Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 39


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 39


Ken mengambil piyama Kaori, lalu memakaikannya


kembali menutupi tubuh Kaori. Ia menelpon seseorang sambil melakukan itu. “Ya,


jemput aku sekarang,” ucap Ken pada sopirnya.


Kaori mencengkeram lengan Ken, menunggu jawaban


pria itu. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada Endy dan Kinanti. Tapi


Kaori tidak bisa menebaknya.


“Kaori, mama Kinanti koma dan papa Endy sepertinya


pingsan di rumah sakit. Aku harus kesana sekarang,” kata Ken.


“Koma? Ken, aku mau ikut kesana,” pinta Kaori.


Ken memegang kedua lengan Kaori, “Kamu yakin,


Kaori? Katamu nggak mau ketemu mereka lagi.”


“Setidaknya aku tidak akan menyesal kalau terjadi


sesuatu pada mereka, Ken. Meskipun mereka memperlakukan aku seperti ini,” sahut


Kaori.


Ken mengangguk, semua keputusannya ada ditangan Kaori.


Sebelum pergi, Ken meminta Kaori untuk mandi dulu. Dia juga akan mandi setelah


Kaori selesai. Sambil menunggu Kaori mandi, Ken memastikan sopir sudah datang.


Ia sempat melirik Kaori ketika gadis itu keluar dari dalam kamar mandi hanya


berbalut handuk. Cepat-cepat Ken masuk ke kamar mandi, lalu bergegas mandi.


Kaori sedang menyisir rambutnya ketika Ken keluar


dari kamar mandi. Gadis itu sudah selesai berpakaian dan mereka bisa segera


berangkat setelah Ken memakai pakaiannya lagi. Ken menuntun Kaori keluar dari


kamarnya. Kebetulan Mia yang bangun terlebih dahulu, melihat mereka berdua.


“Kalian mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Mia


kaget.


“Mau ke rumah sakit, oma. Mama Kinanti koma. Papa


Endy juga pingsan,” sahut Ken.


“Trus, Kaori mau kesana juga? Nggak apa-apa, Kaori?”


tanya Mia kuatir.


“Nggak apa-apa, oma. Aku mau ketemu sekarang,


takutnya malah menyesal kalau nggak kesana,” sahut Kaori.


Mia melepaskan Kaori pergi karena Ken juga berjanji


akan menjaga Kaori. Ternyata di dalam mobil juga sudah ada Melisa, sementara


Alan juga sudah menyusul ke rumah sakit. Ken memanggil bala bantuan untuk


menjaga Kaori dengan extra ketat.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Kaori terus


menggenggam tangan Ken, ia sangat gelisah. Ken yang mulai kuatir dengan kondisi


Kaori, ingin menghentikan mobil. Tapi Kaori menggeleng, ia ingin tetap bertemu


dengan Endy dan Kinanti. Ken memastikan sekali lagi pada Kaori dan gadis itu


mengangguk.


“Tapi kalau kamu nggak nyaman, kita pulang ya,”


kata Ken sambil merangkul pinggang Kaori.


“Iya, Ken,” sahut Kaori.


Mereka hampir sampai di rumah sakit ketika kakek


Martin menelpon, “Halo, kakek. Selamat pagi,” sapa Ken sopan.


“Ken, kamu harus menikah secepatnya dengan Kaori


atau kakek akan cepat mati,” ancam kakek Martin.


“Kakek ini bicara apa?” tanya Ken bingung dengan


tingkah kakek Martin kali ini.


“Ada apa, Ken?” bisik Kaori.


“Kakek minta kita menikah secepatnya atau kakek


akan cepat mati. Ancaman macam apa itu. Maaf, kek. Ada Kaori disini, kami mau


ke rumah sakit,” kata Ken.


Kakek Martin meminta agar Ken memberikan ponselnya


pada Kaori. Ken mendekatkan ponselnya ke telinga Kaori dan meminta gadis itu


bicara dengan kakek Martin.


“Kaori, cucuku, jawab saja pertanyaan kakek ya. Jangan


mengatakan apa-apa lagi dan jangan bilang pada Ken. Ini rahasia kita,” kata kakek


Martin.


Kaori hanya menjawab iya, iya, iya, dan iya terus


sampai Ken jadi kepo. Ketika pembicaraan berakhir, Kaori memberikan ponsel Ken

__ADS_1


lagi.


“Kakek bilang apa?” tanya Ken.


“Aku nggak boleh bilang sampai kita nikah, gimana


dong?” tanya Kaori balik.


