Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 44


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 44


Sepertinya Renata mulai menyukai Reynold melebihi


hubungan antara tante dan keponakan. Menyadari apa yang ia pikirkan sudah


kelewatan, Renata menggeleng kuat-kuat sampai kepalanya pusing sendiri.


“Renata, kamu fix sudah tidak waras. Ingat, kak Rey


adalah keponakanmu. Dia anaknya kak Rara. Sadarlah, Renata,” ucap Renata pada


dirinya sendiri.


Renata berada cukup lama di gazebo itu, ia sendiri


tidak tahu apa yang ia lamunkan hingga tidak menyadari kalau lampu di dalam


rumah Alex sudah mulai dipadamkan. Tidak ada seorangpun yang menyadari kalau


Renata bahkan belum masuk ke kamarnya. Suara ponselnya yang mulai kehabisan


daya, membuat Renata tersadar. Ia bangkit berdiri lalu mengecek ponsel itu.


Tidak ada satu pun chat dari Reynold.


Tersenyum sendiri karena mengharapkan chat dari


Reynold, Renata berjalan keluar dari gazebo dan masuk ke rumah utama. Ia


melihat lampu dapur belum dimatikan. Saat Renata mendekat, ternyata ada Ken di


dalam dapur sedang mengaduk susu di dalam gelas.


“Loh, kamu belum tidur, Ken?” tanya Renata.


“Aunty kenapa belum tidur? Aku lagi buatin susu


untuk Kaori,” sahut Ken.


“Aku nggak bisa tidur. Kalian sekamar lagi?” tanya


Renata sambil mengambil susu murni dari dalam kulkas.


Ken mengangguk, tapi dia tidur di bawah karena


tidak ingin khilaf sebelum besok pagi. Renata memajukan bibir bawahnya,


meragukan Ken. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya dan mengatakan terserah.


Setelah Ken pergi ke kamar Kaori, Renata mengaduk-aduk susunya di dalam gelas.


Besok setelah pernikahan Kaori dan Ken, Renata dan


Reynold akan segera kembali ke negara A. Mereka hanya libur beberapa hari


sebelum melanjutkan aktifitas mereka disana. Renata yang sudah lulus kuliah, juga


ada interview kerja tahap kedua pada minggu ini. Ia sudah melamar bekerja di


salah satu perusahaan yang sangat terkenal di negara A dan lolos interview


tahap pertama.


“Haih, aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk


bekerja disana. Perusahaan itu sangat terkenal dan pastinya banyak pengalaman


yang bisa aku dapat disana. Apa sebaiknya aku pindah dari apartment kak Rey


ya?” gumam Renata lagi.


Renata menggeleng lagi, kepindahannya hanya akan


menambah masalah baru. Selama ini papa dan mamanya tidak terlalu


mengkuatirkannya karena Renata tinggal bersama Reynold. Kalau tiba-tiba pindah,


Renata akan langsung disuruh pulang saja oleh papanya.


Gadis itu berjalan keluar dari dapur setelah


menghabiskan susunya dan mematikan lampu dapur. Renata langsung naik ke lantai


dua menuju kamarnya sendiri. Meskipun sudah pindah ke negara A, Renata masih


memiliki kamar di rumah Alex. Meskipun sesekali jadi kamar untuk menginap bagi


sepupunya yang lain.


Ketika Renata membuka pintu kamarnya, ia langsung


masuk tanpa memperhatikan sekitarnya. Setelah menutup pintu dan berbalik,


barulah Renata sadar kalau di kamarnya ada Reynold yang sedang membuka kaos dan


celana panjangnya. Pria itu membelakangi pintu sehingga tidak sadar kalau


Renata masuk tadi.


“Kak Rey, ngapain kakak disini?” tanya Renata


kaget.


Reynold berbalik cepat, ia buru-buru menarik


celananya keatas lagi setelah mendengar suara Renata. Pria itu juga kaget


melihat Renata ada di dalam kamarnya.


“Aku mau tidur disini, aunty. Tadi kata Ken, aunty sudah


tidur di kamar Kaori. Soalnya kamar yang lain sudah penuh,” kata  Reynold sambil merapikan penampilannya lagi.


Pria itu menunggu Renata bicara, tapi sepertinya Renata tidak akan bicara lagi.


