Duren Manis

Duren Manis
Extra part 15


__ADS_3

Extra part 15


Gadis yang merasa Rio mulai berubah, menyisihkan waktunya yang padat untuk mencari tahu tentang model rambut dan pakaian terbaru di ponselnya. Ia ingin merubah sedikit penampilannya yang standar agar terlihat


lebih elegan dan cantik.


Mia yang kepo dengan apa yang dilakukan Gadis, duduk disamping menantunya itu. Ia melihat-lihat juga pakaian baru yang cocok dengan dirinya.


“Dis, kamu nyari model terbaru, ya? Jangan pakai yang gini, malah keliatan gendut,” usul Mia sambil menunjuk model baju yang terus diperhatikan Gadis.


Wanita itu melirik Mia, meskipun sudah berumur, Mia terlihat cantik dan modis. Mertuanya itu selalu mengikuti jaman dan tentu saja membuat Alex tergila-gila terus padanya.


“Mah, gimana sich caranya biar suami tuch nggak ngelirik cewek lain?” tanya Gadis minta saran.


“Emang Rio ngelirik cewek lain?” tanya Mia balik.


Gadis menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berbisik pada Mia. “Nggak tau juga, mah. Tapi kayaknya mulai gitu sich.”


Mia yang sensitif masalah orang ketiga, mengepalkan tangannya siap mengomeli Rio. Tapi Gadis mencegah Mia, ia ingin memakai cara halus yang tidak mungkin ditolak Rio.


“Kalau mama selalu rutin quality time sama papa. Kalau nggak sempat, ya sekedar mandi bareng lah. Tapi nggak ngapa-ngapain cuma mandi aja. Saling bersihin badan satu sama lain gitu. Kan nggak lama,” kata Mia


sambil berbisik juga.


“Oh, bisa gitu juga ya, mah. Tapi kapan dong aku bisa gitu. Pagi, udah harus nganter bocil. Jelas mandi duluan dari Rio. Trus sore, sibuk ngurusin PR, keduluan mandi dari Rio. Aku bingung ngatur waktunya, mah,” curhat Gadis masih bisik-bisik.


“Kita kenapa ngomong bisik-bisik gini? Bukannya dirumah lagi sepi? Paling ada Kaori sama si kembar Riana dan Riani doang, eh nggak ada ding. Kaori ke kantor papa buat makan siang bareng,” kata Mia biasa aja.


Gadis nyengir kuda, biar bagaimanapun obrolan mereka termasuk obrolan yang sensitif kalau didengar bocil bisa ditanya macem-macem.


Mia memberitahu Gadis untuk memotong dan mengecat rambutnya agar terlihat lebih fresh. Selama ini gaya rambut Gadis cenderung panjang tanpa model rambut yang jelas.


“Kalau bisa rambutmu di potong pendek atau dibuat agar curly gitu, Dis.” Mia merapikan rambut Gadis yang terus terikat.

__ADS_1


“Gerah, mah. Kalo dilepas,” kata Gadis.


“Makanya potong pendek. Coba mama cariin model yang bagus ya,” kata Mia sambil menekan browser di ponselnya.


Gadis terus memperhatikan apa yang dipilih Mia, ia hampir lupa bagaimana tampil gaya setelah bertahun-tahun diam dirumah saja. Setidaknya ia punya bayangan tentang apa yang harus dipilihnya nanti. Untuk mempermudah Gadis me time, Mia yang menjemput anak-anak Gadis dan Renata. Sementara Gadis


berangkat ke sebuah mall untuk memanjakan dirinya.


Sampai di salon langganan Mia, Gadis dijamu dengan baik. Hairstylist memberikan beberapa contoh model rambut yang sesuai untuk Gadis dan memilihkan warna cat rambut yang cocok untuk Gadis. Tapi setelah


rambutnya dipotong, Gadis menolak di cat rambutnya. Baginya potongan rambutnya sudah lebih dari cukup untuk saat sekarang ini.


Kemudian, Gadis melakukan perawatan rambut dan tubuh. Ia mengambil paket yang cukup banyak tapi cepat. Waktunya tidak banyak karena masih harus berbelanja pakaian juga.


*“Enak sekali pijatannya\, seharusnya aku sempatkan melakukan ini. Pantas saja mama betah ke salon tiap bulan.”*


Saking sibuknya mengurus anak-anaknya, Gadis hanya bisa luluran di rumah. Itupun kejar-kejaran dengan waktu hingga hasilnya tidak maksimal. Padahal ke salon itu tidak lama, hanya dua sampai tiga jam dan


Gadis tersenyum cerah melihat penampilan rambut dan juga kulitnya yang fresh. Tangan dan kakinya juga berhias cat kuku berwarna merah yang cantik. Sesekali ia mengangkat dagunya, lalu mengambil foto selfie


untuk ia simpan. Setelah membayar tagihan salon, Gadis pergi ke toko pakaian yang ada di mall yang sama.


