Duren Manis

Duren Manis
Belum bilang


__ADS_3

Tak terasa 2,5 jam berlalu, lampu bioskop kembali menyala. Riri berdiri dan berjalan duluan menuruni tangga.


Elo masih menunggu Diana yang ribet dengan tas tangannya. Riri merasakan seseorang berjalan di belakangnya dan mengira itu Elo.


Ia berjalan pelan hingga punggungnya sesekali bersentuhan dengan dada orang yang ia kira Elo.


Tiba-tiba Riri tersandung, orang dibelakangnya refleks memegang lengan Riri.


Riri : "Makasi... Kak Keith?!"


Ia sangat terkejut saat menoleh mendapati Keith yang memegang lengannya. Sementara Elo tampak berdiri tak jauh dari mereka menatap dingin keduanya.


Riri segera menegakkan tubuhnya dan berjalan kembali keluar dari bioskop. Perasaannya campur aduk antara kesal dan sedih.


Keith berdiri di samping Riri yang masih menunggu Elo keluar.


Riri : "Makasi, Kak. Kakak ditunggu sama temen-temen tuch."


Keith : "Gak pa-pa, Ri. Aku bisa nyusul mereka nanti."


Keith tidak lagi menatap Riri, ia melihat ke pintu keluar bioskop menanti Elo keluar.


Elo keluar bersama Diana. Mereka keluar terakhir karena padatnya orang yang berebut keluar.


Melihat Riri berdiri bersama Keith membuat Elo agak panas. Diana melihat hal itu dan menyenggol lengan Elo.


Diana : "Wah, temennya blasteran ya. Ganteng juga."


Elo : "Diam kamu. Ikut campur aja."


Diana : "Eh, beneran ganteng loh. Salah-salah Riri bisa digebet duluan tuh."


Elo semakin panas. Ia masih menahan dirinya agar tidak emosi.


Mereka berempat berdiri berhadapan.


Keith : "Aku pergi duluan ya. Bye Riri, Pak Angelo, Tante..."


Diana : "Tante??!!!"


Keith serasa dejavu mendengar jeritan Diana. Ia mencoba mengingat peristiwa apa yang mirip dengan kejadian barusan.


Diana : "Jangan panggil tante dong, ganteng. Panggil Diana ya. Usia kita loh gak jauh beda."


Keith : "Halo, Diana. Aku Keith. Salam kenal. Aku pergi duluan ya."


Keith berbalik dan berjalan cepat mendekati teman-temannya yang masih setia menunggu dirinya.


Riri menatap kepergian Keith tanpa sadar. Elo menatapnya dengan tingkat kecemburuan level 5 serasa makan mie pedas level 5. Panas dan pedas.


Elo : "Riri..."


Riri : "Eh, iya kak?"


Elo : "Mandangin ampe segitunya. Kenapa?"


Riri : "Gak, kak. Jadi ke toko buku?"


Elo : "Iya, ayo."


Diana : "Ehem... Anggap aja aku gak ada disini ya."


Elo : "Eh, kamu mau ikut juga?"


Diana : "Gak ach. Toko buku? Bosan. Aku pergi dulu ya. ByeΒ  bye Riri."


Diana menggenggam tangan Riri lama sebelum beranjak pergi dari hadapan mereka.


🌻🌻🌻🌻🌻


Elo dan Riri berjalan menyusuri lorong sepi menuju toko buku di seberang bioskop. Mereka masih berada di mall yang sama.


Keduanya diam saja, seperti ragu ingin mengungkapkan sesuatu. Sampai akhirnya keduanya bicara bersamaan,


Riri : "Kak, aku boleh nanya?"


Elo : "Ri, aku boleh nanya?"


Keduanya terkejut dan akhirnya tertawa bersama.

__ADS_1


Riri : "Kakak duluan."


Elo : "Kamu duluan."


Keduanya terdiam dan kembali bicara bersamaan,


Riri : "Apa hubungan kakak sama kak Diana?"


Elo : "Apa hubunganmu sama Keith?"


Keduanya saling menatap dengan wajah merah.


Riri : "Cuma teman."


Elo : "Cuma teman."


Keduanya tidak bisa lagi menahan tawa dan cekikikan bersama.


Riri : "Kok aneh gitu sich?"


Elo : "Iya, seolah kita bisa baca pikiran satu sama lain."


Riri : "Aku kira kakak pacaran sama kak Diana. Habis chatnya mesra banget."


Elo : "Oh, itu aku cuma bantu dia aja. Gak lebih."


Riri : "Oh gitu."


Mereka sampai di depan toko buku. Elo mengarahkan Riri ke rak buku yang ingin dicarinya.


Elo menyusuri rak itu sampai menemukan buku yang ia cari. Riri juga menemukan buku bagus.


Mereka bertukar buku dan saling menceritakan referensi buku masing-masing.


