
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 14
“Cepetan diangkat, Ken. Aku mau tahu gimana keadaan
opa,” kata Kaori.
Ken takut-takut menekan tombol hijau, terdengar
suara Alex dari seberang sana yang menanyakan keadaan Kaori. Ken melirik Kaori
yang berharap bisa mendengar Alex dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya Ken
mengganti panggilan jadi v-call. Alex bernafas lega saat melihat keduanya dalam
kondisi baik-baik saja.
Pria paruh baya itu meminta Ken membawa Kaori
segera pulang secepatnya. Alex tidak akan bisa tenang sebelum melihat Kaori kembali
ke rumahnya. Tapi Kaori mengatakan kalau ia sudah bilang pada kakek Martin
kalau Kaori dan Ken akan makan malam di rumah besar itu. Kaori takut kalau ia
pulang sekarang, nanti perusahaan Alex akan kembali bermasalah.
Alex mengatakan kalau perusahaan sudah kembali
normal segera setelah Kaori pergi dengan mobil bersama pengacara kakek Martin.
Ken mengatakan kalau ia akan menelpon kakek Martin sekarang untuk meminta ijin
makan malam di rumah Alex saja. Tapi Ken tidak berani berjanji karena kakek
Martin sulit untuk dibelokkan.
Hal paling penting yang diperhatikan Alex adalah
baju yang dikenakan Kaori sudah berubah dari sejak ia pergi tadi. Ketika Alex
menanyakan hal itu, Ken membiarkan Kaori menceritakan apa yang terjadi pada
dirinya. Ia sudah pasrah mau diapakan saja nanti oleh Alex.
Mia dan Alex bisa melihat ekspresi wajah Ken di
belakang Kaori karena pria itu memegang ponselnya di depan wajah Kaori. Mulut
Ken komat-kamit baca doa, mohon dimaafkan semua kesalahan pria itu. Saat Kaori
menceritakan apa yang sedang mereka lakukan berdua di taman bunga itu, Ken
semakin pucat.
“Kaori, jangan lama-lama. Aku harus telpon kakek,”
bisik Ken yang sudah ketakutan saat melirik ekspresi Alex. “Kaori,” panggil
Ken.
“Bentar, Ken. Ceritanya belum selesai,” kata Kaori
meminta Ken diam dulu.
Ken cemberut, wajahnya mirip Mia kalau lagi
ngambek. Alex jadi tidak bisa menahan tawanya dan memilih menghilang dari layar
ponsel.
“Iya, opa. Trus Ken cium tangan sama pipi aku tadi.
Trus kami pelukan. Gitu, opa,” kata Kaori tanpa menutupi apapun.
Gimana jadinya kalau tadi Ken nyosor mencium bibir
Kaori ya. Ken menunduk di belakang tubuh Kaori, ia takut melihat layar
ponselnya. Alex pasti melotot padanya.
“Ken,” panggil Mia.
“I—iya, ma... tante, kenapa?” tanya Ken
takut-takut.
“Tolong bawa Kaori pulang ya. Kita bisa makan malam
disini sama-sama. Kamu juga mau pergi lagi, kan,” lirih Mia dengan ekspresi
memohon.
“Aku usahakan secepatnya ya, tante. Sekarang aku
mau telpon kakek dulu,” kata Ken sambil melambaikan tangannya.
Ken cepat-cepat mematikan sambungan v-call. Ia
harus menelpon kakek Martin sekarang juga atau Alex akan terbang ke rumah besar
untuk menangkapnya. Saat sambungan telponnya tersambung, Ken mengkerutkan
keningnya.
“Kakek, sedang meeting ya?” tanya Ken ketika
mendengar suara orang lain yang sedang bicara.
“Tidak apa-apa, Ken. Ada apa? Kamu sudah ngapain
aja sama gadis itu?” goda kakek Martin.
Wajah Ken merona merah, masalahnya suara kakek
Martin cukup keras terdengar meskipun tanpa loudspeaker.
“Kek, aku nggak ngapa-ngapain Kaori. Nggak boleh,
kek,” kata Ken mulai panik.
“Ciuman juga belum? Lambat sekali progress-mu, Ken.
__ADS_1
Apa perlu kakek turun tangan?” tanya kakek Martin terdengar mengancam.
Ken menelan salivanya, ia harus menjawab dengan
hati-hati, kalau tidak habislah dia dan Kaori nanti.
“Tadi udah aku cium pipinya, kek. Tapi Kaori boleh
pulang nggak, kek? Kami mau makan malam bersama di rumah om Alex. Kalau boleh,
kek,” pinta Ken dengan hati-hati.