“Aku tidur di ruang keluarga aja,” sahut Reynold cepat sambil membawa kaosnya

__ADS_1


melewati Renata.


Sebelum mencapai pintu, Reynold merasakan kaosnya


ada yang menarik. Ia menoleh ke belakang dan melihat Renata menatapnya dengan


tatapan yang sulit diartikan.


“Ada apa, aunty?” tanya Reynold berusaha


menyembunyikan perasaannya.


“Kakak tidur saja disini. Kalau di bawah, nanti


kakak masuk angin. Tempat tidurnya cukup untuk kita berdua, kok. Aku mau ganti


baju dulu,” kata Renata tanpa menatap Reynold lagi.


Reynold ingin berteriak kegirangan sebenarnya, tapi


ia memilih mengangguk tanpa bicara apa-apa lagi. Ketika Renata keluar dari


kamar mandi, usai berganti pakaian, ia melihat Reynold sudah berbaring


menghadap ke jendela. Pakaian Reynold tampak tergantung rapi di pinggiran


kursi. Artinya pria itu hanya memakai boxernya saja.


Renata menghembuskan nafas pelan, ia mengatakan


pada dirinya kalau Reynold tidak memiliki perasaannya apa-apa padanya. Seperti


hari-hari sebelumnya, mereka juga pernah tidur di tempat tidur yang sama, tapi


tidak terjadi apa-apa. Bukan sekali ini juga Renata melihat Reynold hanya


memakai boxernya. Pria itu pernah tidur sambil memeluknya ketika Renata demam


tinggi beberapa waktu yang lalu.


Malam ini mereka harus lekas tidur agar bisa bangun


pagi keesokan harinya. Saat Renata hampir berbaring di samping Reynold, pria


itu tiba-tiba membalik tubuhnya jadi menghadap Renata. Keduanya saling menatap


karena rupanya Reynold belum tidur.


“Kenapa? Kirain kakak udah tidur,” kata Renata


sedikit takut.


“Lebih nyaman menghadap kesini. Tidur, aunty. Besok


kan harus dandan pagi-pagi. Selamat malam,” ucap Reynold sambil memejamkan


matanya.


Renata berbaring menghadap ke atas, ia


memperhatikan warna plafond yang putih bersih sambil membayangkan ada kambing


sampai hitungan Renata mencapai sepuluh kambing, ia menoleh kesamping menatap


wajah tampan Reynold.


“Kakak sengaja apa nggak sich?” ucap Renata tanpa


sadar. Ia teringat ciuman tidak sengaja mereka tadi dan penasaran dengan alasan


Reynold.


“Aku nggak sengaja, aunty. Maaf. Tadi aku kira


kalau aunty itu mama Gadis yang lagi nyuapin aku makan. Aku cuma mau cium pipi


mama Gadis karena aku bisa menang main games, taunya...,” ucap Reynold yang


ternyata belum tidur.


Ekspresi wajah Reynold benar-benar sedih. Sorot


matanya mengiba dan bibirnya juga terlihat gemetar. Renata tersenyum melihat


penyesalan Reynold, ia meminta Reynold untuk tidak memikirkannya lagi kalau


memang dia tidak sengaja.


“Aunty, nanti kalau diterima kerja di perusahaan


itu, aunty mau tetap tinggal di apartment atau pindah?” tanya Reynold


tiba-tiba.


“Kenapa tiba-tiba nanya gitu, kak? Aku nggak akan


pindah. Buat apa pindah. Perusahaan itu kan dibelakang apartment kakak. Aku


bisa jalan kaki kesana. Eh, di terima kerja aja belum ya,” kata Renata.


“Aunty pasti bisa. Harus percaya diri dong.


Maksudku kalau aunty merasa nggak nyaman, aunty bisa pindah ke lantai bawah.


Nggak satu lantai sama aku lagi,” kata Reynold.


Renata membayangkan wajah seram beberapa staf


Steven yang tinggal di apartment yang sama dengan mereka. Gadis itu nyengir


lebar, ia takut kalau tidak satu lantai dengan Reynold. Reynold memiliki lift


khusus untuk naik ke lantai paling atas apartment itu. Lift itu akan langsung


terbuka dan tertutup dengan cepat ketika Renata datang. Ia tidak perlu takut


menunggu lama sebelum pintu lift terbuka.