Ken memanyunkan bibirnya lalu mengecup bibir Kaori.


“Ken! Kamu nggak malu!” pekik Kaori panik karena dicium tiba-tiba. Masalahnya


Kaori tahu kalau di dalam mobil itu ada Melisa dan sopir Ken.


“Aku cium lagi kalo kamu nggak bilang sekarang,”


ancam Ken.


“Ken, kamu berani ngancem aku? Ntar aku aduin sama


kakek Martin,” ancam Kaori balik.


“Kakek Martin nggak ada disini. Sana ngadu,” kata


Ken dengan senyum jahilnya.


“Kak Melisa, tolong telpon kakek Martin sekarang,”


pinta Kaori manis.


Ken kehilangan kata-katanya, kalau sudah menyangkut


kakek Martin sebaiknya dia bersabar dulu. Ia segera meminta agar Melisa tidak


menelpon kakek Martin. Kaori tersenyum lebar merasa senang karena Ken tidak


bisa berbuat apa-apa.


Mereka segera sampai di rumah sakit. Ken menuntun


Kaori turun dari mobil, lalu berjalan bersama menuju ruangan tempat Kinanti


dirawat. Ken bisa melihat tubuh kurus Kinanti terbaring diatas bed rumah sakit


dengan banyak selang di tubuhnya. Tampak layar monitor di sampingnya


menunjukkan banyak angka dan garis naik turun.


“Kaori, mama Kinanti ada di balik kaca ini. Kamu


mau masuk?” tanya Ken sambil mengarahkan tangan Kaori menyentuh dinding kaca di


depannya.


Kaori mengusap kaca di depannya, ia terlihat ragu-ragu


antara ingin masuk atau tidak. Ken melihat kegelisahan Kaori dan memintanya


tetap diluar bersama Melisa. Kaori menahan tangan Ken, ia juga ingin masuk ke


ruangan itu.


Ken menuntun Kaori masuk ke ruangan tempat Kinanti


dirawat. Mereka memakai baju steril dulu sebelum bisa mendekati bed Kinanti.


sambil menuntun jemari Kaori menemukan letak tangan Kinanti.


Kaori menyentuh tangan sedingin es yang terasa


keras. Hampir hanya tulang dan sedikit daging yang tersisa di tangan Kinanti.


Kaori menggenggam tangan Kinanti sedikit lebih erat. Buliran air mata yang


tidak ingin ia jatuhkan, mengalir begitu saja saat dirinya teringat tentang keberadaannya


yang tidak diinginkan.


“Mama, apa salahku kalau aku harus terlahir buta? Hik...


Kenapa aku tidak berharga, hik... seperti putramu yang sempurna? Aku juga


anakmu kan? Hik... Aku tidak minta dilahirkan dengan kekurangan, ma. Hiks...


Tapi kenapa aku harus mendapatkan kasih sayang dari orang lain? Hiks... Mereka,


hiks... menerima, hiks... aku....” Kaori tidak sanggup bicara lagi, ia


mencengkeram baju steril yang dipakai Ken lalu menangis terisak-isak dipelukan


pria itu.


Ken tidak bisa menahan air matanya juga ketika


mendengar tangisan Kaori. Mungkin inilah yang terjadi saat Kaori dibawa pergi


dari rumah sakit malam itu. Kekasihnya itu juga menangis seperti ini karena


sangat kecewa. Kaori memukul-mukul dada Ken sekuat yang ia bisa, tapi bagi Ken


hanya terasa seperti pukulan anak kecil.


“Menangislah, Kaori. Keluarkan semuanya, kemarahanmu,


kekecewaanmu, kesedihanmu.” Ken mengusap punggung Kaori yang terus berguncang


seiring isak tangisnya.


“Hiks... Kenapa, Ken? Hiks... Aku nggak bisa...


berhenti nangis. Hiks... rasanya sakit, Ken,” ucap Kaori lagi dengan isak


tangis yang lebih keras lagi.


Tiba-tiba suara monitor di samping bed Kinanti


semakin bertambah nyaring. Ada sesuatu yang salah pada wanita itu. Suster


segera datang untuk memeriksa apa yang terjadi dengan Kinanti. Ken dan Kaori terdorong


sampai ke sudut dinding saat dokter datang bersama suster lainnya.


“K... Ka... Ri...,” lirih Kinanti terbata-bata.

