
DM2 – Bisa gambar
X mengantar Melda pulang ke kostan-nya.
Kemarin ia hampir menginap disana juga. Tapi Melda mengancam akan berteriak
kalau X tidak juga pergi dari kostan-nya setelah mereka makan malam bersama.
Sampai di kostan Melda, X turun lebih dulu.
Ia menggendong Melda turun, lalu membawanya masuk ke kamar kost-nya. Melda
sempat menggeliat sebentar saat X meletakkannya di atas ranjangnya. X membantu
melepaskan ikat rambut dan sepatu Melda.
“Mel, bangun. Kamu gak mau makan
dulu?”tanya X.
Tring! Tring! Suara ponsel Melda membuat X
mencari ponsel itu di dalam tas. Tuan Endy calling. X mengguncang tubuh Melda,
membangunkan wanita itu.
“Mel, cepat bangun. Ada telpon nich.”
Melda yang mendengar suara ringtone milik
Endy, langsung terbangun dari tidurnya. Ia mengambar ponsel yang dibawa X,
sebelum menjawab telpon, Melda menarik nafas perlahan.
X menatap wajah Melda yang sedang bicara
dengan Endy. Sepertinya mereka membicarakan tentang Kaori. Melda terlihat
bingung ketika menyadari ia sedang duduk di atas ranjangnya.
Setelah bicara sekitar 15 menit di telpon,
Melda menutup telponnya. X berjalan keluar dari kamar kost Melda. Melda yang
masih mengantuk, kembali memejamkan matanya. Tapi ia membuka matanya lagi
ketika mencium wangi makanan.
X masuk lagi membawa makanan untuk mereka
berdua. “Makan dulu, baru tidur lagi. Kamu gak mandi?”tanya X.
Melda membuka matanya, “Hmm? Ntar habis
makan.”
X memberikan salah satu kotak makanan pada
Melda yang langsung memakannya dengan lahap. X tersenyum melihat Melda makan
tanpa malu-malu. “Makan yang banyak.”kata X.
Melda meletakkan kotak makanan yang sudah
kosong diatas meja, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan
dirinya. X menoleh saat Melda keluar lagi dengan tubuh hanya terbalut handuk.
“Jangan pikir aku menggodamu.”kata Melda
tanpa menoleh pada X. “Seharusnya kau sudah pergi waktu aku mandi.” Melda
mengambil piyama tidurnya dari lemari, saat dia berbalik, X sudah berdiri di
depannya.
Melda menunduk memegang erat handuknya. Selama
mereka berpacaran dulu, X tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekedar pelukan
dan ciuman. X menjaganya tetap utuh tapi juga mengabaikannya karena terlalu
sibuk bekerja.
“Apa kau pernah pacaran lagi setelah kita
berpisah?”tanya X.
__ADS_1
“Iya dan aku sudah pernah melakukannya.
Jadi silakan kau pergi dari sini. Jangan ganggu aku lagi.”kata Melda berbohong.
Melda berpikir semua cara untuk membuat X
membencinya. Ia takut perasaannya akan kembali lagi untuk pria itu kalau X terus
bersamanya. Melda tidak mau cintanya mengganggu misi yang diberikan Endy.
“Kalau gitu harusnya gak masalah kalau aku
juga mau melakukannya denganmu sekarang.”kata X semakin mendekati Melda. Wanita
itu menatap ngeri padanya.
*****
Di rumah Alex, semua keluarga masih
berkumpul untuk makan malam bersama. Karena meja makan gak cukup untuk duduk
semua orang, mereka memilih lesehan di ruang keluarga. Alex tetap duduk di
kursi rodanya, makan sambil disuapi Mia.
Rio terus menatap Alex dan Mia yang sangat
mesra. Ia melirik Gadis yang sedang menimang baby Kaori yang mulai tertidur.
Rio mengambil piring makannya, ia menyendok sedikit nasi dan sayur lalu
menyodorkannya pada Gadis.
“Rio, kenapa?”tanya Gadis mengalihkan
pandangannya dari Kaori.
“Ma...kan. Makan.”saut Rio.
Gadis membuka mulutnya, Rio menyuapinya
makan. “Makasih, Rio.”