__ADS_1


Keduanya tersenyum satu sama lain sebelum Reynold


memejamkan matanya lagi. Kali ini pria itu langsung tertidur pulas. Renata


mengelus pipi Reynold sebelum memejamkan matanya juga. Perlahan tangan Reynold


bergerak menggenggam tangan Renata.


**


Keesokan harinya, Renata dan Reynold bangun


terlambat. Beberapa MUA sudah mulai merias para wanita termasuk Kaori. Mereka


berkumpul di kamar Kaori, sedangkan para pria berkumpul di kamar Alex untuk


berganti pakaian dan bersiap-siap. Reynold yang belum sadar sepenuhnya, masih


duduk diatas tempat tidur Renata. Ia mengucek matanya beberapa kali sebelum


memejamkannya lagi.


Renata yang sedang mandi, lupa membawa handuknya.


Ia membuka sedikit pintu kamar mandi, lalu memanggil Reynold. “Kak Rey, tolong


ambilin handukku,” pinta Renata.


Mendengar Renata memanggilnya, Reynold buru-buru


bangun dari tidurannya. Ia melihat handuk Renata ada di gantungan handuk di luar


kamar mandi. Reynold mengambil handuk itu lalu menyodorkannya pada Renata yang


mengintip dari balik pintu kamar mandi.


“Aunty, masih lama mandinya?” tanya Reynold.


“Tinggal handukan aja, kok. Kenapa, kak?” sahut


Renata sambil menarik handuk yang disodorkan Reynold.


“Nggak, kalo lama, aku mandi di kamar lain aja,”


jawab Reynold sambil membelakangi kamar mandi.


Renata membuka pintu kamar mandi, lalu keluar


dengan tubuh hanya berbalut handuk. Reynold sempat melirik tubuh Renata yang


lewat di depannya. Ia berpaling menatap gantungan handuk yang kosong.


“Aunty, ada handuk lagi nggak?” tanya Reynold.


“Ntar aku cariin dulu ya. Mandi sana, kak,” sahut


Renata.


“Pinjem handuknya aunty dong,” goda Reynold sambil


nyengir lebar.


“Gimana caranya? Aku belum pake baju, kak!!” kata Renata


ngegas.


Reynold mulai iseng berjalan mendekati Renata yang


masih pakai handuk. Renata cepat-cepat mundur sampai ke atas tempat tidurnya


dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Reynold ketawa ngakak melihat Renata


ketakutan, ia hanya ingin sedikit bercanda dengan gadis pujaannya itu.


Kejadian kemarin memang sangat tidak


disangka-sangka Reynold, tapi ia sangat senang bisa merasakan bibir lembut


Renata menempel di bibirnya. Selama bersama Renata, Reynold tidak pernah


mengambil kesempatan untuk mencium bibir Renata. Baginya tidak ada untungnya


sama sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti itu. Kalaupun Reynold


ingin mencium Renata, ia ingin melakukannya saat Renata sedang sadar seperti


kemarin.


“Kak Rey! Jangan mendekat lagi!” jerit Renata


panik.


“Iya, iya. Aku cuma bercanda,” sahut Reynold dengan


cengiran yang sama nakalnya dengan cengiran Ken.


Pria itu berbalik hampir masuk ke kamar mandi, tapi


Renata sudah melemparkan handuk yang tadi dipakainya hingga menutupi kepala


Reynold. Pikiran Reynold langsung membayangkan Renata duduk di bawah selimut


tanpa memakai apapun. Reynold berbalik lagi dengan senyuman devilnya.


Renata jadi panik karena Reynold berjalan


mendekatinya dengan handuk menggantung di bahu. Gadis itu langsung menggulung


tubuhnya dengan selimut. Dalam benak Reynold, gerakan Renata terlihat seperti


sedang menggodanya untuk masuk ke dalam selimut Renata.


“Kak Rey!” jerit Renata makin panik. Ia sudah


hampir menangis karena Reynold malah naik ke atas tempat tidurnya dan mengukung


tubuh Renata dengan kedua lengan kekarnya.

__ADS_1


“Kak Rey, mau ngapain??!!” pekik Renata sambil


mengambil bantal untuk memukul Reynold.


__ADS_2