
Kaori : “Aku di
rumah sakit XX.”
Jodi : “Tunggu aku
kesana.”
Kaori : “Kak!
Jangan kasi tahu kak Katty. Dia hamil...”
Jodi : “Aku tahu.”
Telpon terputus dan
Kaori memeluk Rio lagi. Ia mengatakan kalau Jodi akan segera menyusul mereka ke
rumah sakit. Kaori segera masuk ke dalam ruang dokter dan memberitahu pada
mamanya kalau Jodi akan datang.
Mama : “Kita tidak
boleh merepotkan mereka, nak. Itu sangat memalukan, kalau papa tau...”
Kaori : “Nggak,
mah. Kaori bilang kita meminjam uang itu dan akan mencicilnya. Maaf, mah. Kaori
terpaksa ngasi tahu kak Jodi.”
Mereka berpelukan
saling menguatkan dengan air mata mengalir deras ke pipi. Seseorang mengetuk
pintu ruang dokter dan Jodi masuk bersama seorang pria paruh baya. Dokter yang
melihat pria itu langsung berdiri dan mempersilakan pria itu duduk di kursinya
tadi.
Jodi mendekati mama
Kaori yang masih menangis dan memeluknya. Jodi mengatakan semuanya akan
baik-baik saja. Setelah pria itu dan dokter berdiskusi sebentar, pria itu
melaporkan kondisi papa Kaori pada Jodi.
Operasi bisa segera
dilakukan di rumah sakit itu dan tim dokter sedang dalam perjalanan ke rumah
sakit. Jodi memerintahkan agar segala sesuatunya disiapkan dengan baik termasuk
kamar VVIP untuk istirahat mertuanya. Pria itu dan dokter keluar dari ruang
dokter untuk bersiap-siap juga.
Jodi : “Ma, tenang
saja ya. Papa akan baik-baik saja. Dokter terbaik sudah menangani papa. Ayo,
kita lihat papa dulu.”
Jodi menuntun
mertuanya keluar dari ruang dokter dan Kaori mengusul mereka bersama Rio.
Mereka melihat papa Kaori dibawa keluar dari ruang ICU.
Jodi ingin
melepaskan tangannya dari lengan mama mertuanya saat papa Kaori menunjuk
dirinya. Tapi tidak jadi mengingat mama mertuanya sedang memerlukan dukungan
darinya. Jodi mendekati papa Kaori, ia mendengar papa mertuanya menyebut nama
Katty.
Jodi : “Katty belum
tahu, pa. Papa tenang aja ya. Jangan banyak berpikir. Jodi jagain mama dulu.”
Papa Kaori
tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum masuk ruang operasi. Kaori
mengatupkan kedua tangannya memohon agar operasi papanya berjalan dengan
lancar.
*****
Lili mengetuk pintu
kamar Elo. Ia sudah membawa makanan untuk kedua pengantin baru itu. Lili
__ADS_1
menarik nafas panjangnya untuk menenangkan diri, ia harus siap melihat apapun
yang terjadi di dalam kamar itu.
Ceklek! Pintu kamar
terbuka, Elo membuka pintu dengan tubuh berbalut bathrobe. Lili membawa masuk
nampan dan matanya langsung tertuju pada sosok Riri yang terlihat mempesona
dengan rambut ikalnya. Riri masih duduk diatas tempat tidur, selimut yang
menutupi dirinya tidak bisa menyembunyikan bahunya yang terlihat mengintip dari
balik selimut tebal itu.
Ditambah cahaya
matahari yang masuk melalui jendela berhiaskan korden berwarna putih menjadi
latar belakang yang sangat mengesankan. Riri terlihat seperti bidadari yang
baru saja terbangun dari tempat tidur awan.
Lili terpaku di
tempatnya, ia bahkan memegang nampan berisi makanan itu dengan erat. Ia takut
membuat suara sekecil apapun agar tidak membuat Riri terkejut dan akhirnya
meredup kembali karena rasa malu yang selalu membuatnya menunduk.
Lili tidak menyukai
itu, nona Riri-nya harus selalu terlihat bersinar. Menunduk hanya akan membuat
wajah cantiknya kehilangan sinarnya. Riri menoleh pada Lili dan tersenyum.
Riri : “Selamat
pagi, Lili. Apa tidurmu nyenyak?”
Pagi? Ini sudah
siang, hampir jam 12 siang. Tapi Lili tidak peduli, nona Riri-nya terlihat
baik-baik saja dengan jeritan yang ia dengar beberapa saat yang lalu. Semuanya
tampak baik-baik saja.
