Duren Manis

Duren Manis
Serakah


__ADS_3

Elo baru sampai di


rumah Riri saat ponselnya berdering. Ia melihat tante Dewi calling, Elo memilih


mengabaikannya karena baginya tante Dewi tidak penting. Seharusnya Elo


memblokir saja nomor tantenya itu.


Elo mengetuk pintu


depan dan wajah manis Riri muncul dari balik pintu.


Elo : “Ri...


hai...”


Riri : “Masuk,


mas.”


Riri mengajak Elo


duduk di ruang keluarga, ia sedang membaca buku disana sambil menunggu Elo


datang tadi. Elo mengambil buku Riri, ia membolak-balik buku itu. Riri datang


lagi membawa segelas minuman dan cemilan untuk Elo.


Ponsel Elo kembali


berdering, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat tante Dewi calling.


Elo mengabaikan telpon itu membuat Riri jadi kepo dan meletakkan ponselnya di


sebelahnya.


Riri : “Siapa yang


nelpon, mas?”


Elo : “Tante Dewi.”


Riri : “Kenapa gak


diangkat? Siapa tau penting.”


Elo : “Males ach.”


Riri : “Angkat aja,


mas.”


Elo mengambil


ponselnya dan menekan tombol hijau dan laudspeaker. Terdengar keributan dari


seberang sana. Elo saling pandang dengan Riri, tidak terdengar suara tante


Dewi. Tiba-tiba terdengar suara Elena,


Elena : “Om, aku


gak bohong! Om!!”


Hening lagi. Telpon


masih tersambung. Brak! Seperti suara pintu menutup terdengar lagi. Baru


terdengar suara tante Dewi.


Tante Dewi :


“Elena...”


Jeritan panjang


terdengar dari kejauhan dan sambungan terputus. Elo melirik ponselnya,


Riri : “Itu Elena


kenapa?”


Elo : “Gak tau.”


Elo tetap cuek, tidak sedikitpun tersirat kekhawatiran dari wajahnya.


Riri : “Mas,


gimanapun juga Elena sepupu mas.”


Elo : “Kamu mau


nyuruh aku apa lagi?”


Elo memasang wajah


gak suka, cemberut dengan bibir ditekuk. Riri menahan senyum melihat Elo


merajuk.


Riri : “Minimal


kasi tau Pak Kim gitu. Biar ngecek keadaan Elena.”


Elo : “Sebut lagi


namanya, aku cium nich.”


Riri : “Mas gak akan


berani. Ini di rumahku, mas.”


Elo : “Coba aja.”


Riri diam, ia masih


penasaran dengan keadaan Elena dan tante Dewi. Elo kembali fokus pada buku yang


ada di tangannya.

__ADS_1


Riri : “Mas...


cepetan dong kasi tahu Pak Kim. Suruh siapa gitu ngecek Elena.”


Cup. Riri


membelalakkan matanya saat Elo menciumnya tiba-tiba. Ia mencoba mendorong Elo


tapi tubuhnya sudah dipeluk dengan erat. Riri menggelengkan kepala sampai


tengkuknya ditahan lengan kekar Elo. Lama kelamaan, Riri mulai pasrah dan


menerima ciuman dari Elo. Saat Elo menghentikan ciumannya, ia berbisik di


telinga Riri,


Elo : “Aku gak suka


kamu selalu nyebut nama dia. Dia punya urusan sendiri dan kita gak usah ikut


campur. Ngerti, Ri?”


Riri hanya


mengangguk, ia masih shock dicium barusan. Dan entah kenapa ia jadi pengen Elo


menciumnya seperti tadi.


Elo : “Kamu masih


mau kupeluk?”


Riri tersadar dari


khayalan mesumnya, matanya yang tadi berkabut, perlahan terang kembali. Riri


menjauh dari Elo, memegangi dadanya yang deg-degan. Mata Riri melihat


sekeliling ruang keluarga, untung saja gak ada yang lihat.


Riri gak tau saja


kalau Mia sudah melihat ciuman mereka barusan. Mia refleks sembunyi, begitu


juga nenek dan mb Minah yang sempat shock melihat Elo mencium Riri. Keduanya


langsung ngibrit masuk ke kamar nenek. Untung saja Alex, Rara, dan Arnold belum


pulang dari kantor.


Elo : “Ri... kamu


serius sama kata-katamu di telpon tadi?”


Riri : “... Iya,


mas.”


