Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 14


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 14


“Cepetan diangkat, Ken. Aku mau tahu gimana keadaan


opa,” kata Kaori.


Ken takut-takut menekan tombol hijau, terdengar


suara Alex dari seberang sana yang menanyakan keadaan Kaori. Ken melirik Kaori


yang berharap bisa mendengar Alex dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya Ken


mengganti panggilan jadi v-call. Alex bernafas lega saat melihat keduanya dalam


kondisi baik-baik saja.


Pria paruh baya itu meminta Ken membawa Kaori


segera pulang secepatnya. Alex tidak akan bisa tenang sebelum melihat Kaori kembali


ke rumahnya. Tapi Kaori mengatakan kalau ia sudah bilang pada kakek Martin


kalau Kaori dan Ken akan makan malam di rumah besar itu. Kaori takut kalau ia


pulang sekarang, nanti perusahaan Alex akan kembali bermasalah.


Alex mengatakan kalau perusahaan sudah kembali


normal segera setelah Kaori pergi dengan mobil bersama pengacara kakek Martin.


Ken mengatakan kalau ia akan menelpon kakek Martin sekarang untuk meminta ijin


makan malam di rumah Alex saja. Tapi Ken tidak berani berjanji karena kakek


Martin sulit untuk dibelokkan.


Hal paling penting yang diperhatikan Alex adalah


baju yang dikenakan Kaori sudah berubah dari sejak ia pergi tadi. Ketika Alex


menanyakan hal itu, Ken membiarkan Kaori menceritakan apa yang terjadi pada


dirinya. Ia sudah pasrah mau diapakan saja nanti oleh Alex.


Mia dan Alex bisa melihat ekspresi wajah Ken di


belakang Kaori karena pria itu memegang ponselnya di depan wajah Kaori. Mulut


Ken komat-kamit baca doa, mohon dimaafkan semua kesalahan pria itu. Saat Kaori


menceritakan apa yang sedang mereka lakukan berdua di taman bunga itu, Ken


semakin pucat.


“Kaori, jangan lama-lama. Aku harus telpon kakek,”


bisik Ken yang sudah ketakutan saat melirik ekspresi Alex. “Kaori,” panggil


Ken.


“Bentar, Ken. Ceritanya belum selesai,” kata Kaori


meminta Ken diam dulu.


Ken cemberut, wajahnya mirip Mia kalau lagi


ngambek. Alex jadi tidak bisa menahan tawanya dan memilih menghilang dari layar


ponsel.


“Iya, opa. Trus Ken cium tangan sama pipi aku tadi.


Trus kami pelukan. Gitu, opa,” kata Kaori tanpa menutupi apapun.


Gimana jadinya kalau tadi Ken nyosor mencium bibir


Kaori ya. Ken menunduk di belakang tubuh Kaori, ia takut melihat layar


ponselnya. Alex pasti melotot padanya.


“Ken,” panggil Mia.


“I—iya, ma... tante, kenapa?” tanya Ken


takut-takut.


“Tolong bawa Kaori pulang ya. Kita bisa makan malam


disini sama-sama. Kamu juga mau pergi lagi, kan,” lirih Mia dengan ekspresi


memohon.


“Aku usahakan secepatnya ya, tante. Sekarang aku


mau telpon kakek dulu,” kata Ken sambil melambaikan tangannya.


Ken cepat-cepat mematikan sambungan v-call. Ia


harus menelpon kakek Martin sekarang juga atau Alex akan terbang ke rumah besar


untuk menangkapnya. Saat sambungan telponnya tersambung, Ken mengkerutkan


keningnya.


“Kakek, sedang meeting ya?” tanya Ken ketika


mendengar suara orang lain yang sedang bicara.


“Tidak apa-apa, Ken. Ada apa? Kamu sudah ngapain


aja sama gadis itu?” goda kakek Martin.


Wajah Ken merona merah, masalahnya suara kakek


Martin cukup keras terdengar meskipun tanpa loudspeaker.


“Kek, aku nggak ngapa-ngapain Kaori. Nggak boleh,


kek,” kata Ken mulai panik.


“Ciuman juga belum? Lambat sekali progress-mu, Ken.

__ADS_1


Apa perlu kakek turun tangan?” tanya kakek Martin terdengar mengancam.


Ken menelan salivanya, ia harus menjawab dengan


hati-hati, kalau tidak habislah dia dan Kaori nanti.


“Tadi udah aku cium pipinya, kek. Tapi Kaori boleh


pulang nggak, kek? Kami mau makan malam bersama di rumah om Alex. Kalau boleh,


kek,” pinta Ken dengan hati-hati.


