
Setelah makan siang romantis yang lama banget, Riri bersiap bertemu dengan kakek Michael. Elo menuntun Riri menuruni tangga untuk bertemu kakeknya yang sedang duduk di ruang keluarga.
Pak Michael : "Riri, selamat datang lagi. Duduk sini dekat kakek."
Riri : "Pak Michael, apa kabar?"
Pak Michael : "Oho... Panggil kakek ya."
Riri mencium tangan kakek Michael sebelum duduk. Ia duduk di kursi yang sudah ditarik Elo. Elo juga mencium tangan kakeknya.
Pak Michael : "Kalian sudah makan?"
Riri : "Sudah, kek."
Pak Michael : "Bagus, bagus. Habis ini rencananya kalian mau ngapain lagi?"
Riri menatap Elo, minta bantuan menjawab pertanyaan kakek Elo.
Elo : "Habis ini mau jalan-jalan keliling halaman lagi. Tadi karena hujan... Ini masih hujan gak ya?"
Elo celingukan melihat cuaca di luar dari tempat ia duduk dan itu jelas sesuatu hal yang mustahil dilakukan mengingat besarnya ruangan tempat ia duduk.
Riri : "Masih deres hujannya, kak."
Elo : "Kok bisa tau?"
Riri : "Tadi kita jalan kesini kan nglewatin jendela besar. Keliatan disana, emangnya kakak gak liat?"
Elo : "Aku kan sibuk ngliatin kamu. Mana sempat ngliat yang lain."
Bluss. Wajah Riri memerah mendengar gombalan Elo. Apalagi Elo mengatakannya dihadapan kakeknya. Ini anak gak malu apa?
Pak Michael : "Hahaha... Kalau masih hujan, kalian pakai mobil kakek aja."
Elo : "Emang boleh, kek?"
Pak Michael : "Kim!"
Pak Kim muncul entah darimana membawa sebuah kunci dan memberikannya pada Elo.
Elo : "Wow! Asyik, ayo Ri."
Riri : "Tapi, kakek..."
Pak Michael : "Pergilah. Selamat bersenang-senang."
Riri pasrah ditarik Elo ke tangga menuju ke bawah. Lagi-lagi ia terpesona melihat kolam renang bisa terlihat dari sana. Dilapisi kaca tebal, air jernih di kolam memancarkan cahaya ke dalam ruangan dibawah tangga itu.
Asyik memperhatikan kolam, Riri tidak menyadari kalau Elo sudah berdiri di depannya. Tangan Elo menyentuh pipi Riri dan menolehkan wajah Riri menghadapnya. Cup. Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Riri.
Untuk sesaat Riri terpana menerima serangan Elo, tapi detik berikutnya, ia mendorong Elo untuk melepaskan ciumannya.
Riri : "Kak... Nanti ada yang lihat."
Elo : "Gak ada orang disini, Ri."
Riri : "Aku malu, kak."
Elo menarik tangan Riri berjalan lagi ke sebuah ruangan yang dipenuhi mobil aneka warna dan tipe. Riri menahan Elo,
Riri : "Kak, kita ngapain kesini?"
__ADS_1
Elo : "Ngambil mobil kakek. Kita boleh pakai keliling lagi."
Riri : "Bukannya yang tadi uda selesai ya?"
Elo : "Kamu belum lihat peternakan kakek. Kami produksi susu sendiri loh."
Riri : "Susu sapi? Kakek punya sapi?!"
Elo melihat wajah Riri yang senang sekaligus penasaran.
Elo : "Makanya, ayo cepat."
Mereka sampai di depan mobil yang bagian atasnya terbuat dari kaca.
Riri : "Wow!"
Elo : "Bagus kan? Ayo masuk."
Elo membuka pintu mobil untuk Riri dan masuk juga. Ia mulai mengendarai mobil keluar dari garasi.
Riri bisa melihat hujan masih turun dengan derasnya tapi mereka masih bisa melihat pemandangan di luar.
Elo : "Kakek suka banget jalan-jalan disekitar sini. Makanya kakek beli mobil ini. Jadi meskipun hujan, rasanya tetap sama dengan naik mobil yang tadi. Biasanya kakek gak ngasih pinjem mobil ini, tapi sepertinya kakek mulai perhatian sama kamu."
Riri : "Oh ya, mungkin kakek sangat sayang sama kakak. Makanya ngasih pinjem."
