
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 40
“Ken, papa cuma... Maaf, Ken,” ucap Endy tampak
sangat lemah.
“Ken, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Hanya sekali
ini saja... papa,” ucap Kaori dengan wajah tanpa ekspresi.
Endy tersenyum dengan air mata berlinang. Sejak
awal ia ingin menerima Kaori, tapi Kinanti tidak ingin bersama putrinya itu.
Endy terlalu mencintai Kinanti sampai tidak berpikir kalau Kaori yang jadi
korban atas keegoisan orang tua kandungnya.
“Terima kasih, nak. Semoga kalian bahagia,” ucap
Endy lagi sebelum memalingkan wajahnya ketempat lain.
Isak tangis Endy membuat Ken merasakan kesedihan
yang sama. Kaori masih lebih beruntung karena ia mendapatkan permintaan maaf
dari Endy. Sedangkan dirinya entah kapan akan mendapatkan hal yang sama.
Setidaknya sedikit pengakuan kalau perbuatan Endy padanya juga salah. Ken hanya
menggeleng perlahan, ia tidak akan mendapatkan pengakuan yang adil dari Endy.
“Kaori, ayo kita keluar,” ajak Ken.
Saat mereka hampir mencapai pintu keluar, suara
Kinanti menghentikan langkah mereka berdua.
“Kaori...,” panggil Kinanti kali ini lebih jelas.
Kaori menoleh terlihat memasang jarak diantara
dirinya dan Kinanti. Bagi Kaori, memaafkan Endy, jauh lebih mudah daripada
memaafkan Kinanti. Gadis itu tidak pernah habis pikir, bagaimana bisa seorang
ibu yang sudah mengandung dirinya selama sembilan bulan dan melahirkannya, tega
meninggalkan bayinya pada keluarga lain.
“Tolong maafkan mama, nak,” panggil Kinanti lirih.
“Jawab pertanyaan saya, kenapa nyonya tega
meninggalkan saya? Apa karena saya buta?” tanya Kaori.
Ken menatap Kaori yang terlihat tegar, tapi tubuh
gadis itu jelas bergetar hebat. Kaori harus bertopang pada tubuh Ken atau ia
akan ambruk di lantai.
“Maafkan mama, nak. Mama yang bersalah. Mama yang
egois. Tolong maafkan mama, nak,” pinta Kinanti dengan air mata berlinang.
“Setelah saya maafkan, tolong jangan ganggu saya
dan keluarga saya lagi. Saya memaafkan perbuatan... mama dan papa. Selamat
tinggal,” ucap Kaori sambil menggenggam erat tangan Ken.
Kaori sudah tidak kuat berjalan lagi, Ken
menggendongnya menuju ruangan yang sudah disiapkan dokter Debora. Setidaknya
mereka bisa menenangkan diri disana dan sarapan. Ken membaringkan Kaori diatas
bed lalu menyelimuti tubuh kekasihnya itu dengan selimut.
“Kaori, maafkan aku. Seharusnya aku tidak membawamu
kesini,” kata Ken menyalahkan dirinya sendiri.
“Aku yang minta kesini, Ken. Nggak apa-apa. Ken, peluk,”
pinta Kaori.
Ken ikut berbaring di samping Kaori, lalu memeluk
tubuh mungil kekasihnya itu. Pria itu mencoba membujuk Kaori agar mau sarapan
dulu, sebelum Ken mengantar Kaori pulang. Tapi Kaori hanya ingin pulang saja.
Setelah Kaori merasa lebih tenang, mereka akhirnya kembali ke rumah Alex.
Rupanya kakek Martin tidak mau melewatkan
kesempatan untuk segera menikahkan Ken dan Kaori. Pria tua itu sudah ada di
rumah Alex saat Ken dan Kaori tiba disana. Keduanya langsung digiring ke ruang
tamu untuk mendengarkan rencana pernikahan yang ingin di gelar kakek Martin.
Saat pria tua itu mulai mengoceh tentang ini dan
itu, berapa banyak undangan yang harus mereka siapkan, pilihan gedung yang
mana, dan konsep pernikahan, Kaori yang masih lemah dan belum sarapan, mendadak
pingsan. Kepanikan langsung terjadi di rumah Alex. Ken segera mengangkat tubuh
Kaori dan membawanya masuk ke dalam kamar gadis itu.
“Apa yang terjadi, Ken? Kenapa Kaori bisa
pingsan?!” tanya Alex panik.
