
Extra part 53
Setelah Alan merasa lebih baik dengan lidahnya, ia melanjutkan
mengecek keanehan pada tampilan web-nya. Ginara yang masih penasaran, ikut
memperhatikan layar laptop dengan serius. Mau bagaimanapun ia berusaha, Ginara
tetap tidak menemukan keanehan pada tampilan web itu.
Kehadiran Ginara sangat berguna untuk melihat
tampilan web dari mata umum. Alan menunjuk beberapa gambar dan memutarnya lebih
cepat.
“Menurutmu ini terlalu cepat atau masih biasa saja?”
tanya Alan. Ginara mengatakan pendapatnya dan Alan merubah sedikit huruf dan
angka yang banyak tadi.
“Gimana bisa kamu nggak pusing melihat itu semua?
Itu buat apa?” tanya Ginara.
“Itu namanya coding, gunanya untuk menerjemahkan
logika ke dalam bahasa pemrogaman komputer. Dengan kata lain untuk membuat
tampilan web seperti ini, coding ini diperlukan,” jelas Alan.
Ginara senyum manis, ia tidak mengerti sama sekali.
Tampilan web kembali terlihat, kali ini Ginara bisa melihat lebih nyaman dan
slide tidak terlalu cepat berganti.
“Yang tadi kamu bilang aneh itu apa?” tanya Ginara
masih kepo.
“Itu, dinding kantornya mirip lumut. Sama kursi di
depan, ukurannya lebih besar dari mejanya. Masa kamu nggak lihat?” tanya Alan.
Ginara menggeleng, ia lebih fokus pada perubahan
wajah perusahaan dari tahun ke tahun tanpa memperhatikan detail. Alan
menyelesaikan pekerjaannya hari itu dengan cepat. Jodi menelponnya dan memuji
pekerjaan Alan. Untuk project selanjutnya, Jodi ingin membuat iklan animasi.
Konsep dan jalan ceritanya sedang dikerjakan department marketing dan akan siap
dalam seminggu.
Alan mematikan laptopnya, ia bersiap pulang. Saat
itu, ada panggilan darurat dari Endy. Alan langsung berjalan keluar dari
ruangan itu tanpa berpamitan pada Ginara. Gadis itu hanya bengong menatap
kepergian Alan tanpa bisa mengejarnya. Sebuah mobil berwarna hitam sudah
menunggu Alan di lobby kantor Jodi. Pemuda itu langsung masuk ke dalam mobil dan
mobil hitam itu langsung meluncur pergi dari kantor Jodi.
**
Seminggu kemudian, Alan datang lagi. Kali ini
manager marketing secara langsung menemani Alan sambil berdiskusi tentang
konsel iklan terbaru perusahaan Jodi. Perhatian Alan teralihkan saat Ginara
masuk ke ruang meeting sambil membawa flashdisk yang diperlukan Alan.
Gadis itu hanya tersenyum biasa saja, lalu pergi
tanpa bicara pada Alan. Tingkah Ginara membuat Alan sedikit bertanya-tanya, apa
yang terjadi pada gadis itu. Gadis yang biasanya ramah saat bicara padanya,
sedikit ceplas-ceplos, kini seolah cuek dengan kehadiran Alan.
Tidak sampai lima belas menit, manajer marketing
sudah keluar dari ruang meeting karena Alan ingin bekerja sendiri. Ginara masuk
lagi ke ruangan itu setelah manager marketing keluar. Gadis itu membawakan
flashdisk lain untuk Alan.
“Pak Alan, di dalam flashdisk ini ada konsep yang
kedua. Untuk bagian penutupnya juga. Saya permisi dulu,” kata Ginara formal.
“Tunggu, Ginara. Kamu kenapa formal sekali.
Tetaplah disini dulu, aku perlu kamu melihat iklan ini,” pinta Alan yang masih
ingin melihat Ginara.