Gadis mencoba beberapa pakaian yang mirip modelnya dengan apa yang ditunjukkan Mia, ia menyukai beberapa yang cukup nyaman dipakai sehari-hari dan harganya juga tidak terlalu mahal. Ia membayar untuk beberapa pakaian baru dan mengganti pakaiannya dengan salah satu dress pendek yang cantik.


Gadis mematut dirinya di cermin ruang ganti. Ia tersenyum senang melihat penampilan barunya. Apalagi saat itu ia memakai sepatu sneaker berwarna putih yang serasi dengan dressnya. Puas dengan penampilannya,


Gadis keluar dari toko itu lalu berjalan menuju tempat menjual make up. Kebetulan Mia kehabisan liptik dan menitip pada Gadis untuk membelikannya.


Sampai di depan counter lipstik yang berdekatan dengan bioskop, Gadis asyik memilih-milih lipstik selain lipstik untuk Mia. Ia mencoba lipstik berwarna merah menyala dan nyeri sendiri melihat ketika warna lipstik itu ia coretkan di tangannya.


“Waduh, merah banget. Tapi kayaknya mama punya dech warna ini,” gumam Gadis sambil melihat warna yang lebih soft.


Ketika ia mendongak karena dipanggil penjaga counter yang sudah selesai memproses nota untuk lipstik Mia, Gadis melihat Rio berjalan dengan seseorang di depannya. Rio tidak mengenali Gadis yang tampak sangat berbeda dari penampilannya yang biasanya.

__ADS_1


Penasaran siapa yang bersama suaminya, Gadis mengikuti langkah mereka yang sepertinya menuju bioskop. Sambil mencari tempat yang lebih aman untuk mengintip, Gadis terus memperhatikan keduanya yang asyik


ngobrol.


Gadis itu menggelayut manja di lengan kekar Rio yang beberapa kali menepis. Tapi gadis itu tidak menyerah dan tetap menggandeng tangan Rio. Keduanya tampak mengantri di depan loket untuk film horor. Gadis


mengkerutkan keningnya, Rio termasuk orang yang takut nonton film horor. Ia teringat saat mereka nonton film horor terakhir kali dan Rio bersembunyi dibelakang punggung Gadis.


“Ya ampun, udah lama juga aku nggak pernah nonton lagi sama Rio. Padahal dia sering ngajak aku nonton, tapi aku nggak bisa ninggalin anak-anak,” gumam Gadis sedih.


Saat gadis itu berbalik karena seseorang menyapanya, Gadis bisa mengenali gadis itu. Keira tampak berbincang dengan orang di belakangnya, sementara Rio hanya sesekali menoleh. Jelas terlihat wajah


bete Rio yang seperti terpaksa melakukan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.


Gadis mencoba menelpon Rio, ia menanyakan sedang apa suaminya itu saat ini.


“Halo, Rio. Kamu lagi ngapain?” tanya Gadis sambil berusaha meredam suara dibelakangnya.


“Aku lagi diluar sama client. Kenapa, yank?” tanya Rio yang tidak terlalu mendengar suara Gadis.


“Kamu pulang on time, kan? Aku mau ngajak keluar,” kata Gadis berusaha tenang mendengar jawaban bohong Rio.


“Ya, aku pulang seperti jam biasa. Sampai nanti, yank.” Rio memutuskan panggilan karena tidak mau Gadis mendengar suara berisik Keira di sebelahnya.


Gadis mengelus dadanya, ia menaikkan ponselnya lalu memotret Rio dan Keira yang sedang bersama. Dikirimnya foto itu ke ponsel Rio yang langsung diterima pria itu.


“Kalau kamu mau jalan sama Keira, bilang aja terus terang. Nggak perlu bohong,” ketik Gadis mendampingi foto itu.


Rio auto menoleh melihat sudut foto itu diambil, ia bertatapan dengan Gadis yang sudah menatapnya dengan sedih. Gadis berbalik, ia berlari dengan cepat menerobos kerumunan yang akan menonton film di bioskop. Kerumunan itu menghambat Rio untuk mengejar Gadis yang menghilang dengan cepat.


**


Mama Gadis ngambek nich. Gimana cara papa Rio ngabujuk mama Gadis?

__ADS_1


__ADS_2