Duren Manis

Duren Manis
Extra part 43


__ADS_3

Extra part 43


“Kamu kan bisa minta lagi. Ini kan rumahmu. Aku


harus memulihkan tenagaku. Emangnya makanan ini harus aku bayar ya?” tanya


Keira cuek. Tapi gadis itu mengambil potongan steak yang lebih besar lalu


menyodorkannya pada Bilar.


“Nich, tapi sekali aja. Jangan habiskan makananku,”


gerutu Keira dengan mulut manyun.


“Nggak. Nanti aku makan kamu kalo masih lapar,”


balas Bilar dengan senyum manis yang menggetarkan hati Keira.


Bilar kembali fokus mengeluarkan daging kepiting


dari cangkangnya. Sementara Keira sesekali menyuapi Billar dengan potongan


daging steak tanpa berani menatap pria itu.


Kedekatan keduanya tidak lepas dari pengamatan


Bianca yang mengintip dari celah pintu kamar. Bianca merencanakan sesuatu untuk


kencan buta Bilar nanti.


**


Beberapa hari kemudian, Keira yang sudah membaik,


ingin pulang ke apartmentnya sendiri. Ia mengucapkan terima kasih pada Bianca


dan Ilham yang sudah berbaik hati merawatnya. Ketiganya menoleh saat Bilar


bangkit dari kursinya lalu pergi begitu saja di tengah makan malam bersama.


Keira menunduk merasa tidak enak dengan perilaku Bilar.


“Keira, kalau kamu nggak sibuk, tante mau minta


tolong. Besok Bilar mulai kencan buta. Ini foto gadis itu. Gimana menurutmu?”


tanya Bianca sambil menyodorkan sebuah foto gadis cantik.


Keira memperhatikan foto gadis itu, ia merasa


pernah melihat gadis itu tapi entah dimana. Bianca memperhatikan reaksi Keira


yang mengerutkan keningnya.


“Kenapa, Kei? Nggak cantik ya?” tanya Bianca.


“Eh, cantik kok tante. Cuma mukanya familiar gitu.


Mungkin cuma kebetulan aja,” kata Keira sambil menyerahkan kembali foto itu.


Keira mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu


gadis di foto itu. Pergaulannya cukup luas karena sering clubbing. Apa mungkin


ia pernah melihatnya di club?


“Kei, besok kamu bantu Bilar memilih pakaian ya.


Dia harus terlihat ganteng maksimal. Tante harap kamu mau membantu Bilar.”


Bianca masih saja memanas-manasi Keira yang hanya bisa mengangguk.


Usai makan malam, Keira kembali ke kamar yang ia


tempati di rumah Bianca, beberapa hari ini. Gadis itu berbaring tengkurap


diatas tempat tidurnya. Ia asyik melihat-lihat fotonya di sosial media.


Terutama saat ia berada di club bersama teman-temannya. Matanya tertuju pada


foto seorang gadis yang mirip dengan gadis yang ada di foto yang tadi


disodorkan Bianca.


“Waduh, aku baru inget ketemu dia di club.” Keira


menelan salivanya ketika mengingat saat ia bertemu dengan gadis itu. Namanya


Silvia, wajahnya memang cantik dan terlihat polos. Tapi kelakuannya lebih parah


dari Keira. Silvia itu bisa gonta-ganti cowok dalam semalam. Keira dan Reynold pernah


tidak sengaja memergoki Silvia sedang asyik main dengan seorang pria di dalam


kamar yang ada di club. Saking hebohnya, Silvia tidak sadar sedang jadi


tontonan.


“Semoga aja bukan Silvia yang ditemui Bilar besok,”


gumam Keira sibuk sendiri.


“Siapa yang ketemu aku besok?” tanya Bilar yang


masuk ke kamar Keira tanpa ketuk pintu dulu.


“Bilar! Kalo masuk tuch ketuk pintu dulu. Kalo aku


lagi ganti baju gimana?” protes Keira.


