
DM2 – Wanita super
Gadis mengedarkan pandangannya ke semua
orang. Elo dan Riri, Rara dan Arnold, Jodi dan Katty, terakhir Mia dan Alex.
Mata Gadis berkaca-kaca, ia sudah memendam semua rahasia itu sendirian hanya
karena takut dengan ancaman Endy.
“Maafin Gadis, pah, mah. Gadis gak percaya
sama keluarga ini. Kalau saja Gadis berani cerita, tentang kebenaran bayi
Kaori. Kalau saja Gadis lebih berani menyangkal fitnah Kinanti waktu itu,
mungkin Rio gak akan depresi sampai seperti ini. Gadis yang salah.”
Gadis menjatuhkan dirinya berlutut di depan
semua orang, ia menangis sesenggukan menyesali kesalahannya selama ini. Dirinya
terlalu dibutakan keinginan untuk mendapatkan anak. Memaksakan keinginannya
pada Rio tanpa memahami perasaan suaminya.
Mia dan Alex menarik Gadis bersama-sama,
mereka memeluk wanita yang sudah mereka anggap putri mereka sendiri.
“Sudah-sudah. Semuanya sudah berlalu sekarang. Kamu harus percaya pada kami,
ya.”tutur Alex menenangkan Gadis.
Gadis mengangguk, Mia menangkup pipi Gadis,
mengusap air mata Gadis dengan ibu jarinya. “Sudah jangan nangis lagi. Kita
berkumpul untuk merayakan kebahagiaan, kan. Ayo, kita makan sekarang.”ajak Mia.
Gadis tersenyum bahagia melihat semua orang
juga tersenyum menatapnya. Rio menatap Gadis juga, tangannya terulur menyentuh
pipi Gadis. “Kamu pasti bahagia juga kan? Aku janji tidak akan memaksamu
melakukan apapun lagi untuk memuaskan egoku. Aku mencintaimu, Rio. Kamu harus
cepat sembuh ya.”
Gadis mencium punggung tangan Rio yang
menyentuh pipinya. Ia memeluk tubuh Rio dengan erat, “Aku sangat merindukanmu,
suamiku.”bisik Gadis di telinga Rio.
“Gadis, udahan dong pelukannya. Ayo, makan
dulu. Nih, kasikan Rio.”kata Mia.
Gadis tersenyum malu, ia melepaskan
pelukannya dari Rio lalu mengambil piring berisi daging yang sudah
dipotong-potong Mia. Ia makan sambil menyuapi Rio makan potongan daging yang
lebih kecil dan sangat lembut. Tidak henti-hentinya Gadis bersyukur,
keluarganya masih memberikan dukungan mereka meskipun Gadis sudah berbuat salah.
Tiga bulan kemudian, dipagi yang cerah,
bayi Kaori baru saja terbangun. Ia menatap kosong ke atas dengan mata bulat
jernihnya. Telinganya bergerak mendengar alunan musik klasik yang disetel Gadis
di kamar itu. Sesekali mulutnya memainkan bibirnya yang mulai penuh air liur.
“Hupbberrrr... Bbeerrr... Hupbbeerr...”
Kaki bayi Kaori menendang salah satu
gulingnya, ia mulai membalikkan tubuhnya, hingga tengkurap. Beberapa kali
kepalanya terjatuh, tegak, terjatuh lagi. Kesal dan marah, tidak bisa tengkurap
dengan baik, baby Kaori mulai menangis.
Rio yang sudah bangun sejak tadi, menoleh
perlahan mendengar tangisan kencang baby Kaori. Ia mengulurkan tangannya
mencoba mengangkat tubuh baby Kaori dengan kedua tangannya. Bayi itu langsung
diam, ketika Rio mengangkatnya.
Rio menatap bayi mungil di tangannya tanpa
ekspresi. Kaori kembali memainkan mulutnya, “Hupbberrrr... Bbeerrr...” Liur
Kaori mengenai tangan Rio. Tangan Kaori dipenuhi liur, sampai bajunya juga
__ADS_1
mulai basah.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan cepat,
Gadis masuk dengan nafas ngos-ngosan. Ia terlalu asyik di dapur, mengambilkan
sarapan untuk Rio sampai lupa kalau bayi Kaori terbiasa bangun di jam 7 pagi.
Kini setelah berumur 4 bulan, bayi itu mulai belajar tengkurap. Gadis takut kalau
Kaori terjatuh dari tempat tidur.
Gadis hampir jatuh melihat Rio sedang
menggendong Kaori. Tangis haru meluncur di kedua sudut matanya. “Rio, kamu udah
sembuh?”
Rio menoleh menatap Gadis tanpa ekspresi, Gadis
mengambil alih bayi Kaori di tangan Rio. Ia tersenyum senang, mengusap pipi Rio
lalu mencium bibir suaminya itu. “Apa kamu lapar? Aku ambilkan makanan ya.”
Rio masih tidak menjawab, ia hanya menatap
Gadis. “Sepertinya masih perlu waktu lagi ya.” Gadis hampir berpaling, hendak
bangkit dari sisi Rio. Tapi suaminya itu menarik tengkuknya dan balas mencium
Gadis.