__ADS_1
Gara-gara kakek Martin ingin datang ke rumahnya,
Alex tidak jadi berangkat ke kantor. Ia juga baru tahu kalau Kaori dan Ken
pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Endy dan Kinanti.
“Dia belum sarapan tadi, opa. Kaori tidak mau makan
dan juga tadi dia sempat bicara dengan mama Kinanti dan papa Endy. Kaori bilang
kalau dia sudah memaafkan mereka, tapi Kaori tidak mau bertemu dengan mereka
berdua lagi,” ucap Ken sambil menggosok telapak kaki Kaori dengan minyak kayu
putih.
Dokter pribadi kakek Martin langsung datang
memeriksa keadaan Kaori. Gadis itu demam tinggi dan tampak sangat lelah. Kaori
sampai harus diinfus untuk meredakan demamnya. Setelah kondisi Kaori lebih
stabil, Ken keluar dari kamar gadis itu. Ia bergabung duduk di ruang tamu
dengan kakek Martin yang sedang menikmati teh hangat buatan Mia tadi.
“Kek, Kaori baru saja mengalami shock. Tolong
jangan menambah beban pikirannya lagi,” pinta Ken dengan sopan.
“Memangnya apa yang terjadi?” tanya kakek Martin.
Ken menceritakan kejadian di rumah sakit dengan
detail. Reaksi kakek Martin hanya mengangguk-angguk saja. Ken mengatakan kalau
Kaori benar-benar tegar menghadapi kenyataan yang menyakitkan hatinya. Meskipun
menangis sedih, Kaori masih bisa bicara dengan tegas pada Endy dan Kinanti. Dan
gadis itu sudah memutuskan hubungannya dengan mereka berdua.
Ketika dokter pribadi kakek Martin keluar dari
kamar Kaori, ia menyampaikan kondisi terbaru Kaori yang masih belum sadar.
Demam gadis itu baru turun sedikit dan masih butuh banyak istirahat untuk
memulihkan komdisinya. Ken menoleh menatap kakek Martin lagi,
“Sepertinya pernikahan kami harus ditunda dulu,
kek. Aku sudah bilang, kami akan menikah setelah aku kembali dari perjalanan
bisnis. Sebulan lagi, kek. Tidak akan lama,” ucap Ken.
Kakek Martin hanya bisa mengangguk menyetujui
permintaan Ken. Ia akan mengurus semuanya agar sesuai dengan keinginan Kaori
dan pernikahan akan tetap berlangsung setelah Ken pulang.
Sebulan kemudian,
Pesawat jet pribadi yang membawa Ken pulang,
akhirnya mendarat di bandara. Sebuah mobil mewah sudah menantinya di dekat
tangga pesawat. Selain Ken, ada juga Renata dan Reynold. Renata ingin
menghadiri pernikahan Kaori dan Ken, ia membujuk Reynold untuk ikut bersamanya
di pesawat pribadi milik kakek Martin. Padahal pria itu bisa memakai pesawat
jet pribadinya sendiri, tapi Renata mengatakan kalau lebih praktis ikut bersama
Ken.
Setelah mereka bertiga turun dari pesawat, Ken
menaikkan alisnya melihat dua mobil terparkir di depan tangga pesawat. Reynold
mendekati mobil mewah satunya untuk membukakan pintu untuk Renata.
“Kak Rey, mau langsung pulang atau ikut kita dulu?”
tanya Renata.
“Memangnya kalian mau kemana?” tanya Reynold tidak
suka Renata pergi dengan pria lain.
“Kami mau ambil cincin dan gaun untukku pakai besok,
kak,” sahut Renata.
Reynold memasang wajah cemberut dihadapan Ken dan
Renata. Ia ingin ikut, tapi mamanya, Rara sudah mengancam Reynold untuk menemuinya
begitu pria itu sampai. Akhirnya Reynold terpaksa melepas Ken dan Renata pergi
bersama. Dibelakang Renata, Ken yang sudah tumbuh lebih tinggi dari gadis
cantik itu, memeletkan lidahnya kearah Reynold. Mereka masih saja sering
berdebat dan bersaing meskipun Ken akan segera menikah dengan Kaori.
“Aunty, apa menurutmu Reynold punya perasaan
padamu?” tanya Ken ketika mobil sudah membawa mereka keluar dari bandara.
“Perasaan apa maksudmu?” tanya Renata nggak peka.
“Menurutku Reynold mencintaimu,” sahut Ken mulai
memanas-manasi Renata.
