
Pesanan mereka
sudah datang dan Rio mulai makan, tanpa mengajak Riri dan Elo yang sedang
bicara.
Riri : “Jadi kakak
mau pergi kapan?”
Elo : “Aku gak mau
pergi kesana sendiri, Ri. Aku mau kesana sama kamu.”
Riri : “Aku kan
belum lulus kuliah, kak.”
Elo : “Ri, mau gak
kamu nerusin kuliah disana? Seandainya kakek minta aku berangkat tahun ini
juga.”
Riri : “Tinggal
diluar negeri? Gak ketemu mama, papa,...”
Riri menoleh
menatap Rio yang hampir menghabiskan makanannya. Gak peka kalau kakak kembarnya
akan diboyong orang ke luar negeri.
Riri : “Rio...
iihh... sebel...” Riri mencubit otot lengan Rio yang langsung menjerit
kesakitan.
Rio : “Adduch!
Adoow! Sakit nich. Apa salahku?”
Riri : “Aku diajak
kak Elo ke luar negeri, nerusin kuliah disana. Gimana dong?”
Rio : “Emang udah
pasti kakek maunya gitu?”
Riri : “Idih,
ikutan manggil kakek. Sok akrab.”
Rio : “Biarin. Yang
penting kita kesana dulu. Temui kakek. Ajak Kaori juga. Nanti kamu tidur sama
sapa? Masa sama aku?”
Elo : “Riri bisa
tidur sama aku...”
Riri melotot
mendengar kata-kata Elo, ia hampir memukul tangan Elo diatas meja. Tapi Elo
sudah membuat gestur tangan menyembah pada Riri, meminta maaf.
Elo : “Aku
bercanda. Jangan marah, Ri. Jadi kalian mau ikut kan?”
Rio : “Ajak Kaori,
Ri. Please...”
Riri : “Ijin sama
papa dulu ya, kak.”
Elo : “Ok. Aku
telpon om Alex sekarang ya.”
Riri : “Kakak gak
makan dulu, nanti makanannya dingin.”
Elo : “Eh, ya lupa.”
Rio sudah selesai
makan ketika Riri dan Elo baru mulai makan. Ia melihat ponselnya dan mencoba menelpon Kaori. Matanya terbelalak
saat Kaori mengangkat telponnya,
Kaori : “Halo...”
Rio : “Kaori, kamu
udah makan?”
Kaori : “Aku... itu
sakit. Ada lecetnya. Badanku jadi meriang.”
Rio : “Kita ke
dokter ya.”
Kaori : “Dokter?
Gak, aku malu.”
Rio : “Kalau gitu kita
keluar beli obat. Ayo.”
Kaori : “Kamu
dimana?”
Rio : “Aku
dikantin.”
Kaori : “Tunggu,
aku kesana.”
Rio menutup
telponnya, ia membrowsing sesuatu yang berhubungan dengan lecet di bagian
sensitif Kaori karena ulahnya. Ada beberapa referensi salep yang bisa dipakai
untuk mengobati luka seperti itu.
Kaori segera keluar
dari asrama putri setelah berganti baju. Ia memakai jaket karena badannya
sedikit menggigil. Ia menyusuri lorong kampus dan tiba di kantin. Celingukan
sebentar, ia melihat Rio melambaikan tangannya.
Riri : “Kalian uda
baikan?” Riri melihat Kaori berjalan mendekatinya.
Rio : “Kayaknya
udah, dia bilang badannya meriang. Jadi aku ajak beli obat.”
Riri : “Kamu sih!”
Rio : “Aku kan
mencoba bertanggung jawab.”
Kaori duduk disamping
Riri,
Kaori : “Hai, Pak
Elo.”
Elo : “Halo juga.
Makan, Kaori.”
Kaori : “Iya, pak.”
__ADS_1
Rio : “Kamu makan
dulu ya. Nanti bisa langsung minum obat.”
Rio menawarkan
bubur ayam dan Kaori mengangguk. Rio bahkan tidak memanggil pelayan. Ia dengan
cepat berjalan ke stand bubur dan memesan bubur ayam dan teh manis panas.
Setelah membayar, pesanan Rio sudah siap. Ia membawanya kembali ke meja mereka.
Rio : “Makan dulu.
Hati-hati ini panas.”
Riri : “Perhatian
banget sich, abang.”
Rio : “Rese...”
Riri : “Idih sensi,
aku kasih tau mama ya, kelakuan kamu kayak gini. Biar dijewer sampe putus.”
Rio : “Mana ada
mama pernah jewer aku. Potong uang jajan yang ada. Tapi jangan bilang ya...”
Riri : “Makanya
ikut kami, gak pake syarat.”
Kaori : “Kalian mau
kemana?”
Rio : “Kak Elo mau
ajak kita jalan-jalan naik jet pribadi kakeknya. Kamu ikut ya.”
Kaori : “Emang
boleh aku ikut?”
Elo : “Boleh kok,
biar Riri ada teman juga. Kita nginep dua hari disana. Minggu siang balik.”
Riri : “Tapi harus
ijin orang tua kita dulu, Kaori.”
Kaori : “Aku ijin
sama kak Katty aja dech. Orang tuaku belum pulang. Mereka juga gak peduli aku
dimana.”
Kaori mengaduk-aduk
bubur di depannya tanpa minat memakannya. Rio mengambil sendok di tangan Kaori
dan mulai menyuapi pacarnya makan bubur.
🌸🌸🌸🌸🌸
Alex menoleh
melihat ponselnya yang berdering nyaring. Ia mendengus kesal, siapa yang berani
mengganggu aktifitasnya bersama Mia.
Mia : “Angkat, mas.
