Duren Manis

Duren Manis
Akan baik saja


__ADS_3

Kaori : “Aku di


rumah sakit XX.”


Jodi : “Tunggu aku


kesana.”


Kaori : “Kak!


Jangan kasi tahu kak Katty. Dia hamil...”


Jodi : “Aku tahu.”


Telpon terputus dan


Kaori memeluk Rio lagi. Ia mengatakan kalau Jodi akan segera menyusul mereka ke


rumah sakit. Kaori segera masuk ke dalam ruang dokter dan memberitahu pada


mamanya kalau Jodi akan datang.


Mama : “Kita tidak


boleh merepotkan mereka, nak. Itu sangat memalukan, kalau papa tau...”


Kaori : “Nggak,


mah. Kaori bilang kita meminjam uang itu dan akan mencicilnya. Maaf, mah. Kaori


terpaksa ngasi tahu kak Jodi.”


Mereka berpelukan


saling menguatkan dengan air mata mengalir deras ke pipi. Seseorang mengetuk


pintu ruang dokter dan Jodi masuk bersama seorang pria paruh baya. Dokter yang


melihat pria itu langsung berdiri dan mempersilakan pria itu duduk di kursinya


tadi.


Jodi mendekati mama


Kaori yang masih menangis dan memeluknya. Jodi mengatakan semuanya akan


baik-baik saja. Setelah pria itu dan dokter berdiskusi sebentar, pria itu


melaporkan kondisi papa Kaori pada Jodi.


Operasi bisa segera


dilakukan di rumah sakit itu dan tim dokter sedang dalam perjalanan ke rumah


sakit. Jodi memerintahkan agar segala sesuatunya disiapkan dengan baik termasuk


kamar VVIP untuk istirahat mertuanya. Pria itu dan dokter keluar dari ruang


dokter untuk bersiap-siap juga.


Jodi : “Ma, tenang


saja ya. Papa akan baik-baik saja. Dokter terbaik sudah menangani papa. Ayo,


kita lihat papa dulu.”


Jodi menuntun


mertuanya keluar dari ruang dokter dan Kaori mengusul mereka bersama Rio.


Mereka melihat papa Kaori dibawa keluar dari ruang ICU.


Jodi ingin


melepaskan tangannya dari lengan mama mertuanya saat papa Kaori menunjuk


dirinya. Tapi tidak jadi mengingat mama mertuanya sedang memerlukan dukungan


darinya. Jodi mendekati papa Kaori, ia mendengar papa mertuanya menyebut nama


Katty.


Jodi : “Katty belum


tahu, pa. Papa tenang aja ya. Jangan banyak berpikir. Jodi jagain mama dulu.”


Papa Kaori


tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum masuk ruang operasi. Kaori


mengatupkan kedua tangannya memohon agar operasi papanya berjalan dengan


lancar.


*****


Lili mengetuk pintu


kamar Elo. Ia sudah membawa makanan untuk kedua pengantin baru itu. Lili

__ADS_1


menarik nafas panjangnya untuk menenangkan diri, ia harus siap melihat apapun


yang terjadi di dalam kamar itu.


Ceklek! Pintu kamar


terbuka, Elo membuka pintu dengan tubuh berbalut bathrobe. Lili membawa masuk


nampan dan matanya langsung tertuju pada sosok Riri yang terlihat mempesona


dengan rambut ikalnya. Riri masih duduk diatas tempat tidur, selimut yang


menutupi dirinya tidak bisa menyembunyikan bahunya yang terlihat mengintip dari


balik selimut tebal itu.


Ditambah cahaya


matahari yang masuk melalui jendela berhiaskan korden berwarna putih menjadi


latar belakang yang sangat mengesankan. Riri terlihat seperti bidadari yang


baru saja terbangun dari tempat tidur awan.


Lili terpaku di


tempatnya, ia bahkan memegang nampan berisi makanan itu dengan erat. Ia takut


membuat suara sekecil apapun agar tidak membuat Riri terkejut dan akhirnya


meredup kembali karena rasa malu yang selalu membuatnya menunduk.


Lili tidak menyukai


itu, nona Riri-nya harus selalu terlihat bersinar. Menunduk hanya akan membuat


wajah cantiknya kehilangan sinarnya. Riri menoleh pada Lili dan tersenyum.


Riri : “Selamat


pagi, Lili. Apa tidurmu nyenyak?”


Pagi? Ini sudah


siang, hampir jam 12 siang. Tapi Lili tidak peduli, nona Riri-nya terlihat


baik-baik saja dengan jeritan yang ia dengar beberapa saat yang lalu. Semuanya


tampak baik-baik saja.