Riri : “Lili? Kau
Lili tersentak, ia
seharusnya membalas salam dari nona-nya. Lili meletakkan nampan yang
dipegangnya di atas meja dan membungkuk.
Lili : “Selamat
siang, nona. Saya sangat baik. Ada lagi yang bisa saya bantu?”
Elo : “Lili, bisa
bantu kami mengganti seprai? Aku akan membantu Riri mandi dulu.”
Lili : “Baik, tuan
muda.”
Elo mengangkat
tubuh Riri yang terbalut selimut dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Lili dengan cepat menarik selimut yang tersisa diatas tempat tidur. Ia tertegun
melihat bercak darah mengotori seprai di bagian tengah tempat tidur itu.
Lili menoleh
menatap pintu kamar mandi, apa nona Riri terluka? Atau tuan muda yang terluka?
Lili menggelengkan kepalanya, ia akan mengetahuinya nanti. Lili kembali menarik
semua lapisan seprai sampai tidak tersisa apapun diatas tempat tidur.
Dengan cepat, Lili
memasang seprai baru dan merapikan tempat tidur kembali. Ia memasukkan seprai
kotor itu ke dalam kantong laundry dan meletakkannya di sudut kamar. Lili
berdiri di dekat pintu keluar, ia sedikit ragu harus tetap disini atau keluar.
Pintu kamar mandi
terbuka, Riri dan Elo keluar dari sana dengan rambut basah dan tubuh berbalut
bathrobe. Lili membungkuk sopan, ia menunggu perintah selanjutnya.
__ADS_1
Elo : “Keluarlah.”
Lili seperti
teringat sesuatu, ia memberanikan diri untuk bertanya apa Riri terluka. Riri
tentu saja menggeleng dan balik bertanya kenapa Lili bertanya begitu. Lili menjelaskan
kalau ia melihat bercak darah di seprai saat menggantinya tadi. Elo berdehem,
ia mengatakan kalau Riri dan Elo baik-baik saja dan Lili tidak perlu khawatir
pada mereka.
Lili membungkuk
lagi, ia berjalan keluar dari kamar itu dan menutup pintu kembali. Ia ingin
kembali ke dapur, tapi salah berbelok dengan segala lamunannya tentang bercak
darah tadi. Dirinya tidak sengaja menabrak seseorang sampai jatuh tersungkur.
Lili : “Aduch!”
Lili meringis
memegangi pinggangnya yang sakit, ia melihat Dion berdiri di depannya. Tapi bukannya
menolong Lili, Dion berjalan melewatinya bahkan tanpa menoleh lagi. Lili
cemberut melihat Dion mengabaikannya,
Lili : “Lagi PMS
ya. Menyebalkan.”
Sambil menggerutu,
Lili bangun dari lantai yang dingin. Sekali lagi ia melihat arah tujuannya dan
berbalik mengikuti langkah Dion menuruni tangga.
Lili : “Dion, tuan
muda sudah bangun.”
Lili mensejajari
langkah Dion, tapi bukannya menjawab, Dion tetap berjalan tidak peduli padanya.
Lili berhenti di tengah tangga, ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia
tidak mengerti kenapa Dion mendiamkannya, apa salahnya?
Lili ingin mengejar
Dion lagi, tapi orangnya sudah menghilang entah kemana. Tangan Lili mengepal
dengan erat, tentu saja laki-laki memang begitu, semuanya sama saja. Menjerat
hatinya lalu pergi begitu saja.
Bahkan ketika ia
baru mulai mencintai Dion, laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Lili
melanjutkan berjalan menuruni tangga, ia langsung masuk ke toilet karyawan dan
duduk di toilet. Lili memejamkan matanya, kehidupan percintaannya tidak pernah
benar sejak dulu.
Dan dengan bodohnya
ia membuka hatinya untuk laki-laki seperti Dion. Sejak pertama kali mereka
bertemu, Lili bisa melihat ada seseorang yang baik di dalam diri Dion. Meskipun
wajahnya rusak, Lili hanya perlu menatap mata laki-laki itu dan semuanya tidak
terlihat buruk.
Lili menahan
tangisannya, ia menegakkan tubuhnya dan keluar dari toilet. Ketika ia kembali
ke dapur, dirinya sudah menjadi Lili yang dingin kembali. Pak Kim datang dan
memberikan sebuah kertas pada Lili, ia membaca tugas berikutnya.
Apa ya tugasnya?
🌻🌻🌻🌻🌻
Tentu saja ngasi
vote dan like buat novel ini dong. Iya, kan?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).