Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 12


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 12


Bandara, Renata menggosok kedua tangannya yang terasa dingin. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi pesawat jet milik Ken belum juga mendarat. Ia menengadah ketika kehangatan menyusup dari belakang tubuhnya. Reynold berdiri di belakang Renata, memeluk tubuh mungil gadis itu dengan mantel hangat yang dipakainya. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang Renata.


“Kenapa belum sampai, kak?” tanya Renata seolah Reynold tahu segalanya.


“Sebentar lagi mendarat. Mungkin salah satu dari lampu yang mendekat itu,” tunjuk Reynold ke arah langit malam.


Gadis mungil itu mengangguk-angguk, ia merapatkan dirinya ke tubuh Reynold agar lebih hangat. Benjol di kepalanya masih terasa sakit, tapi ia tidak ingin melewatkan momen bersama Reynold. Pria itu menunduk, mengecup leher Renata.


“Dingin ya. Mau masuk ke mobil?” tanya Reynold.


“Nggak, kak. Udah lebih hangat dipeluk gini,” sahut Renata tersenyum malu-malu.


Reynold semakin merapatkan pelukannya. Ia sengaja duduk di atas mobilnya agar Renata bisa duduk diantara


kedua pahanya. Renata menggosok kedua telapak tangannya lalu menghembuskan nafas hangat. Ia  menggenggam tangan Reynold, untuk menghangatkan pria itu juga. Kemesraan mereka tak luput dari tatapan beberapa orang body guard Ken yang sudah menunggu sejak sore hari. Salah satu dari mereka mendekati kedua insan yang saling menghangatkan diri itu.


“Permisi, tuan Reynold dan nona Renata. Tuan muda Ken mengundang anda berdua untuk menunggu di


lounge. Hujan sebentar lagi akan turun,” ajak pria berjas hitam dengan kacamata hitam menutupi matanya.


“Kamu mau ke lounge?” tanya Reynold.


Renata menggeleng. Ia belum mau melepaskan pelukan Reynold pada tubuhnya. Reynold mengatakan pada


body guard itu kalau mereka akan masuk kalau hujan mulai turun. Gelegar petir tampak menyambar di belakang mereka, Renata berharap pesawat yang membawa Ken dan Kaori akan tiba sebelum hujan turun. Tapi Renata tidak perlu mengkuatirkan tentang itu.


Sebuah pesawat yang entah mendarat dimana, berbelok di landasan menuju hanggar tempat Renata dan


Reynold masih menunggu. Pintu pesawat terbuka dan para body guard langsung berbaris di samping kanan dan kirinya. Ken turun lebih dulu disusul Kaori yang berpegangan pada Ken. Keduanya tak kalah mesra dengan calon pasangan yang masih menunggu di dekat mobil mewah Reynold.


“Aunty Renata! Kak Reynold!” panggil Kaori sumringah melihat keduanya setelah mereka mendekat.


Ken tidak mau melepaskan tangan Kaori, padahal istrinya itu ingin memeluk Renata dan Reynold. Kaori menatap Ken dengan pandangan memohon untuk dilepaskan. Pria itu baru saja menjemput Kaori setelah setengah bulan mereka terpisah negara. Seharusnya mereka sudah mendarat sejak tadi, tapi Ken belum selesai melepas rindu dengan Kaori. Akhirnya pesawat mereka hanya berputar-putar diatas bandara, menunggu Ken dan Kaori menyelesaikan urusan penting mereka berdua.


“Kaori, gimana kabarmu?” tanya Renata lanjut cipika-cipiki dengan Kaori. Reynold merentangkan tangannya ingin memeluk Kaori, tapi Ken dengan cepat menggantikan istrinya.


“Gue nggak mau meluk lo,” kata Reynold mendorong Ken.


”Dasar ponakan kurang ajar. Awas gue bales lo nanti,” batin Ken ingin mengutuk Reynold.


“Gue juga nggak mau. Tapi lo nggak boleh peluk-peluk istri gue,” sahut Ken.


Renata dan Kaori menatap keduanya yang terlihat sedang perang batin. Ken melirik Renata yang tersenyum sambil dadah-dadah padanya. Perhatian Ken teralihkan pada Renata yang hidungnya memerah karena udara yang sangat dingin.

