
Berduka cita
Rio memejamkan matanya dan hembusan angin
menyadarkan keberadaannya. Rio melihat sekeliling kamar Kaori, sekilas ia
merasa sedang bermimpi tadi. Rio mengusap air matanya, ia mengganti baju
kaosnya dengan kemeja hitam yang biasa ia pakai kuliah.
Setelah mencuci wajahnya di wastafel, Rio keluar
dari kamar Kaori. Semua orang sudah bersiap pergi ke pemakaman. Rio berdiri di
samping Jodi yang bersiap mengangkat keranda Kaori. Ia menggantikan Jodi
mengangkat keranda Kaori.
Selama 15 menit perjalanan ke areal pemakaman itu,
Rio merasa tubuhnya sangat ringan. Ia tidak mendengar suara-suara yang ada di
sekitarnya. Ia hanya berjalan mengikuti kemana langkahnya membawa dirinya.
Semuanya begitu cepat sampai Rio tersadar dirinya
sudah bersimpuh di samping nisan Kaori. Tangan dan kakinya penuh dengan lumpur
tanah pemakaman Kaori. Ia mengusap nisan itu dengan tangannya yang kotor.
Melihat nisan itu jadi kotor karena ulahnya, Rio mengelap lumpur ke bajunya dan
membersihkan lumpur di nisan Kaori.
Rio tidak menangis lagi. Ia mulai mendengar suara
tangisan Katty di sebelahnya dan juga isak tangis papa dan mama Katty yang
masih berada disana. Alex dan Mia menarik Rio agar bangun, mereka sudah harus
pulang dan tidak mungkin meninggalkan Rio sendirian di dekat kuburan Kaori.
Mia : “Relakan dia, Rio. Biarkan dia bahagia
disana.”
Alex : “Ayo, kita pulang, nak.”
Rio mengikuti kedua orang tuanya walau langkahnya
terasa sangat berat meninggalkan Kaori sendirian disana.
*****
Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Jodi dan
Katty secara resmi ditunda. Hanya akad saja yang tetap dilaksanakan dalam
kondisi keluarga Katty yang masih berduka. Acara itu hanya dihadiri keluarga
inti saja, bahkan Katty tidak berhias sama sekali.
Anton meminta akad tetap dilaksanakan karena Katty
yang sudah hamil dan resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah Katty
melahirkan nantinya. Semua yang hadir memakai pakaian hitam tak terkecuali Rio
yang hadir sambil memegang foto Kaori.
Katty menatap foto Kaori dan juga wajah Rio yang
tersenyum padanya. Setelah beberapa hari berlalu, Rio baru bisa tersenyum
sekilas. Ia sudah kembali kuliah seperti biasa. Namun ada yang berubah pada
diri Rio, ia jadi dingin pada semua teman perempuannya.
Katty menghampiri Rio, duduk di sampingnya.
Rio : “Selamat, kak.”
Katty : “Makasih, Rio. Kakak boleh peluk kamu?”
Rio mengangguk. Katty merentangkan tangannya
__ADS_1
memeluk Rio dengan erat. Setelah kehilangan Kaori, Katty jadi lebih dekat
dengan Rio. Katty sudah menganggap Rio sebagai adiknya sendiri. Mereka akan
duduk berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang Kaori.
Jodi yang melihat Katty memeluk Rio, ikut bergabung
dengan mereka. Katty melihat wajah cemberut Jodi,
Katty : “Kamu cemburu ya.”
Jodi : “Nggak. Aku juga pengen dipeluk.”
Rio : “Lepas, kak. Peluk kak Jodi sana.”
Katty : “Gak mau. Aku mau peluk uncle Rio.”
Katty malah menggelayut manja di lengan Rio. Ia
masih merasakan ngidam karena hamil muda. Tentu saja permintaannya selalu
aneh-aneh dan membuat orang-orang disekitarnya ketakutan setiap ketemu Katty,
takut dikerjain.
Jodi : “Sepertinya anak kita itu perempuan dech.
Sukanya peluk cowok ganteng.”
Rio : “Jangan sampai jatuh cinta sama uncle Rio
ya.”
