
Anton : “Nak, kamu
harus istirahat dulu. Jangan banyak bergerak. Kamu baru habis kecelakaan,
tolong jangan buat papa jantungan. Baring lagi ya.”
Katty mengelus
perutnya yang terasa nyeri. Ia merasa tubuhnya pegal dan memilih berbaring
menyamping.
Tok, tok, tok...
Seseorang mengetuk pintu kamar rumah sakit. Itu pelayan restauran yang
membawakan pesanan Anton. Katty menoleh ketika bau telor goreng menguar di
dalam ruangan itu setelah pelayan itu pergi.
Katty : “Pah, Katty
mau makan.”
Anton mengambil
piring dan jus jeruk, ia menyuapi Katty makan. Saat itu pintu kamar diketuk
lagi.
Anton : “Ya,
masuk.”
Anisa, kakek dan
nenek, dan kedua orang tua Katty masuk ke dalam kamar itu.
Katty : “Kakek,
nenek... Mama, papa... Tante Nisa...”
Kedua orang tua
Katty mengangguk pada Anton yang tampak menyuapi Katty makan.
Anton : “Selamat
sore, besan.”
Papa Katty :
“Selamat sore, besan. Ma, bantu besan.”
Mama Katty : “Oh,
iya. Biar saya saja, besan.”
Katty : “Gak mau.
Maunya sama papa aja.” Katty menahan tangan Anton yang hampir beranjak dari
sisinya.
Anisa : “Sama tante
aja ya. Masa ngerepotin papa mertuamu?”
Anisa menebak pak
Anton sebagai papa Jodi. Ada sedikit kemiripan pada sosok Anton, postur tubuh
dan rambutnya nya sama dengan Jodi.
Katty : “Gak mau...”
Anton : “Hahaha...
biar saja saya yang lanjutkan. Silakan duduk dulu.”
Kakek dan nenek
mendekati tempat tidur Katty dan menanyakan keadaan cucunya itu.
Nenek : “Gimana
keadaanmu, Katty?”
Katty : “Sudah
mendingan, nek.”
Anisa : “Gimana
sich kejadiannya?”
Katty menceritakan
saat ia ingin pulang dari bekerja, tiba-tiba merasa pusing dan tidak sengaja
menabrak mobil Anton. Untung saja itu Anton, kalau orang lain, entah bagaimana
nasib Katty sekarang.
Kakek : “Maafkan
kecerobohan cucu saya, pak. Terima kasih sudah merawatnya.”
Anton : “Sudah
tugas saya menjaga calon menantu saya, pak. Kita akan segera berbesan. Jangan
terlalu sungkan.”
Kakek : “Oh,
begitu. Kami sudah dengar tentang rencana pernikahan Katty, tapi kita baru bisa
ketemu sekarang.”
Anton : “Ya, saya
sempat keluar kota sebelum ini. Jadi belum bisa melamar Katty secara langsung.”
Katty menarik
tangan Anton dan membuka mulutnya. Anton menyuapkan telur dan tomat lagi. Katty
juga minta jus jeruk yang asam dan Anton harus mencicipinya dulu. Katty tersenyum
girang ketika Anton menunjukkan wajah aneh karena minuman yang asam.
__ADS_1
Anisa : “Kenapa
kamu manja banget, sich? Kasian papa mertuamu, Katty.”
Katty : “Bukan aku
yang mau, tapi bayinya minta gitu. Minum lagi, pah.”
Anton menyeruput
jus jeruk asam itu dan menaikkan bahunya. Katty terkikik geli melihat ekspresi Anton,
Anton : “Astaga,
belum keluar saja, calon cucuku ini sudah mau mengerjai kakeknya. Bagaimana
nasibku kalau kau sudah keluar nanti?”
Katty : “Dia akan
membuatmu mengikuti semua keinginannya, papa.”
Anisa : “Bayi?!!
Katty, kamu hamil?”
Katty mengangguk
takut, ia melirik reaksi kakek dan neneknya yang hanya tersenyum mendengar
kabar kehamilannya. Papa dan mamanya bahkan sudah menebak dan tidak berkomentar
apa-apa.
Kakek : “Kau sudah
hamil, Katty. Sebaiknya pernikahan kalian dipercepat. Bagaimana kalau ijab
segera dilakukan dulu?”
Anton : “Ide yang
bagus, pak. Silakan duduk dulu, bapak, ibu. Saya selesaikan ini dulu. Kita
bicarakan setelah ini.”
Kakek dan nenek
duduk bersama orang tua Katty yang hanya nyimak saja sejak tadi. Anisa masih
berdiri di samping tempat tidur Katty.
