Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Bisa gambar


__ADS_3

DM2 – Bisa gambar


X mengantar Melda pulang ke kostan-nya.


Kemarin ia hampir menginap disana juga. Tapi Melda mengancam akan berteriak


kalau X tidak juga pergi dari kostan-nya setelah mereka makan malam bersama.


Sampai di kostan Melda, X turun lebih dulu.


Ia menggendong Melda turun, lalu membawanya masuk ke kamar kost-nya. Melda


sempat menggeliat sebentar saat X meletakkannya di atas ranjangnya. X membantu


melepaskan ikat rambut dan sepatu Melda.


“Mel, bangun. Kamu gak mau makan


dulu?”tanya X.


Tring! Tring! Suara ponsel Melda membuat X


mencari ponsel itu di dalam tas. Tuan Endy calling. X mengguncang tubuh Melda,


membangunkan wanita itu.


“Mel, cepat bangun. Ada telpon nich.”


Melda yang mendengar suara ringtone milik


Endy, langsung terbangun dari tidurnya. Ia mengambar ponsel yang dibawa X,


sebelum menjawab telpon, Melda menarik nafas perlahan.


X menatap wajah Melda yang sedang bicara


dengan Endy. Sepertinya mereka membicarakan tentang Kaori. Melda terlihat


bingung ketika menyadari ia sedang duduk di atas ranjangnya.


Setelah bicara sekitar 15 menit di telpon,


Melda menutup telponnya. X berjalan keluar dari kamar kost Melda. Melda yang


masih mengantuk, kembali memejamkan matanya. Tapi ia membuka matanya lagi


ketika mencium wangi makanan.


X masuk lagi membawa makanan untuk mereka


berdua. “Makan dulu, baru tidur lagi. Kamu gak mandi?”tanya X.


Melda membuka matanya, “Hmm? Ntar habis


makan.”


X memberikan salah satu kotak makanan pada


Melda yang langsung memakannya dengan lahap. X tersenyum melihat Melda makan


tanpa malu-malu. “Makan yang banyak.”kata X.


Melda meletakkan kotak makanan yang sudah


kosong diatas meja, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan


dirinya. X menoleh saat Melda keluar lagi dengan tubuh hanya terbalut handuk.


“Jangan pikir aku menggodamu.”kata Melda


tanpa menoleh pada X. “Seharusnya kau sudah pergi waktu aku mandi.” Melda


mengambil piyama tidurnya dari lemari, saat dia berbalik, X sudah berdiri di


depannya.


Melda menunduk memegang erat handuknya. Selama


mereka berpacaran dulu, X tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekedar pelukan


dan ciuman. X menjaganya tetap utuh tapi juga mengabaikannya karena terlalu


sibuk bekerja.


“Apa kau pernah pacaran lagi setelah kita


berpisah?”tanya X.

__ADS_1


“Iya dan aku sudah pernah melakukannya.


Jadi silakan kau pergi dari sini. Jangan ganggu aku lagi.”kata Melda berbohong.


Melda berpikir semua cara untuk membuat X


membencinya. Ia takut perasaannya akan kembali lagi untuk pria itu kalau X terus


bersamanya. Melda tidak mau cintanya mengganggu misi yang diberikan Endy.


“Kalau gitu harusnya gak masalah kalau aku


juga mau melakukannya denganmu sekarang.”kata X semakin mendekati Melda. Wanita


itu menatap ngeri padanya.


*****


Di rumah Alex, semua keluarga masih


berkumpul untuk makan malam bersama. Karena meja makan gak cukup untuk duduk


semua orang, mereka memilih lesehan di ruang keluarga. Alex tetap duduk di


kursi rodanya, makan sambil disuapi Mia.


Rio terus menatap Alex dan Mia yang sangat


mesra. Ia melirik Gadis yang sedang menimang baby Kaori yang mulai tertidur.


Rio mengambil piring makannya, ia menyendok sedikit nasi dan sayur lalu


menyodorkannya pada Gadis.


“Rio, kenapa?”tanya Gadis mengalihkan


pandangannya dari Kaori.


“Ma...kan. Makan.”saut Rio.


Gadis membuka mulutnya, Rio menyuapinya


makan. “Makasih, Rio.”


