Duren Manis

Duren Manis
Menjagamu


__ADS_3

Rara semakin merapatkan tubuhnya ke pintu apartment, Arnold mulai mendekatinya. Membuat jarak seminimal mungkin pada tubuh mereka.


Arnold : "Ra, katakan terus terang apa kau marah padaku?"


Rara : "Marah kenapa kak?"


Arnold : "Tadi aku lihat rekaman waktu terapi. Aku kurang ajar sama kamu."


Wajah Rara memerah mengingat kejadian saat di ruangan dokter Kevin. Ia menunduk tidak berani menatap Arnold lagi.


Rara bingung kenapa juga dia tidak marah diperlakukan seperti itu tetapi juga tidak terlalu senang. Ia merasa canggung saja berada di dekat Arnold saat ini.


Rara : "Kak, aku mau ke toilet. Minggir dong."


Arnold menyingkir dari hadapan Rara, ia lebih memilih duduk di sisi ranjang sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.


Sebenarnya banyak chat dan panggilan tidak terjawab dari papa dan beberapa rekan bisnisnya. Tapi Arnold hanya ingin memastikan perasaannya pada Rara sekarang.


Saat Rara keluar dari kamar mandi, pandangan mereka bertemu.


Arnold : "Ra, duduk sini. Aku mau bicara."


Rara : "Kenapa kak?"


Arnold : "Ra, kapan kamu lulus kuliah?"


Rara : "Mungkin 2-3 tahun lagi, kak. Kenapa kak?"


Arnold : "Aku... nanti saja. Aku perlu bicara dulu dengan papamu." Arnold ragu-ragu mengatakan perasaannya pada Rara.


Rara : "Kak, istirahatlah dulu. Aku mau telpon mama."


Arnold hanya mengangguk, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tubuhnya lebih rileks tanpa rasa sakit seperti terapi-terapi sebelumnya.


Arnold mengambil ponselnya, ia mengirimkan rekaman terapinya pada papanya. Rara sedang menelpon Mia di balkon apartment.


Sesekali ia terlihat tersenyum dan berganti jadi serius dalam waktu singkat. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Rara terlihat senang sekali.


Setelah beberapa saat, Arnold menelpon papanya.


Arnold : "Halo, pah. Papa sudah lihat hasil terapiku hari ini?"


Ronald : "Ini sebuah keajaiban, nak. Bagaimana bisa kemajuanmu sangat pesat? Apa karena Rara?"


Arnold : "Pah, boleh gak Arnold menikahi Rara?"


Ronald : "Kamu ini mau nikahin anak gadis orang kenapa malah nanya sama papa? Tanya om Alex dong."


Arnold : "Kan tetep harus tanya papa dulu. Arnold uda mau bilang sama Rara tadi, tapi takut papa sama om Alex gak setuju. Ntar tambah runyam masalahnya."


Ronald : "Apa kamu mencintai Rara?"


Arnold : "Iya, pah..."


Saat itu Rara masuk lagi ke dalam apartment. Ia mendekati meja apartment dan mengambil segelas air minum.


Rara membawa gelas itu dan kembali ke balkon. Ia bahkan belum selesai bicara dengan Mia.

__ADS_1


Ronald : "Apa? Papa gak denger."


Arnold : "Ih, papa nich. Arnold bilang Arnold cinta sama Rara. Tadi orangnya lewat depan Arnold. Ntar kedengeran gimana?"


Ronald : "Loh, malah bagus kan? Sekalian gitu nanyanya."


Arnold : "Pah, serius sedikit. Arnold boleh bilang sama om Alex ya."


Ronald : "Iya, ntar papa bantu. Cepet kasi tahu om Alex. Apa dia tahu kalian menginap satu kamar?"


Deg! Arnold belum menjelaskan hal itu pada keluarga Rara. Ia tambah gugup dan takut bicara pada Alex.


Arnold : "Pah, Arnold kok jadi takut ya. Nanti kalau om Alex ngamuk gimana?"


Ronald : "Tunjukin kamu laki-laki, nak. Jangan sama anaknya aja. Berani berbuat, berani tanggung jawab."


Arnold : "Tapi Arnold beneran mau nikahin Rara, pah."


Rara : "Apaaa?!!"


Arnold menatap Rara yang shock mendengar kata-katanya. Ia sudah selesai menelpon Mia dan ingin rebahan sebentar.


