Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Senyuman Gadis


__ADS_3

DM2 – Senyuman Gadis


Gadis menunjuk ke belakang Rio dengan


dagunya, Kinanti masih menatap mereka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa


dilukiskan. Pandangan kedua wanita itu bertemu, Gadis masih memasang wajah


manisnya. Tapi tidak bagi Kinanti yang hatinya tidak karuan dengan kedatangan


Gadis. Ia jelas kesal karena Rio tidak mengacuhkannya lagi. Itu dia, wanita


dalam foto yang terpasang di meja kerja Rio.


Rio tidak menanggapi Gadis, matanya fokus


menatap bibir merah merekah Gadis yang saat itu memakai lipgloss dengan aroma


cherry. Gadis menggigit bibir bawahnya bukan untuk menggoda Rio, ia hanya merasa


bibirnya agak kering. Sikap Gadis dimata Rio adalah sebuah undangan untuk


******* bibir merah itu.


”Tunggu, kenapa Rio gak noleh waktu aku


tanya tentang Kinanti? Eh, kenapa malah tambah deket gini. Dia mau ngapain


sich? Apa dia gak sadar masih ada Kinanti di belakangnya?”


Gadis menahan tubuh Rio, ia mengerjapkan


matanya menatap mata Rio yang masih menatapnya mesra. Gadis merasa malu ditatap


seperti itu. Rio terus menunduk, “Rio, masih ada orang di sini.”bisik Gadis malu.


“Hah?!” Rio menoleh ke belakang. “Kamu


boleh keluar.”kata Rio dingin pada Kinanti.


Wanita itu terpana melihat sikap Rio


berubah seratus delapan puluh derajat padanya setelah kedatangan Gadis. Rio memang


selalu bersikap dingin, tapi terkadang ia masih bisa tersenyum sebentar. Tapi


saat Gadis ada bersamanya, Rio hanya memperhatikan wanita itu, istrinya.


Kinanti melangkah keluar dengan kesal, ia


mendengar suara pintu tertutup dan dikunci dari dalam. Kinanti jadi kesal


mendengar itu. Sudah jelas sekali akan ngapain mereka di dalam sana.


“Kinanti, Rio ngapain?”tanya Ilham.


“Sepertinya sibuk sama istrinya, pak. Saya


permisi mau makan siang dulu.”pamit Kinanti tanpa menunggu jawaban Ilham.


Ilham menatap heran pada Kinanti yang


terlihat kesal. Diliriknya pintu ruang kerja Rio, sepertinya ia harus membeli


makan siang sendiri. Ia sungguh tidak mau mengganggu Rio sekarang.


Didalam ruang kerja Rio, Gadis terus


bergeser mundur sampai mentok ke sudut sofa. “Sa... sayang, kamu mau ngapain?”gugup


Gadis menatap Rio yang terus mendekat.


“Sayang, aku laper banget. Mau makan kamu,


boleh ya?”


Gadis menatap sekeliling ruang kerja itu, “Disini?


Tapi, ini tempat kerja, ada CCTV kan?”


Rio menjauh lagi, ia lupa kalau di ruang


kerja itu ada CCTV. Gadis menahan tawanya melihat Rio mundur. Ia geleng-geleng


kepala, melihat kelakuan suaminya itu.


“Rio, sini peluk.”pinta Gadis. Rio kembali

__ADS_1


mendekat, memeluk tubuh Gadis.


“Kamu kenapa gak bilang mau kesini?”


“Kenapa? Takut kepergok berduaan sama


sekretarismu?”


“Nggak. Kalau tau kamu kesini, aku minta IT


cabut CCTV dulu.”


“Iih, dasar mesum!”pekik Gadis mendorong


tubuh Rio.


Rio kembali memeluk tubuh Gadis, ia


mengeluh capek dengan pekerjaannya yang semakin banyak karena Ilham ingin semua


berkasnya beres sebelum serah terima dengan Rara dan Arnold. Nyatanya kakaknya


itu masih sibuk mengurus Rey yang sudah pindah ke rumah baru mereka. Belum ada


tanda-tanda Rara meminta jabatannya lagi pada Rio.


Rio meminta Gadis duduk di pangkuannya. Ia


mengangkat tubuh Gadis masuk ke kamar mandi. “Yank, mau ngapain masuk sini?”


“Aku mau ng-charge bentar.”


Gadis tidak bisa menolak permintaan


suaminya itu.


Kinanti yang sudah kembali dari makan


siangnya yang tidak enak, mencoba membuka pintu ruang kerja Rio. Pintu itu


masih terkunci, dengan kesal Kinanti menendang pintu itu. Ia cepat-cepat


kembali duduk di mejanya, takut kalau pintu terbuka.


