
Hamil anakku
Mb Roh mengambil mangkuk kosong di tangan Reva dan mengelap wajahnya. Reva menangis karena mangkuknya diambil, Mia mengambil Reva dan mulai menyusuinya.
Mia : “Kenapa Rio lama banget ya? Tadi bilangnya mau langsung pulang bawain rujak. Anak itu kemana dulu sich?”
Nenek : “Paling masih macet di jalan. Tunggu aja.”
Mia : “Ya, bu.”
*****
Sementara yang ditunggu Mia, masih betah duduk di tempat tidur Gadis, sibuk menatap wanita yang menatap sebal padanya.
Gadis : “Kita gak bisa nikah.”
Rio : “Apa?”
Gadis : “Kau bilang mau bertanggung jawab, kan? Tapi kita gak bisa nikah.”
Rio : “Tapi kenapa?”
Gadis : “Karena kita gak saling cinta. Buat apa nikah?”
Rio : “Sudah ada bayi di dalam perutmu, hanya itu alasan kita nikah.”
Gadis : “Kalau gitu kita buat perjanjian. Setelah anak ini lahir, kita cerai.”
Rio : “Dan kau mau pergi membawanya? Mimpi.”
Rio menatap dingin pada Gadis yang sedikit menciut. Gadis memikirkan sesuatu dengan cepat karena rencananya bisa ditebak Rio dengan mudah.
Gadis : “Aku janji kau tetap bisa ketemu dia. Aku akan cari rumah dekat kantor.”
Rio : “Apa kau pikir pernikahan adalah sebuah permainan?”
Gadis menarik nafasnya karena rasa sesak di dadanya. Ia benar-benar perlu berbaring sekarang, tapi Rio masih belum mau pergi. Gadis bangkit dari kursi, ia mengusir Rio dari pinggir tempat tidurnya
dan berbaring disana. Rio memberi waktu pada Gadis untuk menenangkan dirinya
dan memijat pinggangnya.
Gadis : “Dengar, kita sama-sama tahu kejadian malam itu hanya sebuah kesalahan. Aku sudah menerimanya, tapi kau ingin bertanggung jawab. Lakukan saja tanggung jawab itu sampai anak ini lahir. Setelah itu kau
bebas, aku juga bebas. Kita sama-sama tidak punya hutang satu sama lain.”
Rio mengepalkan tangannya. Apa salahnya mereka bersama hanya karena anak itu? Dia tidak bisa menerima jalan pikiran Gadis yang mudah mengucapkan kata cerai bahkan sebelum mereka menikah. Tapi demi
memuluskan keinginan Rio untuk membawa Gadis ke rumahnya, ia mengiyakan semua
keinginan Gadis.
Rio : “Kau buat perjanjiannya, aku tanda tangan. Sekarang ikut aku, kemasi barang-barangmu.”
Gadis : “Kita mau kemana?”
Rio : “Ke rumahku.”
Gadis : “Untuk apa? Aku gak mau.”
Rio : “Kau sedang hamil muda, mamaku bisa menjagamu juga. Daripada kamu tinggal disini sendirian.”
Gadis : “Aku...”
Rio : “Jangan bantah lagi. Mana bajumu?”
Gadis : “Aku saja.”
Sangat memalukan kalau Rio melihat pakaian dalam
Gadis. Ia mengambil tas yang cukup besar dan memasukkan baju-bajunya ke dalam
__ADS_1
sana. Tak banyak barang yang dibawa Gadis ke kamar itu. Rio bisa membawanya
dengan mudah.
Gadis duduk di samping Rio yang langsung
mengemudikan mobilnya pulang ke rumah Alex. Gadis sangat gugup, ia terus
meremas ujung kaos yang dipakainya. Hummpphh. Hummpphh. Gadis kembali merasa
mual. Rio meminggirkan mobilnya.
Rio : “Mau muntah?”
Gadis : “Boleh nurunin kacanya?”
