Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 22


__ADS_3

Suara tawa di kamar Renata menarik perhatian Kaori yang sedang mengantar Andika berkeliling. Tanpa mengetuk pintu, Kaori membuka pintu perlahan-lahan seperti pengintai. Mereka berdua mengintip Renata dan Reynold yang sedang bercanda diatas tempat tidur.


“Kak, geli banget. Udah! Aduh, geli!” Renata merajuk merasa lelah digelitiki Reynold tanpa jeda.


Tubuh Renata menerjang Reynold sampai pria itu terlentang diatas tempat tidur. Lalu Renata duduk di atas perut Reynold. Nafas keduanya masih ngos-ngosan karena bercanda barusan. Kaori refleks menutup mata Andika ketika melihat pemandangan yang cukup intim di kamar itu. Tangannya terlepas dari handle pintu, membuka pintu itu hingga terbuka lebar.


Kaori mengira dirinya ketahuan mengintip Renata, tapi kedua insan itu bahkan tidak menoleh padanya. Keduanya asyik bertatapan, mulai mendekat, terus mendekat, sampai mereka hampir berciuman lagi. Andika melongokkan kepalanya, ingin tahu apa yang terjadi di depannya. Kaori yang panik, tidak sengaja menepuk pintu hingga terdorong membentur dinding.


BRAK!


Renata dan Reynold kompak menoleh. Kaori tersenyum manis, “Maaf mengganggu. Silakan dilanjutkan.” Sebelum menutup pintu kembali lalu menarik Andika pergi dari sana. Renata menunduk melihat dimana ia duduk lalu berteriak kencang mengagetkan Reynold. “AAAAARRGGHHHH!!!”


“Kenapa teriak sich?!” Reynold menutup kedua telinganya dengan tangan.


“Kaori lihat kita gini! Haduh, dia mikir apa ya? Nanti kalau Kaori ngomong sama Ken, gimana?” Renata merasa gusar karena dipergoki.


Gadis itu bahkan tidak beranjak dari duduknya. Reynold membiarkan saja posisi mereka yang masih intim. Sebenarnya ia menikmati gerakan Renata di atas tubuhnya dan belum mau gadis pujaannya itu beranjak. Renata sibuk mengira-ngira apa yang akan dilakukan Kaori setelah memergoki mereka. Reynold mencoba menenangkan Renata yang bergerak semakin aktif. Masalahnya bagian tubuhnya yang ditimpa Renata mulai terbangun dari tidurnya.


“Tu—tunggu dulu. Aunty, geser sebentar.” Reynold hampir meledak dibawah sana. Ia menahan geramannya agar tidak terdengar Renata, tapi tetap saja lolos. “Augh, acch!”


“Kak Rey ngapain?” tanya Renata yang belum mengerti akibat ulahnya.


Reynold tidak bisa menjawab Renata, pikirannya sudah fokus ingin menuntaskan hasratnya yang terlanjur membara. Gerakan Renata di atas tubuh Reynold semakin membuat kelelakian pria itu membesar. Saat Renata menyadari bagian tubuh Reynold ada yang terasa keras di bawah sana, gadis itu buru-buru bergeser menjauh. Matanya melotot kaget ketika melihat celana Reynold menggelembung.


“Kak, itu apaan?!” jeritnya malu.


“Aunty sich nakal. Tanggung banget nih. Bantuin ya,” pinta Reynold semakin berani.


Tangan Reynold meraih tangan mungil Renata lalu sengaja menempelkannya ke atas celana Reynold yang menggelembung. Renata tercekat, hampir menarik tangannya, tetapi Reynold tidak membiarkannya. Renata berada diantara kebingungan sekaligus penasaran.


“Bantu aku, Renata. Pakai tanganmu juga sudah cukup,” bisik Reynold.


“Aku harus apa, kak? Nggak ngerti,” sahut Renata polos.


Reynold buru-buru bangkit dari tempat tidur, lalu mengunci pintu kamar Renata. Ketika Reynold berbalik, Renata menelan salivanya dengan susah payah. Entah kenapa dia tiba-tiba menyesal sudah bertanya barusan. Reynold menarik kaosnya hingga terlepas, lalu melemparkannya ke atas kursi. Diraihnya pengait sabuk di pinggangnya lalu dilepaskan begitu saja. Reynold menanggalkan celananya.


