Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 40


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 40


“Ken, papa cuma... Maaf, Ken,” ucap Endy tampak


sangat lemah.


“Ken, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Hanya sekali


ini saja... papa,” ucap Kaori dengan wajah tanpa ekspresi.


Endy tersenyum dengan air mata berlinang. Sejak


awal ia ingin menerima Kaori, tapi Kinanti tidak ingin bersama putrinya itu.


Endy terlalu mencintai Kinanti sampai tidak berpikir kalau Kaori yang jadi


korban atas keegoisan orang tua kandungnya.


“Terima kasih, nak. Semoga kalian bahagia,” ucap


Endy lagi sebelum memalingkan wajahnya ketempat lain.


Isak tangis Endy membuat Ken merasakan kesedihan


yang sama. Kaori masih lebih beruntung karena ia mendapatkan permintaan maaf


dari Endy. Sedangkan dirinya entah kapan akan mendapatkan hal yang sama.


Setidaknya sedikit pengakuan kalau perbuatan Endy padanya juga salah. Ken hanya


menggeleng perlahan, ia tidak akan mendapatkan pengakuan yang adil dari Endy.


“Kaori, ayo kita keluar,” ajak Ken.


Saat mereka hampir mencapai pintu keluar, suara


Kinanti menghentikan langkah mereka berdua.


“Kaori...,” panggil Kinanti kali ini lebih jelas.


Kaori menoleh terlihat memasang jarak diantara


dirinya dan Kinanti. Bagi Kaori, memaafkan Endy, jauh lebih mudah daripada


memaafkan Kinanti. Gadis itu tidak pernah habis pikir, bagaimana bisa seorang


ibu yang sudah mengandung dirinya selama sembilan bulan dan melahirkannya, tega


meninggalkan bayinya pada keluarga lain.


“Tolong maafkan mama, nak,” panggil Kinanti lirih.


“Jawab pertanyaan saya, kenapa nyonya tega


meninggalkan saya? Apa karena saya buta?” tanya Kaori.


Ken menatap Kaori yang terlihat tegar, tapi tubuh


gadis itu jelas bergetar hebat. Kaori harus bertopang pada tubuh Ken atau ia


akan ambruk di lantai.


“Maafkan mama, nak. Mama yang bersalah. Mama yang


egois. Tolong maafkan mama, nak,” pinta Kinanti dengan air mata berlinang.


“Setelah saya maafkan, tolong jangan ganggu saya


dan keluarga saya lagi. Saya memaafkan perbuatan... mama dan papa. Selamat


tinggal,” ucap Kaori sambil menggenggam erat tangan Ken.


Kaori sudah tidak kuat berjalan lagi, Ken


menggendongnya menuju ruangan yang sudah disiapkan dokter Debora. Setidaknya


mereka bisa menenangkan diri disana dan sarapan. Ken membaringkan Kaori diatas


bed lalu menyelimuti tubuh kekasihnya itu dengan selimut.


“Kaori, maafkan aku. Seharusnya aku tidak membawamu


kesini,” kata Ken menyalahkan dirinya sendiri.


“Aku yang minta kesini, Ken. Nggak apa-apa. Ken, peluk,”


pinta Kaori.


Ken ikut berbaring di samping Kaori, lalu memeluk


tubuh mungil kekasihnya itu. Pria itu mencoba membujuk Kaori agar mau sarapan


dulu, sebelum Ken mengantar Kaori pulang. Tapi Kaori hanya ingin pulang saja.


Setelah Kaori merasa lebih tenang, mereka akhirnya kembali ke rumah Alex.


Rupanya kakek Martin tidak mau melewatkan


kesempatan untuk segera menikahkan Ken dan Kaori. Pria tua itu sudah ada di


rumah Alex saat Ken dan Kaori tiba disana. Keduanya langsung digiring ke ruang


tamu untuk mendengarkan rencana pernikahan yang ingin di gelar kakek Martin.


Saat pria tua itu mulai mengoceh tentang ini dan


itu, berapa banyak undangan yang harus mereka siapkan, pilihan gedung yang


mana, dan konsep pernikahan, Kaori yang masih lemah dan belum sarapan, mendadak


pingsan. Kepanikan langsung terjadi di rumah Alex. Ken segera mengangkat tubuh


Kaori dan membawanya masuk ke dalam kamar gadis itu.


“Apa yang terjadi, Ken? Kenapa Kaori bisa


pingsan?!” tanya Alex panik.

