
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 34
Kaori meraba-raba ke samping, ia menemukan ponsel Ken diatas nakas lalu menggenggamnya dengan erat. Selesai berpakaian, Ken menuntun Kaori keluar dari kamarnya. Ken mengaktifkan pelacak di ponselnya
untuk menemukan keberadaan Endy dan Kinanti. Ia lebih cepat melakukannya dan tak lama, notifikasi pemberitahuan keberadaan Endy masuk ke ponsel Ken.
“Kaori, aku anterin kamu pulang dulu ya? Tidak nyaman kalau kamu ikut ke rumah sakit malam-malam begini,” kata Ken ketika mereka sampai di dekat mobil.
“Nggak mau, Ken. Aku kuatir sama mama Kinanti. Kita ke rumah sakit dulu ya,” pinta Kaori.
Ken tidak ingin berdebat dengan Kaori, ia mengabulkan keinginan calon istrinya itu dan mereka segera berangkat menuju rumah sakit tempat dokter Debora praktek.
**
Sementara itu di rumah sakit, dokter Debora sedang mencoba menyadarkan Kinanti yang sempat sadarkan diri dalam perjalanan tapi kembali pingsan setelah sampai di rumah sakit. Endy menunggu dengan gelisah di
depan ruangan periksa dokter bersama Alan yang setia disisinya.
“Bagaimana keadaannya, dokter?” tanya Endy ketika dokter Debora keluar dari ruang periksa.
“Saya tidak mengira kalau reaksi Nyonya akan seperti ini. Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya dokter Debora.
Endy menoleh pada Alan, memberi tanda agar pria itu menjauh dari mereka berdua. Alan segera pergi dari sana, ia melangkah ke dekat balkon lalu duduk disana. Tanpa Alan sadari, Ken dan Kaori sudah sampai di
rumah sakit. Mereka berdua sedang berjalan mendekati ruang periksa Kinanti.
“Kaori, kamu yakin mau disini? Ini sudah tengah malam, kamu nggak ngantuk?” tanya Ken memastikan keadaan Kaori.
“Aku nggak apa-apa, Ken. Kita pastikan dulu keadaan mama Kinanti ya. Kamu tahu dimana ruangannya?” tanya Kaori.
“Iya, sepertinya di depan situ. Hati-hati ada kursi,” kata Ken sambil menarik Kaori sedikit ke tengah.
Mereka berdua berhenti di depan ruang periksa Kinanti yang tidak tertutup sempurna. Ken masih belum tahu pasti dimana Kinanti dirawat, ia mencoba melacak ponsel Alan untuk memastikan dimana pria itu berada. Kaori mengangguk saat Ken memintanya menunggu di kursi sebentar. Pria itu akan berjalan ke ujung lorong untuk melihat apa ada seseorang yang bisa ia tanyai.
“Aku bisa lihat kamu kok. Ini lorongnya lurus memanjang, aku ke ujung sana sebentar ya,” kata Ken.
Saat menunggu Ken, Kaori mendengar suara Endy dari ruangan di depannya. Mendengar namanya disebut, Kaori berdiri dari duduknya lalu mendekat ke depan ruangan itu. Ia berdiri di dekat pintu dan mendengarkan
sesuatu yang sangat mengejutkannya.
“Dokter, kata dokter cuma perlu bertemu dan bicara saja dengan Kaori dan Renata. Mereka sudah bertemu, sudah bicara. Apalagi yang kurang? Kenapa reaksi Kinanti jadi seperti ini?” tanya Endy.
“Emosinya jadi tidak stabil, tuan. Apa ada sesuatu yang penting?” tanya dokter Debora.
__ADS_1
Endy mengingat sesuatu yang Kinanti anggap penting, ia menggosok keningnya mencoba mengingat. “Ya, dokter. Kaori sempat memanggilnya mama. Dia akan segera menikah dengan Ken atau dengan kata lain,
Kaori akan segera menjadi menantu kami,” kata Endy akhirnya.
“Apa Kaori tahu kalau kalian orang tua kandungnya?” tanya dokter Debora.
Prak! Endy menoleh ketika mendengar suara benda beradu. Kaori tidak sengaja melepaskan tongkatnya hingga mengenai ujung pintu. Untung saja tali tongkat itu masih terlilit di tangannya hingga tidak jatuh
menggelinding di lantai. Gadis itu melangkah mundur dengan mimik wajah shock.
