Duren Manis

Duren Manis
Deg-degan


__ADS_3

Setelah melewati resepsi pernikahan yang panjang dan lama, bertemu hampir 1000 undangan, Bianca dan Ilham bisa beristirahat di kamar pengantin mereka.


Bianca tidak memperhatikan dekorasi kamar pengantin mereka. Ia hanya ingin segera melepaskan atribut pengantin yang melekat padanya dan tidur secepatnya.


Tapi saat melihat Ilham duduk dengan tenang di pinggir ranjang pengantin yang bertabur bunga mawar, ia mengurungkan niatnya. Bianca mendekati Ilham, duduk di sampingnya.


Mereka hanya diam larut dalam pikiran masing-masing. Bianca jadi bingung sendiri, ini malam pertama mereka dan Ilham hanya diam saja di sampingnya.


Merasa sudah lelah dan mulai kesal, Bianca bangkit dari sisi ranjang. Tapi ada yang menarik gaun pengantinnya hingga ia berhenti melangkah. Wajah Bianca sumringah dan merasa sangat senang.


Ia mengira Ilham menahannya, tapi ketika berbalik, Bianca merasa kecewa, gaunnya hanya tidak sengaja diduduki Ilham. Bianca menarik ujung gaunnya dengan kesal.


Ia ingin Ilham menyentuhnya sebagai seorang suami. Bukannya mereka sudah sah, tapi suaminya itu hanya diam seperti patung.


Bianca : "Mas, kamu istirahat aja ya. Aku mau mandi."


Bianca terhuyun saat berjalan ke kamar mandi. Ia tersandung gaun pengantinnya sendiri. Ia sudah hampir menangis saking kesalnya. Bianca merasakan tubuhnya melayang sedetik kemudian.


Bianca : "Maass..."


Ilham menggendong Bianca dan mendudukkannya di ranjang kembali. Ilham duduk di belakang Bianca, menarik retsleting gaunnya. Tangan Ilham memegang pundak Bianca, menurunkan gaun pengantinnya.


Bianca : "Makasi, mas."


Ilham : "Kamu bisa minta tolong kan. Kenapa diem aja?"


Bianca : "Aku kira mas capek."


Ilham : "Aku uda jadi suami kamu. Mulai sekarang, kamu harus bilang sama aku apapun yang kamu rasakan. Kita harus belajar terbuka satu sama lain."


Bianca : "Iya, mas. Makasi ya."


Bianca membalik tubuhnya dan memeluk Ilham erat. Ia senang sekali punya suami yang pengertian seperti Ilham.


Tiba-tiba situasi yang canggung muncul diantara keduanya, Bianca melepas pelukannya dan bangkit berdiri.


Ilham : "Kamu mau mandi?"


Bianca : "Iya, mas. Kenapa?"


Ilham : "Bisa sendiri?"


Bianca : "Bi... Bisa kok."


Bianca jadi gugup mendengar pertanyaan Ilham. Suaminya itu sudah tersenyum menatapnya tanpa bicara apa-apa lagi.


Ia menyeret gaun pengantinnya masuk ke kamar mandi. Tadi ia sempat berpikir untuk melepas gaun itu di dalam kamar. Tapi Bianca masi malu dan segan pada Ilham.


Bianca menghabiskan setengah jam di dalam kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Ia sampai keramas juga karena kepalanya sakit terkena banyak hairspray.

__ADS_1


Saat keluar dari kamar mandi, Bianca melihat Ilham duduk di sofa dengan mata terpejam. Suaminya itu terlihat lelah, ia mendekati Ilham dan mengguncang tubuhnya.


Bianca : "Mas... Bangun.."


Ilham membuka matanya yang langsung melotot kaget melihat Bianca cuma pakai bathrobe dengan rambut basah.


Ilham memalingkan wajahnya, ia juga gugup seperti Bianca tapi tidak ingin Bianca mengetahuinya.


Bianca : "Mandi dulu sana, baru tidur. Mas mau makan?"


Bianca hampir berbalik ingin memesan makanan, tapi Ilham sudah menarik tubuhnya. Bruk! Bianca jatuh ke pangkuan Ilham.


Mereka saling pandang dan Bianca menunduk ketika tangan Ilham menarik tengkuknya. Bibir mereka semakin dekat dan hampir menyatu, tiba-tiba, Tok, tok, tok...


