
DM2 – Senyuman Gadis
Gadis menunjuk ke belakang Rio dengan
dagunya, Kinanti masih menatap mereka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa
dilukiskan. Pandangan kedua wanita itu bertemu, Gadis masih memasang wajah
manisnya. Tapi tidak bagi Kinanti yang hatinya tidak karuan dengan kedatangan
Gadis. Ia jelas kesal karena Rio tidak mengacuhkannya lagi. Itu dia, wanita
dalam foto yang terpasang di meja kerja Rio.
Rio tidak menanggapi Gadis, matanya fokus
menatap bibir merah merekah Gadis yang saat itu memakai lipgloss dengan aroma
cherry. Gadis menggigit bibir bawahnya bukan untuk menggoda Rio, ia hanya merasa
bibirnya agak kering. Sikap Gadis dimata Rio adalah sebuah undangan untuk
******* bibir merah itu.
”Tunggu, kenapa Rio gak noleh waktu aku
tanya tentang Kinanti? Eh, kenapa malah tambah deket gini. Dia mau ngapain
sich? Apa dia gak sadar masih ada Kinanti di belakangnya?”
Gadis menahan tubuh Rio, ia mengerjapkan
matanya menatap mata Rio yang masih menatapnya mesra. Gadis merasa malu ditatap
seperti itu. Rio terus menunduk, “Rio, masih ada orang di sini.”bisik Gadis malu.
“Hah?!” Rio menoleh ke belakang. “Kamu
boleh keluar.”kata Rio dingin pada Kinanti.
Wanita itu terpana melihat sikap Rio
berubah seratus delapan puluh derajat padanya setelah kedatangan Gadis. Rio memang
selalu bersikap dingin, tapi terkadang ia masih bisa tersenyum sebentar. Tapi
saat Gadis ada bersamanya, Rio hanya memperhatikan wanita itu, istrinya.
Kinanti melangkah keluar dengan kesal, ia
mendengar suara pintu tertutup dan dikunci dari dalam. Kinanti jadi kesal
mendengar itu. Sudah jelas sekali akan ngapain mereka di dalam sana.
“Kinanti, Rio ngapain?”tanya Ilham.
“Sepertinya sibuk sama istrinya, pak. Saya
permisi mau makan siang dulu.”pamit Kinanti tanpa menunggu jawaban Ilham.
Ilham menatap heran pada Kinanti yang
terlihat kesal. Diliriknya pintu ruang kerja Rio, sepertinya ia harus membeli
makan siang sendiri. Ia sungguh tidak mau mengganggu Rio sekarang.
Didalam ruang kerja Rio, Gadis terus
bergeser mundur sampai mentok ke sudut sofa. “Sa... sayang, kamu mau ngapain?”gugup
Gadis menatap Rio yang terus mendekat.
“Sayang, aku laper banget. Mau makan kamu,
boleh ya?”
Gadis menatap sekeliling ruang kerja itu, “Disini?
Tapi, ini tempat kerja, ada CCTV kan?”
Rio menjauh lagi, ia lupa kalau di ruang
kerja itu ada CCTV. Gadis menahan tawanya melihat Rio mundur. Ia geleng-geleng
kepala, melihat kelakuan suaminya itu.
“Rio, sini peluk.”pinta Gadis. Rio kembali
__ADS_1
mendekat, memeluk tubuh Gadis.
“Kamu kenapa gak bilang mau kesini?”
“Kenapa? Takut kepergok berduaan sama
sekretarismu?”
“Nggak. Kalau tau kamu kesini, aku minta IT
cabut CCTV dulu.”
“Iih, dasar mesum!”pekik Gadis mendorong
tubuh Rio.
Rio kembali memeluk tubuh Gadis, ia
mengeluh capek dengan pekerjaannya yang semakin banyak karena Ilham ingin semua
berkasnya beres sebelum serah terima dengan Rara dan Arnold. Nyatanya kakaknya
itu masih sibuk mengurus Rey yang sudah pindah ke rumah baru mereka. Belum ada
tanda-tanda Rara meminta jabatannya lagi pada Rio.
Rio meminta Gadis duduk di pangkuannya. Ia
mengangkat tubuh Gadis masuk ke kamar mandi. “Yank, mau ngapain masuk sini?”
“Aku mau ng-charge bentar.”
Gadis tidak bisa menolak permintaan
suaminya itu.
Kinanti yang sudah kembali dari makan
siangnya yang tidak enak, mencoba membuka pintu ruang kerja Rio. Pintu itu
masih terkunci, dengan kesal Kinanti menendang pintu itu. Ia cepat-cepat
kembali duduk di mejanya, takut kalau pintu terbuka.
