
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 39
Ken mengambil piyama Kaori, lalu memakaikannya
kembali menutupi tubuh Kaori. Ia menelpon seseorang sambil melakukan itu. “Ya,
jemput aku sekarang,” ucap Ken pada sopirnya.
Kaori mencengkeram lengan Ken, menunggu jawaban
pria itu. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada Endy dan Kinanti. Tapi
Kaori tidak bisa menebaknya.
“Kaori, mama Kinanti koma dan papa Endy sepertinya
pingsan di rumah sakit. Aku harus kesana sekarang,” kata Ken.
“Koma? Ken, aku mau ikut kesana,” pinta Kaori.
Ken memegang kedua lengan Kaori, “Kamu yakin,
Kaori? Katamu nggak mau ketemu mereka lagi.”
“Setidaknya aku tidak akan menyesal kalau terjadi
sesuatu pada mereka, Ken. Meskipun mereka memperlakukan aku seperti ini,” sahut
Kaori.
Ken mengangguk, semua keputusannya ada ditangan Kaori.
Sebelum pergi, Ken meminta Kaori untuk mandi dulu. Dia juga akan mandi setelah
Kaori selesai. Sambil menunggu Kaori mandi, Ken memastikan sopir sudah datang.
Ia sempat melirik Kaori ketika gadis itu keluar dari dalam kamar mandi hanya
berbalut handuk. Cepat-cepat Ken masuk ke kamar mandi, lalu bergegas mandi.
Kaori sedang menyisir rambutnya ketika Ken keluar
dari kamar mandi. Gadis itu sudah selesai berpakaian dan mereka bisa segera
berangkat setelah Ken memakai pakaiannya lagi. Ken menuntun Kaori keluar dari
kamarnya. Kebetulan Mia yang bangun terlebih dahulu, melihat mereka berdua.
“Kalian mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Mia
kaget.
“Mau ke rumah sakit, oma. Mama Kinanti koma. Papa
Endy juga pingsan,” sahut Ken.
“Trus, Kaori mau kesana juga? Nggak apa-apa, Kaori?”
tanya Mia kuatir.
“Nggak apa-apa, oma. Aku mau ketemu sekarang,
takutnya malah menyesal kalau nggak kesana,” sahut Kaori.
Mia melepaskan Kaori pergi karena Ken juga berjanji
akan menjaga Kaori. Ternyata di dalam mobil juga sudah ada Melisa, sementara
Alan juga sudah menyusul ke rumah sakit. Ken memanggil bala bantuan untuk
menjaga Kaori dengan extra ketat.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Kaori terus
menggenggam tangan Ken, ia sangat gelisah. Ken yang mulai kuatir dengan kondisi
Kaori, ingin menghentikan mobil. Tapi Kaori menggeleng, ia ingin tetap bertemu
dengan Endy dan Kinanti. Ken memastikan sekali lagi pada Kaori dan gadis itu
mengangguk.
“Tapi kalau kamu nggak nyaman, kita pulang ya,”
kata Ken sambil merangkul pinggang Kaori.
“Iya, Ken,” sahut Kaori.
Mereka hampir sampai di rumah sakit ketika kakek
Martin menelpon, “Halo, kakek. Selamat pagi,” sapa Ken sopan.
“Ken, kamu harus menikah secepatnya dengan Kaori
atau kakek akan cepat mati,” ancam kakek Martin.
“Kakek ini bicara apa?” tanya Ken bingung dengan
tingkah kakek Martin kali ini.
“Ada apa, Ken?” bisik Kaori.
“Kakek minta kita menikah secepatnya atau kakek
akan cepat mati. Ancaman macam apa itu. Maaf, kek. Ada Kaori disini, kami mau
ke rumah sakit,” kata Ken.
Kakek Martin meminta agar Ken memberikan ponselnya
pada Kaori. Ken mendekatkan ponselnya ke telinga Kaori dan meminta gadis itu
bicara dengan kakek Martin.
“Kaori, cucuku, jawab saja pertanyaan kakek ya. Jangan
mengatakan apa-apa lagi dan jangan bilang pada Ken. Ini rahasia kita,” kata kakek
Martin.
Kaori hanya menjawab iya, iya, iya, dan iya terus
sampai Ken jadi kepo. Ketika pembicaraan berakhir, Kaori memberikan ponsel Ken
__ADS_1
lagi.
“Kakek bilang apa?” tanya Ken.
“Aku nggak boleh bilang sampai kita nikah, gimana
dong?” tanya Kaori balik.