“Harusnya kalian dinner romantis berdua!” teriak
kakek Martin mengagetkan peserta meeting di depannya. Ken memejamkan matanya,
ia hampir bicara lagi, tapi kakek Martin buru-buru memotongnya. “Dinnernya
pindah ke rumah mereka? Ya sudah, suruh kokinya masak disana. Bawa semua bahan
makanan yang sudah disiapin,” putus kakek Martin.
“Iya, kek. Terima kasih, kek. Aku suruh kokinya kesana.
Sampai jumpa, kek,” kata Ken cepat, takut kakek Martin berubah pikiran.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi?
Iring-iringan mobil mewah sampai di depan rumah
Alex. Ken menuntun Kaori turun dari mobil kakek Martin. Mereka tentu saja
disambut Mia dan Alex yang langsung memeluk dan mengecek kondisi Kaori. Mia
hampir menangis melihat lebam di lengan Ken karena pukulan tongkat kakek
Martin.
Mereka lebih bingung lagi ketika melihat deretan
koki dan pelayan tampak berjalan masuk ke halaman rumah Alex dengan membawa
peralatan masak dan juga bahan makanan yang banyak. Ken hanya mengatakan kalau
itu semua atas perintah kakek Martin agar Kaori bisa pulang.
Rumah Alex langsung penuh seperti rumah orang yang
mau pesta besar. Para koki berbaris teratur memasak makanan di halaman rumah.
Mereka bahkan membawa foodtruck sendiri. Reva dan Rava yang gemar makan, sudah
nongkrong duluan di depan food truck itu, untuk mencicipi semua makanan yang
sudah siap dihidangkan. Ken meminta semua orang-orang kakek Martin untuk
menikmati makan malam bersama tanpa memikirkan tentang perbedaan status mereka.
Koki, pelayan, keluarga Alex, bahkan sopir juga
ikut menikmati makanan yang tersedia. Mereka menggelar tikar di atas rumput,
duduk bersama sambil makan dan menikmati suasana malam yang cukup cerah tanpa
“Ken, bisa ikut mama, sebentar?” bisik Mia di
telinga Ken.
Ken bangkit dari duduknya disamping Kaori. Mereka
berjalan ke dalam rumah lalu duduk di ruang keluarga. Mia mengambil kotak P3K
dan meminta Ken menunjukkan lebam di tubuhnya. Dengan mata berkaca-kaca, Mia
mengoleskan obat lebam ke tempat yang berwarna kebiruan itu.
“Kok bisa gini, Ken? Siapa yang mukul kamu?” tanya
Mia cemas.
“Cuma bercanda, ma. Jangan nangis, dong. Ini nggak
sakit, kok, beneran nggak sakit,” kata Ken yang sudah terbiasa.
“Kakek kamu yang mukul? Kok dia tega mukul kamu,
nak?” tanya Mia mulai menangis.
Biar bagaimanapun Mia tidak bisa tega kalau sudah
berhubungan dengan anak-anaknya. Terlebih dia baru tahu kalau Ken adalah
anaknya yang tertukar dengan Renata. Mia ingin sekali menahan Ken tetap tinggal
bersama mereka. Tidak akan ada yang memukul Ken di rumah Alex.
Ken mengusap air mata Mia, ia menyentuh pipi mama
kandungnya itu dengan sayang. Entah kapan Ken akan bisa melihat mama Mia lagi.
Setelah ia pergi nanti, Ken tidak boleh kembali sampai waktunya tiba nanti.
“Kamu nggak harus pergi, Ken. Kamu bisa tinggal
disini sama kami. Keluargamu disini, nak,” pinta Mia masih sesenggukan.
“Aku belum bisa, mah. Mama sudah lihat sendiri apa
yang bisa dilakukan kakek Martin sama perusahaan papa. Aku harus pergi, mah.
Tolong jangan buat ini jadi berat. Aku janji suatu saat pasti balik kesini
lagi. Kasi aku waktu, mah,” ucap Ken lalu memeluk Mia dengan erat.
Keduanya berpelukan erat sambil menangis sedih.
Tanpa mereka sadari, Alex yang ingin ke toilet, memergoki mereka sedang
berpelukan. Ia buru-buru menarik Mia dan Ken bangun dari duduknya, lalu membawa
mereka berdua masuk ke kamar Alex.
__ADS_1
“Ada apa, mas?” tanya Mia cemas. Ia memegangi
dadanya yang bergemuruh kencang seperti habis berlari.
“Si kembar mau masuk ke rumah. Kalau dilihat kalian
berdua pelukan gini, apa yang akan mereka pikirkan. Lagian ngapain kamu
peluk-peluk istriku? Tadi Kaori bilang kamu cium pipinya, kamu udah berani ya,”
kata Alex sambil mendekati Ken.