Riri : “Lili? Kau


Lili tersentak, ia


seharusnya membalas salam dari nona-nya. Lili meletakkan nampan yang


dipegangnya di atas meja dan membungkuk.


Lili : “Selamat


siang, nona. Saya sangat baik. Ada lagi yang bisa saya bantu?”


Elo : “Lili, bisa


bantu kami mengganti seprai? Aku akan membantu Riri mandi dulu.”


Lili : “Baik, tuan


muda.”


Elo mengangkat


tubuh Riri yang terbalut selimut dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Lili dengan cepat menarik selimut yang tersisa diatas tempat tidur. Ia tertegun


melihat bercak darah mengotori seprai di bagian tengah tempat tidur itu.


Lili menoleh


menatap pintu kamar mandi, apa nona Riri terluka? Atau tuan muda yang terluka?


Lili menggelengkan kepalanya, ia akan mengetahuinya nanti. Lili kembali menarik


semua lapisan seprai sampai tidak tersisa apapun diatas tempat tidur.


Dengan cepat, Lili


memasang seprai baru dan merapikan tempat tidur kembali. Ia memasukkan seprai


kotor itu ke dalam kantong laundry dan meletakkannya di sudut kamar. Lili


berdiri di dekat pintu keluar, ia sedikit ragu harus tetap disini atau keluar.


Pintu kamar mandi


terbuka, Riri dan Elo keluar dari sana dengan rambut basah dan tubuh berbalut


bathrobe. Lili membungkuk sopan, ia menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


Elo : “Keluarlah.”


Lili seperti


teringat sesuatu, ia memberanikan diri untuk bertanya apa Riri terluka. Riri


tentu saja menggeleng dan balik bertanya kenapa Lili bertanya begitu. Lili menjelaskan


kalau ia melihat bercak darah di seprai saat menggantinya tadi. Elo berdehem,


ia mengatakan kalau Riri dan Elo baik-baik saja dan Lili tidak perlu khawatir


pada mereka.


Lili membungkuk


lagi, ia berjalan keluar dari kamar itu dan menutup pintu kembali. Ia ingin


kembali ke dapur, tapi salah berbelok dengan segala lamunannya tentang bercak


darah tadi. Dirinya tidak sengaja menabrak seseorang sampai jatuh tersungkur.


Lili : “Aduch!”


Lili meringis


memegangi pinggangnya yang sakit, ia melihat Dion berdiri di depannya. Tapi bukannya


menolong Lili, Dion berjalan melewatinya bahkan tanpa menoleh lagi. Lili


cemberut melihat Dion mengabaikannya,


Lili : “Lagi PMS


ya. Menyebalkan.”


Sambil menggerutu,


Lili bangun dari lantai yang dingin. Sekali lagi ia melihat arah tujuannya dan


berbalik mengikuti langkah Dion menuruni tangga.


Lili : “Dion, tuan


muda sudah bangun.”


Lili mensejajari


langkah Dion, tapi bukannya menjawab, Dion tetap berjalan tidak peduli padanya.


Lili berhenti di tengah tangga, ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia


tidak mengerti kenapa Dion mendiamkannya, apa salahnya?


Lili ingin mengejar


Dion lagi, tapi orangnya sudah menghilang entah kemana. Tangan Lili mengepal


dengan erat, tentu saja laki-laki memang begitu, semuanya sama saja. Menjerat


hatinya lalu pergi begitu saja.


Bahkan ketika ia


baru mulai mencintai Dion, laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Lili


melanjutkan berjalan menuruni tangga, ia langsung masuk ke toilet karyawan dan


duduk di toilet. Lili memejamkan matanya, kehidupan percintaannya tidak pernah


benar sejak dulu.


Dan dengan bodohnya


ia membuka hatinya untuk laki-laki seperti Dion. Sejak pertama kali mereka


bertemu, Lili bisa melihat ada seseorang yang baik di dalam diri Dion. Meskipun


wajahnya rusak, Lili hanya perlu menatap mata laki-laki itu dan semuanya tidak


terlihat buruk.


Lili menahan


tangisannya, ia menegakkan tubuhnya dan keluar dari toilet. Ketika ia kembali


ke dapur, dirinya sudah menjadi Lili yang dingin kembali. Pak Kim datang dan


memberikan sebuah kertas pada Lili, ia membaca tugas berikutnya.


Apa ya tugasnya?


🌻🌻🌻🌻🌻


Tentu saja ngasi


vote dan like buat novel ini dong. Iya, kan?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2