Hanya tersisa boxer yang menutupi kejantanannya yang sudah mengeras sempurna. Sedikit saja sentuhan Renata, mampu meledakkan ke peluru keluar dari kejantanannya itu. Sudah waktunya Renata belajar cara memuaskan Reynold. Cepat atau lambat, Renata harus tahu juga. Usianya pun sudah lebih dari cukup untuk tahu tentang bentuk kejantanan yang sesungguhnya.

__ADS_1


“Pintunya kenapa dikunci, kak? Kakak mau ngapain buka baju? Mau mandi?” tanya Renata yang kelewat polos.


“Aku mau kasih lihat ‘itu’.” Reynold mengerdikkan kepalanya ke arah celana boxernya.


“Itu apa, kak?” tanya Renata polos.


Reynold kembali meraih tangan Renata lalu menempelkannya ke atas boxer Reynold. Pria itu melengus merasakan tekanan pada kejantanannya. ******* seksi menggoda keluar begitu saja dari mulut Reynold. Kepalanya terangkat keatas saat Renata yang patuh, mulai menuruti petunjuknya. Biarlah kejantanannya tetap ada di balik boxernya. Reynold tidak ingin Renata terkejut melihat ular piton keluar dari balik boxer Reynold.


“Kak, emang apaan sih ini? Kok keras tapi lembek, tapi keras lagi sih?” tanya Renata kepo.


“Aku nggak mau kamu ngeliatnya sekarang, Renata. Di pegang aja dulu ya. Nanti kamu ngeri sendiri, trus marah sama aku,” pinta Reynold.


“Oh, gitu ya. Tapi kok kayaknya bengkok gitu ya. Ketahan sama boxer kakak. Nggak mau dilepas aja?” Renata bahkan tidak tahu sedang memancing serigala untuk menerkamnya.


Reynold mengusap wajahnya kasar. Hasratnya sudah hampir ******* tapi Renata terus saja bicara padanya. Tangan gadis itu masih mengusap-usap kejantanan Reynold dibalik boxernya. Rasa penasaran jelas terlihat di wajahnya yang cantik.


“Kalau aku merem, nggak apa-apa kan dilepas aja, kak. Janji nggak ngintip,” ucap Renata lalu memejamkan matanya.


“Kamu serius mau pegang? Nggak takut? Aku nggak maksa,” ucap Reynold memastikan kata-kata Renata sekali lagi.


Gadis itu hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi. Kedua matanya masih tertutup sempurna ketika Reynold menurunkan boxernya perlahan-lahan. Tangan Renata yang sempat tergantung di udara perlahan mulai menyentuh kejantanan Reynold. Kening Renata mengerut merasakan benda pusaka yang kini berada di dalam genggaman tangannya.


Renata mendengar nafas Reynold mulai terengah-engah. Reynold menuntun Renata menggerakkan tangannya naik turun mengurut kejantanannya. Sedikit sulit karena tangan Renata yang masih kaku. Reynold meraih lotion milik Renata yang terletak di atas nakas lalu menuangkannya ke kejantanannya. Tangan Renata semakin licin dan akhirnya bebas bergerak tanpa hambatan.


Reynold semakin menggila merasakan kenikmatan kocokan lembut tangan Renata. Bibir sekksinya terus-menerus mendesahkan nama Renata ketika klimaks hampir diraihnya. Reynold membantu tangan Renata menemukan ritme yang disukainya sebelum kejantanannya menyemburkan lahar panas yang mengenai wajah dan tangan Renata. Reynold berteriak keras usai ******* berhasil diraihnya.


“Kak! Apa ini?!” jerit Renata ketika cairan putih kental itu mengenai pipinya.


Renata menarik tangannya dari kejantanan Reynold lalu mengusap cairan kental lengket dari wajahnya. Tangannya yang belepotan calon benih anak Reynold itu tidak sengaja menyentuh bagian wajah Renata yang lain. Reynold melongo melihat Renata mengoleskan wajahnya dengan cairan miliknya itu. Gerakan Renata yang tidak sengaja membuat Reynold khilaf lalu menunduk menciumm bibir Renata.


“Huaa … kak …,” gumam Renata yang kaget tiba-tiba diciumm.


“Sayang, makasih ya. Tadi itu luar biasa rasanya,” bisik Reynold sebelum menciumm bibir Renata lagi.