__ADS_1


Ken bisa melihat dengan jelas kalau Kinanti


tiba-tiba membuka matanya dan langsung menatap Kaori. Tangan wanita itu


menggapai-gapai kearah Kaori yang masih menangis, sebelum dokter menyuntikkan


obat penenang pada Kinanti. Dokter sampai geleng-geleng kepala melihat kondisi


Kinanti yang mulai membaik.


Dokter Debora segera datang memeriksa keadaan


Kinanti dan bicara dengan dokter yang mengawasi Kinanti tadi. Dokter itu


menunjuk Ken dan Kaori sambil terus bicara. Setelah memastikan keadaan Kinanti


sekali lagi, dokter Debora mendekati Ken dan Kaori.


“Kita bicara di ruangan saya ya. Mari ikut saya,”


kata dokter Debora.


Ken menuntun Kaori yang masih sesenggukan menuju


ruangan dokter Debora yang terletak di ujung lorong. Mereka diminta duduk di


kursi sebelum dokter Debora mulai bicara.


“Selamat pagi, tuan Ken dan kalau saya tidak salah,


nona Kaori. Saya tidak akan banyak basa-basi karena kondisi nyonya Kinanti


sudah lebih baik saat ini. Masih ada satu hal lagi yang harus saya pastikan


sebelum nona Kaori pergi. Bisakah nona menunggu sampai nyonya Kinanti sadar dan


bicara lagi dengannya?” tanya dokter Debora.


Kaori menggenggam tangan Ken dan akhirnya


mengangguk. Sekali ini saja dan hubungan mereka akan semakin jelas. Ken


memastikan sekali lagi sebelum meminta dokter Debora menyediakan ruangan untuk


mereka berdua menunggu. Tapi sebelum itu, Ken menanyakan dimana Endy dirawat.


Dokter Debora menunjukkan bed di samping Kinanti


yang tersekat korden tipis berwarna putih. Endy berbaring disana dengan tangan


diinfus. Pria itu sudah sadarkan diri tapi kesulitan bergerak karena menderita


vertigo. Sudah beberapa hari ini, ia tidak tidur dengan benar dan hanya makan


sekedarnya. Endy sangat kuatir dengan kondisi Kinanti dan mengabaikan


kesehatannya.


“Pah, papa nggak apa-apa kan?” tanya Ken setelah


Endy menatapnya dengan mata setengah terpejam.


“Ya, sudah baikan. Tapi masih sedikit pusing. Obat


dokternya nggak manjur. Payah,” gerutu Endy seperti biasanya.


“Mama sudah sadar, pah. Papa sudah tahu?” tanya Ken


lagi.


Tiba-tiba Endy menangis sesenggukan, ia berusaha


tidak bersuara, tapi telinga Kaori yang tajam bisa tahu kalau Endy sedang


menangis. Kaori berbisik pada Ken, “Ken, papamu menangis. Apa kita pergi saja?”


tanya Kaori.


“Pah, aku keluar dulu ya,” kata Ken cepat.


Endy tidak ingin mereka berdua pergi secepat itu. Ia


mengulurkan tangannya pada Kaori tapi Ken menarik gadis itu menjauh dari Endy.


“Pah, Kaori tidak merasa nyaman saat ini. Yang


penting mama sudah sadar. Aku harus membawa Kaori istirahat, pah,” kata Ken


hampir berbalik.


“Kaori, putriku... Maafkan papa, nak,” lirih Endy


meminta maaf.


Ken menoleh cepat, ia membelalakkan matanya melihat


Endy hampir jatuh dari tempat tidur. Pria itu memaksa bangun tapi merasa pusing


lagi. Ken mendekati Endy dengan cepat lalu membaringkan tubuh pria itu kembali ke


atas bed. Endy tidak berani membuka matanya lagi, ia melihat Ken berputar-putar


saat mencoba menatap putra Alex itu.


Kaori yang mendengar permintaan maaf Endy, menarik


nafasnya pelan sebelum berjalan mendekati bed Endy. Ken mendekatkan tangan


Kaori yang terulur ke tangan Endy. Merasa tangannya di sentuh, Endy membalik


telapak tangannya. Ia menggenggam perlahan tangan Kaori dan tersenyum lega.


“Nak, hanya sekali saja, papa minta kamu panggil


papa,” pinta Endy.


“Pah, jangan paksa Kaori. Aku sudah berjanji pada


keluarganya kalau dia tidak akan terluka bersamaku,” kata Ken tegas.


Visual Kaori


__ADS_1


Visual Ken



__ADS_2