Romi : “Hei, aku
masih disini dan kalian malah mesra-mesraan.”
Romi ngomel melihat
Alex memeluk pinggang Mia, gak sadar mereka masih di parkiran yang cukup ramai
dengan orang lalu lalang.
Alex : “Yank, kita
check in bentar yuk.” Bisik Alex ditelinga Mia.
Mia : “Mas nich.
Aku mesti balik cepat ke rumah. Ntar malem aja ya.” Bisik Mia juga.
Romi : “Kalian ini
mirip pasangan kekasih yang mau berbuat mesum. Pulang sana.”
Alex : “Emangnya
boleh?”
Romi : “Tunggu...”
Romi membuka
ponselnya dengan cepat dan membaca jadwal Alex hari ini.
Romi : “Jadwalmu
kosong, sana pulang.”
Alex : “Hayo, yank.
Uda dikasi sama Romi. Kita pulang trus enak-enak.”
Mia : “Hihi... kamu
mesum, mas.”
Romi : “Ooohh...
cepat pergi. Huss.”
Romi mulai kesal
melihat keduanya dan membuka pintu untuk Mia agar segera masuk ke mobil Alex.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1