Siapa?”
Alex : “Gak tau
siapa.”
Mia : “Angkat aja
dulu. Aku mau lihat si kembar.”
Mia merapikan
pakaiannya yang dikacaukan Alex, sebelum keluar dari kamarnya. Alex akhirnya
Alex : “Halo.”
Elo : “Halo, om
Alex. Saya Elo.”
Alex : “Ya, Elo.
Ada apa?”
Elo : “Saya mau
minta ijin, om. Saya mau ngajak Riri jalan-jalan akhir pekan ini ke villa kakek
saya di negara S.”
Alex : “Kenapa jauh
sekali? Riri belum punya passport juga.”
Elo : “Itu, kakek
saya meminjamkan jet pribadinya untuk transportasi kesana, jadi tidak perlu
memakai passport, om.”
Alex : “Berapa lama
kalian disana?”
Elo : “Jumat pagi
berangkat, Minggu siang balik, om.”
Alex : “Ok.”
Elo : “Beneran
boleh, om?”
Alex : “Kenapa? Berubah
pikiran? Kalau kamu berani macem-macem, siap-siap aja dihajar Riri.”
Elo : “Gak berani,
om. Saya ajak Rio sama Kaori juga ya, om.”
Alex : “Oh, lebih
bagus lagi kalau gitu. Titip salam buat kakekmu ya. Kamu lagi sama Riri?”
Elo : “Iya, om.
Baru habis makan di kantin. Om mau bicara?”
Alex : “Iya,
sebentar aja.”
Elo menyerahkan
ponselnya pada Riri, yang kebingungan,
Riri : “Halo, pah?”
Alex : “Ri, papa kasi
ijin. Tapi berangkat dari rumah ya. Papa juga ada kabar gembira.”
Riri : “Apaan, pah?”
Alex : “Arnold
sudah bisa jalan normal.”
Riri : “Beneran?
Akhirnya kak Rara bisa kumpul lagi sama kak Arnold. Kapan sembuhnya, pah?”
Alex : “Disini baru
tahu kemarin. Riri sama Rio belajar yang rajin ya. Jangan pacaran melulu.”
Riri : “Iya, papaku
sayang.”
__ADS_1
Alex : “Nah, gitu
dong sama papa.”
Riri : “Sampai
ketemu Kamis sore, pah. Bye.”
Alex : “Bye, Ri.”
Riri mengembalikan
ponsel Elo.
Rio : “Kak Arnold
kenapa?”
Riri : “Kak Arnold
uda bisa jalan normal. Kak Arnold sembuh.”
Mereka bersorak
bersama atas kesembuhan Arnold. Meskipun tidak mengetahui adanya insiden
setelah kabar kesembuhan Arnold, mereka tetap bersuka cita mendengar kabar
bahagia itu.
🌸🌸🌸🌸🌸
Rio keluar dari
apotek dan masuk ke mobilnya. Kaori menerima bungkusan obat dan melihat ada
salep.
Kaori : “Ini untuk
apa?”
Rio : “Oleskan
disitu, ditempat yang lecet. Kata penjaga apoteknya, salep itu paling bagus
untuk ibu menyusui.”
Kaori : “Tapi aku
kan tidak menyusui...”
Wajah Kaori memerah
mengingat kejadian semalam saat Rio semakin berani membuka kemejanya dan
menarik bra yang dipakai Kaori. Kaori sudah mencoba mendorong tubuh Rio, tapi
sia-sia saja. Saat Kaori merasakan rasa nyeri dan panasnya mulut Rio di
dadanya, Kaori langsung menangis histeris.
Untung saja mereka
ada di dalam mobil dengan musik dj yang menghentak, kalau tidak mereka bisa
digerebek petugas keamanan.
Rio : “Kaori, maaf
ya. Aku benar-benar khilaf.”
Kaori : “Lain kali
kalau kamu mau ciuman, tangan kamu harus diikat dulu.”
Rio : “Artinya aku
boleh cium kamu lagi?”
Kaori : “Tapi gak
lebih dari itu ya.”
Rio : “Aku janji.”
Kaori : “Bener ya?”
Rio : “Kalau kamu
yang mulai duluan gimana?”
Kaori : “Tetep aja
tangan kamu gak boleh nakal.”
Rio : “Curang...”
Kaori : “Kamu mau
terjadi sesuatu sebelum kita lulus kuliah?”
Rio : “Sesuatu apa
maksudmu?”
Kaori : “Kita
kebablasan dan aku hamil?”
Rio : “Kita bisa
langsung nikah dan lanjut kuliah. Kan kita ada beasiswa. Aku juga uda kerja
meski jadi ojol. Masalah tempat tinggal, untuk sementara kita tinggal di rumah
papaku ya.”
Kaori melongo
mendengar penuturan Rio. Pacarnya itu bahkan sudah menjawab semua pertanyaannya
berikutnya. Satu paket komplit.
Kaori : “Kamu
serius?”
Rio : “Aku sudah
sejauh ini, mau gak serius gimana? Aku cinta sama kamu, Kaori. Kamu bisa ngerti
kan, gimana hasratku sama kamu.”
Kaori : “Tapi aku
gak mau nikah muda! Aku masih mau kerja, punya penghasilan sendiri dan mandiri
seperti kak Katty.”
Rio : “Iya aku
paham. Terserah kamu aja ya. Aku nurut.”
Kaori : “Anak
pintar. Ayo jalan, kita pulang, aku mau pakai salep ini secepatnya.”
Rio : “Pakai disini
aja, aku bantu.”
Kaori : “Mesum!!”
Rio nyengir
mendengar teriakan Kaori.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para
reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1