Duren Manis

Duren Manis
Keinginan debay


__ADS_3

Anton : “Nak, kamu


harus istirahat dulu. Jangan banyak bergerak. Kamu baru habis kecelakaan,


tolong jangan buat papa jantungan. Baring lagi ya.”


Katty mengelus


perutnya yang terasa nyeri. Ia merasa tubuhnya pegal dan memilih berbaring


menyamping.


Tok, tok, tok...


Seseorang mengetuk pintu kamar rumah sakit. Itu pelayan restauran yang


membawakan pesanan Anton. Katty menoleh ketika bau telor goreng menguar di


dalam ruangan itu setelah pelayan itu pergi.


Katty : “Pah, Katty


mau makan.”


Anton mengambil


piring dan jus jeruk, ia menyuapi Katty makan. Saat itu pintu kamar diketuk


lagi.


Anton : “Ya,


masuk.”


Anisa, kakek dan


nenek, dan kedua orang tua Katty masuk ke dalam kamar itu.


Katty : “Kakek,


nenek... Mama, papa... Tante Nisa...”


Kedua orang tua


Katty mengangguk pada Anton yang tampak menyuapi Katty makan.


Anton : “Selamat


sore, besan.”


Papa Katty :


“Selamat sore, besan. Ma, bantu besan.”


Mama Katty : “Oh,


iya. Biar saya saja, besan.”


Katty : “Gak mau.


Maunya sama papa aja.” Katty menahan tangan Anton yang hampir beranjak dari


sisinya.


Anisa : “Sama tante


aja ya. Masa ngerepotin papa mertuamu?”


Anisa menebak pak


Anton sebagai papa Jodi. Ada sedikit kemiripan pada sosok Anton, postur tubuh


dan rambutnya nya sama dengan Jodi.


Katty : “Gak mau...”


Anton : “Hahaha...


biar saja saya yang lanjutkan. Silakan duduk dulu.”


Kakek dan nenek


mendekati tempat tidur Katty dan menanyakan keadaan cucunya itu.


Nenek : “Gimana


keadaanmu, Katty?”


Katty : “Sudah


mendingan, nek.”


Anisa : “Gimana


sich kejadiannya?”


Katty menceritakan


saat ia ingin pulang dari bekerja, tiba-tiba merasa pusing dan tidak sengaja


menabrak mobil Anton. Untung saja itu Anton, kalau orang lain, entah bagaimana


nasib Katty sekarang.


Kakek : “Maafkan


kecerobohan cucu saya, pak. Terima kasih sudah merawatnya.”


Anton : “Sudah


tugas saya menjaga calon menantu saya, pak. Kita akan segera berbesan. Jangan


terlalu sungkan.”


Kakek : “Oh,


begitu. Kami sudah dengar tentang rencana pernikahan Katty, tapi kita baru bisa


ketemu sekarang.”


Anton : “Ya, saya


sempat keluar kota sebelum ini. Jadi belum bisa melamar Katty secara langsung.”


Katty menarik


tangan Anton dan membuka mulutnya. Anton menyuapkan telur dan tomat lagi. Katty


juga minta jus jeruk yang asam dan Anton harus mencicipinya dulu. Katty tersenyum


girang ketika Anton menunjukkan wajah aneh karena minuman yang asam.

__ADS_1


Anisa : “Kenapa


kamu manja banget, sich? Kasian papa mertuamu, Katty.”


Katty : “Bukan aku


yang mau, tapi bayinya minta gitu. Minum lagi, pah.”


Anton menyeruput


jus jeruk asam itu dan menaikkan bahunya. Katty terkikik geli melihat ekspresi Anton,


Anton : “Astaga,


belum keluar saja, calon cucuku ini sudah mau mengerjai kakeknya. Bagaimana


nasibku kalau kau sudah keluar nanti?”


Katty : “Dia akan


membuatmu mengikuti semua keinginannya, papa.”


Anisa : “Bayi?!!


Katty, kamu hamil?”


Katty mengangguk


takut, ia melirik reaksi kakek dan neneknya yang hanya tersenyum mendengar


kabar kehamilannya. Papa dan mamanya bahkan sudah menebak dan tidak berkomentar


apa-apa.


Kakek : “Kau sudah


hamil, Katty. Sebaiknya pernikahan kalian dipercepat. Bagaimana kalau ijab


segera dilakukan dulu?”


Anton : “Ide yang


bagus, pak. Silakan duduk dulu, bapak, ibu. Saya selesaikan ini dulu. Kita


bicarakan setelah ini.”


Kakek dan nenek


duduk bersama orang tua Katty yang hanya nyimak saja sejak tadi. Anisa masih


berdiri di samping tempat tidur Katty.


