
Elo baru sampai di
rumah Riri saat ponselnya berdering. Ia melihat tante Dewi calling, Elo memilih
mengabaikannya karena baginya tante Dewi tidak penting. Seharusnya Elo
memblokir saja nomor tantenya itu.
Elo mengetuk pintu
depan dan wajah manis Riri muncul dari balik pintu.
Elo : “Ri...
hai...”
Riri : “Masuk,
mas.”
Riri mengajak Elo
duduk di ruang keluarga, ia sedang membaca buku disana sambil menunggu Elo
datang tadi. Elo mengambil buku Riri, ia membolak-balik buku itu. Riri datang
lagi membawa segelas minuman dan cemilan untuk Elo.
Ponsel Elo kembali
berdering, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat tante Dewi calling.
Elo mengabaikan telpon itu membuat Riri jadi kepo dan meletakkan ponselnya di
sebelahnya.
Riri : “Siapa yang
nelpon, mas?”
Elo : “Tante Dewi.”
Riri : “Kenapa gak
diangkat? Siapa tau penting.”
Elo : “Males ach.”
Riri : “Angkat aja,
mas.”
Elo mengambil
ponselnya dan menekan tombol hijau dan laudspeaker. Terdengar keributan dari
seberang sana. Elo saling pandang dengan Riri, tidak terdengar suara tante
Dewi. Tiba-tiba terdengar suara Elena,
Elena : “Om, aku
gak bohong! Om!!”
Hening lagi. Telpon
masih tersambung. Brak! Seperti suara pintu menutup terdengar lagi. Baru
terdengar suara tante Dewi.
Tante Dewi :
“Elena...”
Jeritan panjang
terdengar dari kejauhan dan sambungan terputus. Elo melirik ponselnya,
Riri : “Itu Elena
kenapa?”
Elo : “Gak tau.”
Elo tetap cuek, tidak sedikitpun tersirat kekhawatiran dari wajahnya.
Riri : “Mas,
gimanapun juga Elena sepupu mas.”
Elo : “Kamu mau
nyuruh aku apa lagi?”
Elo memasang wajah
gak suka, cemberut dengan bibir ditekuk. Riri menahan senyum melihat Elo
merajuk.
Riri : “Minimal
kasi tau Pak Kim gitu. Biar ngecek keadaan Elena.”
Elo : “Sebut lagi
namanya, aku cium nich.”
Riri : “Mas gak akan
berani. Ini di rumahku, mas.”
Elo : “Coba aja.”
Riri diam, ia masih
penasaran dengan keadaan Elena dan tante Dewi. Elo kembali fokus pada buku yang
ada di tangannya.
__ADS_1
Riri : “Mas...
cepetan dong kasi tahu Pak Kim. Suruh siapa gitu ngecek Elena.”
Cup. Riri
membelalakkan matanya saat Elo menciumnya tiba-tiba. Ia mencoba mendorong Elo
tapi tubuhnya sudah dipeluk dengan erat. Riri menggelengkan kepala sampai
tengkuknya ditahan lengan kekar Elo. Lama kelamaan, Riri mulai pasrah dan
menerima ciuman dari Elo. Saat Elo menghentikan ciumannya, ia berbisik di
telinga Riri,
Elo : “Aku gak suka
kamu selalu nyebut nama dia. Dia punya urusan sendiri dan kita gak usah ikut
campur. Ngerti, Ri?”
Riri hanya
mengangguk, ia masih shock dicium barusan. Dan entah kenapa ia jadi pengen Elo
menciumnya seperti tadi.
Elo : “Kamu masih
mau kupeluk?”
Riri tersadar dari
khayalan mesumnya, matanya yang tadi berkabut, perlahan terang kembali. Riri
menjauh dari Elo, memegangi dadanya yang deg-degan. Mata Riri melihat
sekeliling ruang keluarga, untung saja gak ada yang lihat.
Riri gak tau saja
kalau Mia sudah melihat ciuman mereka barusan. Mia refleks sembunyi, begitu
juga nenek dan mb Minah yang sempat shock melihat Elo mencium Riri. Keduanya
langsung ngibrit masuk ke kamar nenek. Untung saja Alex, Rara, dan Arnold belum
pulang dari kantor.
Elo : “Ri... kamu
serius sama kata-katamu di telpon tadi?”
Riri : “... Iya,
mas.”