__ADS_1


Gara-gara kakek Martin ingin datang ke rumahnya,


Alex tidak jadi berangkat ke kantor. Ia juga baru tahu kalau Kaori dan Ken


pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Endy dan Kinanti.


“Dia belum sarapan tadi, opa. Kaori tidak mau makan


dan juga tadi dia sempat bicara dengan mama Kinanti dan papa Endy. Kaori bilang


kalau dia sudah memaafkan mereka, tapi Kaori tidak mau bertemu dengan mereka


berdua lagi,” ucap Ken sambil menggosok telapak kaki Kaori dengan minyak kayu


putih.


Dokter pribadi kakek Martin langsung datang


memeriksa keadaan Kaori. Gadis itu demam tinggi dan tampak sangat lelah. Kaori


sampai harus diinfus untuk meredakan demamnya. Setelah kondisi Kaori lebih


stabil, Ken keluar dari kamar gadis itu. Ia bergabung duduk di ruang tamu


dengan kakek Martin yang sedang menikmati teh hangat buatan Mia tadi.


“Kek, Kaori baru saja mengalami shock. Tolong


jangan menambah beban pikirannya lagi,” pinta Ken dengan sopan.


“Memangnya apa yang terjadi?” tanya kakek Martin.


Ken menceritakan kejadian di rumah sakit dengan


detail. Reaksi kakek Martin hanya mengangguk-angguk saja. Ken mengatakan kalau


Kaori benar-benar tegar menghadapi kenyataan yang menyakitkan hatinya. Meskipun


menangis sedih, Kaori masih bisa bicara dengan tegas pada Endy dan Kinanti. Dan


gadis itu sudah memutuskan hubungannya dengan mereka berdua.


Ketika dokter pribadi kakek Martin keluar dari


kamar Kaori, ia menyampaikan kondisi terbaru Kaori yang masih belum sadar.


Demam gadis itu baru turun sedikit dan masih butuh banyak istirahat untuk


memulihkan komdisinya. Ken menoleh menatap kakek Martin lagi,


“Sepertinya pernikahan kami harus ditunda dulu,


kek. Aku sudah bilang, kami akan menikah setelah aku kembali dari perjalanan


bisnis. Sebulan lagi, kek. Tidak akan lama,” ucap Ken.


Kakek Martin hanya bisa mengangguk menyetujui


permintaan Ken. Ia akan mengurus semuanya agar sesuai dengan keinginan Kaori


dan pernikahan akan tetap berlangsung setelah Ken pulang.


Sebulan kemudian,


Pesawat jet pribadi yang membawa Ken pulang,


akhirnya mendarat di bandara. Sebuah mobil mewah sudah menantinya di dekat


tangga pesawat. Selain Ken, ada juga Renata dan Reynold. Renata ingin


menghadiri pernikahan Kaori dan Ken, ia membujuk Reynold untuk ikut bersamanya


di pesawat pribadi milik kakek Martin. Padahal pria itu bisa memakai pesawat


jet pribadinya sendiri, tapi Renata mengatakan kalau lebih praktis ikut bersama


Ken.


Setelah mereka bertiga turun dari pesawat, Ken


menaikkan alisnya melihat dua mobil terparkir di depan tangga pesawat. Reynold


mendekati mobil mewah satunya untuk membukakan pintu untuk Renata.


“Kak Rey, mau langsung pulang atau ikut kita dulu?”


tanya Renata.


“Memangnya kalian mau kemana?” tanya Reynold tidak


suka Renata pergi dengan pria lain.


“Kami mau ambil cincin dan gaun untukku pakai besok,


kak,” sahut Renata.


Reynold memasang wajah cemberut dihadapan Ken dan


Renata. Ia ingin ikut, tapi mamanya, Rara sudah mengancam Reynold untuk menemuinya


begitu pria itu sampai. Akhirnya Reynold terpaksa melepas Ken dan Renata pergi


bersama. Dibelakang Renata, Ken yang sudah tumbuh lebih tinggi dari gadis


cantik itu, memeletkan lidahnya kearah Reynold. Mereka masih saja sering


berdebat dan bersaing meskipun Ken akan segera menikah dengan Kaori.


“Aunty, apa menurutmu Reynold punya perasaan


padamu?” tanya Ken ketika mobil sudah membawa mereka keluar dari bandara.


“Perasaan apa maksudmu?” tanya Renata nggak peka.


“Menurutku Reynold mencintaimu,” sahut Ken mulai


memanas-manasi Renata.