“Ganti aja, aku kan tinggal nunggu,” sahut Bilar

__ADS_1


tanpa dosa.


Keira memonyongkan bibirnya kesal. Pria itu malah


ikut berbaring di samping Keira lalu merebut ponselnya. Bilar melihat foto


Silvia di ponsel Keira yang langsung merebut ponselnya kembali.


“Itukan cewek yang mau ketemu aku besok. Kamu kenal


dia?” tanya Bilar.


“Nggak kenal. Cuma... itu... mmm... aku nggak tahu


gimana ngomongnya,” kata Keira ragu-ragu ingin mengatakan apa yang ia tahu


tentang Silvia.


“Kamu ketemu dia dulu dech. Besok aku kasih tahu,”


putus Keira akhirnya.


“Mencurigakan,” ucap Bilar sambil merebut ponsel


Keira lagi.


Keira menghela nafasnya, setidaknya ia tidak secara


sengaja mengatakan sesuatu tentang Silvia. Bosan menunggu Bilar yang asyik


membuka-buka sosmed milik Keira, gadis itu akhirnya tertidur pulas dengan


posisi tengkurap.


**


Saat Keira terbangun keesokan harinya, ia merasakan


berat di perutnya. Keira melihat ke samping dan mendapati Bilar tertidur sambil


memeluknya. Keira tersenyum melihat pria tampan itu sangat dekat dengannya. Tangan


Keira terulur keatas, menyentuh alis Bilar yang tumbuh teratur. Merasakan


sentuhan di wajahnya, Bilar terbangun.


Keduanya tersenyum satu sama lain. Keira mendekat


ingin mengecup kening Bilar dan mengucapkan selamat pagi, tapi pria itu malah


menarik tengkuknya hingga mereka berciuman panas di pagi yang cerah itu.


“Hmm... Bilar... udah...,” pinta Keira terbata-bata


di sela-sela ciuman mereka.


“Aku belum puas, Kei. Setidaknya kasih aku tenaga


kalau kamu nggak nyium aku, Kei.” Bilar mengeratkan pegangannya pada tengkuk


Keira, memaksa mencium gadis itu lagi.


Keira tidak bisa mengelak dan memilih menikmati


ciuman Bilar. Setidaknya Bilar sudah mau kencan buta nanti. Keduanya keasyikan


berciuman sampai tidak menyadari Bianca masuk ke kamar itu bersama pelayan yang


membawakan sarapan untuk Keira.


Pelayan menahan senyumnya melihat adegan panas


didepannya, ia meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja dan langsung


keluar dari kamar setelah Bianca memberinya tanda untuk keluar. Bianca melotot


melihat tangan Bilar masuk ke balik piyama tidur Keira. Gadis itu menarik-narik


tangan Bilar agar tidak menyentuh tubuhnya.


“Bi... jangan nakal... ach... nanti... mamamu...


ach...,” lirih Keira yang tidak kuat menahan tangan Bilar.


Bianca masih menunggu salah satu diantara mereka


berdua sadar dengan kehadirannya di kamar itu. Tapi sepertinya akan sia-sia


saja. Bianca malah kepanasan sendiri melihat putranya mencumbu Keira.


“Apa aku salah masuk kesini tanpa ketuk pintu dulu.


Perasaan ini masih rumahku. Ini gimana caranya manggil ya,” gumam Bianca.


Keira yang mendengar suara orang lain di kamar itu,


spontan menoleh ke asal suara.


“Tante??!!” pekik Keira kaget. Ia berusaha


mendorong Bilar, tapi pria itu tidak mau melepaskannya.


“Mah, ngapain mama kesini pagi-pagi gini?


Janjiannya kan jam makan siang nanti,” protes Bilar yang masih ingin mencium


Keira.