“Harusnya kalian dinner romantis berdua!” teriak


kakek Martin mengagetkan peserta meeting di depannya. Ken memejamkan matanya,


ia hampir bicara lagi, tapi kakek Martin buru-buru memotongnya. “Dinnernya


pindah ke rumah mereka? Ya sudah, suruh kokinya masak disana. Bawa semua bahan


makanan yang sudah disiapin,” putus kakek Martin.


“Iya, kek. Terima kasih, kek. Aku suruh kokinya kesana.


Sampai jumpa, kek,” kata Ken cepat, takut kakek Martin berubah pikiran.


Bisa dibayangkan apa yang terjadi?


Iring-iringan mobil mewah sampai di depan rumah


Alex. Ken menuntun Kaori turun dari mobil kakek Martin. Mereka tentu saja


disambut Mia dan Alex yang langsung memeluk dan mengecek kondisi Kaori. Mia


hampir menangis melihat lebam di lengan Ken karena pukulan tongkat kakek


Martin.


Mereka lebih bingung lagi ketika melihat deretan


koki dan pelayan tampak berjalan masuk ke halaman rumah Alex dengan membawa


peralatan masak dan juga bahan makanan yang banyak. Ken hanya mengatakan kalau


itu semua atas perintah kakek Martin agar Kaori bisa pulang.


Rumah Alex langsung penuh seperti rumah orang yang


mau pesta besar. Para koki berbaris teratur memasak makanan di halaman rumah.


Mereka bahkan membawa foodtruck sendiri. Reva dan Rava yang gemar makan, sudah


nongkrong duluan di depan food truck itu, untuk mencicipi semua makanan yang


sudah siap dihidangkan. Ken meminta semua orang-orang kakek Martin untuk


menikmati makan malam bersama tanpa memikirkan tentang perbedaan status mereka.


Koki, pelayan, keluarga Alex, bahkan sopir juga


ikut menikmati makanan yang tersedia. Mereka menggelar tikar di atas rumput,


duduk bersama sambil makan dan menikmati suasana malam yang cukup cerah tanpa


“Ken, bisa ikut mama, sebentar?” bisik Mia di


telinga Ken.


Ken bangkit dari duduknya disamping Kaori. Mereka


berjalan ke dalam rumah lalu duduk di ruang keluarga. Mia mengambil kotak P3K


dan meminta Ken menunjukkan lebam di tubuhnya. Dengan mata berkaca-kaca, Mia


mengoleskan obat lebam ke tempat yang berwarna kebiruan itu.


“Kok bisa gini, Ken? Siapa yang mukul kamu?” tanya


Mia cemas.


“Cuma bercanda, ma. Jangan nangis, dong. Ini nggak


sakit, kok, beneran nggak sakit,” kata Ken yang sudah terbiasa.


“Kakek kamu yang mukul? Kok dia tega mukul kamu,


nak?” tanya Mia mulai menangis.


Biar bagaimanapun Mia tidak bisa tega kalau sudah


berhubungan dengan anak-anaknya. Terlebih dia baru tahu kalau Ken adalah


anaknya yang tertukar dengan Renata. Mia ingin sekali menahan Ken tetap tinggal


bersama mereka. Tidak akan ada yang memukul Ken di rumah Alex.


Ken mengusap air mata Mia, ia menyentuh pipi mama


kandungnya itu dengan sayang. Entah kapan Ken akan bisa melihat mama Mia lagi.


Setelah ia pergi nanti, Ken tidak boleh kembali sampai waktunya tiba nanti.


“Kamu nggak harus pergi, Ken. Kamu bisa tinggal


disini sama kami. Keluargamu disini, nak,” pinta Mia masih sesenggukan.


“Aku belum bisa, mah. Mama sudah lihat sendiri apa


yang bisa dilakukan kakek Martin sama perusahaan papa. Aku harus pergi, mah.


Tolong jangan buat ini jadi berat. Aku janji suatu saat pasti balik kesini


lagi. Kasi aku waktu, mah,” ucap Ken lalu memeluk Mia dengan erat.


Keduanya berpelukan erat sambil menangis sedih.


Tanpa mereka sadari, Alex yang ingin ke toilet, memergoki mereka sedang


berpelukan. Ia buru-buru menarik Mia dan Ken bangun dari duduknya, lalu membawa


mereka berdua masuk ke kamar Alex.

__ADS_1


“Ada apa, mas?” tanya Mia cemas. Ia memegangi


dadanya yang bergemuruh kencang seperti habis berlari.


“Si kembar mau masuk ke rumah. Kalau dilihat kalian


berdua pelukan gini, apa yang akan mereka pikirkan. Lagian ngapain kamu


peluk-peluk istriku? Tadi Kaori bilang kamu cium pipinya, kamu udah berani ya,”


kata Alex sambil mendekati Ken.