-------


Alex yang baru pulang dari kantor, mendapati Mia sedang duduk di ruang keluarga. Ia asyik membaca buku pelajaran SMA milik Rio.


Mia sedang membantu si kembar mengerjakan PR-nya. Sementara si kembar entah ada dimana.


Alex duduk di belakang Mia, ia memeluk pinggang ramping Mia dari belakang. Mia sempat mengelak sebelum menyadari kalau itu Alex.


Alex : "Sayang, aku capek banget. Boleh ng-charge gak?"


Melihat Mia tidak ada respon, tangan Alex menyelinap masuk ke balik baju Mia.


Mia : "Mas, nanti dilihat anak-anak. Mandi dulu sana."


Alex : "Kita pindah ke kamar yuk. Bentar aja."


Mia tidak bisa menolak Alex yang sudah menariknya ke dalam kamar. Tangan Alex mulai menyusuri tubuh bagian atas Mia.


Alex menarik penutup atas tubuh Mia hingga terlepas dan mulai mengganti tangannya dengan mulut.


Mia menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar keluar, langkah kaki si kembar menuruni tangga, terdengar jelas dari balik pintu.


Rio : "Loh, mama mana? Eh, tugasku uda selesai." Rio kegirangan karena tugasnya sudah selesai dikerjakan Mia.


Mereka menunduk di atas meja ruang keluarga dan mulai menyalin tugas itu ke buku masing-masing.


Mia : "Maas... uda dong. Anak-anak uda turun..."


Alex : "...Entar..."


Tubuh Alex menegang dan perlahan terkulai lemas, Mia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai, Mia keluar kamar Alex dan bersikap biasa saja. Riri yang melihat Mia keluar dari kamar Alex, sedikit kepo,


Riri : "Mama abis ngapain?"

__ADS_1


Mia : "Mama sakit perut. Tugas kalian sudah selesai?"


Rio : "Lagi dikit, mah.


Mia kembali duduk di samping mereka dan memperhatikan hasil pekerjaan mereka.


Sementara itu di dalam kamar Alex baru selesai mandi saat telponnya berdering. Itu telpon dari Arnold.


Alex : "Halo, Arnold. Ada apa? Kalian baik-baik saja kan?"


Arnold : "Om maaf kalau ini mendadak dan sangat tidak sopan karena saya bicara lewat telpon. Tapi boleh gak saya menikahi Rara."


Alex : "Apaa??!!! Kalian gak... Kamu apakan Rara?!!"


Arnold : "Om, sabar dulu om. Saya kirimkan rekaman hasil terapi saya hari ini. Mungkin om bisa sedikit paham kenapa saya melamar Rara. Tolong om tenang dulu. Saya tutup dulu telponnya ya, om."


Alex menghembuskan nafas panjang, ia mencoba menenangkan emosinya yang sedikit kacau karena pikirannya yang kalut.


Alex membuka pintu kamarnya, ia melongok dan melihat Mia duduk bersama si kembar.


Alex : "Mia, sini dulu. Aku perlu bicara penting."


Suara Alex terdengar sangat serius sehingga si kembar tidak bicara apa-apa. Mia bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamar Alex.


Mia : "Ada apa, mas?"


Alex : "Barusan Arnold telpon, ia melamar Rara."


Mia : "Apa??!! Rara baik-baik aja kan? Mereka gak..."


Mia sedikit menyesal membiarkan Rara berangkat dengan Arnold. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Rara, bagaimana?


Alex : "Arnold minta kita lihat hasil rekaman dia dulu. Ayo duduk."


Alex dan Mia menonton rekaman itu dan melihat bagaimana Arnold menjadi tenang setelah Rara memeluknya.


Alex menutup rekaman itu dan menatap Mia.


Alex : "Apa ini benar? Rara bisa jadi penyembuh untuk Arnold."


Mia : "Kalau memang benar, mereka harus menikah, mas. Kalau tidak aku gak bisa bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya."


Alex : "Tapi Rara belum selesai kuliah, usianya masih muda, Mia."


Mia : "Sebaiknya mas telpon Arnold lagi. Tanyakan dengan jelas apa maksudnya menikahi Rara. Kita juga gak tahu bagaimana perasaan Arnold pada Rara, kan?"


Alex menekan nomor telpon Arnold dan menunggu tersambung.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’


dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


-------


__ADS_2