Duren Manis

Duren Manis
Lulus


__ADS_3

Mia mengusap peluh yang membanjiri keningnya. Entah apa yang terjadi pada AC di ruang sidang skripsi itu. Beberapa orang juga tampak mengipasi tubuhnya masing-masing.


Giliran Mia sudah lewat dan sekarang ia masih menunggu beberapa mahasiswa yang juga sedang sidang untuk mendengarkan hasilnya bersama-sama nanti.


Rara yang baru selesai kuliah, celingukan melihat kedalam ruang sidang. Mia melambaikan tangannya agar Rara melihatnya.


Rara : "Mama uda selesai?"


Beberapa mahasiswa menoleh mendengar suara Rara, salah satunya ada senior mereka yang terkenal ganteng dan cool. Senior ini sempat mendekati Mia diawal tahun kuliah mereka dan langsung ditolak Mia yang jujur mengatakan kalau dia sudah bertunangan.


Mia : "Uda barusan. Masih nunggu pengumuman nich. Kamu uda selesai kuliah?"


Rara : "He-eh, mah. Kira-kira lulus gak ya?"


Mia : "Palingan lulus, papamu bakalan seneng banget. Nanti malam mau ke rumah mama katanya."


Rara : "Rara gak ikut ya, mau ng-date sama Arnold."


Mia : "Iya dech. Inget belajar juga ya, ng-date trus."


Rara : "Hehe.. iya, mah.."


Pandangan mereka kembali ke depan, menonton sidang skripsi mahasiswa lain yang semakin seru dan panas karena AC ruangan yang tidak berfungsi.


------


Arnold berjalan melewati lorong kampus, siang itu ia ingin menjemput Rara sepulang kuliah. Beberapa mahasiswa tertegun melihat visual Arnold yang terlihat semakin ganteng dengan setelan kerja lengkap dengan dasi dan jas-nya.


Udara yang panas membuat Arnold melepas jas dan menarik dasinya. Tadi ia terburu-buru keluar mobil, sehingga lupa melepas jas dan dasinya.


Visual Arnold langsung berubah jadi badboy, beberapa mahasiswa tersenyum mencoba menggoda Arnold yang tetap dingin.


Salah seorang mahasiswa sengaja menabrak Arnold dan pura-pura jatuh, mirip adegan sinetron dan berharap di tolong Arnold. Tapi berakhir diacuhkan dengan telak.


Sampai di depan ruang sidang, Arnold celingukan mencari Rara. Mia yang melihat kedatangan Arnold, menyenggol Rara.


Mia : "Tuch, pangeranmu sudah datang. Sana samperin dulu, banyak yang ngincer tuch."


Rara melihat ke arah pintu yang tiba-tiba penuh, bukan karena kepo sama sidang skripsi, tapi karena memandang Arnold.


Rara : "Rara kesana dulu, ya mah. Nanti Rara kesini lagi."


Mia : "Kalau mau makan, duluan aja ya. Mama gak berani keluar, ntar dicariin lagi."


Rara : "Iya, mah."


Rara menghampiri Arnold yang langsung tersenyum melihat Rara mendekat, senyuman yang membuat mahasiswa lainnya menjerit histeris. Lebay...


Arnold : "Uda selesai kuliah, SAYANG? Aku laper nich, ke kantin yuks."


Rara : "Oh, sayang laper ya. Ayo kita makan dulu." Arnold merangkul pundak Rara dan sengaja menegaskan panggilan sayangnya agar didengar mahasiswa lain.


Arnold : "Itu mama Rara uda selesai sidang?"


Rara : "Uda, tinggal nunggu pengumuman aja."


Mereka berdua berjalan ke kantin sambil ngobrol dengan mesra, meninggalkan fans Arnold yang iri melihat mereka.


Sampai di kantin, Rara memesan makanan untuk mereka berdua. Arnold terus menatap Rara yang asyik bercerita tentang kuliahnya.

__ADS_1


Tangan Arnold terus menggenggam tangan Rara, menunjukkan kemesraan mereka pada semua orang di kantin itu.


Arnold : "Ra, dokter Kevin minta kita kesana lagi minggu depan. Apa kamu punya waktu?"


Rara : "Kita bisa berangkat Kamis sore. Aku ada kuliah sampai jam 1 siang di hari Kamis. Jumat sama Sabtu aku libur."


Arnold : "Ok, nanti aku kabarin dokter Kevin."


Rara : "Kalau terapi lagi, berarti kita bakalan itu dong."


Arnold : "Itu apa?"


Rara : "Itu..." Arnold tersenyum lebar, melihat ekspresi Rara yang imut banget.