__ADS_1


“Ngawur. Itukan nggak boleh. Kak Rey sangat dekat


denganku karena dia tidak suka dikejar-kejar wanita lain. Kamu tahu kan kalau


kak Rey sangat tampan. Nah, dia tidak nyaman karena itu,” kata Renata serius.


“Oh ya?” tanya Ken balik dengan senyum tengilnya.


Renata memanyunkan bibir seksinya, ia tidak pernah


memikirkan kenapa Reynold selalu bersikap mesra padanya. Bukannya ia tidak


curiga, hanya saja perilaku Reynold masih sebatas wajar saja dimata Renata.


Mereka berdua mampir sebentar di sebuah toko


penjual kue di dekat bandara. Ken ingin membelikan Kaori kue kesukaannya. Saat


mereka berdua masuk ke toko itu, Ken melihat Endy dan Kinanti sedang membeli


sesuatu juga.


“Mama, papa, ngapain disini?” sapa Ken.


“Ken? Loh, kamu udah dateng. Mama mau ngirim kue


untuk calon menantu mama. Nitip sama kamu aja ya,” ucap Kinanti ramah.


“Ini Renata kan ya?” tanya Endy sambil menatap


Renata dengan intens.


“Iya, om, tante. Saya Renata, aunty-nya Kaori,”


sapa Renata ramah.


Endy dan Kinanti saling pandang lalu tersenyum


sambil mengangguk. Mereka tidak bicara apa-apa lagi karena pesanan mereka


segera siap. Kinanti memberikan kotak kue yang cukup besar untuk dibawa Ken.


“Ok, Ken. Mama dan papa akan pergi ke negara A.


Sampai ketemu lagi,” ucap Kinanti sambil memeluk Ken.


Endy juga melakukan hal yang sama pada Ken. Mereka


tidak akan menghadiri pernikahan Ken dan Kaori karena Kaori tidak mau bertemu


dengan mereka lagi. Kinanti sudah memutuskan untuk menjaga jarak dari Kaori dan


Renata. Setelah melewati situasi antara hidup dan mati, mereka berdua berusaha


menjadi orang yang lebih baik.


Endy lebih banyak membantu Ken mengawasi


perusahaan, sedangkan Kinanti belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Mereka


masih memiliki kesempatan untuk membesarkan Kenzo dan mereka tidak ingin


kehilangan kesempatan itu. Ken meminta Renata ke mobil lebih dulu karena ia


masih perlu bicara dengan Endy dan Kinanti.


“Pa, ma, yakin nggak mau datang ke acara


pernikahanku besok?” tanya Ken setelah ia berhasil mengejar mereka.


“Yakin. Mama nggak mau Kaori sedih karena kami


datang. Lagipula alasan sakitnya mama kan sudah cukup, Ken. Semoga kalian


bahagia ya,” ucap Kinanti sambil menepuk bahu Ken.


Mereka berpelukan sekali lagi sebelum Endy dan


Kinanti masuk ke mobil yang membawa mereka ke bandara. Ken berjalan cepat


kembali ke mobilnya yang segera berangkat menuju tempat pembuat cincin dan juga


penjual gaun Renata. Entah siapa yang memberitahu tentang kedatangan Ken dan


Renata ke tempat pembuatan cincin kawin Ken dan Kaori, saat mereka sampai


disana, wartawan sudah memenuhi lobby depan.


“Kenapa ramai sekali?” tanya Ken pada asistennya.


“Lapor, tuan muda. Mereka mendengar rencana


kedatangan tuan muda kesini. Sepertinya mereka berharap akan mendapatkan foto


nona Kaori, tuan muda,” sahut asistennya.


“Ada-ada saja. Renata, aku mohon bantuanmu,” ucap


Ken dengan senyum jahilnya.


Ken dan Renata keluar dari mobil dan berjalan


beriringan masuk ke lobby toko. Beberapa wartawan yang mendekati mereka,


berusaha memastikan kalau Renata adalah calon istri Ken. Tapi Ken hanya


tersenyum bersama Renata tanpa menjawab pertanyaan apapun.


Kerumunan wartawan itu mengambil foto Ken dan


Renata yang sedang mencoba cincin sambil menunggu cincin kawin Ken dan Kaori.


Renata juga ingin melihat-lihat gelang untuk ia pakai besok di acara pernikahan


Ken dan Kaori.


“Aunty, kalau suka, beli aja. Nanti aku kirim

__ADS_1


tagihannya ke Reynold,” goda Ken.


__ADS_2