Duren Manis

Duren Manis
Ijin om Alex


__ADS_3

Pesanan mereka


sudah datang dan Rio mulai makan, tanpa mengajak Riri dan Elo yang sedang


bicara.


Riri : “Jadi kakak


mau pergi kapan?”


Elo : “Aku gak mau


pergi kesana sendiri, Ri. Aku mau kesana sama kamu.”


Riri : “Aku kan


belum lulus kuliah, kak.”


Elo : “Ri, mau gak


kamu nerusin kuliah disana? Seandainya kakek minta aku berangkat tahun ini


juga.”


Riri : “Tinggal


diluar negeri? Gak ketemu mama, papa,...”


Riri menoleh


menatap Rio yang hampir menghabiskan makanannya. Gak peka kalau kakak kembarnya


akan diboyong orang ke luar negeri.


Riri : “Rio...


iihh... sebel...” Riri mencubit otot lengan Rio yang langsung menjerit


kesakitan.


Rio : “Adduch!


Adoow! Sakit nich. Apa salahku?”


Riri : “Aku diajak


kak Elo ke luar negeri, nerusin kuliah disana. Gimana dong?”


Rio : “Emang udah


pasti kakek maunya gitu?”


Riri : “Idih,


ikutan manggil kakek. Sok akrab.”


Rio : “Biarin. Yang


penting kita kesana dulu. Temui kakek. Ajak Kaori juga. Nanti kamu tidur sama


sapa? Masa sama aku?”


Elo : “Riri bisa


tidur sama aku...”


Riri melotot


mendengar kata-kata Elo, ia hampir memukul tangan Elo diatas meja. Tapi Elo


sudah membuat gestur tangan menyembah pada Riri, meminta maaf.


Elo : “Aku


bercanda. Jangan marah, Ri. Jadi kalian mau ikut kan?”


Rio : “Ajak Kaori,


Ri. Please...”


Riri : “Ijin sama


papa dulu ya, kak.”


Elo : “Ok. Aku


telpon om Alex sekarang ya.”


Riri : “Kakak gak


makan dulu, nanti makanannya dingin.”


Elo : “Eh, ya lupa.”


Rio sudah selesai


makan ketika Riri dan Elo baru mulai makan. Ia melihat ponselnya dan  mencoba menelpon Kaori. Matanya terbelalak


saat Kaori mengangkat telponnya,


Kaori : “Halo...”


Rio : “Kaori, kamu


udah makan?”


Kaori : “Aku... itu


sakit. Ada lecetnya. Badanku jadi meriang.”


Rio : “Kita ke


dokter ya.”


Kaori : “Dokter?


Gak, aku malu.”


Rio : “Kalau gitu kita


keluar beli obat. Ayo.”


Kaori : “Kamu


dimana?”


Rio : “Aku


dikantin.”


Kaori : “Tunggu,


aku kesana.”


Rio menutup


telponnya, ia membrowsing sesuatu yang berhubungan dengan lecet di bagian


sensitif Kaori karena ulahnya. Ada beberapa referensi salep yang bisa dipakai


untuk mengobati luka seperti itu.


Kaori segera keluar


dari asrama putri setelah berganti baju. Ia memakai jaket karena badannya


sedikit menggigil. Ia menyusuri lorong kampus dan tiba di kantin. Celingukan


sebentar, ia melihat Rio melambaikan tangannya.


Riri : “Kalian uda


baikan?” Riri melihat Kaori berjalan mendekatinya.


Rio : “Kayaknya


udah, dia bilang badannya meriang. Jadi aku ajak beli obat.”


Riri : “Kamu sih!”


Rio : “Aku kan


mencoba bertanggung jawab.”


Kaori duduk disamping


Riri,


Kaori : “Hai, Pak


Elo.”


Elo : “Halo juga.


Makan, Kaori.”


Kaori : “Iya, pak.”

__ADS_1


Rio : “Kamu makan


dulu ya. Nanti bisa langsung minum obat.”


Rio menawarkan


bubur ayam dan Kaori mengangguk. Rio bahkan tidak memanggil pelayan. Ia dengan


cepat berjalan ke stand bubur dan memesan bubur ayam dan teh manis panas.


Setelah membayar, pesanan Rio sudah siap. Ia membawanya kembali ke meja mereka.


Rio : “Makan dulu.


Hati-hati ini panas.”


Riri : “Perhatian


banget sich, abang.”


Rio : “Rese...”


Riri : “Idih sensi,


aku kasih tau mama ya, kelakuan kamu kayak gini. Biar dijewer sampe putus.”


Rio : “Mana ada


mama pernah jewer aku. Potong uang jajan yang ada. Tapi jangan bilang ya...”


Riri : “Makanya


ikut kami, gak pake syarat.”


Kaori : “Kalian mau


kemana?”


Rio : “Kak Elo mau


ajak kita jalan-jalan naik jet pribadi kakeknya. Kamu ikut ya.”


Kaori : “Emang


boleh aku ikut?”


Elo : “Boleh kok,


biar Riri ada teman juga. Kita nginep  dua hari disana. Minggu siang balik.”


Riri : “Tapi harus


ijin orang tua kita dulu, Kaori.”


Kaori : “Aku ijin


sama kak Katty aja dech. Orang tuaku belum pulang. Mereka juga gak peduli aku


dimana.”


Kaori mengaduk-aduk


bubur di depannya tanpa minat memakannya. Rio mengambil sendok di tangan Kaori


dan mulai menyuapi pacarnya makan bubur.


🌸🌸🌸🌸🌸


Alex menoleh


melihat ponselnya yang berdering nyaring. Ia mendengus kesal, siapa yang berani


mengganggu aktifitasnya bersama Mia.