Arnold : "Kamu mikir apa, sih?"


Rara : "Ich, masa sayang gak tahu sich."


Arnold : "Kamu lagi mikir mesum ya..."


Wajah Rara sudah merah padam mendengar kata-kata Arnold. Bahkan Arnold bisa melihatnya dengan jelas.


Rara : "Mana ada..."


Arnold : "Kamu tenang aja, dokter Kevin bilang mau coba terapi yang lebih sederhana. Kamu gak perlu sampai buka baju."


Rara : "Oh, gitu..."


Arnold : "Kamu kenapa kayaknya kecewa gitu. Kita juga gak tahu kalau tiba-tiba dokter Kevin berubah pikiran, siap-siap aja."


Rara : "Siap-siap apa?"


Arnold sengaja berbisik di dekat Rara untuk menggodanya. Rara hampir membalas godaan Arnold, tapi makanan mereka keburu datang.


-------


Sementara itu di dalam ruang sidang, senior ganteng yang bernama Reno itu mendekati tempat duduk Mia yang duduk sendirian. Mia tidak menyadari kalau Reno duduk di sampingnya.


Ia fokus membalas chat dari Alex yang tidak sabaran menanti pengumuman kelulusan Mia.


Reno : "Mia..."


Mia mendongak melihat Reno yang duduk di sampingnya,


Mia : "Oh, hai Reno."


Meskipun Reno senior, Mia tidak pernah memanggilnya kakak karena umur mereka hampir sama.


Reno : "Mia, habis ini kamu sibuk gak? Ada yang mau aku omongin."


Mia : "Ngomong aja disini. Aku cukup sibuk setelah ini."


Reno : "Atau kita makan siang bareng,gimana?"


Mia : "Reno, bilang aja kamu mau apa... Aku beneran gak bisa, aku sibuk."


Reno : "Mia, untuk terakhir kalinya aku tanya, kamu beneran gak mau jadi pacarku?"


Mia : "Reno, aku uda bilang kan kalau aku sudah tunangan."

__ADS_1


Reno : "Aku gak yakin, aku gak pernah lihat cowok kamu kesini. Kamu seringan jalan sama Rara aja kan."


Mia: "Rara itu calon anak tiriku. Aku akan menikah sama papanya. Setelah aku lulus, aku akan segera menikah."


Reno : "Kamu mau nikah sama om-om??!!"


Alex : "Aku belum se-tua itu, dik."


Mia dan Reno menoleh menatap Alex yang sudah duduk di samping Reno, mendengarkan percakapan mereka berdua.


Alex sudah ada di depan pintu ruang sidang ketika ia melihat Reno berjalan mendekati Mia,


Reno : "Kamu siapa?"


Mia : "Sayang, kamu disini? Katanya tadi masih meeting. Reno, ini Alex, calon suamiku."


Reno segera bangkit dan ngacir keluar ruangan, tengsin sendiri. Alex menggeser posisi duduknya di sebelah Mia yang masih memandangnya.


Alex : "Kayaknya aku perlu mempercepat pernikahan nich, semakin lama semakin bermunculan saingan berat. Anak tadi cukup tampan."


Mia : "Jangan pedulikan dia, bisanya cuma gombal. Mas ngapain disini?"


Alex : "Aku capek nunggu di kantor, gak konsen kerja juga. Pengumumanmu kenapa lama banget sich?"


Mia : "Kan nunggu mahasiswa lain selesai sidang dulu."


Alex : "Masih lama nich?"


Mia : "Itu yang terakhir. Pengumumannya lewat layar di depan nanti."


Alex : "Nanti malam, kita ng-date yuk."


Mia : "Kata mas mau ke rumah lagi, ngomongin tanggal pernikahan."


Alex : "Mamamu uda ngasi tanggalnya, ntar malem mamamu sibuk. Aku ijin aja ngajak kamu ng-date."


Mia  : "Emang mau kemana, mas?"


Alex : "Ikut aja, aku uda nyiapin semuanya."


Mia : "Iya, dech."


Layar di depan mereka berubah warna dan mulai muncul nama-nama peserta sidang skripsi tadi dengan status kelulusan mereka dan perlu revisi atau tidak.


Nama Mia muncul, LULUS tanpa REVISI. Mia berteriak senang, ia memeluk Alex dan hampir menciumnya kalau tidak ingat dimana mereka saat itu.


Alex : "Sabar, sayang. Nanti malam kamu bisa menciumku sampai puas."


Mia tersenyum malu, menatap layar kembali dengan perasaan senang dan bangga. Akhirnya kuliahnya lulus juga.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2