“Kaori, kamu kenapa?” tanya Ken yang berlari menghampirinya.
“Apa maksudnya itu? Kenapa dia bilang begitu? Orang tua kandung?! Ken, apa yang terjadi disini?!” tanya Kaori dengan suara mulai meninggi.
Endy membuka pintu ruangan itu dan menatap reaksi Kaori. Ken juga sama terkejutnya dengan kata-kata Kaori barusan. Untuk sesaat ia sangat menyesal karena meninggalkan Kaori sendirian tadi. Seharusnya Kaori
tidak mendengarkan apapun pembicaraan Endy di ruangan itu.
“Jawab, Ken! Apa maksud wanita itu? Kenapa dia bilang kalau orang tua kandungku adalah papa dan mamamu?” tanya Kaori dengan mata berkaca-kaca.
“Kaori, tenang dulu ya. Aku mohon tenanglah. Kita bicarakan baik-baik. Sini duduk dulu ya,” bujuk Ken sambil merangkul pinggang Kaori.
“Jangan pegang aku, Ken. K—kalau itu benar, artinya kita saudara. Hubungan kita terlarang!” cetus Kaori membuat Ken menggeleng.
Kaori menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia menangis cukup keras sampai Ken mulai panik. Ia tidak bisa menenangkan Kaori, bahkan dokter Debora juga tidak bisa. Akhirnya Ken hanya bisa menelpon Alex. Kaori terus menangis, sampai sesenggukan. Ia tidak mau mendengarkan siapapun, bahkan Endy sekalipun.
sangat bahagia karena memiliki orang tua yang sangat menyayanginya dan opa yang selalu ada untuknya.
Kebahagiaannya bertambah ketika menemukan cinta pada Ken yang tulus mencintainya tanpa melihat kekurangan pada matanya. Restu dari kedua orang tua mereka dan persiapan pernikahan yang baru saja mereka bicarakan. Hati Kaori hancur mendengar kebenaran, ia bukanlah anak dari keluarga Alex. Kaori bukanlah cucu kandung Alex. Jadi siapa dirinya sebenarnya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi pikirannya, Kaori memegang kepalanya dengan air mata terus mengalir. Nafasnya juga terasa sesak dengan emosi yang campur aduk. Kaori masih belum bisa menerima apa yang ia dengar tadi. Batinnya terbagi dua antara menolak apa yang didengarnya dan ragu apakah hal itu memang benar.
Kedatangan Alex dan Mia ke rumah sakit, membuat suasana lebih mencekam. Alex sengaja tidak memberitahu Rio karena takut Kaori akan semakin terluka mendengar pertengkaran Rio dan Endy nantinya. Ken menatap Alex dan Mia yang menatapnya dengan tatapan kecewa. Itu yang bisa dilihat Ken dari kedua raut wajah orang tua kandungnya.
Ken sadar, dia yang salah. Seharusnya Ken tegas saat Kaori ingin ikut ke rumah sakit. Kekasihnya itu lebih aman kalau saja Ken mau mengantarnya ke rumah Alex dulu. Akibat kelalaiannya, Kaori harus mendengar
kebenaran tentang kelahirannya.
“Om, maaf... Kaori...,” ucap Ken terbata-bata.
“Cukup, Ken. Om akan bawa Kaori pulang sekarang. Tolong jangan ganggu dia dulu,” ucap Alex dingin.
Mia yang tidak tega melihat ekspresi sedih Ken, ingin menghibur putranya itu, tapi ia lebih memilih membawa Kaori pulang dulu. Saat ini Kaori lebih membutuhkan ketenangan daripada mendengar keributan yang
__ADS_1
lebih parah. Sebelum pergi, Alex mendekati Ken lagi, ditepuknya pundak putra kandungnya itu.
“Papa tidak bisa membayangkan kemarahan Rio nanti. Untuk sementara, jangan datang dulu ke rumah ya. Papa akan coba bicara baik-baik pada Rio. Papa yakin, hubungan kalian akan segera membaik. Kamu harus
sabar, nak,” bisik Alex.
Ken hanya mengangguk, ia hanya bisa menatap kosong saat Kaori dibawa Alex dan Mia pergi dari rumah sakit itu. Dalam hatinya Ken hanya berharap kalau salah paham yang tadi sempat dikatakan Kaori, bisa dibereskan dengan cepat. Hubungan mereka bukan kakak beradik. Ken tidak berbohong saat mengatakan kalau dia bukanlah anak kandung Endy dan Kinanti. Ia hanya belum mengatakan yang sebenarnya kalau Ken adalah putra kandung Alex dan Mia.