Sebuah ketukan terdengar di pintu kamar mereka. Bianca langsung bangun dari pangkuan Ilham dan berdiri di dekat lemari. Ia bersembunyi disana.


Ilham berjalan ke pintu dan membukanya. Room service datang membawakan makan malam untuk pasangan baru itu. Ilham sudah memesan makanan ketika Bianca mandi.


Setelah meletakkan makanan diatas meja, Ilham mendekati Bianca yang masih berdiri diam ditempat.


Ilham : "Kenapa kamu sembunyi?"


Bianca : "Eh, iya ya. Kenapa aku sembunyi? Kita kan uda sah jadi suami istri. Aku pikir tadi papaku yang datang."


Ilham : "Trus kenapa kalau papamu yang datang?"


Bianca : "Gak pa-pa sich."


Bianca mendekati meja yang berisi makanan. Ia mencicipi sedikit nasi goreng dan mengangguk. Makanannya enak, minumannya juga segar.


Ceklek! Bianca membeku di tempat. Ia menoleh perlahan melihat Ilham keluar dari kamar mandi. Matanya melebar melihat Ilham hanya memakai handuk berjalan mendekatinya.


Air menetes dari rambut Ilham yang basah. Untuk pertama kalinya Bianca melihat visual Ilham dengan rambut menutupi dahinya.


Ilham menyisir rambut dengan jarinya, mengibaskan poninya ke samping. Air sedikit mengenai wajah Bianca.


Ilham : "Ayo, makan."


Bianca : "Ap... Apa?"


Ilham : "Makan. Kamu mikir apa sich?"


Wajah Bianca memanas, ia segera duduk di kursi dan mulai memakan makan malamnya. Jantungnya dag, dig, dug berdebar gak beraturan.


Ilham terus menatap Bianca membuatnya semakin salah tingkah. Bianca mencoba meminum air dan berakhir tersedak.


Uhuk! Uhuk! Ilham bangkit dan menepuk punggung Bianca yang dirasakan Bianca sebagai rabaan yang membuat wajahnya semakin merona.


Ilham : "Kamu gak pa-pa?"

__ADS_1


Bianca : "Mas, geli. Jangan raba punggungku."


Ilham : "Aku gak ngraba. Ini baru namanya ngraba."


Tangan Ilham meraba paha Bianca yang tidak tertutup bathrobe. Bianca sampai gemetar menahan rasa geli di seluruh tubuhnya.


Tanpa aba-aba, Ilham mendekat dan mencium bibir Bianca. Ciuman yang dalam dan hangat menghangatkan dinginnya malam pengantin mereka.


🌳🌳🌳🌳🌳


Ilham terbangun ketika alarm di ponselnya berbunyi. Sudah jam 5 pagi, seperti biasa ia akan bangun dan bersiap-siap ke kantor.


Tapi saat ia melihat sekeliling kamar yang berhias bunga mawar, Ilham menoleh ke samping. Wajah cantik Bianca yang sedang tertidur lelap.


Ilham menunduk mengecup kening Bianca, istrinya itu menggeliat bangun dan melotot ketika melihatnya.


Bianca : "Aaarrggg...!!!"


Ilham menahan senyumnya mendengar teriakan Bianca. Apalagi ketika Bianca menyadari ia tidak memakai apa-apa dibawah selimutnya.


Ilham : "Kenapa kamu teriak?"


Bianca mencoba mengingat sesuatu, ia nyengir lebar setelah menyadari kalau mereka berdua sudah menikah dan apa yang terjadi sah saja.


Bianca : "Aku lupa, mas. Maaf."


Ilham kembali mengukung Bianca membuat wajah istrinya merona. Bianca merapatkan selimutnya menutupi pundaknya.


Ilham : "Aku sudah melihat semuanya. Jangan ditutupi lagi."


Bianca : "Aku malu, mas."


Ilham : "Semalam kamu gak malu..."


Ilham mencium pipi Bianca, menatap sayu mata Bianca.


Bianca : "Mas, aku mandi dulu ya. Bau asem."


Ilham : "Kamu masih harum kok. Jangan menolakku lagi."


Ilham mencium bibir Bianca dan kembali memanaskan ranjang mereka.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2