__ADS_1


“Aunty Renata, apa kabar?” tanya Ken sambil merentangkan tangannya ingin memeluk Renata.


Ken sengaja melakukan itu untuk memancing reaksi Reynold. Ia ingin tahu sudah sejauh apa hubungan


antara Renata dan Reynold sekarang. Pria itu sigap menarik Renata dalam pelukannya, menjauhkan gadis itu dari jangkauan Ken. Belum sampai menyentuh Renata, Ken sudah berbalik memeluk Kaori.


“Sayang, ayo kita pergi. Aku udah lapar nich,” kata Ken mesra.


“Barusan tadi makan kan? Masih lapar ya?” tanya Kaori.


“Aku belum kenyang makan kamu, sayang. Ayo, pulang,” ajak Ken sambil mencium pipi Kaori.


Reynold mencibirkan bibirnya ke arah Ken yang memeletkan lidahnya pada Reynold seolah menantang.


Reynold yang terpancing emosi, mengecup kening Renata sambil memeluk gadis itu. Kaori dan Renata sama-sama terbelalak kaget dengan kejadian itu. Belum sempat Kaori bertanya, Ken sudah menariknya ke samping mobil mewah milik suaminya itu.


“Kak Rey, jangan cium sembarangan di depan Kaori. Aku nggak enak,” kata Renata lalu melepaskan diri dari pelukan Reynold.


“Iya, maaf. Jangan marah, aunty. Ntar tambah cantik loh,” gombal Reynold sambil nyengir nakal.


“Gombal banget sich, kak,” ucap Renata malu-malu.


“Tapi suka kan kalau aku gombalin gini,” bisik Reynold sambil menggenggam tangan Renata.


“Ken, mereka kok mesra banget ya? Emang begitu?” tanya Kaori yang dulunya buta, tidak bisa melihat skin ship antara Renata dan Reynold.


“Ada satu rahasia. Kamu harus tahu, sayang. Tapi aku mau minta sesuatu dulu. Banyak sich. Kalau sudah selesai, baru aku kasih tahu,” kata Ken menatap mesra Kaori.


“Rahasia apa sich? Kok masih ada rahasia,” kata Kaori mulai merajuk.


“Loh, aku kan pernah bilang waktu malam pertama pernikahan kita. Sekarang aku mau cerita, tapi kita... gituan dulu ya,” pinta Ken sambil menaik turunkan alisnya.


“Lagi?! Tapi tadi kan udah. Dua kali. Ken, pinggangku....” ucapan Kaori terhenti saat melihat Renata dan Reynold berpelukan lagi sambil tertawa-tawa.


Ken ikutan senyum-senyum melihat keduanya sangat mesra. Sebelum Kaori protes lagi, ia menuntun wanita itu masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu mereka.


**


Mobil mereka beriringan menuju mansion Ken. Semua pelayan sudah siap menyambut dengan jamuan makan malam yang istimewa. Kaori kembali ke mansion itu sebagai istri dari Ken Wiranata dan akan menjadi wanita yang paling berkuasa di mansion mewah itu. Sambutan pelayan di depan pintu mansion membuat Kaori terkejut. Ia belum terbiasa dengan kehormatan seperti itu.


“Ayo turun, sayangku. Selamat datang di rumah kita,” ucap Ken manis.


“Ken, ini sepertinya agak berlebihan,” sahut Kaori belum terbiasa dengan semua kemewahan dan perhatian yang ia terima.


“Apapun untukmu, sayang. Yang penting kamu bahagia dan anak-anak kita juga,” rayu Ken dengan senyum menggoda.

__ADS_1


Kaori menepuk dada Ken yang genit padanya. Kemesraan mereka membuat Reynold dan Renata saling pandang geli sendiri. Mereka bersama-sama masuk ke mansion mewah Ken lalu duduk di meja makan. Kepala pelayan di mansion itu, menghidangkan makanan kesukaan Kaori. Wanita itu sangat senang bisa tinggal bersama Ken dan dekat dengan Renata lagi. Mereka menikmati hidangan yang tersedia sambil sesekali mengobrol melepas rindu.