Ken memanyunkan bibirnya lalu mengecup bibir Kaori.
“Ken! Kamu nggak malu!” pekik Kaori panik karena dicium tiba-tiba. Masalahnya
Kaori tahu kalau di dalam mobil itu ada Melisa dan sopir Ken.
“Aku cium lagi kalo kamu nggak bilang sekarang,”
ancam Ken.
“Ken, kamu berani ngancem aku? Ntar aku aduin sama
kakek Martin,” ancam Kaori balik.
“Kakek Martin nggak ada disini. Sana ngadu,” kata
Ken dengan senyum jahilnya.
“Kak Melisa, tolong telpon kakek Martin sekarang,”
pinta Kaori manis.
Ken kehilangan kata-katanya, kalau sudah menyangkut
kakek Martin sebaiknya dia bersabar dulu. Ia segera meminta agar Melisa tidak
menelpon kakek Martin. Kaori tersenyum lebar merasa senang karena Ken tidak
bisa berbuat apa-apa.
Mereka segera sampai di rumah sakit. Ken menuntun
Kaori turun dari mobil, lalu berjalan bersama menuju ruangan tempat Kinanti
dirawat. Ken bisa melihat tubuh kurus Kinanti terbaring diatas bed rumah sakit
dengan banyak selang di tubuhnya. Tampak layar monitor di sampingnya
menunjukkan banyak angka dan garis naik turun.
“Kaori, mama Kinanti ada di balik kaca ini. Kamu
mau masuk?” tanya Ken sambil mengarahkan tangan Kaori menyentuh dinding kaca di
depannya.
Kaori mengusap kaca di depannya, ia terlihat ragu-ragu
antara ingin masuk atau tidak. Ken melihat kegelisahan Kaori dan memintanya
tetap diluar bersama Melisa. Kaori menahan tangan Ken, ia juga ingin masuk ke
ruangan itu.
Ken menuntun Kaori masuk ke ruangan tempat Kinanti
dirawat. Mereka memakai baju steril dulu sebelum bisa mendekati bed Kinanti.
sambil menuntun jemari Kaori menemukan letak tangan Kinanti.
Kaori menyentuh tangan sedingin es yang terasa
keras. Hampir hanya tulang dan sedikit daging yang tersisa di tangan Kinanti.
Kaori menggenggam tangan Kinanti sedikit lebih erat. Buliran air mata yang
tidak ingin ia jatuhkan, mengalir begitu saja saat dirinya teringat tentang keberadaannya
yang tidak diinginkan.
“Mama, apa salahku kalau aku harus terlahir buta? Hik...
Kenapa aku tidak berharga, hik... seperti putramu yang sempurna? Aku juga
anakmu kan? Hik... Aku tidak minta dilahirkan dengan kekurangan, ma. Hiks...
Tapi kenapa aku harus mendapatkan kasih sayang dari orang lain? Hiks... Mereka,
hiks... menerima, hiks... aku....” Kaori tidak sanggup bicara lagi, ia
mencengkeram baju steril yang dipakai Ken lalu menangis terisak-isak dipelukan
pria itu.
Ken tidak bisa menahan air matanya juga ketika
mendengar tangisan Kaori. Mungkin inilah yang terjadi saat Kaori dibawa pergi
dari rumah sakit malam itu. Kekasihnya itu juga menangis seperti ini karena
sangat kecewa. Kaori memukul-mukul dada Ken sekuat yang ia bisa, tapi bagi Ken
hanya terasa seperti pukulan anak kecil.
“Menangislah, Kaori. Keluarkan semuanya, kemarahanmu,
kekecewaanmu, kesedihanmu.” Ken mengusap punggung Kaori yang terus berguncang
seiring isak tangisnya.
“Hiks... Kenapa, Ken? Hiks... Aku nggak bisa...
berhenti nangis. Hiks... rasanya sakit, Ken,” ucap Kaori lagi dengan isak
tangis yang lebih keras lagi.
Tiba-tiba suara monitor di samping bed Kinanti
semakin bertambah nyaring. Ada sesuatu yang salah pada wanita itu. Suster
segera datang untuk memeriksa apa yang terjadi dengan Kinanti. Ken dan Kaori terdorong
sampai ke sudut dinding saat dokter datang bersama suster lainnya.
“K... Ka... Ri...,” lirih Kinanti terbata-bata.