Elo : "Semua orang di rumah ini, bahkan cucu kesayangannya sekalipun gak boleh pinjem mobil ini, Ri. Serius."
Riri : "Termasuk Elena?"
Riri mengutuk mulutnya yang keceplosan menyebut nama Elena lagi.
Riri tidak berkomentar lagi, ia tidak ingin besar kepala duluan mengetahui dirinya dan Elo yang pertama mengendarai mobil kesayangan kakek Elo.
Ia masih takut kalau harus menjadi menantu orang kaya. Meskipun itu adalah takdirnya nanti bersama Elo, ia akan menjalani dengan baik. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menjalani hidupnya pelan-pelan sampai waktunya tepat.
Mereka sampai di depan peternakan kakek Elo. Deretan pantat sapi terlihat dari luar. Seorang pekerja, berjalan cepat membawa payung mendekati mobil dan mengarahkan mobil ke bangunan di samping kandang sapi.
Elo menuntun Riri turun dari mobil setelah mereka parkir di bawah kanopi. Mereka menghabiskan waktu sampai sore untuk melihat-lihat sapi dan proses pengolahan susu segar disana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Di rumah Alex, Mia sedang menyusui baby Reva di ruang keluarga saat Kaori dan Rio tiba. Kaori masuk ke kamar mandi dulu dan mencuci tangannya sebelum duduk di samping baby Rava yang tertidur beralaskan kasur kecil.
Rio : "Kamu ngapain ke kamar mandi?"
Kaori : "Cuci tangan. Kamu gak cuci tangan, jangan pegang-pegang adikmu."
Rio : "Kenapa gitu? Tanganku bersih."
Kaori : "Kita kan gak tau kalau ada virus nempel di tangan. Kasian adik bayinya kalau sampai sakit."
Mia : "Tuch, Kaori aja paham loh. Cepat cuci tangan, habis itu buatin minum buat Kaori."
Rio nurut aja, melawan satu perempuan uda belum tentu menang, ini harus lawan dua, bisa kelar urusannya.
Rio kembali membawa es sirup dalam satu gelas besar yang tinggi.
Rio : "Neh, minum."
Kaori : "Kenapa gelasnya besar sekali?!"
__ADS_1
Rio : "Buat kita berdua, kasian mb Minah kalau harus cuci gelas banyak-banyak."
Kaori : "Kan bisa kucuci sendiri. Kamu lebay deh."
Mia : "Uda, kan lebih romantis segelas berdua."
Kaori cemberut menatap Rio, perhatiannya teralihkan saat baby Rava terbangun. Bayi itu menangis sebentar dan terlihat gelisah.
Kaori : "Dia kenapa, kak?"
Mia : "Coba raba pantatnya, basah gak?"
Kaori melakukan yang diminta Mia dan mengangguk.
Kaori : "Iya, basah kak."
Mia : "Waduh, gimana nich. Mana Reva gak mau lepas lagi."
Mia tersenyum manis menatap Rio yang tiba-tiba merinding.
Rio : "Apa?!"
Kaori juga ikut tersenyum manis sambil mengedipkan matanya pada Rio.
Rio : "Oh, okey. Mana popoknya?"
Rio membuka bedong yang membungkus baby Rava. Bayi itu bahkan tidak menjerit seperti bayi yang basah pada umumnya. Ia tampak tenang menatap Rio.
Rio : "Ok, pria kecil. Tunjukkan padaku."
Entah kebetulan atau tidak, baby Rava tersenyum saat Rio membuka popoknya dan terlihat hasil olahan perut kecilnya disana.
Kaori dengan cepat menyodorkan kapas basah hangat pada Rio dan juga popok kering.
Rio : "Kenapa gak pake tissu basah aja?"
Kaori : "Karena dingin? Kau bisa bayangkan pantatmu kena air dingin."
Rio : "Astaga, itu hanya dingin sebentar. Kita tidak masukkan dia ke kulkas kan?"
Tiba-tiba tangan Rio terasa hangat. Baby Rava mengencinginya, terlihat sangat puas bisa melakukannya.
Rio : "Kau puas sekarang."
Rio berkata pada Kaori yang menahan tawanya melihat ulah baby Rava.
Kaori : "Iya... Maaf, tapi itu lucu sekali."
Kaori membantu Rio mengganti popok dan bedong baby Rava. Mereka melakukannya sesuai petunjuk dari Mia.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1