Anisa : “Katty,
Jodi mana?”
Katty : “Tante
nanyain Jodi apa Guntur?”
Anisa : “Apaan
sich? Serius nich.”
Katty : “Tante
nich, tanyain keadaanku dulu kenapa sich. Tanya gitu, mana yang sakit.”
Anisa : “Iya, iya.
Anisa mengelus
rambut Katty, melihat lebih dekat kepalanya yang di perban.
Katty : “Nah, gitu
dong. Udah baikan, tante. Jodi di kamar mandi.”
Mereka semua
menoleh saat pintu kamar mandi dan pintu kamar terbuka bersamaan. Jodi keluar
dari kamar mandi, dan Guntur berjalan masuk membawa paper bag. Guntur menatap
Jodi yang pucat.
Guntur : “Bapak gak
pa-pa? Sampe pucet gitu.”
Jodi : “Haduh, aku
capek muntah. Mana bajuku?”
Guntur : “Ini, pak.
Eh, ada Nisa.”
Guntur sibuk
menyapa calon istri calon ipar, dan calon mertuanya, yang disapa cuma
mengangguk dan tersenyum.
Jodi : “Guntur,
carikan aku makanan.”
Guntur : “Bapak mau
makan apa?”
Jodi : “Yang asem.”
Guntur : “Sayur
asem?”
Jodi : “Sayur asem?
Hmmpp...”
Jodi menutup
mulutnya, ia menggeleng agar tidak jadi muntah lagi.
Jodi : “Berhenti
menyebut nama masakan. Aku mual lagi. Apa aku sakit?”
Anton : “Kamu lagi
__ADS_1
ngidam, Jodi. Hahahaha... rasakan...!”
Anton tertawa puas
melihat Jodi tampak menderita. Jodi melihat sekeliling dan menyadari banyak
orang disana. Ia menahan dirinya untuk tidak berkonfrontasi dengan papanya
lagi. *Jiah\, istilah author terlalu berat*
Jodi : “Papa, mama,
apa kabar?” Jodi menyalami papa dan mama Katty, ia berpaling menatap kakek dan nenek
Katty, ia tidak mengenali mereka.
Guntur : “Pak, ini
kakek dan nenek Ibu Katty. Calon mertua saya juga.”
Jodi : “Oh, maafkan
saya. Kakek, nenek apa kabar?”
Kakek : “Baik, ini
siapa?”
Jodi : “Saya Jodi,
kek. Calon suami Katty.”
Kakek : “Oh, kamu
yang menghamili cucu saya?”
Jodi : “Iya, kek.”
Jodi menunduk malu dengan perbuatannya.
Kakek : “Kalian
harus segera menikah.”
Jodi : “Kami akan
menikah setelah Guntur menikah, kek.”
Anton : “Kita
lakukan ijab duluan ya. Bagaimana kalau disini? Sekarang?”
Anton mendekati
mereka setelah selesai menyuapi Katty makan. Ibu hamil itu sedang mengelus
perutnya sambil meminum jus jeruk manis di tangannya.
Kakek : “Memangnya
bisa secepat ini?”
Anton : “Kalau
besan tidak keberatan. Guntur bisa menyiapkan dokumennya. Panggilkan penghulu
juga.”
Guntur : “Baik,
pak.”
Katty : “Tunggu!
Kenapa gak ada yang nanya Katty dulu?”
Wajah cemberut
Katty tampak ketika mereka semua menoleh pada Katty.
Jodi : “Kenapa,
sayang? Kamu mau kan kita ijab sekarang?”
Jodi menghampiri
Katty,
Katty : “Gak mau. Katty
maunya ijab habis tante Anisa nikah.”
Anisa : “Tante gak
pa-pa, Katty. Kamu duluan aja.”
Katty : “Gak mau!
Gak mau!”
Dan mereka sibuk
menenangkan Katty yang mulai ngambek seperti anak kecil gak dikasi permen.
Bahkan Jodi juga ikutan menangis ketika melihat Katty menangis.
Anton : “Ok, ok gak
jadi. Kita tetap lakukan sesuai schedule. Astaga, cucuku ini benar-benar...”
Katty : “Makasih,
papa. Minum lagi jus-nya.”
Anton : “Oh,
dear...”
Anton meminum lagi
jus jeruk asam itu dan berjengit dengan rasanya. Katty berhenti menangis dan
langsung terkikik geli. Jodi ikutan tertawa, menertawakan papanya yang dikerjai
Katty habis-habisan.
🌻🌻🌻🌻🌻
Makin seru kan?
Habis ini ceritanya siapa lagi ya?
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).