Rio menoleh pada Alex dan Mia lagi. Alex


tidak mengucapkan makasih pada Mia yang sudah menyuapinya, ia mencium mamanya


Tindakan yang tiba-tiba Rio membuat Gadis


kaget dan hampir menjatuhkan baby Kaori dari pelukannya. Gadis bangkit berdiri


dengan cepat, ia naik ke lantai 2 untuk menidurkan baby Kaori yang mulai


menangis karena tidurnya terganggu.


Rio ikut berdiri tapi ia hanya berjalan


sampai ke ujung tangga. “Rio, kamu mau kemana?”tanya Mia. Mia menahan tangan


Rio yang hampir naik ke atas sendiri, “Nanti kamu jatuh. Tunggu Gadis disini


ya.”kata Mia.


“Tunggu disini. Duduk disini.”kata Mia


lagi.


Rio menurut duduk lagi di tempatnya semula.


Ia terus menatap ke arah tangga, menunggu Gadis turun. Rara yang melihat Rio hanya


bengong, menyodorkan sesendok nasi dan lauk pada Rio. Rio menoleh menatap kakak


perempuannya itu.


“Makan, Rio. Gadis bentar lagi turun. Makan


dulu ya.”kata Rara.


Rio hanya menatap Rara, tidak mau membuka


mulutnya. Rara saling pandang dengan Riri. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Gadis turun dari lantai 2, ia membawa alat untuk memonitor bayi ditangannya.


Gadis duduk lagi di samping Rio, “Makan,

__ADS_1


yank. Aaaa...”kata Gadis menyuapi Rio. Pria itu membuka mulutnya dan mulai


menghabiskan makanan di piringnya.


“Hadeh, dasar bucin. Giliran aku yang mau


nyuapin, dia gak mau buka mulut.”kata Rara memonyongkan bibirnya dengan lucu.


Tiba-tiba Rio menangkup pipi Gadis,


menciumnya lagi. Gadis mendorong Rio lagi, menutup mulut pria itu dengan


tangannya. “Rio!! Jangan cium-cium sembarangan. Ada anak kecil disini.”kata


Gadis.


“...Dis, ma...rah...”kata Rio terbata.


“Nggak.”jawab Gadis sambil tersenyum. “Tapi


jangan dikit-dikit cium dong. Malu.”


“Pa... ga... ma...lu. Papa ga malu.”kata


Rio lebih jelas.


Alex yang merasa disebut, menggaruk


kepalanya yang tidak gatal. Mia menyikut Alex, menyalahkannya.


“Papa beda, Rio. Beda ya.”ulang Gadis. Rio


mengangguk tanda dia mengerti.


“Untung dia ngerti kamu jelasin, Dis. Rio cuma


mau dengerin kamu ya. Eh, tapi tadi sama Mia juga mau dengerin. Kok sama Rara


nggak ya?”tanya Alex.


Gadis berpikir sejenak, “Apa mungkin karena


mama sama aku yang sering interaksi sama Rio, pah?”


Masuk akal bagi semua orang di ruangan itu.


Kecuali si kembar dan Reynold yang tetap asyik makan meskipun ada adegan ciuman


lewat barusan.


Akhirnya makan malam selesai. Riri dan Elo


berpamitan duluan karena mereka meninggalkan Donatello bersama pengasuh dan opa


Ratna di rumah besar. Rara dan Arnold masih menunggu Reynold membereskan


bukunya yang tadi ia keluarkan untuk membuat PR-nya.


Alex, Mia, Gadis, dan Rio masih duduk di


ruang keluarga bersama Rara dan Arnold. Rara yang iseng, mengambil spidol hitam


lalu menggambar gips di kaki Alex. Ia mencoba menggambar anak-anak, tapi malah


lebih mirip orang-orangan sawah.


“Ach, gak bagus. Dari dulu kamu kan memang


gak bisa gambar, Ra.”kata Alex.


Rio yang melihat Rara menggambar


orang-orangan sawah, mendekati Rara. Ia mengambil spidol dari tangan Rara dan


mulai menggambar di gips Alex. Semua orang mulai tertarik menunggu Rio


menyelesaikan gambarnya. Sesekali ia menatap wajah Mia. Setelah selesai, Rio


menjauhkan dirinya dari Alex. Ia tersenyum tipis melihat hasil gambarnya. Wajah


Mia tergambar di gips Alex sekarang.


“Rio, kamu bisa gambar?”tanya Gadis tidak


percaya.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2