Pusing memikirkan hal rumit yang terjadi dalam hidupnya, Ken hanya bisa bersandar di dinding rumah sakit yang dingin. Tubuhnya meluncur turun sampai terduduk di lantai rumah sakit. Ken membenamkan kepalanya
diantara lututnya, ia menangis sedih meratapi takdir yang mempermainkan kehidupan dan sekarang cintanya.
Endy menatap pada Ken yang menangis sendirian, ia mengambil ponselnya lalu menelpon Alan. Pria itu segera datang dan menemani Ken dengan ekspresi kebingungan. Alan sama sekali tidak tahu apa yang telah
terjadi. Ken juga diam saja ketika Alan bertanya kenapa dirinya menangis.
**
Keesokan paginya, Alex menatap wajah Kaori yang masih terisak dalam tidurnya. Sepertinya gadis itu menangis dalam mimpinya juga. Semalam, ketika Alex, Mia, dan Kaori tiba kembali di rumah Alex, Kaori
ingin langsung masuk ke kamarnya. Gadis itu tidak bicara apa-apa, bahkan tidak bertanya tentang kebenaran yang ia dengar.
Alex yang kuatir pada Kaori, memilih tidur di kamar cucunya itu. Sepanjang malam, Alex menggenggam tangan Kaori, mencoba menenangkan gadis itu. Alex tahu kalau Kaori gelisah dalam tidurnya, meskipun sudah memejamkan mata, gadis itu sulit tertidur.
“Kaori, maafkan opa ya. Opa tidak bisa menjagamu dengan baik. Pasti kamu kecewa sama opa. Tapi opa merahasiakan ini karena kuatir sama kamu, Kaori,” ucap Alex sambil mengelus kepala Kaori.
Melihat Kaori masih tertidur, Alex memutuskan keluar dari kamar cucunya itu. Ia melihat Mia, Rio, dan Gadis sudah menunggu di meja makan. Sepertinya penghuni yang lain sudah berangkat ke tempat aktifitas
masing-masing. Alex duduk di meja makan juga. Mia menghidangkan kopi dan juga sarapan untuk suaminya itu. Jelas terlihat kalau Alex tidak tidur nyenyak semalaman.
“Pah, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Rio yang tidak sabaran.
Mia memberi tanda agar Rio diam dulu dan membiarkan Alex menghabiskan sarapannya. Rio menghembuskan nafas berat, ia tidak bisa meredam amarahnya kalau sudah berhubungan dengan Endy dan Kinanti. Kalau sampai Kaori tersakiti karena ulah mereka, Rio tidak segan-segan akan melabrak kedua
orang itu.
“Sepertinya Kaori sudah tahu rahasia kelahirannya,” ucap Alex setelah sarapannya habis. “Papa tidak tahu pasti. Semalam Ken bilang kalau Kaori ikut dengannya ke rumah sakit karena Kinanti tiba-tiba masuk rumah
sakit. Ken juga tidak tahu kejadian pastinya, dia ninggalin Kaori di lorong rumah sakit untuk mengecek ruangan Kinanti,” jelas Alex menceritakan apa yang dikatakan Ken semalam di telpon.
“Aku udah bilang sama dia jangan ninggalin Kaori sendirian, lihat akibatnya sekarang!” bentak Rio emosi.
Gadis meminta Rio untuk tenang dulu. Mereka harus mendengarkan cerita Alex sebelum memutuskan akan melakukan apa nanti. Rio hanya bisa mendengus kesal, ia selalu tidak bisa tidak mendengarkan Gadis.
__ADS_1
“Ken hanya sebentar meninggalkan Kaori, ia juga bilang kalau Kaori masih terlihat dari tempat ia berdiri di ujung lorong. Melihat Kaori berdiri di depan pintu yang ada didepannya, Ken buru-buru kembali untuk menemaninya lagi. Rupanya didalam ruangan itu ada Endy yang sedang bicara dengan dokter. Kaori mendengar waktu dokter mengatakan tentang orang tua kandungnya,” jelas Alex lagi.
Mereka berempat terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Alex lebih kepikiran bagaimana menghadapi Kaori setelah gadis itu terbangun nanti. Ia bimbang antara bersikap pura-pura tidak tahu atau mengatakan yang sebenarnya.