Hanya itu yang
diucapkan Riri, tapi bisa membuat wajah Elo tersenyum sumringah. Riri jadi
Elo : “Boleh aku
cium lagi?”
Riri mendongak
menatap Elo yang sudah menatapnya sendu. Jemari Elo menyentuh cincin berlian
yang melingkar di jari manis Riri. Ia menarik tangan Riri dan mencium punggung
tangannya, Riri tidak menolak saat Elo mendekat lagi.
Ia tersenyum tipis
pada calon suaminya itu, bibir mereka hampir bersentuhan saat seseorang
berdehem di belakang mereka.
Alex : “Ehem!”
Riri : “Pa...
papa!”
Riri refleks
mendorong Elo hingga terjengkang, ia menunduk malu sampai mengambil bantal
untuk menutupi wajahnya. Elo nyengir lebar pada Alex sambil mengelus kepalanya
yang tadi terantuk karpet.
Alex : “Elo, sudah
lama.”
Elo : “Baru, om...
eh, papa.”
Alex : “Dimana
Mia?”
Mia muncul dari
suatu tempat di ruangan sebelah dan langsung menyeret Alex masuk ke kamarnya.
Mia : “Mas nich,
ganggu aja anaknya lagi baikan.”
Alex : “Emangnya
berantem?”
Mia : “Salah paham
__ADS_1
dikit. Bisa gak sich lain kali masuk aja gitu, pura-pura gak liat.”
Alex : “Mereka kan
belum nikah. Riri masih putri kita.”
Mia : “Emangnya
habis nikah, Riri bukan putri kita lagi?”
Alex : “Maksudku,
udah nikah ya jadi istri Elo. Tapi sekarang kan...”
Mia : “Udah, mandi
sana. Mas bau asem. Ganggu aja orang lagi ngintip juga.”
Alex : “Perasaan
gak nguli, kenapa bau asem sich. Kamu ngintip siapa?”
Mia : “Riri sama
Elo. Yang tadi baru seru.”
Alex : “Apanya?
Mereka udah ciuman tadi?”
Mia : “Udah.”
Alex : “Tunjukin
dong gimana ciumannya.”
Mia tanpa berpikir
langsung memperagakan apa yang ia lihat tadi di ruang keluarga. Saat Mia sadar
kalau dirinya kena jebakan Alex, semuanya sudah terlambat.
*****
Elena merintih
diatas tempat tidurnya saat tante Dewi masuk ke dalam kamarnya. Om Brian baru
saja pergi tanpa menoleh pada tante Dewi yang hanya bisa terpaku mendengar
jeritan Elena selama hampir satu jam.
Tante Dewi :
“Elena...”
Tante Dewi menarik
selimut yang menutupi tubuh Elena, ia melihat bekas perbuatan om Brian di tubuh
Elena. Putrinya itu terlihat mengenaskan, bahkan Heru tidak sekejam itu.
Elena : “Mah...
siapin koper...”
Tante Dewi : “Kamu
mau kemana? Kamu belum bisa pergi sebelum gadis...”
Elena : “Aku harus
pergi sekarang atau om Brian akan marah lagi.” Elena memotong ucapan mamanya
yang masih ngeyel.
Tante Dewi : “Kamu
mau kemana?”
Elena : “Ke rumah
om Brian, di luar negeri. Dia akan datang lagi nanti. Cepat, mah.”
Tante Dewi membuka
lemari Elena dan menarik koper agar terbuka. Ia mengemasi pakaian Elena, dan
melemparkan satu dress ke atas tempat tidur untuk dipakai Elena. Elena masih
berusaha bangun, kakinya gemetar karena serangan kasar om Brian padanya tadi.
Tante Dewi : “Kamu
bisa jalan?”
Elena : “Bisa. Udah
biasa.”
Tante Dewi menatap kasihan
pada sosok Elena yang tertatih-tatih masuk ke kamar mandi. Bagaimana pun dia
seorang ibu yang juga punya rasa kasian pada anak kandungnya. Tapi mengingat
bagaimana dirinya akan jatuh miskin dan diejek teman-teman kayanya, rasa tamak
kembali menggerogoti dirinya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Hadeh, tante Dewi tega banget ya. Anak sendiri dijual biar bisa hidup enak. Bentar lagi Elo sama Riri nikah, pasti nungguin MP-nya kan... bakalan sukses apa zonk ya?
Yang penasaran, kasi vote dong kk. BIar semangat up-nya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1