Lima menit, sepuluh menit, setengah jam,


bahkan lewat dua jam, belum ada tanda-tanda Rio dan Gadis keluar dari ruangan


sedang marah. “Mereka ngapain sich di dalem lama banget. Hiss, kesel.”


Ilham yang sudah kembali, menggedor pintu


ruang kerja Rio. Ceklek! Pintu terbuka, Kinanti melihat Rio sekilas. Wajahnya


tampak segar dengan rambut berantakan. Ilham masuk ke ruangan itu, sedang


Kinanti hanya bisa duduk di mejanya. Ia tidak punya alasan masuk kesana.


Tak! Kuku Kinanti sampai patah ia gigiti.


Ia ingin sekali masuk ke ruangan Rio. Putar otak, Kinanti ingat kalau


pekerjaannya tadi belum selesai. Dengan langkah cepat, sambil merapikan


penampilannya, Kinanti mengetuk pintu ruang kerja Rio.


“Masuk.”jawab Rio dari dalam sana. “Kinanti?


Ada apa?”


“Kerjaan saya tadi belum selesai, pak.


Boleh saya lanjutkan?”


“Ini, sudah diselesaikan Gadis. Bisa kamu


bawa keluar.”tunjuk Rio pada berkas di sudut mejanya.


Kinanti melirik Gadis yang duduk di sofa.


Ditangannya ada berkas lain, Kinanti terpaksa mengambil berkas itu, lalu


membawanya keluar dari ruang kerja Rio. Ia mengambil salah satu berkas itu dan


mulai mencari kesalahan Gadis.


Tapi sampai tumpukan akhir berkas, ia tidak

__ADS_1


menemukan kesalahan apapun. Kinanti mengepalkan tangannya. Tidak hanya cantik


tapi sangat pintar. “Aku akan temukan caranya mendekatimu, Rio.” Senyum Kinanti


mengembang membayangkan wajah tampan Rio.


Gadis tidak berlama-lama di ruang kerja


Rio. Ia ingin kembali ke rumah karena takutnya Rey mencarinya. Rio tidak mau


Gadis pulang ia ingin Gadis pulang bersamanya, tapi Gadis memaksa pulang


duluan.


Gadis berhenti di depan meja Kinanti,


senyum palsu Kinanti mengembang ketika Gadis menatapnya. “Kamu Kinanti?


Sekretaris baru Rio?”


“Iya, bu. Saya Kinanti.”jawab Kinanti


manis, meski dalam hatinya dongkol.


“Namaku Gadis. Apa kamu punya pacar?”


Kinanti menggeleng. Gadis lanjut menanyakan


usia Kinanti dan juga pendidikannya. Kinanti menjawabnya dengan lancar. “Aku


harap kamu betah disini. Sebentar lagi Rio akan pindah ke kantor papa lagi.


Posisinya akan digantikan kakak Rio.”


Entah kenapa Gadis menjelaskan hal yang


belum pasti seperti itu. Ada sesuatu yang mendorongnya melakukan itu, tapi


Gadis tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Hatinya mengatakan kalau


Kinanti akan menjadi jawaban atas doanya selama ini.


“Pindah, bu? Tapi kenapa?”tanya Kinanti


sendu.


Pertanyaan Kinanti membuat Gadis semakin


yakin akan langkahnya. Ia mengatakan kalau sebenarnya perusahaan yang dipegang


Rio sekarang adalah milik kakak ipar Rio. Rio hanya diberi wewenang sementara


untuk mengelola perusahaan ini sampai Rara dan Arnold kembali.


Sekarang mereka berdua sudah kembali dan


tidak ada alasan bagi Rio untuk tetap di perusahaan itu. Gadis menatap raut


wajah Kinanti yang berubah kecewa. “Ada apa? Apa kamu kecewa?”tanya Gadis


sambil tersenyum manis.


“Aa... tidak. Maksud saya nggak gitu, bu.”


“Jangan gugup gitu. Aku gak gigit kok. Aku harus


pergi sekarang. Sampai jumpa lagi, Kinanti.”


Kinanti menatap wajah manis Gadis yang


tersenyum tulus padanya. Ia berjalan mendekati lift dan masuk ke dalamnya. Sesaat


Kinanti terpana melihat senyuman Gadis. Pantas saja Rio kepincut dengan Gadis,


cantik, manis, dan pintar.


“Hais, kenapa malah aku terpesona padanya.


Dia itu rival, harus disingkirkan untuk mencapai Rio. Semangat, Kinanti.


Semangat!”


Gerakan Kinanti membeku diudara, Ilham


sudah keluar dari ruang kerja Rio, menatapnya dengan kening berkerut.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2