“Mas, dia anak kita juga. Jangan gitu dong,” bujuk
Mia.
“Nggak peduli. Anak, anak, aku aja jarang peluk
kamu. Ini anak main peluk aja. Cucu kesayanganku juga dicium-cium. Kamu serius,
apa cuma mau mainin Kaori? Awas, kamu ya,” ancam Alex.
“Serius, pah. Kalau boleh, mau ngelamar Kaori juga.
Tapi nanti kalau udah siap. Boleh kan, pah?” tanya Ken penuh harap.
Alex kehilangan kata-katanya, ia mau bilang nggak
boleh, tapi apa alasannya melarang Ken. Kalau bilang boleh, sebenarnya nggak
ada masalah karena Kaori bukan cucu kandungnya. Alex ikutan dilema mendengar
permintaan Ken. Mia sudah ingin mengatakan kalau Kaori juga anak Endy, tapi
Alex memberi kode dengan cepat.
“Kamu punya apa, berani melamar cucu kesayanganku?
Nggak punya pekerjaan juga, sudah memikirkan ngelamar cucuku. Mimpi sana,” kata
Alex kejam. Padahal dalam hatinya, Alex berharap kalau Ken dan Kaori bisa
berjodoh agar Kaori tetap bisa tinggal bersama dengan Alex sampai kapanpun.
Dasar memang Ken orangnya tengil dan suka iseng, ia
menyebutkan harta warisan kakek Martin yang tidak akan habis tujuhturunan
dikalikan tujuh lagi. Meskipun ia dan Kaori bersenang-senang setiap hari, harta
warisan itu tidak akan habis. Alex menepuk kepala Ken, Mia juga mencubit
pinggang putranya itu. Mereka berdua mengomeli Ken dan mengatakan kalau Ken
tidak boleh menjadi tamak.
“Pa, ma, aku uda dipukul kakek Martin, jangan dipukul
sama dicubit lagi dong,” protes Ken.
“Habisnya kamu nyebelin banget. Itu harta punya
Endy dan Kinanti. Renata, mungkin yang lebih berhak. Dan....” Mia hampir
keceplosan menyebutkan nama Kaori.
“Pokoknya kamu nggak boleh tamak, serakah. Itu
bukan hak kamu, Ken. Ngerti?” kata Alex cepat.
“Iya, paham, pa. Boleh peluk, nggak? Pesawatku udah
mau berangkat sich. Harus ke bandara,” kata Ken penuh harap.
Alex langsung memeluk Ken dengan erat, ia ingin
menangis sebenarnya, tapi menahan diri agar Ken tidak terbebani. Mia juga ikut
memeluk Ken dengan erat. Alex memberikan jam tangan kesayangannya untuk Ken,
sedangkan Mia memberinya seuntai kalung emas untuk Ken pakai. Kalung berbentuk
rantai kecil itu, menghiasi leher Ken sekarang.
Tibalah saat bagi Ken untuk pergi. Foodtruck dan
rombongan yang tadi bersama Ken, sudah menghilang dari halaman depan. Hanya
tertinggal mobil kakek Martin yang akan mengantar Ken ke bandara. Ken
berpamitan pada Rio dan Gadis yang masih duduk-duduk di teras sambil menikmati
dessert dingin yang sangat enak.
Reva, Flora, Rava, dan Diva juga masih ada bersama
mereka. Hanya anak-anak yang sudah kembali ke kamar mereka masing-masing,
termasuk Renata dan Kaori. Tapi Mia membawa Kaori untuk berpamitan dengan Ken.
Renata juga turun setelah dipanggil Alex. Ken berdiri di depan Kaori, lalu
memegang kedua tangannya. Sekali lagi, Ken mengecup punggung tangan Kaori. Suasana
yang romantis langsung membuat orang yang melihat mereka jadi gemes dan jadi
senyum-senyum sendiri.
“Kaori, tunggu aku ya. Nanti aku telpon kamu.
Semoga aku bisa kembali secepatnya,” kata Ken.
“Amin. Jaga kesehatanmu disana ya, Ken. Aku tunggu
kamu disini,” ucap Kaori sambil tersenyum manis.
Untuk sesaat Ken ragu ketika ingin mencium kening
Kaori, tapi melihat sudah tidak ada waktu lagi, Ken menunduk dan mengecup pipi
Kaori sekali lagi. Ia buru-buru minta maaf sambil memegang pipi Kaori, lalu
__ADS_1
berjalan cepat menuju mobil yang sudah menunggunya.