Gadis terhanyut sesaat sebelum menyadari
bayi Kaori terjepit diantara mereka. Bayi itu menggesekkan wajahnya ke dada
Gadis, “Oh, maaf sayang. Rio, tunggu bentar ya aku ambilin makanan di bawah.”
Gadis menggendong bayi Kaori menggunakan
gendongan bayi, lalu keluar dari kamar. Sambil bersenandung, Gadis
mengusap-usap punggung Kaori dengan lembut. “Ayo, kita ambilin sarapan untuk
papa ya.”
“Uwaakk... Eeeggg...”rengek Kaori seolah menjawab
Gadis.
“Oh, bayi mama mau susu? Ayo, kita ambil
ke pipi Kaori. Bayi itu tergelak merasakan geli di pipinya.
Mia yang mendengar suara tawa Kaori,
menoleh menatap keduanya. Pemandangan yang hampir setiap hari dilihatnya itu,
masih membuat Mia tersenyum. Rumah itu jadi lebih ramai dengan tangisan dan
tertawaan bayi Kaori juga. Bahkan suara Gadis lebih sering terdengar bicara
dengan Kaori.
“Gadis, sini mama yang gendong Kaori. Kamu
mau ngasi sarapan Rio, kan?”tanya Mia.
“Iya, mah. Gak pa-pa, mah. Sekalian mau
ngasi susu buat Gadis. Loh, papa belum bangun?”tanya Gadis.
“Eh, iya ya. Udah jam berapa nich? Mama
liat dulu.”
Gadis mendekati meja makan tempat susu
Kaori diletakkan bersama termos air panas.
“Hupbberrrr... Bbeerrr... Hupbbeerr...”Kaori
masih bermain menyemburkan air liurnya.
“Kaori, berhenti dulu main liur gitu ya.
Mau susu kan?”
“Hupbberrrr... Eeegg... Aaaaang...”Kaori
masih bermain dengan liurnya.
Bayi itu menggigit jempol tangannya dengan
nikmat. Gadis menarik tangan Kaori, mengajaknya bercanda. Sampai Kaori kesal
dan mulai menangis, “Oohh, sayang. Jangan nangis. Ini susunya.” Gadis
mendekatkan dot ke mulut Kaori yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Bayi
itu menyedot susu di botol dengan cepat.
__ADS_1
Dengan sebelah tangannya, Gadis membawa
piring sarapan Rio. Ia terlihat terbiasa melakukan itu sendiri. Mb Minah dan mb
Roh memperhatikan Gadis yang sudah berjalan menaiki tangga.
“Mb Gadis hebat banget ya. Wanita super.”ucap
mb Roh.
“Iya. Cobaannya banyak banget tapi
syukurlah semuanya sudah lewat.”saut mb Minah.
Mereka berdua sedang menyiapkan bekal untuk
si kembar. Para pria kecil itu sudah siap berangkat ke sekolah, tapi Mia belum
juga keluar kamar.
“Mah!”panggil Reva mengetuk pintu kamar
Mia.
“Iya, sebentar.”saut Mia dari dalam.
“Mah, kita mau berangkat sekolah nich.”panggil
Rava.
“Berangkat aja. Mama gak bisa keluar
nganter.”
Kening keduanya berkerut mendengar jawaban
Mia dari dalam kamar. Mb Roh yang mendengar teriakan si kembar, segera
menggiring kedua pria kecil itu keluar rumah. “Ayo, cepat berangkat. Sudah
hampir terlambat nich.”ucap mb Minah.
Si kembar terpaksa berangkat tanpa
berpamitan pada Mia dan Alex. Di dalam kamar, Mia menatap sebal pada Alex yang
sedang sibuk menghentakkan tubuhnya. “Mas, gak bisa nunggu ntar malem apa?!”
Alex tidak menyahut, ia sudah hampir
mencapai tujuannya. Mia melihat tanda-tanda Alex akan klimaks, ia dengan cepat
menahan tubuh Alex dengan kakinya. “Mia, lepas...”pinta Alex. Ia sudah tidak
bisa menghentikannya.
“Aarrghh!!!”geram Alex menghentakkan tubuh
Mia lebih keras. Mia masih belum mau melepaskan kakinya. “Kamu nakal ya.
Kenapa? Gak sabaran mau hamil lagi? Si kembar belum cukup?”tanya Alex masih
mengatur nafasnya.
Mia cengengesan, memeletkan lidahnya pada
Alex. “Aku mau anak perempuan. Kamu gak mau, mas?”tanya Mia dengan imut.
“Lepasin dulu. Aku mau berangkat ngantor.”
Mia menggeleng, “Mas gak boleh kemana-mana
sampe aku hamil.”
“Beneran?”tanya Alex girang. “Mau aku bikin
sampe gak bisa jalan?”tanya Alex lagi.
Mia nyengir kuda, ia jelas salah strategi
karena berani menantang Alex. Ia lupa kalau suaminya itu pria paling mesum
sedunia. Alex mengambil ponselnya, ia menelpon Romi mengatakan kalau Romi harus
menghandle kantornya hari ini.
“Emangnya kamu mau kemana?”tanya Romi
bingung. Untung saja tidak ada meeting penting hari ini hanya meeting internal
biasanya.
“Aku mau buat adiknya si kembar.”saut Alex
tanpa dosa.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1