Gadis itu agak ragu-ragu, ia merasa canggung
bersikap santai di depan Alan setelah peringatan dari manajer marketing yang
__ADS_1
mengatakan kalau Alan adalah tamu eksklusif Jodi. Ginara dan staf lainnya harus
menghormati Alan. Tentu saja manager itu tidak tahu kalau Ginara dan Alan
pernah bertemu sebelumnya. Ginara yang polos hanya mengikuti perintah
managernya.
“Tapi, pak. Saya diminta untuk tidak mengganggu pak
Alan. Lebih baik saya keluar dulu,” kata Ginara hampir beranjak dari sisi Alan.
Alan menahan tangan Ginara, ia berdiri mengimbangi
langkah Ginara yang tetap kekeh ingin keluar dari ruang meeting. Brak! Pintu
ruang meeting ditutup Alan dengan cepat. Ginara tertegun melihat pintu tertutup
di depannya.
“Ginara, kamu marah sama aku?” tanya Alan.
“Marah kenapa? Kenapa mesti marah? Bapak kan nggak
salah,” kata Ginara dengan polosnya.
Alan tersenyum, ia melepaskan genggaman tangannya
dari tangan Ginara. Pemuda itu meminta dibawakan segelas capucino dan juga air
mineral. Ginara menatap Alan lalu tersenyum manis kepada pemuda itu.
“Ada lagi selain itu? Biar sekalian disiapkan,”
kata Ginara.
“Itu aja dulu,” sahut Alan sambil berjalan kembali
ke kursinya.
Ginara membawakan pesanan Alan dengan cepat, ia
letakkan capucino dan air mineral di dekat laptop Alan.
“Silahkan diminum, pak. Saya permisi dulu,” kata
Ginara sopan.
“Tolong tiup capucinonya sampai dingin,” pinta Alan.
Ginara terpaku untuk sesaat, ia mengulang perintah
Alan sekali lagi dan pemuda itu mengangguk mantap. Alan kembali fokus pada
coding di laptopnya. Ia tersenyum tipis ketika melihat Ginara mengambil kertas
membawa cangkir capucino itu ke depan AC dan membiarkan AC itu membantunya.
”Entah emang polos atau bodoh. Tapi aku suka
melihatnya,” batin Alan.
Jemari pemuda itu menari sangat lincah di atas
keyboard laptop, ia menghapus beberapa angka dan tanda baca yang tidak
diperlukan. Matanya melihat seluruh layar laptop sebelum melirik Ginara yang
memegang cangkir capucino-nya.
“Sudah dingin?” tanya Alan.
“Apanya?” tanya Ginara polos.
“Capucinonya,” sahut Alan dengan sabar.
Gadis itu menggeleng, cangkirnya masih terasa hangat.
Ginara kembali mengipasi cangkir capucino itu dengan wajah penasaran. Kenapa
dinginnya lama banget?
Alan melirik cangkir capucino yang sudah diletakkan
Ginara di dekatnya. Capucinonya sudah dingin dan Alan mengatakan kalau ia tidak
suka capucino dingin. Alan minta Ginara untuk membuatkan capucino hangat. Gadis
itu mengambil cangkir capucino di samping Alan lalu meminumnya sampai habis.
“Siapa yang suruh kamu ngabisin capucino itu?”
tanya Alan membuat Ginara gelagapan.
“Tadi bapak bilang nggak suka capucino dingin, jadi
saya minum saja. Sebentar saya buatkan capucino hangat. Bapak minum air dulu
ya,” kata Ginara sambil membawa cangkir kosong itu keluar dari ruang meeting.
Alan menepuk keningnya, ia bingung dengan sikap Ginara
yang tetap formal. Padahal jelas-jelas Alan sudah mengerjainya. Pemuda itu
paling jago dalam urusan membuat kesal orang. Ia akan membuat Ginara kesal
padanya.