Lima menit, sepuluh menit, setengah jam,
bahkan lewat dua jam, belum ada tanda-tanda Rio dan Gadis keluar dari ruangan
sedang marah. “Mereka ngapain sich di dalem lama banget. Hiss, kesel.”
Ilham yang sudah kembali, menggedor pintu
ruang kerja Rio. Ceklek! Pintu terbuka, Kinanti melihat Rio sekilas. Wajahnya
tampak segar dengan rambut berantakan. Ilham masuk ke ruangan itu, sedang
Kinanti hanya bisa duduk di mejanya. Ia tidak punya alasan masuk kesana.
Tak! Kuku Kinanti sampai patah ia gigiti.
Ia ingin sekali masuk ke ruangan Rio. Putar otak, Kinanti ingat kalau
pekerjaannya tadi belum selesai. Dengan langkah cepat, sambil merapikan
penampilannya, Kinanti mengetuk pintu ruang kerja Rio.
“Masuk.”jawab Rio dari dalam sana. “Kinanti?
Ada apa?”
“Kerjaan saya tadi belum selesai, pak.
Boleh saya lanjutkan?”
“Ini, sudah diselesaikan Gadis. Bisa kamu
bawa keluar.”tunjuk Rio pada berkas di sudut mejanya.
Kinanti melirik Gadis yang duduk di sofa.
Ditangannya ada berkas lain, Kinanti terpaksa mengambil berkas itu, lalu
membawanya keluar dari ruang kerja Rio. Ia mengambil salah satu berkas itu dan
mulai mencari kesalahan Gadis.
Tapi sampai tumpukan akhir berkas, ia tidak
__ADS_1
menemukan kesalahan apapun. Kinanti mengepalkan tangannya. Tidak hanya cantik
tapi sangat pintar. “Aku akan temukan caranya mendekatimu, Rio.” Senyum Kinanti
mengembang membayangkan wajah tampan Rio.
Gadis tidak berlama-lama di ruang kerja
Rio. Ia ingin kembali ke rumah karena takutnya Rey mencarinya. Rio tidak mau
Gadis pulang ia ingin Gadis pulang bersamanya, tapi Gadis memaksa pulang
duluan.
Gadis berhenti di depan meja Kinanti,
senyum palsu Kinanti mengembang ketika Gadis menatapnya. “Kamu Kinanti?
Sekretaris baru Rio?”
“Iya, bu. Saya Kinanti.”jawab Kinanti
manis, meski dalam hatinya dongkol.
“Namaku Gadis. Apa kamu punya pacar?”
Kinanti menggeleng. Gadis lanjut menanyakan
usia Kinanti dan juga pendidikannya. Kinanti menjawabnya dengan lancar. “Aku
harap kamu betah disini. Sebentar lagi Rio akan pindah ke kantor papa lagi.
Posisinya akan digantikan kakak Rio.”
Entah kenapa Gadis menjelaskan hal yang
belum pasti seperti itu. Ada sesuatu yang mendorongnya melakukan itu, tapi
Gadis tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Hatinya mengatakan kalau
Kinanti akan menjadi jawaban atas doanya selama ini.
“Pindah, bu? Tapi kenapa?”tanya Kinanti
sendu.
Pertanyaan Kinanti membuat Gadis semakin
yakin akan langkahnya. Ia mengatakan kalau sebenarnya perusahaan yang dipegang
Rio sekarang adalah milik kakak ipar Rio. Rio hanya diberi wewenang sementara
untuk mengelola perusahaan ini sampai Rara dan Arnold kembali.
Sekarang mereka berdua sudah kembali dan
tidak ada alasan bagi Rio untuk tetap di perusahaan itu. Gadis menatap raut
wajah Kinanti yang berubah kecewa. “Ada apa? Apa kamu kecewa?”tanya Gadis
sambil tersenyum manis.
“Aa... tidak. Maksud saya nggak gitu, bu.”
“Jangan gugup gitu. Aku gak gigit kok. Aku harus
pergi sekarang. Sampai jumpa lagi, Kinanti.”
Kinanti menatap wajah manis Gadis yang
tersenyum tulus padanya. Ia berjalan mendekati lift dan masuk ke dalamnya. Sesaat
Kinanti terpana melihat senyuman Gadis. Pantas saja Rio kepincut dengan Gadis,
cantik, manis, dan pintar.
“Hais, kenapa malah aku terpesona padanya.
Dia itu rival, harus disingkirkan untuk mencapai Rio. Semangat, Kinanti.
Semangat!”
Gerakan Kinanti membeku diudara, Ilham
sudah keluar dari ruang kerja Rio, menatapnya dengan kening berkerut.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.