“Mas, dia anak kita juga. Jangan gitu dong,” bujuk


Mia.


“Nggak peduli. Anak, anak, aku aja jarang peluk


kamu. Ini anak main peluk aja. Cucu kesayanganku juga dicium-cium. Kamu serius,


apa cuma mau mainin Kaori? Awas, kamu ya,” ancam Alex.


“Serius, pah. Kalau boleh, mau ngelamar Kaori juga.


Tapi nanti kalau udah siap. Boleh kan, pah?” tanya Ken penuh harap.


Alex kehilangan kata-katanya, ia mau bilang nggak


boleh, tapi apa alasannya melarang Ken. Kalau bilang boleh, sebenarnya nggak


ada masalah karena Kaori bukan cucu kandungnya. Alex ikutan dilema mendengar


permintaan Ken. Mia sudah ingin mengatakan kalau Kaori juga anak Endy, tapi


Alex memberi kode dengan cepat.


“Kamu punya apa, berani melamar cucu kesayanganku?


Nggak punya pekerjaan juga, sudah memikirkan ngelamar cucuku. Mimpi sana,” kata


Alex kejam. Padahal dalam hatinya, Alex berharap kalau Ken dan Kaori bisa


berjodoh agar Kaori tetap bisa tinggal bersama dengan Alex sampai kapanpun.


Dasar memang Ken orangnya tengil dan suka iseng, ia


menyebutkan harta warisan kakek Martin yang tidak akan habis tujuhturunan


dikalikan tujuh lagi. Meskipun ia dan Kaori bersenang-senang setiap hari, harta


warisan itu tidak akan habis. Alex menepuk kepala Ken, Mia juga mencubit


pinggang putranya itu. Mereka berdua mengomeli Ken dan mengatakan kalau Ken


tidak boleh menjadi tamak.


“Pa, ma, aku uda dipukul kakek Martin, jangan dipukul


sama dicubit lagi dong,” protes Ken.


“Habisnya kamu nyebelin banget. Itu harta punya


Endy dan Kinanti. Renata, mungkin yang lebih berhak. Dan....” Mia hampir


keceplosan menyebutkan nama Kaori.


“Pokoknya kamu nggak boleh tamak, serakah. Itu


bukan hak kamu, Ken. Ngerti?” kata Alex cepat.


“Iya, paham, pa. Boleh peluk, nggak? Pesawatku udah


mau berangkat sich. Harus ke bandara,” kata Ken penuh harap.


Alex langsung memeluk Ken dengan erat, ia ingin


menangis sebenarnya, tapi menahan diri agar Ken tidak terbebani. Mia juga ikut


memeluk Ken dengan erat. Alex memberikan jam tangan kesayangannya untuk Ken,


sedangkan Mia memberinya seuntai kalung emas untuk Ken pakai. Kalung berbentuk


rantai kecil itu, menghiasi leher Ken sekarang.


Tibalah saat bagi Ken untuk pergi. Foodtruck dan


rombongan yang tadi bersama Ken, sudah menghilang dari halaman depan. Hanya


tertinggal mobil kakek Martin yang akan mengantar Ken ke bandara. Ken


berpamitan pada Rio dan Gadis yang masih duduk-duduk di teras sambil menikmati


dessert dingin yang sangat enak.


Reva, Flora, Rava, dan Diva juga masih ada bersama


mereka. Hanya anak-anak yang sudah kembali ke kamar mereka masing-masing,


termasuk Renata dan Kaori. Tapi Mia membawa Kaori untuk berpamitan dengan Ken.


Renata juga turun setelah dipanggil Alex. Ken berdiri di depan Kaori, lalu


memegang kedua tangannya. Sekali lagi, Ken mengecup punggung tangan Kaori. Suasana


yang romantis langsung membuat orang yang melihat mereka jadi gemes dan jadi


senyum-senyum sendiri.


“Kaori, tunggu aku ya. Nanti aku telpon kamu.


Semoga aku bisa kembali secepatnya,” kata Ken.


“Amin. Jaga kesehatanmu disana ya, Ken. Aku tunggu


kamu disini,” ucap Kaori sambil tersenyum manis.


Untuk sesaat Ken ragu ketika ingin mencium kening


Kaori, tapi melihat sudah tidak ada waktu lagi, Ken menunduk dan mengecup pipi


Kaori sekali lagi. Ia buru-buru minta maaf sambil memegang pipi Kaori, lalu

__ADS_1


berjalan cepat menuju mobil yang sudah menunggunya.


__ADS_2