Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Wanita super


__ADS_3

DM2 – Wanita super


Gadis mengedarkan pandangannya ke semua


orang. Elo dan Riri, Rara dan Arnold, Jodi dan Katty, terakhir Mia dan Alex.


Mata Gadis berkaca-kaca, ia sudah memendam semua rahasia itu sendirian hanya


karena takut dengan ancaman Endy.


“Maafin Gadis, pah, mah. Gadis gak percaya


sama keluarga ini. Kalau saja Gadis berani cerita, tentang kebenaran bayi


Kaori. Kalau saja Gadis lebih berani menyangkal fitnah Kinanti waktu itu,


mungkin Rio gak akan depresi sampai seperti ini. Gadis yang salah.”


Gadis menjatuhkan dirinya berlutut di depan


semua orang, ia menangis sesenggukan menyesali kesalahannya selama ini. Dirinya


terlalu dibutakan keinginan untuk mendapatkan anak. Memaksakan keinginannya


pada Rio tanpa memahami perasaan suaminya.


Mia dan Alex menarik Gadis bersama-sama,


mereka memeluk wanita yang sudah mereka anggap putri mereka sendiri.


“Sudah-sudah. Semuanya sudah berlalu sekarang. Kamu harus percaya pada kami,


ya.”tutur Alex menenangkan Gadis.


Gadis mengangguk, Mia menangkup pipi Gadis,


mengusap air mata Gadis dengan ibu jarinya. “Sudah jangan nangis lagi. Kita


berkumpul untuk merayakan kebahagiaan, kan. Ayo, kita makan sekarang.”ajak Mia.


Gadis tersenyum bahagia melihat semua orang


juga tersenyum menatapnya. Rio menatap Gadis juga, tangannya terulur menyentuh


pipi Gadis. “Kamu pasti bahagia juga kan? Aku janji tidak akan memaksamu


melakukan apapun lagi untuk memuaskan egoku. Aku mencintaimu, Rio. Kamu harus


cepat sembuh ya.”


Gadis mencium punggung tangan Rio yang


menyentuh pipinya. Ia memeluk tubuh Rio dengan erat, “Aku sangat merindukanmu,


suamiku.”bisik Gadis di telinga Rio.


“Gadis, udahan dong pelukannya. Ayo, makan


dulu. Nih, kasikan Rio.”kata Mia.


Gadis tersenyum malu, ia melepaskan


pelukannya dari Rio lalu mengambil piring berisi daging yang sudah


dipotong-potong Mia. Ia makan sambil menyuapi Rio makan potongan daging yang


lebih kecil dan sangat lembut. Tidak henti-hentinya Gadis bersyukur,


keluarganya masih memberikan dukungan mereka meskipun Gadis sudah berbuat salah.


Tiga bulan kemudian, dipagi yang cerah,


bayi Kaori baru saja terbangun. Ia menatap kosong ke atas dengan mata bulat


jernihnya. Telinganya bergerak mendengar alunan musik klasik yang disetel Gadis


di kamar itu. Sesekali mulutnya memainkan bibirnya yang mulai penuh air liur.


“Hupbberrrr... Bbeerrr... Hupbbeerr...”


Kaki bayi Kaori menendang salah satu


gulingnya, ia mulai membalikkan tubuhnya, hingga tengkurap. Beberapa kali


kepalanya terjatuh, tegak, terjatuh lagi. Kesal dan marah, tidak bisa tengkurap


dengan baik, baby Kaori mulai menangis.


Rio yang sudah bangun sejak tadi, menoleh


perlahan mendengar tangisan kencang baby Kaori. Ia mengulurkan tangannya


mencoba mengangkat tubuh baby Kaori dengan kedua tangannya. Bayi itu langsung


diam, ketika Rio mengangkatnya.


Rio menatap bayi mungil di tangannya tanpa


ekspresi. Kaori kembali memainkan mulutnya, “Hupbberrrr... Bbeerrr...” Liur


Kaori mengenai tangan Rio. Tangan Kaori dipenuhi liur, sampai bajunya juga

__ADS_1


mulai basah.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan cepat,


Gadis masuk dengan nafas ngos-ngosan. Ia terlalu asyik di dapur, mengambilkan


sarapan untuk Rio sampai lupa kalau bayi Kaori terbiasa bangun di jam 7 pagi.


Kini setelah berumur 4 bulan, bayi itu mulai belajar tengkurap. Gadis takut kalau


Kaori terjatuh dari tempat tidur.


Gadis hampir jatuh melihat Rio sedang


menggendong Kaori. Tangis haru meluncur di kedua sudut matanya. “Rio, kamu udah


sembuh?”


Rio menoleh menatap Gadis tanpa ekspresi, Gadis


mengambil alih bayi Kaori di tangan Rio. Ia tersenyum senang, mengusap pipi Rio


lalu mencium bibir suaminya itu. “Apa kamu lapar? Aku ambilkan makanan ya.”


Rio masih tidak menjawab, ia hanya menatap


Gadis. “Sepertinya masih perlu waktu lagi ya.” Gadis hampir berpaling, hendak


bangkit dari sisi Rio. Tapi suaminya itu menarik tengkuknya dan balas mencium


Gadis.