__ADS_1
Ken bisa melihat dengan jelas kalau Kinanti
tiba-tiba membuka matanya dan langsung menatap Kaori. Tangan wanita itu
menggapai-gapai kearah Kaori yang masih menangis, sebelum dokter menyuntikkan
obat penenang pada Kinanti. Dokter sampai geleng-geleng kepala melihat kondisi
Kinanti yang mulai membaik.
Dokter Debora segera datang memeriksa keadaan
Kinanti dan bicara dengan dokter yang mengawasi Kinanti tadi. Dokter itu
menunjuk Ken dan Kaori sambil terus bicara. Setelah memastikan keadaan Kinanti
sekali lagi, dokter Debora mendekati Ken dan Kaori.
“Kita bicara di ruangan saya ya. Mari ikut saya,”
kata dokter Debora.
Ken menuntun Kaori yang masih sesenggukan menuju
ruangan dokter Debora yang terletak di ujung lorong. Mereka diminta duduk di
kursi sebelum dokter Debora mulai bicara.
“Selamat pagi, tuan Ken dan kalau saya tidak salah,
nona Kaori. Saya tidak akan banyak basa-basi karena kondisi nyonya Kinanti
sudah lebih baik saat ini. Masih ada satu hal lagi yang harus saya pastikan
sebelum nona Kaori pergi. Bisakah nona menunggu sampai nyonya Kinanti sadar dan
bicara lagi dengannya?” tanya dokter Debora.
Kaori menggenggam tangan Ken dan akhirnya
mengangguk. Sekali ini saja dan hubungan mereka akan semakin jelas. Ken
memastikan sekali lagi sebelum meminta dokter Debora menyediakan ruangan untuk
mereka berdua menunggu. Tapi sebelum itu, Ken menanyakan dimana Endy dirawat.
Dokter Debora menunjukkan bed di samping Kinanti
yang tersekat korden tipis berwarna putih. Endy berbaring disana dengan tangan
diinfus. Pria itu sudah sadarkan diri tapi kesulitan bergerak karena menderita
vertigo. Sudah beberapa hari ini, ia tidak tidur dengan benar dan hanya makan
sekedarnya. Endy sangat kuatir dengan kondisi Kinanti dan mengabaikan
kesehatannya.
“Pah, papa nggak apa-apa kan?” tanya Ken setelah
Endy menatapnya dengan mata setengah terpejam.
“Ya, sudah baikan. Tapi masih sedikit pusing. Obat
dokternya nggak manjur. Payah,” gerutu Endy seperti biasanya.
“Mama sudah sadar, pah. Papa sudah tahu?” tanya Ken
lagi.
Tiba-tiba Endy menangis sesenggukan, ia berusaha
tidak bersuara, tapi telinga Kaori yang tajam bisa tahu kalau Endy sedang
menangis. Kaori berbisik pada Ken, “Ken, papamu menangis. Apa kita pergi saja?”
tanya Kaori.
“Pah, aku keluar dulu ya,” kata Ken cepat.
Endy tidak ingin mereka berdua pergi secepat itu. Ia
mengulurkan tangannya pada Kaori tapi Ken menarik gadis itu menjauh dari Endy.
“Pah, Kaori tidak merasa nyaman saat ini. Yang
penting mama sudah sadar. Aku harus membawa Kaori istirahat, pah,” kata Ken
hampir berbalik.
“Kaori, putriku... Maafkan papa, nak,” lirih Endy
meminta maaf.
Ken menoleh cepat, ia membelalakkan matanya melihat
Endy hampir jatuh dari tempat tidur. Pria itu memaksa bangun tapi merasa pusing
lagi. Ken mendekati Endy dengan cepat lalu membaringkan tubuh pria itu kembali ke
atas bed. Endy tidak berani membuka matanya lagi, ia melihat Ken berputar-putar
saat mencoba menatap putra Alex itu.
Kaori yang mendengar permintaan maaf Endy, menarik
nafasnya pelan sebelum berjalan mendekati bed Endy. Ken mendekatkan tangan
Kaori yang terulur ke tangan Endy. Merasa tangannya di sentuh, Endy membalik
telapak tangannya. Ia menggenggam perlahan tangan Kaori dan tersenyum lega.
“Nak, hanya sekali saja, papa minta kamu panggil
papa,” pinta Endy.
“Pah, jangan paksa Kaori. Aku sudah berjanji pada
keluarganya kalau dia tidak akan terluka bersamaku,” kata Ken tegas.
Visual Kaori
__ADS_1
Visual Ken