Duren Manis

Duren Manis
Berduka cita


__ADS_3

Berduka cita


Rio memejamkan matanya dan hembusan angin


menyadarkan keberadaannya. Rio melihat sekeliling kamar Kaori, sekilas ia


merasa sedang bermimpi tadi. Rio mengusap air matanya, ia mengganti baju


kaosnya dengan kemeja hitam yang biasa ia pakai kuliah.


Setelah mencuci wajahnya di wastafel, Rio keluar


dari kamar Kaori. Semua orang sudah bersiap pergi ke pemakaman. Rio berdiri di


samping Jodi yang bersiap mengangkat keranda Kaori. Ia menggantikan Jodi


mengangkat keranda Kaori.


Selama 15 menit perjalanan ke areal pemakaman itu,


Rio merasa tubuhnya sangat ringan. Ia tidak mendengar suara-suara yang ada di


sekitarnya. Ia hanya berjalan mengikuti kemana langkahnya membawa dirinya.


Semuanya begitu cepat sampai Rio tersadar dirinya


sudah bersimpuh di samping nisan Kaori. Tangan dan kakinya penuh dengan lumpur


tanah pemakaman Kaori. Ia mengusap nisan itu dengan tangannya yang kotor.


Melihat nisan itu jadi kotor karena ulahnya, Rio mengelap lumpur ke bajunya dan


membersihkan lumpur di nisan Kaori.


Rio tidak menangis lagi. Ia mulai mendengar suara


tangisan Katty di sebelahnya dan juga isak tangis papa dan mama Katty yang


masih berada disana. Alex dan Mia menarik Rio agar bangun, mereka sudah harus


pulang dan tidak mungkin meninggalkan Rio sendirian di dekat kuburan Kaori.


Mia : “Relakan dia, Rio. Biarkan dia bahagia


disana.”


Alex : “Ayo, kita pulang, nak.”


Rio mengikuti kedua orang tuanya walau langkahnya


terasa sangat berat meninggalkan Kaori sendirian disana.


*****


Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Jodi dan


Katty secara resmi ditunda. Hanya akad saja yang tetap dilaksanakan dalam


kondisi keluarga Katty yang masih berduka. Acara itu hanya dihadiri keluarga


inti saja, bahkan Katty tidak berhias sama sekali.


Anton meminta akad tetap dilaksanakan karena Katty


yang sudah hamil dan resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah Katty


melahirkan nantinya. Semua yang hadir memakai pakaian hitam tak terkecuali Rio


yang hadir sambil memegang foto Kaori.


Katty menatap foto Kaori dan juga wajah Rio yang


tersenyum padanya. Setelah beberapa hari berlalu, Rio baru bisa tersenyum


sekilas. Ia sudah kembali kuliah seperti biasa. Namun ada yang berubah pada


diri Rio, ia jadi dingin pada semua teman perempuannya.


Katty menghampiri Rio, duduk di sampingnya.


Rio : “Selamat, kak.”


Katty : “Makasih, Rio. Kakak boleh peluk kamu?”


Rio mengangguk. Katty merentangkan tangannya

__ADS_1


memeluk Rio dengan erat. Setelah kehilangan Kaori, Katty jadi lebih dekat


dengan Rio. Katty sudah menganggap Rio sebagai adiknya sendiri. Mereka akan


duduk berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang Kaori.


Jodi yang melihat Katty memeluk Rio, ikut bergabung


dengan mereka. Katty melihat wajah cemberut Jodi,


Katty : “Kamu cemburu ya.”


Jodi : “Nggak. Aku juga pengen dipeluk.”


Rio : “Lepas, kak. Peluk kak Jodi sana.”


Katty : “Gak mau. Aku mau peluk uncle Rio.”


Katty malah menggelayut manja di lengan Rio. Ia


masih merasakan ngidam karena hamil muda. Tentu saja permintaannya selalu


aneh-aneh dan membuat orang-orang disekitarnya ketakutan setiap ketemu Katty,


takut dikerjain.


Jodi : “Sepertinya anak kita itu perempuan dech.


Sukanya peluk cowok ganteng.”


Rio : “Jangan sampai jatuh cinta sama uncle Rio


ya.”


