
Riri tidak tahu kemana Elo membawanya. Ia sibuk mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Bahkan tisu bekas mulai berserakan disekitar Riri.
Elo melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang lengang. Ia masuk ke salah satu kompleks apartment dan menghentikan mobilnya di tempat parkir.
Elo mengambil jaket hoodie di kursi belakang, ia memakaikannya pada Riri.
Elo : "Ri?"
Elo memegang kedua pipi Riri yang basah dengan air mata.
Elo : "Ri, kita mampir bentar ya. Ini apartmentku. Kamu bisa nenangin diri disini. Ayo."
Riri : "Apartment? Hik... Hik..."
Elo : "Aku gak akan macem-macem. Aku juga gak mau nganter kamu dalam kondisi gini pulang ke rumahmu. Aku gak mau papamu lihat kamu nangis gini. Nanti kita gak boleh ketemu."
Elo terlihat putus asa meyakinkan Riri. Riri takut terjadi sesuatu diantara mereka saat berdua saja.
Ia ingat peringatan Mia. Tapi akhirnya Riri mengangguk.
Riri : "Tapi bentar aja ya, kak."
Elo : "Iya."
Mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk ke apartment itu. Elo menekan tombol lift sambil merapatkan hoodie yang menutup kepala Riri.
Elo tidak mau siapapun melihat wajah sembab Riri dan membuat gadis itu malu. Apalagi ia akan bertamu ke rumah laki-laki single.
Riri merasakan tangan Elo merangkul pundaknya untuk masuk ke dalam lift. Riri melirik ketika Elo menekan nomor 4.
Lift bergerak naik membuat Riri sedikit limbung. Elo mengeratkan pelukannya ke pundak Riri agar ia tidak jatuh.
Pintu lift terbuka, mereka berjalan ke sebelah kiri lift dan Elo berhenti di depan sebuah pintu. Dengan cepat Elo menekan password di pintu apartment yang langsung terbuka.
Elo : "Ayo, masuk Ri."
Fokus Riri langsung tertuju pada ranjang ukuran queen di dekat jendela. Wajahnya memerah ketika Elo menutup pintu di belakang mereka dan sepertinya langsung terkunci otomatis.
Elo : "Kamu duduk dulu ya. Aku buatin teh."
Ragu-ragu Riri berjalan mendekati sofa dan duduk disana. Hawa dingin dari AC mulai memenuhi kamar apartment itu.
Riri merapatkan hoodie yang membungkus tubuhnya. Dia akan baik-baik saja selama ia memakai hoodie itu.
Elo meletakkan mug berisi teh dan juga sebuah kaleng berisi roti kering.
Elo : "Minum dulu. Buka saja hoodie-nya."
Riri : "Aku pake aja, kak."
Elo melihat Riri gelisah sambil terus merapatkan hoodie yang dipakainya. Ia tersenyum,
Elo : "Kamu takut cuma berdua sama aku disini?"
__ADS_1
Riri : "Hehe... Iya, kak."
Elo : "Buka hoodienya, itu uda kotor. Pake yang ini."
Elo membuka lemari pakaiannya dan mengambil hoodie berwarna hitam yang harum Elo banget.
Elo : "Aku ke kamar mandi dulu ya."
Elo meletakkan hoodie itu di dekat Riri dan beranjak masuk ke kamar mandi. Ia sengaja melakukannya agar Riri bisa menggantinya dengan nyaman.
Riri cepat-cepat mengganti hoodie yang ia pakai tadi dengan hoodie baru. Ia melihat di depan tempat tidur Elo ada rak berisi banyak sekali buku.
Riri melirik ke arah pintu kamar mandi, Elo belum keluar dari sana. Riri berjalan mendekati rak buku dan melihat-lihat deretan judul buku yang tertulis di rak itu.
Ia menemukan ada buku yang sudah lama ingin ia baca tapi susah sekali mendapatkannya.
Elo : "Kalau ada yang mau kamu baca, buka aja raknya."