Rio menoleh pada Alex dan Mia lagi. Alex
tidak mengucapkan makasih pada Mia yang sudah menyuapinya, ia mencium mamanya
Tindakan yang tiba-tiba Rio membuat Gadis
kaget dan hampir menjatuhkan baby Kaori dari pelukannya. Gadis bangkit berdiri
dengan cepat, ia naik ke lantai 2 untuk menidurkan baby Kaori yang mulai
menangis karena tidurnya terganggu.
Rio ikut berdiri tapi ia hanya berjalan
sampai ke ujung tangga. “Rio, kamu mau kemana?”tanya Mia. Mia menahan tangan
Rio yang hampir naik ke atas sendiri, “Nanti kamu jatuh. Tunggu Gadis disini
ya.”kata Mia.
“Tunggu disini. Duduk disini.”kata Mia
lagi.
Rio menurut duduk lagi di tempatnya semula.
Ia terus menatap ke arah tangga, menunggu Gadis turun. Rara yang melihat Rio hanya
bengong, menyodorkan sesendok nasi dan lauk pada Rio. Rio menoleh menatap kakak
perempuannya itu.
“Makan, Rio. Gadis bentar lagi turun. Makan
dulu ya.”kata Rara.
Rio hanya menatap Rara, tidak mau membuka
mulutnya. Rara saling pandang dengan Riri. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Gadis turun dari lantai 2, ia membawa alat untuk memonitor bayi ditangannya.
Gadis duduk lagi di samping Rio, “Makan,
__ADS_1
yank. Aaaa...”kata Gadis menyuapi Rio. Pria itu membuka mulutnya dan mulai
menghabiskan makanan di piringnya.
“Hadeh, dasar bucin. Giliran aku yang mau
nyuapin, dia gak mau buka mulut.”kata Rara memonyongkan bibirnya dengan lucu.
Tiba-tiba Rio menangkup pipi Gadis,
menciumnya lagi. Gadis mendorong Rio lagi, menutup mulut pria itu dengan
tangannya. “Rio!! Jangan cium-cium sembarangan. Ada anak kecil disini.”kata
Gadis.
“...Dis, ma...rah...”kata Rio terbata.
“Nggak.”jawab Gadis sambil tersenyum. “Tapi
jangan dikit-dikit cium dong. Malu.”
“Pa... ga... ma...lu. Papa ga malu.”kata
Rio lebih jelas.
Alex yang merasa disebut, menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Mia menyikut Alex, menyalahkannya.
“Papa beda, Rio. Beda ya.”ulang Gadis. Rio
mengangguk tanda dia mengerti.
“Untung dia ngerti kamu jelasin, Dis. Rio cuma
mau dengerin kamu ya. Eh, tapi tadi sama Mia juga mau dengerin. Kok sama Rara
nggak ya?”tanya Alex.
Gadis berpikir sejenak, “Apa mungkin karena
mama sama aku yang sering interaksi sama Rio, pah?”
Masuk akal bagi semua orang di ruangan itu.
Kecuali si kembar dan Reynold yang tetap asyik makan meskipun ada adegan ciuman
lewat barusan.
Akhirnya makan malam selesai. Riri dan Elo
berpamitan duluan karena mereka meninggalkan Donatello bersama pengasuh dan opa
Ratna di rumah besar. Rara dan Arnold masih menunggu Reynold membereskan
bukunya yang tadi ia keluarkan untuk membuat PR-nya.
Alex, Mia, Gadis, dan Rio masih duduk di
ruang keluarga bersama Rara dan Arnold. Rara yang iseng, mengambil spidol hitam
lalu menggambar gips di kaki Alex. Ia mencoba menggambar anak-anak, tapi malah
lebih mirip orang-orangan sawah.
“Ach, gak bagus. Dari dulu kamu kan memang
gak bisa gambar, Ra.”kata Alex.
Rio yang melihat Rara menggambar
orang-orangan sawah, mendekati Rara. Ia mengambil spidol dari tangan Rara dan
mulai menggambar di gips Alex. Semua orang mulai tertarik menunggu Rio
menyelesaikan gambarnya. Sesekali ia menatap wajah Mia. Setelah selesai, Rio
menjauhkan dirinya dari Alex. Ia tersenyum tipis melihat hasil gambarnya. Wajah
Mia tergambar di gips Alex sekarang.
“Rio, kamu bisa gambar?”tanya Gadis tidak
percaya.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.