Anisa : “Katty,


Jodi mana?”


Katty : “Tante


nanyain Jodi apa Guntur?”


Anisa : “Apaan


sich? Serius nich.”


Katty : “Tante


nich, tanyain keadaanku dulu kenapa sich. Tanya gitu, mana yang sakit.”


Anisa : “Iya, iya.


Anisa mengelus


rambut Katty, melihat lebih dekat kepalanya yang di perban.


Katty : “Nah, gitu


dong. Udah baikan, tante. Jodi di kamar mandi.”


Mereka semua


menoleh saat pintu kamar mandi dan pintu kamar terbuka bersamaan. Jodi keluar


dari kamar mandi, dan Guntur berjalan masuk membawa paper bag. Guntur menatap


Jodi yang pucat.


Guntur : “Bapak gak


pa-pa? Sampe pucet gitu.”


Jodi : “Haduh, aku


capek muntah. Mana bajuku?”


Guntur : “Ini, pak.


Eh, ada Nisa.”


Guntur sibuk


menyapa calon istri calon ipar, dan calon mertuanya, yang disapa cuma


mengangguk dan tersenyum.


Jodi : “Guntur,


carikan aku makanan.”


Guntur : “Bapak mau


makan apa?”


Jodi : “Yang asem.”


Guntur : “Sayur


asem?”


Jodi : “Sayur asem?


Hmmpp...”


Jodi menutup


mulutnya, ia menggeleng agar tidak jadi muntah lagi.


Jodi : “Berhenti


menyebut nama masakan. Aku mual lagi. Apa aku sakit?”


Anton : “Kamu lagi

__ADS_1


ngidam, Jodi. Hahahaha... rasakan...!”


Anton tertawa puas


melihat Jodi tampak menderita. Jodi melihat sekeliling dan menyadari banyak


orang disana. Ia menahan dirinya untuk tidak berkonfrontasi dengan papanya


lagi. *Jiah\, istilah author terlalu berat*


Jodi : “Papa, mama,


apa kabar?” Jodi menyalami papa dan mama Katty, ia berpaling menatap kakek dan nenek


Katty, ia tidak mengenali mereka.


Guntur : “Pak, ini


kakek dan nenek Ibu Katty. Calon mertua saya juga.”


Jodi : “Oh, maafkan


saya. Kakek, nenek apa kabar?”


Kakek : “Baik, ini


siapa?”


Jodi : “Saya Jodi,


kek. Calon suami Katty.”


Kakek : “Oh, kamu


yang menghamili cucu saya?”


Jodi : “Iya, kek.”


Jodi menunduk malu dengan perbuatannya.


Kakek : “Kalian


harus segera menikah.”


Jodi : “Kami akan


menikah setelah Guntur menikah, kek.”


Anton : “Kita


lakukan ijab duluan ya. Bagaimana kalau disini? Sekarang?”


Anton mendekati


mereka setelah selesai menyuapi Katty makan. Ibu hamil itu sedang mengelus


perutnya sambil meminum jus jeruk manis di tangannya.


Kakek : “Memangnya


bisa secepat ini?”


Anton : “Kalau


besan tidak keberatan. Guntur bisa menyiapkan dokumennya. Panggilkan penghulu


juga.”


Guntur : “Baik,


pak.”


Katty : “Tunggu!


Kenapa gak ada yang nanya Katty dulu?”


Wajah cemberut


Katty tampak ketika mereka semua menoleh pada Katty.


Jodi : “Kenapa,


sayang? Kamu mau kan kita ijab sekarang?”


Jodi menghampiri


Katty,


Katty : “Gak mau. Katty


maunya ijab habis tante Anisa nikah.”


Anisa : “Tante gak


pa-pa, Katty. Kamu duluan aja.”


Katty : “Gak mau!


Gak mau!”


Dan mereka sibuk


menenangkan Katty yang mulai ngambek seperti anak kecil gak dikasi permen.


Bahkan Jodi juga ikutan menangis ketika melihat Katty menangis.


Anton : “Ok, ok gak


jadi. Kita tetap lakukan sesuai schedule. Astaga, cucuku ini benar-benar...”


Katty : “Makasih,


papa. Minum lagi jus-nya.”


Anton : “Oh,


dear...”


Anton meminum lagi


jus jeruk asam itu dan berjengit dengan rasanya. Katty berhenti menangis dan


langsung terkikik geli. Jodi ikutan tertawa, menertawakan papanya yang dikerjai


Katty habis-habisan.


🌻🌻🌻🌻🌻


Makin seru kan?


Habis ini ceritanya siapa lagi ya?

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2