“Bilar! Lepasin! Tanganmu...” Keira malu sekali


kepergok Bianca, sedang berciuman dengan Bilar. Padahal ia sendiri yang

__ADS_1


mengatakan tidak ingin berpacaran dengan pria itu.


Bilar akhirnya menyingkir dari atas tubuh Keira. Gadis


itu segera merapikan piyama tidurnya lalu duduk manis menghadap Bianca yang


sudah berkacak pinggang di depan mereka berdua.


“Bilar, keluar. Keira mau mandi tuch. Keluar sana,”


usir Bianca. Bilar tidak mau beranjak dari posisinya yang masih berbaring


sambil menyangga kepalanya dengan tangan.


“Bilar, keluar!” perintah Keira tegas sambil


melotot.


Bianca menepuk keningnya saat melihat Bilar


langsung bangkit, lalu keluar dari sana dengan cepat. Ia menatap Keira yang


tersenyum canggung.


“Keira, kamu mau pulang jam berapa? Biar sopir yang


antar kamu pulang. Sini, sarapan dulu.” Bianca bertanya setelah ia duduk di


sofa.


Keira bingung dengan sikap Bianca yang tidak marah


dengan apa yang dilihatnya barusan. Harusnya kan Keira dijambak, ditampar,


diseret keluar rumah. Otak Keira auto traveling memikirkan adegan di sinetron


antara ibu si pria dan cewek yang dicintai si pria. Atau yang lebih seru,


dilempar pake uang ratusan juta. Auto berenang di kolam cendol. Cendol, cendol,


dawet, dawet, cendol, cendol.


Takut-takut, Keira berjalan mendekati sofa lalu


duduk disana. Bianca membuka penutup makanan dan wangi sandwich hangat langsung


menyeruak di kamar itu. Keira mengambil sepotong sandwich, ia menawari Bianca


dulu sebelum memakannya.


“Kei, kamu yakin tidak mengenal gadis yang jadi


kencan butanya Bilar?” tanya Bianca.


Keira yang sedang mengunyah sandwich langsung


keselek. Uhuk! Uhuk! Uhuk! Gadis itu cepat-cepat menyambar jus jeruk di atas


meja lalu meminumnya.


“Kenal sih... uhuk... nggak, tante. Uhuk... cuma


tahu aja.” Keira berusaha meredam batuknya.


“Maksudmu, kamu pernah ketemu dia? Dimana?” tanya


Bianca kepo.


Keira bingung memilih bicara jujur atau berbohong


pada Bianca. Lagipula sangat sulit dipercaya kalau Bianca tidak menyelidiki


tentang latar belakang gadis yang akan ia kenalkan pada Bilar. Bianca tinggal


memberikan perintah pada X dan semua informasi yang ia inginkan akan segera


sampai di hadapannya.


“Itu... aku pernah lihat di club, tante.” Keira


menelan salivanya ketika melihat Bianca menatapnya tajam.


“Oh, dia suka clubbing juga kayak kamu?” tanya


Bianca.


”Bukan cuma clubbing, tante. Tapi main dokter-dokteran


sama cowok.” Sungguh tidak mungkin Keira mengatakan hal-hal seperti itu tanpa


bukti yang jelas. Tapi bukannya Bianca tidak setuju dengan gadis liar semacam


itu. Keira masih menimbang apa yang akan ia lakukan.


“Keira? Kenapa bengong? Jawab pertanyaan tante,”


pinta Bianca.


“Saya pernah lihat dia main sama cowok, tante.”


Keira akhirnya memilih berkata jujur.


“Oh, kamu punya bukti? Atau cuma asal ngomong


karena kamu cemburu, Bilar mau ketemu gadis itu.” Bianca berkata begitu dengan


nada sedikit sinis.


Keira tersenyum miris, ia sudah berusaha jujur tapi


memang tidak punya bukti. Gadis itu menarik nafas panjang agar tidak jadi

__ADS_1


menangis.


__ADS_2