Riri membeku di tempat, Elo sudah ada di sampingnya. Riri beringsut menjauhi rak buku dan berdiri di dekat jendela.
Elo menghela nafas,
Elo : "Aku ngerasa kayak punya bau badan menyengat sampai kamu jauhin aku terus."
Riri : "Maaf, kak."
Elo : "Ya, udahlah. Sini, ambil buku yang kamu mau. Aku mau masak makan siang dulu."
Riri : "Kakak bisa masak?"
Riri : "Iya, kak. Aku bantu masak ya."
Elo : "Mendingan kamu duduk aja, baca buku ya."
Riri tersenyum menatap Elo yang berjalan mendekati kulkasnya. Ia mengeluarkan beberapa bahan makanan dan mulai memasak.
Riri mengambil buku yang ia ingin baca dan mulai duduk manis di dekat tempat tidur. Ada karpet bulu yang sangat empuk dan juga bantal besar disana.
Elo membuat areal sekitar tempat tidurnya menjadi tempat membaca yang nyaman dengan lampu sorot yang cukup meneduhkan mata.
Riri mulai membuka satu persatu lembar buku yang dipegangnya. Glegaarr! Suara petir diluar sana sedikit mengagetkannya.
Riri melihat keluar jendela. Hujan turun dengan derasnya membasahi seluruh kota. Ponsel Riri berdering, ada telpon masuk dari Mia.
Riri : "Halo, mah."
Mia : "Riri dimana?"
Riri : "Riri di... apartment kak Elo, mah."
Mia : "Kamu ngapain disana?"
Riri : "Tadi kita kan ke rumah Pak Michael, trus ada tante Dewi. Lagi-lagi dia ngomong aneh-aneh."
__ADS_1
Mia : "Trus? Gimana?"
Riri : "Riri nangis, mah. Gak kuat denger Pak Michael teriak, tante Dewi teriak, kak Elo juga teriak. Mereka saling teriak."
Mia : "Trus, trus..."
Riri : "Mama nich kayak tukang parkir dech."
Mia : "Eh, masa sih? Mama kan penasaran."
Riri : "Trus kak Elo pamitan ngajak Riri pergi gitu aja. Gak mau dengerin tante Dewi lagi. Riri gak tau ternyata dibawa kesini sama kak Elo."
Mia : "Kalian gak ngapa-ngapain kan?"
Riri : "Riri uda pake hoodienya kak Elo. Kayaknya gak pa-pa, mah. Bentar lagi juga Riri pulang. Disini hujan deras dan kak Elo lagi masak makan siang."
Elo : "Ri, ini cemilan dan tehmu."
Riri terdiam dengan tangan masih memegang ponsel saat Elo tiba-tiba nongol di depannya, menaruh nampan dan langsung balik lagi ke dapur tanpa memandangnya.
Mia : "Halo? Ri?"
Riri : "Iya, mah. Itu kak Elo bawain teh. Riri dari tadi jauh-jauhan sama dia. Sampai dia bilang kayak punya bau badan menyengat, jadi Riri gak mau dekat-dekat."
Mia terkikik geli, ia membetulkan posisi duduknya di ruang keluarga agar lebih nyaman.
Mia : "Aduh, kasian amat. Masa pacaran jauh-jauhan."
Riri : "Kata mama harus waspada."
Mia : "Iya, sih. Tapi kan kasian Elo nya."
Riri : "Ya, deh. Riri deket-deket lagi."
Mia : "Jangan terlalu deket ya."
Riri : "Tuch kan. Mama parno lagi."
Mia : "Mama kan cuma jagain anak gadis masih muda, baru kuliah, cantik lagi."
Riri : "Ach, mama bisa aja muji cantik."
Mia : "Elo aja sampe melongo liatnya. Cantik banget."
Riri tersenyum malu, wajahnya merona dipuji Mia. Mamanya itu selalu jadi tempat curhat yang nyaman banget.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²