Renata bahkan belum bisa membayangkan apa yang barusan di pegangnya. Dia pun hanya diam ketika Reynold melepaskan ciummannya. Reynold lalu menuntun Renata masuk ke kamar mandi. Dengan hati-hati dan penuh perhatian, Reynold membersihkan wajah Renata dari sisa-sisa benihnya. Senyum sumringah Reynold tertangkap


mata Renata ketika gadis itu membuka matanya. Kedua tangan dan wajahnya sudah kembali bersih.

__ADS_1


“Kakak udah pake boxer atau belum?” tanya Renata tidak berani melihat ke bawah.


“Belum. Aku mau mandi dulu. Udah bersih kan? Coba lihat rambutnya.” Saat Reynold memeriksa rambut Renata, tangan gadis itu tidak sengaja menyenggol kejantanan Reynold lagi. Tentu saja benda itu langsung mengeras sekali lagi.


Keduanya saling pandang lalu sama-sama melihat ke bawah. Renata melotot kaget melihat ular piton raksasa di samping tangannya. Ular piton itu mengangguk-angguk ketika Reynold menggeser tubuhnya ke belakang.


“Hiii …!!!” pekik Renata kaget. Dia segera membalik tubuhnya sambil memejamkan mata.


Jantungnya berdebar kencang pertama kali melihat kejantanan seorang pria dewasa. Renata menutup mulutnya sendiri. Dia tadi memegang benda itu dengan mudahnya. Sekarang setelah melihat bentuknya dengan jelas, Renata merasa malu sendiri. Tubuhnya terus bergerak dengan kepala menggeleng-geleng geli.


“Kak! Cepetan pake celanamu!”


“Aku mau mandi. Renata, sekali lagi bantu aku ya,” pinta Reynold lalu menarik tangan Renata menyentuh kejantanannya sekali lagi.


“Kak! Aku malu!” pekik Renata enggan.


Reynold merangsek memeluk tubuh Renata dari belakang lalu menekan gadis itu hingga mau menuruti keinginannya. Renata yang terpojok pun tidak mampu melawan selain menuruti semua keinginan Reynold. Pria itu menahan dirinya untuk tidak meng-unboxing Renata sekarang. Dia ingin melakukannya di saat mereka sudah resmi berstatus suami istri.


“Renata, aku mencintaimu,” bisik Reynold di telinga Renata.


“Kakak bilang apa?” Renata hampir tidak bisa mendengar bisikan Reynold.


“Aku mencintaimu, Renata. Sangat mencintaimu. Sampai rasanya ingin menikahimu saat ini juga, Renata Putra Pratama.” Kata-kata Reynold berhasil membuat Renata tersadar kembali kepada kenyataan tentang hubungan mereka yang hanya keponakan dan tante.


“Kak … kita hanya keponakan dan tante. Ini nggak boleh …,” bisik Renata hampir menangis.


“Hubungan kita sudah jauh, Renata. Mamaku sudah menikah keluar. Tidak apa-apa, sayang. Kita bisa bersatu. Aku akan pikirkan caranya. Tenanglah,” pinta Reynold ketika merasakan tubuh Renata gemetar. Reynold pun menunduk lalu mengecup bibir Renata sekali lagi.


----


Maafkan aku yang menghilang hampir empat bulan lebih ya. Bukan sengaja, tapi memang lagi sibuk mengembara mencari pencerahan akan kemana ending cerita ini. Mau banget kutamatin tapi kalau tamat gitu aja, nggak seru ya kan. Masa Renata dan Reynold happy ending gitu aja tanpa perjuangan sih? Kasihan kan Ken yang sudah menderita lama demi untuk Kaori. Banyak pengorbanan yang dilakukan Ken demi untuk kebahagiaan keluarganya yang sebenarnya.


So, kita buat slow tapi cepet aja ya.


Makasih banyak kakak-kakak tercinta yang sudah menanti up DUREN MANIS meskipun hiatus lama. Aku terharu sampai mewek guling-guling baca komen dari kakak semua yang mencariku. Sungguh aku nggak bermaksud menghilang. Hanya saja, perlu waktu untuk memikirkan ide cerita yang mengesankan untuk Renata dan Reynold.


Nantikan terus up DUREN MANIS ya.

__ADS_1


LOVE SEKEBON.


__ADS_2