Rio menurunkan kaca mobilnya dan Gadis mulai
menarik nafas untuk meredakan mualnya. Gadis menoleh ke belakang saat ia
mencium bau bumbu rujak dari jok belakang mobil Rio.
Rio : “Kenapa? Itu bau rujak.”
Gadis : “Baunya nyampur sama bau parfummu.”
Rio turun dari mobilnya. Ia membuka bagasi
mobilnya, melepas jas dan juga kemejanya, mengisakan kaos putih polos menutupi
tubuhnya. Rio memasukkan jas dan kemejanya ke dalam tas laundry dan menutup
bagasinya lagi.
Gadis sudah merasa lebih baik setelah Rio duduk
kembali di belakang setir mobil, Rio kembali menjalankan mobilnya. Mereka
berjalan masuk sambil menunduk, sementara Rio berjalan di belakangnya.
Rio : “Ayo, masuk.”
Rio membukakan pintu depan lebih lebar. Mia yang
merasa ada seseorang datang, berdiri dari duduknya di ruang keluarga. Nenek
juga ada disana masih menemani si kembar bermain.
Mia : “Rio? Kamu sudah pulang. Siapa dia?”
Rio : “Mah, ini Gadis. Dia... dia lagi hamil anak
Rio.”
Mia : “Apaaa???!!!!”
Nenek : “Hah???!!”
Mia melotot kaget sambil memegangi dadanya yang
bergemuruh. Ia berbalik melihat ibu mertuanya dan bergegas mengambil air putih
untuk ibu mertuanya itu. Nenek mengelus dadanya juga dan ia merasa lebih baik
setelah minum air.
Gadis didudukkan di ruang keluarga ditemani nenek
dan si kembar. Sesekali Gadis tersenyum melihat tingkah lucu kedua bayi kembar
itu. Mia menyeret Rio ke kamarnya dan mendudukkan putranya itu.
__ADS_1
Mia : “Jelaskan sama mama. Apa maksudnya? Dia hamil
anak kamu?”
Rio : “Rio mabuk waktu itu, mah. Rio kira dia
Kaori, trus kejadian sampai dia hamil.”
Mia : “Apa kamu cinta sama dia?”
Rio : “Kenapa mama nanya gitu?”
Mia : “Rio, kalau kamu cinta sama dia, kamu akan
bilang dia calon istrimu. Bukan hamil anak kamu.”
Rio : “Mama tahu jawabannya kan? Rio belum bisa
melupakan Kaori sampai kapanpun hanya Kaori, mah.”
Mia : “Jujur sama mama, apa kamu maksa dia
melakukan hubungan?”
Rio mengangguk. Ia menceritakan pada Mia tentang
apa yang terjadi di apartment. Dan bagaimana tragedi itu membuat Gadis trauma
dan jadi tidak mau dekat-dekat dengannya. Mia menarik nafas panjang, ia duduk
di samping Rio.
Mia : “Sudah berapa bulan?”
Rio : “Kalau dari tanggal kejadian itu, mungkin dua
bulan kurang, mah.”
Mia : “Kalian belum ke dokter?”
Rio menggeleng kali ini. Dia saja baru tahu tadi,
itupun memaksa Gadis untuk mengakuinya. Mia mencubit lengan Rio dengan gemas.
Mia : “Kenapa baru sekarang kamu bilangnya? Kenapa
gak waktu baru kejadian? Orang tuanya gimana?”
Rio : “Gak tau, mah. Dia pergi dari rumahnya
gara-gara hamil ini.”
Mia menepuk jidatnya, ia kembali mencubiti Rio
sambil memukul punggung putranya itu. Mia berdiri, mengambil ponselnya dengan
cepat dan mengirimkan chat agar Alex pulang sekarang. Gak ada alasan harus
pulang sekarang juga.
Mia : “Ikut mama. Kita bicara sama Gadis.”
Ketika mereka kembali ke ruang keluarga, Rio
melihat Gadis memegangi perutnya sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Rio : “Mual lagi?”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak ya kk).