Ginara masuk lagi ke ruang meeting, kali ini
__ADS_1
membawa capucino panas dan segelas es batu. Gadis itu hampir memasukkan es batu
ke capucino panas. Alan segera menahan tangan Ginara.
“Kamu mau apa?” tanya Alan.
“Biar capucino-nya hangat, saya kasih es batu, pak,”
sahut Ginara.
Alan menggaruk kepalanya, memang bisa seperti itu
tapi rasa manis dari capucinonya akan hilang. Ginara harus mengipasi capucino
itu sampai jadi hangat.
“Bapak lagi ngerjain saya ya?” tanya Ginara yang
baru ngeh.
“Aku cuma minta capucino hangat. Itu ngerjain
namanya?” tanya Alan balik.
“Eh, iya juga ya. Tunggu sebentar, pak.” Ginara
kembali mengipasi capucino itu sambil sesekali mengecek cangkirnya.
Alan kembali fokus pada laptopnya, ia hampir
selesai mengerjakan layout pertama untuk iklan yang diminta Jodi. Saat Ginara
meletakkan cangkir capucino hangat di samping Alan, pria itu meminta Ginara
melihat tampilan iklan yang sudah jadi.
Ginara fokus menonton iklan itu, sesekali ia
tersenyum lebih lebar tapi lebih banyak menonton dengan ekspresi datar. Setelah
selesai menonton, Ginara menatap Alan dan mengatakan ada yang aneh dengan iklan
itu. Alan mempersilakan Ginara menonton sekali lagi dan mengatakan apa yang
mengganggunya.
Mereka membahas tentang konsep iklan itu sekali
lagi sehingga Alan bisa mengerjakan layout iklan yang benar. Tak terasa waktu menunjukkan
pukul delapan malam. Keduanya bahkan melupakan makan malam karena terlalu asyik
mengerjakan iklan itu.
Ginara keluar dari ruang meeting lebih dulu,
sementara Alan masih membereskan laptopnya sambil membalas pesan dari Melda. Setelah
memasukkan laptop ke dalam tasnya, alan keluar dari ruang meeting. Ia melihat
sekeliling ruangan department marketing yang sebagian lampunya sudah dimatikan.
Seharusnya Ginara masih ada dimejanya di dekat pantry.
Alan berjalan kesana dan tidak menemukan Ginara di mejanya.
“Ginara?” panggil Alan.
Hening. Tidak ada yang menyahut panggilan Alan. Pemuda
itu sedikit heran dan mengira Ginara masih ke toilet. Saat Alan berjalan melewati
meja Ginara, ia melihat sesuatu terjatuh di lantai. Sebuah tas kecil. Alan
mengambil tas itu dan membukanya. Ia melihat sebuah dompet kecil yang berisi KTP
Ginara.
Alan memasang mode siaga, ia melihat sekeliling,
memikirkan segala tempat yang mungkin akan menjadi tempat keberadaan gadis itu.
Dilihat dari isi tas itu, Ginara jelas membawa ponselnya. Alan segera
menghidupkan ponselnya untuk melacak keberadaan ponsel lain di sekitarnya. Yang
paling dekat berada tidak jauh, masih berada di lantai yang sama.
Alan bergerak cepat mengikuti dua signal ponsel
yang berdekatan itu. Ada sebuah pintu yang sepertinya ruangan kosong. Brak!
Sesuatu terdengar jatuh di dalam sana. Alan mendekat ke pintu untuk menguping.
“Tolong...!” Itu suara seorang wanita yang meminta
bantuan.
Alan melihat sekeliling, tidak ada benda yang bisa
dipakai membela diri. Ia hanya bisa mengandalkan anggota tubuhnya sekarang.
Alan membuka pintu ruangan itu dan melihat seseorang sedang berada di atas
tubuh Ginara. Alan mengenali pakaian gadis itu. Tampak tangan Ginara mendorong-dorong
tangan orang yang langsung menampar pipi gadis itu dua kali, lalu merobek
pakaian Ginara.
__ADS_1