Hanya itu yang


diucapkan Riri, tapi bisa membuat wajah Elo tersenyum sumringah. Riri jadi


Elo : “Boleh aku


cium lagi?”


Riri mendongak


menatap Elo yang sudah menatapnya sendu. Jemari Elo menyentuh cincin berlian


yang melingkar di jari manis Riri. Ia menarik tangan Riri dan mencium punggung


tangannya, Riri tidak menolak saat Elo mendekat lagi.


Ia tersenyum tipis


pada calon suaminya itu, bibir mereka hampir bersentuhan saat seseorang


berdehem di belakang mereka.


Alex : “Ehem!”


Riri : “Pa...


papa!”


Riri refleks


mendorong Elo hingga terjengkang, ia menunduk malu sampai mengambil bantal


untuk menutupi wajahnya. Elo nyengir lebar pada Alex sambil mengelus kepalanya


yang tadi terantuk karpet.


Alex : “Elo, sudah


lama.”


Elo : “Baru, om...


eh, papa.”


Alex : “Dimana


Mia?”


Mia muncul dari


suatu tempat di ruangan sebelah dan langsung menyeret Alex masuk ke kamarnya.


Mia : “Mas nich,


ganggu aja anaknya lagi baikan.”


Alex : “Emangnya


berantem?”


Mia : “Salah paham

__ADS_1


dikit. Bisa gak sich lain kali masuk aja gitu, pura-pura gak liat.”


Alex : “Mereka kan


belum nikah. Riri masih putri kita.”


Mia : “Emangnya


habis nikah, Riri bukan putri kita lagi?”


Alex : “Maksudku,


udah nikah ya jadi istri Elo. Tapi sekarang kan...”


Mia : “Udah, mandi


sana. Mas bau asem. Ganggu aja orang lagi ngintip juga.”


Alex : “Perasaan


gak nguli, kenapa bau asem sich. Kamu ngintip siapa?”


Mia : “Riri sama


Elo. Yang tadi baru seru.”


Alex : “Apanya?


Mereka udah ciuman tadi?”


Mia : “Udah.”


Alex : “Tunjukin


dong gimana ciumannya.”


Mia tanpa berpikir


langsung memperagakan apa yang ia lihat tadi di ruang keluarga. Saat Mia sadar


kalau dirinya kena jebakan Alex, semuanya sudah terlambat.


*****


Elena merintih


diatas tempat tidurnya saat tante Dewi masuk ke dalam kamarnya. Om Brian baru


saja pergi tanpa menoleh pada tante Dewi yang hanya bisa terpaku mendengar


jeritan Elena selama hampir satu jam.


Tante Dewi :


“Elena...”


Tante Dewi menarik


selimut yang menutupi tubuh Elena, ia melihat bekas perbuatan om Brian di tubuh


Elena. Putrinya itu terlihat mengenaskan, bahkan Heru tidak sekejam itu.


Elena : “Mah...


siapin koper...”


Tante Dewi : “Kamu


mau kemana? Kamu belum bisa pergi sebelum gadis...”


Elena : “Aku harus


pergi sekarang atau om Brian akan marah lagi.” Elena memotong ucapan mamanya


yang masih ngeyel.


Tante Dewi : “Kamu


mau kemana?”


Elena : “Ke rumah


om Brian, di luar negeri. Dia akan datang lagi nanti. Cepat, mah.”


Tante Dewi membuka


lemari Elena dan menarik koper agar terbuka. Ia mengemasi pakaian Elena, dan


melemparkan satu dress ke atas tempat tidur untuk dipakai Elena. Elena masih


berusaha bangun, kakinya gemetar karena serangan kasar om Brian padanya tadi.


Tante Dewi : “Kamu


bisa jalan?”


Elena : “Bisa. Udah


biasa.”


Tante Dewi menatap kasihan


pada sosok Elena yang tertatih-tatih masuk ke kamar mandi. Bagaimana pun dia


seorang ibu yang juga punya rasa kasian pada anak kandungnya. Tapi mengingat


bagaimana dirinya akan jatuh miskin dan diejek teman-teman kayanya, rasa tamak


kembali menggerogoti dirinya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Hadeh, tante Dewi tega banget ya. Anak sendiri dijual biar bisa hidup enak. Bentar lagi Elo sama Riri nikah, pasti nungguin MP-nya kan... bakalan sukses apa zonk ya?


Yang penasaran, kasi vote dong kk. BIar semangat up-nya.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2