Gadis terhanyut sesaat sebelum menyadari


bayi Kaori terjepit diantara mereka. Bayi itu menggesekkan wajahnya ke dada


Gadis, “Oh, maaf sayang. Rio, tunggu bentar ya aku ambilin makanan di bawah.”


Gadis menggendong bayi Kaori menggunakan


gendongan bayi, lalu keluar dari kamar. Sambil bersenandung, Gadis


mengusap-usap punggung Kaori dengan lembut. “Ayo, kita ambilin sarapan untuk


papa ya.”


“Uwaakk... Eeeggg...”rengek Kaori seolah menjawab


Gadis.


“Oh, bayi mama mau susu? Ayo, kita ambil


ke pipi Kaori. Bayi itu tergelak merasakan geli di pipinya.


Mia yang mendengar suara tawa Kaori,


menoleh menatap keduanya. Pemandangan yang hampir setiap hari dilihatnya itu,


masih membuat Mia tersenyum. Rumah itu jadi lebih ramai dengan tangisan dan


tertawaan bayi Kaori juga. Bahkan suara Gadis lebih sering terdengar bicara


dengan Kaori.


“Gadis, sini mama yang gendong Kaori. Kamu


mau ngasi sarapan Rio, kan?”tanya Mia.


“Iya, mah. Gak pa-pa, mah. Sekalian mau


ngasi susu buat Gadis. Loh, papa belum bangun?”tanya Gadis.


“Eh, iya ya. Udah jam berapa nich? Mama


liat dulu.”


Gadis mendekati meja makan tempat susu


Kaori diletakkan bersama termos air panas.


“Hupbberrrr... Bbeerrr... Hupbbeerr...”Kaori


masih bermain menyemburkan air liurnya.


“Kaori, berhenti dulu main liur gitu ya.


Mau susu kan?”


“Hupbberrrr... Eeegg... Aaaaang...”Kaori


masih bermain dengan liurnya.


Bayi itu menggigit jempol tangannya dengan


nikmat. Gadis menarik tangan Kaori, mengajaknya bercanda. Sampai Kaori kesal


dan mulai menangis, “Oohh, sayang. Jangan nangis. Ini susunya.” Gadis


mendekatkan dot ke mulut Kaori yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Bayi


itu menyedot susu di botol dengan cepat.

__ADS_1


Dengan sebelah tangannya, Gadis membawa


piring sarapan Rio. Ia terlihat terbiasa melakukan itu sendiri. Mb Minah dan mb


Roh memperhatikan Gadis yang sudah berjalan menaiki tangga.


“Mb Gadis hebat banget ya. Wanita super.”ucap


mb Roh.


“Iya. Cobaannya banyak banget tapi


syukurlah semuanya sudah lewat.”saut mb Minah.


Mereka berdua sedang menyiapkan bekal untuk


si kembar. Para pria kecil itu sudah siap berangkat ke sekolah, tapi Mia belum


juga keluar kamar.


“Mah!”panggil Reva mengetuk pintu kamar


Mia.


“Iya, sebentar.”saut Mia dari dalam.


“Mah, kita mau berangkat sekolah nich.”panggil


Rava.


“Berangkat aja. Mama gak bisa keluar


nganter.”


Kening keduanya berkerut mendengar jawaban


Mia dari dalam kamar. Mb Roh yang mendengar teriakan si kembar, segera


menggiring kedua pria kecil itu keluar rumah. “Ayo, cepat berangkat. Sudah


hampir terlambat nich.”ucap mb Minah.


Si kembar terpaksa berangkat tanpa


berpamitan pada Mia dan Alex. Di dalam kamar, Mia menatap sebal pada Alex yang


sedang sibuk menghentakkan tubuhnya. “Mas, gak bisa nunggu ntar malem apa?!”


Alex tidak menyahut, ia sudah hampir


mencapai tujuannya. Mia melihat tanda-tanda Alex akan klimaks, ia dengan cepat


menahan tubuh Alex dengan kakinya. “Mia, lepas...”pinta Alex. Ia sudah tidak


bisa menghentikannya.


“Aarrghh!!!”geram Alex menghentakkan tubuh


Mia lebih keras. Mia masih belum mau melepaskan kakinya. “Kamu nakal ya.


Kenapa? Gak sabaran mau hamil lagi? Si kembar belum cukup?”tanya Alex masih


mengatur nafasnya.


Mia cengengesan, memeletkan lidahnya pada


Alex. “Aku mau anak perempuan. Kamu gak mau, mas?”tanya Mia dengan imut.


“Lepasin dulu. Aku mau berangkat ngantor.”


Mia menggeleng, “Mas gak boleh kemana-mana


sampe aku hamil.”


“Beneran?”tanya Alex girang. “Mau aku bikin


sampe gak bisa jalan?”tanya Alex lagi.


Mia nyengir kuda, ia jelas salah strategi


karena berani menantang Alex. Ia lupa kalau suaminya itu pria paling mesum


sedunia. Alex mengambil ponselnya, ia menelpon Romi mengatakan kalau Romi harus


menghandle kantornya hari ini.


“Emangnya kamu mau kemana?”tanya Romi


bingung. Untung saja tidak ada meeting penting hari ini hanya meeting internal


biasanya.


“Aku mau buat adiknya si kembar.”saut Alex


tanpa dosa.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2