__ADS_1
“Ngawur. Itukan nggak boleh. Kak Rey sangat dekat
denganku karena dia tidak suka dikejar-kejar wanita lain. Kamu tahu kan kalau
kak Rey sangat tampan. Nah, dia tidak nyaman karena itu,” kata Renata serius.
“Oh ya?” tanya Ken balik dengan senyum tengilnya.
Renata memanyunkan bibir seksinya, ia tidak pernah
memikirkan kenapa Reynold selalu bersikap mesra padanya. Bukannya ia tidak
curiga, hanya saja perilaku Reynold masih sebatas wajar saja dimata Renata.
Mereka berdua mampir sebentar di sebuah toko
penjual kue di dekat bandara. Ken ingin membelikan Kaori kue kesukaannya. Saat
mereka berdua masuk ke toko itu, Ken melihat Endy dan Kinanti sedang membeli
sesuatu juga.
“Mama, papa, ngapain disini?” sapa Ken.
“Ken? Loh, kamu udah dateng. Mama mau ngirim kue
untuk calon menantu mama. Nitip sama kamu aja ya,” ucap Kinanti ramah.
“Ini Renata kan ya?” tanya Endy sambil menatap
Renata dengan intens.
“Iya, om, tante. Saya Renata, aunty-nya Kaori,”
sapa Renata ramah.
Endy dan Kinanti saling pandang lalu tersenyum
sambil mengangguk. Mereka tidak bicara apa-apa lagi karena pesanan mereka
segera siap. Kinanti memberikan kotak kue yang cukup besar untuk dibawa Ken.
“Ok, Ken. Mama dan papa akan pergi ke negara A.
Sampai ketemu lagi,” ucap Kinanti sambil memeluk Ken.
Endy juga melakukan hal yang sama pada Ken. Mereka
tidak akan menghadiri pernikahan Ken dan Kaori karena Kaori tidak mau bertemu
dengan mereka lagi. Kinanti sudah memutuskan untuk menjaga jarak dari Kaori dan
Renata. Setelah melewati situasi antara hidup dan mati, mereka berdua berusaha
menjadi orang yang lebih baik.
Endy lebih banyak membantu Ken mengawasi
perusahaan, sedangkan Kinanti belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Mereka
masih memiliki kesempatan untuk membesarkan Kenzo dan mereka tidak ingin
kehilangan kesempatan itu. Ken meminta Renata ke mobil lebih dulu karena ia
masih perlu bicara dengan Endy dan Kinanti.
“Pa, ma, yakin nggak mau datang ke acara
pernikahanku besok?” tanya Ken setelah ia berhasil mengejar mereka.
“Yakin. Mama nggak mau Kaori sedih karena kami
datang. Lagipula alasan sakitnya mama kan sudah cukup, Ken. Semoga kalian
bahagia ya,” ucap Kinanti sambil menepuk bahu Ken.
Mereka berpelukan sekali lagi sebelum Endy dan
Kinanti masuk ke mobil yang membawa mereka ke bandara. Ken berjalan cepat
kembali ke mobilnya yang segera berangkat menuju tempat pembuat cincin dan juga
penjual gaun Renata. Entah siapa yang memberitahu tentang kedatangan Ken dan
Renata ke tempat pembuatan cincin kawin Ken dan Kaori, saat mereka sampai
disana, wartawan sudah memenuhi lobby depan.
“Kenapa ramai sekali?” tanya Ken pada asistennya.
“Lapor, tuan muda. Mereka mendengar rencana
kedatangan tuan muda kesini. Sepertinya mereka berharap akan mendapatkan foto
nona Kaori, tuan muda,” sahut asistennya.
“Ada-ada saja. Renata, aku mohon bantuanmu,” ucap
Ken dengan senyum jahilnya.
Ken dan Renata keluar dari mobil dan berjalan
beriringan masuk ke lobby toko. Beberapa wartawan yang mendekati mereka,
berusaha memastikan kalau Renata adalah calon istri Ken. Tapi Ken hanya
tersenyum bersama Renata tanpa menjawab pertanyaan apapun.
Kerumunan wartawan itu mengambil foto Ken dan
Renata yang sedang mencoba cincin sambil menunggu cincin kawin Ken dan Kaori.
Renata juga ingin melihat-lihat gelang untuk ia pakai besok di acara pernikahan
Ken dan Kaori.
“Aunty, kalau suka, beli aja. Nanti aku kirim
__ADS_1
tagihannya ke Reynold,” goda Ken.