Katty mengelus perutnya saat Rio berkata begitu.


Sejak awal takdir sudah menyatukan mereka berdua dalam suatu ikatan yang tidak


akan pernah bisa mereka bayangkan.


*****


Tiba hari saat keberangkatan Riri dan Elo keluar


erat karena harus meninggalkan kembarannya itu disaat Rio sedang sangat


memerlukan dirinya.


Rio : “Pergi sana. Nanti pulang bawain aku ponakan


yang lucu.”


Riri : “Rio, kamu ikut kesana ya.”


Rio : “Ogah. Aku gak mau jadi obat nyamuk. Kamu kan


udah punya suami. Sana deket suamimu. Berhenti tergantung sama aku.”


Riri : “Rio...”


Rio : “Apa?”


Riri : “Kamu gak kangen sama aku?”


Rio : “Nggak lah. Pasti kamu v-call tiap hari sampe


aku bosen. Urus suamimu disana. Jangan kebanyakan baca buku. Belajar masak.


Masak air aja gosong.”


Riri memukul lengan Rio yang mengejeknya. Angin di


bandara berhembus dengan kencang, menyamarkan air mata Rio yang kembali


mengalir. Dua orang yang sangat dekat dengannya meninggalkannya dalam waktu


yang bersamaan.


Rio mendorong Riri dan tersenyum padanya.


Riri : “Jangan sedih lagi ya.”


Rio : “Iya, bawel. Kak Elo, ini Ririnya bawa masuk


ke pesawat. Nggak berangkat-berangkat kebanyakan drama.”

__ADS_1


Riri : “Emangnya aku kucing dibawa masuk.”


Rio menghindari pukulan Riri dan berlari ke


belakang Mia. Ia mengusap air matanya sebelum berbalik dan melambaikan


tangannya.


Riri memeluk Mia dan Alex. Sungguh ia akan


merindukan kedua orang tuanya itu.


Mia : “Jaga dirimu disana ya. Jangan lupa makan.”


Riri : “Iya, mah.”


Alex : “Jaga diri ya, nak. Papa sayang sama kamu.”


Riri : “Riri juga, pah.”


Riri juga memeluk Rara dan Arnold, keduanya


berpesan agar Riri selalu menjaga suaminya dan juga kesehatannya. Terakhir Riri


memeluk nenek yang mendoakan agar Riri bisa segera hamil.


Mereka semua melambaikan tangan pada Riri yang


sudah berdiri di pintu pesawat. Dion masih berdiri di tangga, sementara Lili


sudah masuk lebih dulu. Pesawat jet pribadi milik kakek Elo pun mulai bergerak


setelah penumpangnya duduk di tempat masing-masing.


Riri masih sibuk dadah-dadah dari jendela pesawat.


Ia melihat Rio menunduk di belakang punggung Alex dengan Mia mengelus-elus


kepalanya. Mereka semua melihat pesawat jet itu mulai tinggal landas sebelum


masuk ke mobil masing-masing.


Alex mengemudikan mobilnya dengan Mia, nenek, dan


Rio di dalamnya. Sementara Arnold satu mobil dengan Rara. Alex melirik Rio yang


tampak murung, ia melihat terus keluar jendela.


Alex : “Rio, kamu jadi magang di kantor papa?”


Rio : “Sudah Rio ajukan, pah. Tinggal tunggu hasil


tesnya.”


Alex : “Mau papa bantu?”


Rio : “Gak usah, pah. Jangan bilang sama mereka


kalau Rio anak papa.”


Alex : “Loh, bukannya mereka juga akan tahu kalau


kamu ngasi tahu alamat rumah?”


Rio : “Rio pake alamat apartment, pah. Gak


dimintain KTP ini.”


Alex terdiam lagi. Sejak kehilangan Kaori, Rio


banyak berubah. Ia jadi lebih serius dan sangat jarang bercanda seperti


sebelumnya. Ia juga berhenti menggoda atau mengejek papanya lagi.


Yang lebih mengerikan, Rio mengambil banyak mata


kuliah untuk percepatan kuliah. Ia akan mulai magang 2 bulan lagi dan sedang


mencari tempat magang.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2