Setelah makan malam bersama, Reynold memilih langsung pulang daripada berbincang-bincang dengan Ken dan Kaori. Renata yang masih tetap tinggal disana, masih bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan Reynold ketika mereka makan malam tadi. Dirinya bingung dengan kata-kata Reynold.


"Aunty besok tidak usah ke kantor dulu. Temani Kaori disini. Kantor juga libur kok," ucap Reynold ketika makan malam tadi.


"Kakak kok bisa tahu? Aku kan nggak bilang apa-apa soal kantor," kata Renata heran. Dirinya belum sempat cerita kalau kantornya libur. Lagipula, belum ada pengumuman kalau kantornya libur besok.


Reynold gelagapan, demi Renata, ia meminta Alfian mengumumkan kalau kantor diliburkan besok. Hanya beberapa karyawan yang diijinkan tetap bekerja kalau alasannya masuk akal. Hanya gara-gara Kaori ingin Renata menemaninya di mansion Ken karena ia belum terbiasa di tempat baru itu. Ken jadi curiga dengan gerak-gerik Reynold. Ia mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Emangnya aunty kerja dimana?" tanya Ken sambil menyuapi Kaori makan steak.


"Aku kerja di FoRena Group. Kantornya di belakang apartment kak Rey, Ken," sahut Renata.


"FoRena Group? For Renata Group?" tanya Ken sambil menatap Reynold yang berdehem.


"Hah? Kok bisa ada namaku? Nggak gitu, Ken." Renata menggeleng, nama perusahaan tempatnya bekerja memang seperti itu, tidak ada kepanjangannya. Reynold meneguk habis wine di gelasnya. Membuat Ken semakin curiga.


"Kenapa, Ken? Kamu tahu perusahaan itu?" tanya Kaori.


"Iya, sayang. Beberapa kali aku ingin bertemu dengan direkturnya. Tapi malah ketemu sama wakilnya. Coba tebak siapa?" kata Ken sambil mengusap sudut bibir Kaori.


"Kak Steven ya?" tebak Renata.


Ken mengiyakan jawaban Renata. Ia memang pernah bertemu dengan Steven beberapa kali untuk membicarakan kerja sama mereka di masa depan. Sampai sekarangpun dirinya masih penasaran siapa direktur FoRena Group. Perusahaan itu sangat misterius, tapi hasil pekerjaan mereka sangat memuaskan. Ken tidak punya alasan untuk memutuskan kerja sama mereka.


"Rey, kalau kamu kerja apa?" tanya Ken.


"Aku pembuat game," sahut Reynold asal.


"Kata kakak, pekerjaan kakak itu IT. Yang bener yang mana?" tanya Renaya bingung.


"Tidak usah dipikirkan, aunty. Nanti juga ketahuan apa pekerjaan Reynold yang sebenarnya," kata Ken sambil menatap tajam pada Reynold.


Malam itu Reynold hampir membongkar identitasnya sendiri sebagai direktur FoRena Group. Padahal ia sudah berusaha tidak membahas kantor ketika bersama Renata. Tapi dirinya tidak bisa menahan godaan untuk bersaing dengan Ken. Ingin sekali Reynold menunjukkan pencapaiannya demi Renata, tapi ia tidak bisa


melakukannya sampai Renata benar-benar jatuh cinta padanya.


"Apa yang aunty pikirkan?" tanya Ken ketika melihat Renata duduk termenung sendirian.


Kaori sedang bicara dengan Alex dan Mia melalui conference call di dekat mereka. Dan Ken sengaja menjauh untuk memberi privasi bagi ketiganya untuk bicara bebas. Ken duduk di depan Renata, menuangkan teh ke cangkir gadis itu.


"Minumlah, aunty. Tenangkan pikiranmu," ucap Ken sambil menyodorkan cangkir teh Renata.


"Apa sich yang aku pikirin? Ada-ada saja. Mana mungkin mereka orang yang sama," gumam Renata membuat Ken semakin curiga. Ken menanyakan maksud kata-kata Renata. Setelah memastikan kalau Kaori masih asyik mengobrol, Renata mulai bicara. "Aku curiga kalau kak Rey dan bosku adalah orang yang sama. Aku sudah tinggal bertahun-tahun dengan kak Rey. Aku hafal bagaimana bentuk tubuhnya," kata Renata sambil menatap Ken dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2