Mia : “Angkat, mas.


Siapa?”


Alex : “Gak tau


siapa.”


Mia : “Angkat aja


dulu. Aku mau lihat si kembar.”


Mia merapikan


pakaiannya yang dikacaukan Alex, sebelum keluar dari kamarnya. Alex akhirnya


Alex : “Halo.”


Elo : “Halo, om


Alex. Saya Elo.”


Alex : “Ya, Elo.


Ada apa?”


Elo : “Saya mau


minta ijin, om. Saya mau ngajak Riri jalan-jalan akhir pekan ini ke villa kakek


saya di negara S.”


Alex : “Kenapa jauh


sekali? Riri belum punya passport juga.”


Elo : “Itu, kakek


saya meminjamkan jet pribadinya untuk transportasi kesana, jadi tidak perlu


memakai passport, om.”


Alex : “Berapa lama


kalian disana?”


Elo : “Jumat pagi


berangkat, Minggu siang balik, om.”


Alex : “Ok.”


Elo : “Beneran


boleh, om?”


Alex : “Kenapa? Berubah


pikiran? Kalau kamu berani macem-macem, siap-siap aja dihajar Riri.”


Elo : “Gak berani,


om. Saya ajak Rio sama Kaori juga ya, om.”


Alex : “Oh, lebih


bagus lagi kalau gitu. Titip salam buat kakekmu ya. Kamu lagi sama Riri?”


Elo : “Iya, om.


Baru habis makan di kantin. Om mau bicara?”


Alex : “Iya,


sebentar aja.”


Elo menyerahkan


ponselnya pada Riri, yang kebingungan,


Riri : “Halo, pah?”


Alex : “Ri, papa kasi


ijin. Tapi berangkat dari rumah ya. Papa juga ada kabar gembira.”


Riri : “Apaan, pah?”


Alex : “Arnold


sudah bisa jalan normal.”


Riri : “Beneran?


Akhirnya kak Rara bisa kumpul lagi sama kak Arnold. Kapan sembuhnya, pah?”


Alex : “Disini baru


tahu kemarin. Riri sama Rio belajar yang rajin ya. Jangan pacaran melulu.”


Riri : “Iya, papaku


sayang.”

__ADS_1


Alex : “Nah, gitu


dong sama papa.”


Riri : “Sampai


ketemu Kamis sore, pah. Bye.”


Alex : “Bye, Ri.”


Riri mengembalikan


ponsel Elo.


Rio : “Kak Arnold


kenapa?”


Riri : “Kak Arnold


uda bisa jalan normal. Kak Arnold sembuh.”


Mereka bersorak


bersama atas kesembuhan Arnold. Meskipun tidak mengetahui adanya insiden


setelah kabar kesembuhan Arnold, mereka tetap bersuka cita mendengar kabar


bahagia itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


Rio keluar dari


apotek dan masuk ke mobilnya. Kaori menerima bungkusan obat dan melihat ada


salep.


Kaori : “Ini untuk


apa?”


Rio : “Oleskan


disitu, ditempat yang lecet. Kata penjaga apoteknya, salep itu paling bagus


untuk ibu menyusui.”


Kaori : “Tapi aku


kan tidak menyusui...”


Wajah Kaori memerah


mengingat kejadian semalam saat Rio semakin berani membuka kemejanya dan


menarik bra yang dipakai Kaori. Kaori sudah mencoba mendorong tubuh Rio, tapi


sia-sia saja. Saat Kaori merasakan rasa nyeri dan panasnya mulut Rio di


dadanya, Kaori langsung menangis histeris.


Untung saja mereka


ada di dalam mobil dengan musik dj yang menghentak, kalau tidak mereka bisa


digerebek petugas keamanan.


Rio : “Kaori, maaf


ya. Aku benar-benar khilaf.”


Kaori : “Lain kali


kalau kamu mau ciuman, tangan kamu harus diikat dulu.”


Rio : “Artinya aku


boleh cium kamu lagi?”


Kaori : “Tapi gak


lebih dari itu ya.”


Rio : “Aku janji.”


Kaori : “Bener ya?”


Rio : “Kalau kamu


yang mulai duluan gimana?”


Kaori : “Tetep aja


tangan kamu gak boleh nakal.”


Rio : “Curang...”


Kaori : “Kamu mau


terjadi sesuatu sebelum kita lulus kuliah?”


Rio : “Sesuatu apa


maksudmu?”


Kaori : “Kita


kebablasan dan aku hamil?”


Rio : “Kita bisa


langsung nikah dan lanjut kuliah. Kan kita ada beasiswa. Aku juga uda kerja


meski jadi ojol. Masalah tempat tinggal, untuk sementara kita tinggal di rumah


papaku ya.”


Kaori melongo


mendengar penuturan Rio. Pacarnya itu bahkan sudah menjawab semua pertanyaannya


berikutnya. Satu paket komplit.


Kaori : “Kamu


serius?”


Rio : “Aku sudah


sejauh ini, mau gak serius gimana? Aku cinta sama kamu, Kaori. Kamu bisa ngerti


kan, gimana hasratku sama kamu.”


Kaori : “Tapi aku


gak mau nikah muda! Aku masih mau kerja, punya penghasilan sendiri dan mandiri


seperti kak Katty.”


Rio : “Iya aku


paham. Terserah kamu aja ya. Aku nurut.”


Kaori : “Anak


pintar. Ayo jalan, kita pulang, aku mau pakai salep ini secepatnya.”


Rio : “Pakai disini


aja, aku bantu.”


Kaori : “Mesum!!”


Rio nyengir


mendengar teriakan Kaori.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para


reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2