Elo : Bagus juga ya. Abis kamu baca, aku pinjam ya."


Riri : Ok, kak."


Elo : "Masi ada waktu nich. Kita makan dulu yuk."


Mereka ke kasir dan Elo memaksa membayar buku Riri juga.


Elo : "Biar sekalian, Ri."


Elo tersenyum pada Riri yang memeluk buku yang baru dibelinya.


Elo : "Enak ya jadi buku."


Riri : "Kok gitu kak?"


Elo : "Bisa dipeluk kamu."


Riri : "Apaan sich kakak nih."


Wajah Riri merona, sementara Elo tertawa geli.


🌻🌻🌻🌻🌻


Mereka keluar dari toko buku dan melihat-lihat restauran di sekitar sana.


Elo : "Kamu mau makan apa?"


Riri : "Apa ya? Nasi goreng enak kayaknya."


Elo : "Kalo gitu kita makan disana."


Elo menunjuk restauran seafood di depan mereka. Riri mengangguk setuju dan mereka masuk kesana.


Sedang memilih tempat duduk yang nyaman, seseorang memanggil Elo.


Ratna : "Angelo, dear!"


Elo : "Mama? Ngapain disini?"


Ratna : "Abis arisan, mama masih lapar, mampir sini dech. Ini siapa?"


Mama Elo menatap Riri dengan penuh minat.


Elo : "Mah, kenalin ini Riri, pacar... eh, maksudnya... temen... eh..."

__ADS_1


Riri melotot mendengar kata-kata Elo. Wajahnya langsung merah padam sampai telinga. Perasaannya melambung tinggi ke langit.


Ratna : "Kamu ini gak jelas. Pacar apa temen?"


Elo : "Temen rasa pacar..."


Ratna : "Kamu mainin perasaan gadis ini?"


Elo : "Gak gitu, mah. Cuma belum bilang aja. Uda ngode sich."


Ratna : "Gak sopan. Dear, Riri ya. Duduk sini, sama mama."


Riri : "Mama?"


Ratna : "Iya, panggil mama Ratna ya. Dan kamu anak gak sopan, cepat pesen makanan."


Riri duduk di samping mama Ratna yang langsung kepo. Tipe emak-emak merepet tapi sangat baik.


Mama Ratna ini juga suka sekali membaca. Sekali ngobrol, Riri bisa tahu pengetahuan mama Ratna sangat luas.


Elo yang dicuekin cuma bisa memesan makanan dan senyum-senyum melirik Riri. Ia merasa kode yang barusan ia katakan sudah dimengerti Riri.


Setelah makanan datang, mereka mulai makan. Sesekali ngobrol seru tentang buku terbaru.


Riri merasa nyaman bersama mama Ratna dan Elo. Ia juga sangat menyukai Elo dan tadi sempat mendengar Elo menyebutnya pacar.


🌻🌻🌻🌻🌻


Usai makan malam, jam menunjukkan jam 9 malam.


Ratna : "Gak terasa loh obrolan kita seru banget ya. Lain kali, Riri harus ke rumah ya."


Riri : "Iya, mama Ratna. Kalau libur dan ada kesempatan, Riri mampir ke rumah."


Ratna : "Besok aja, gimana? Kamu masih libur kan? Sekalian ketemu kakeknya Angelo, sama-sama suka baca buku juga."


Riri : "Riri ijin mama sama papa dulu ya, mama Ratna."


Elo : "Besok aku jemput, Ri. Semoga dikasi sama mama Mia ya."


Ratna : "Ok, besok kabarin ya. Mama masakin makan siang yang paling enak."


Riri : "Maaf ngrepotin, mama."


Ratna : "Kamu manis banget sich. Pantesan Angelo suka sama kamu."


Wajah Elo memerah mendengar kata-kata mamanya yang bener banget.


Mereka berpisah jalan setelah Elo membayar tagihan makanan.


Selama perjalanan ke tempat parkir, keduanya dipenuhi pikiran gak jelas. Riri menunggu Elo mengatakan isi hatinya, sementara Elo menunggu Riri menanyakan maksud ucapannya tadi.


Elo : "Ri, besok kabarin ya mau dijemput jam berapa. Aku stand by dari pagi."


Riri : "Iya, kak. Enaknya jam berapa ya?"


Elo : "Jam 9 aku jemput, gimana?"


Riri : "Boleh kak, tapi aku minta ijin dulu ya."


Elo : "Iya... Mmm... Ri...?"


Riri : "Iya, kak?"


Elo : "...Besok aja ya. Aku anter kamu pulang dulu sekarang. Atau mau ke RS lagi?"


Riri : "Pulang aja, kak. Rio uda pulang dari tadi."


Elo : "Ok."


Elo mengantar Riri pulang, tanpa menyatakan perasaannya. Ia akan melakukannya besok saja.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2