Katty mengelus perutnya saat Rio berkata begitu.
Sejak awal takdir sudah menyatukan mereka berdua dalam suatu ikatan yang tidak
akan pernah bisa mereka bayangkan.
*****
Tiba hari saat keberangkatan Riri dan Elo keluar
erat karena harus meninggalkan kembarannya itu disaat Rio sedang sangat
memerlukan dirinya.
Rio : “Pergi sana. Nanti pulang bawain aku ponakan
yang lucu.”
Riri : “Rio, kamu ikut kesana ya.”
Rio : “Ogah. Aku gak mau jadi obat nyamuk. Kamu kan
udah punya suami. Sana deket suamimu. Berhenti tergantung sama aku.”
Riri : “Rio...”
Rio : “Apa?”
Riri : “Kamu gak kangen sama aku?”
Rio : “Nggak lah. Pasti kamu v-call tiap hari sampe
aku bosen. Urus suamimu disana. Jangan kebanyakan baca buku. Belajar masak.
Masak air aja gosong.”
Riri memukul lengan Rio yang mengejeknya. Angin di
bandara berhembus dengan kencang, menyamarkan air mata Rio yang kembali
mengalir. Dua orang yang sangat dekat dengannya meninggalkannya dalam waktu
yang bersamaan.
Rio mendorong Riri dan tersenyum padanya.
Riri : “Jangan sedih lagi ya.”
Rio : “Iya, bawel. Kak Elo, ini Ririnya bawa masuk
ke pesawat. Nggak berangkat-berangkat kebanyakan drama.”
__ADS_1
Riri : “Emangnya aku kucing dibawa masuk.”
Rio menghindari pukulan Riri dan berlari ke
belakang Mia. Ia mengusap air matanya sebelum berbalik dan melambaikan
tangannya.
Riri memeluk Mia dan Alex. Sungguh ia akan
merindukan kedua orang tuanya itu.
Mia : “Jaga dirimu disana ya. Jangan lupa makan.”
Riri : “Iya, mah.”
Alex : “Jaga diri ya, nak. Papa sayang sama kamu.”
Riri : “Riri juga, pah.”
Riri juga memeluk Rara dan Arnold, keduanya
berpesan agar Riri selalu menjaga suaminya dan juga kesehatannya. Terakhir Riri
memeluk nenek yang mendoakan agar Riri bisa segera hamil.
Mereka semua melambaikan tangan pada Riri yang
sudah berdiri di pintu pesawat. Dion masih berdiri di tangga, sementara Lili
sudah masuk lebih dulu. Pesawat jet pribadi milik kakek Elo pun mulai bergerak
setelah penumpangnya duduk di tempat masing-masing.
Riri masih sibuk dadah-dadah dari jendela pesawat.
Ia melihat Rio menunduk di belakang punggung Alex dengan Mia mengelus-elus
kepalanya. Mereka semua melihat pesawat jet itu mulai tinggal landas sebelum
masuk ke mobil masing-masing.
Alex mengemudikan mobilnya dengan Mia, nenek, dan
Rio di dalamnya. Sementara Arnold satu mobil dengan Rara. Alex melirik Rio yang
tampak murung, ia melihat terus keluar jendela.
Alex : “Rio, kamu jadi magang di kantor papa?”
Rio : “Sudah Rio ajukan, pah. Tinggal tunggu hasil
tesnya.”
Alex : “Mau papa bantu?”
Rio : “Gak usah, pah. Jangan bilang sama mereka
kalau Rio anak papa.”
Alex : “Loh, bukannya mereka juga akan tahu kalau
kamu ngasi tahu alamat rumah?”
Rio : “Rio pake alamat apartment, pah. Gak
dimintain KTP ini.”
Alex terdiam lagi. Sejak kehilangan Kaori, Rio
banyak berubah. Ia jadi lebih serius dan sangat jarang bercanda seperti
sebelumnya. Ia juga berhenti menggoda atau mengejek papanya lagi.
Yang lebih mengerikan, Rio mengambil banyak mata
kuliah untuk percepatan kuliah. Ia akan mulai magang 2 bulan lagi dan sedang
mencari tempat magang.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1