Duren Manis

Duren Manis
Perut buncit


__ADS_3

Mia mematut dirinya di depan cermin, ia melihat perut ratanya mulai membuncit padahal kehamilannya baru memasuki bulan keempat. Hasil USG menunjukkan kalau Mia hamil anak kembar dan semuanya normal.


Meskipun setelah ngidamnya berakhir, Mia tetap harus istirahat di rumah. Ia mulai mengeluh bosan lagi. Pasalnya diam di rumah artinya hanya makan dan tidur. Hal itu yang membuatnya semakin bulat sebelum waktunya.


Alex yang baru pulang dari kantor, mendapati Mia berlenggak-lenggok di depan cermin. Ia menahan tawanya dan asyik mengintip dari balik pintu.


Mia mengambil bantal di atas ranjang, memasukkan bantal itu ke dalam bajunya dan kembali bercermin.


Mia : "Hamil 6 bulan segede ini kali ya? Kalo 9 bulan?"


Mia melirik bantal satu lagi, ia mengambilnya dan hampir memasukkannya ke dalam bajunya. Tapi Mia menghentikan gerakannya ketika menyadari bajunya gak muat.


Ia meletakkan bantal di tangannya dan membuka lemari, mencari kaos Alex yang berukuran jumbo. Mia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan kaos itu.


Libido Alex mulai merayap naik melihat pemandangan itu. Ia menggenggam handle pintu dengan keras.


Lagi-lagi Mia memasukkan bantal ke dalam bajunya. Kali ini 2 bantal sekaligus.


Mia : "Woow! Besar banget. Kuat bawanya gak ya."


Mia kembali melenggak-lenggok di depan cermin. Ia sedikit berpose genit dan geli sendiri.


Mia : "Idih... Hihi... Aneh banget."


Alex hampir membuka pintu dan menyerang Mia melihat istrinya itu secara tidak sengaja menggodanya. Tapi ia ingat pesan dokter untuk hati-hati.


Kali ini Mia memonyongkan bibirnya, berpose sensual. Brak! Alex membuka pintu lebar-lebar dan menutupnya dengan cepat.


Mia : "Maas..Β  bikin kaget aja. Eh, mas mau ngapain?"


Alex : "Yang, kamu yang lagi ngapain."


Alex berjalan mendekati Mia sambil melepas pakaiannya satu persatu. Mia sempat melirik jam yang menunjukkan pukul 6 sore.


Mia terlalu asyik menatap cermin sampai lupa waktu. Habisnya dia gabut sendirian. Alex berdiri di depan Mia, mereka terhalang perut besar buatan Mia tadi.


Mia : "Mas uda pulang? Mau mandi?"


Alex : "Aku laper."


Mia : "Aku siapin makanan ya. Pakai baju sana."


Alex : "Aku mau makan kamu."


Mia : "Maass!!!"


Mia menatap ngeri seringai mesum Alex. Ia memejamkan matanya takut diserang. Tapi Alex benar-benar melakukannya dengan sangat lembut.


🌚🌚🌚🌚🌚


Mia mengelus perutnya yang buncit. Ia menatap Alex yang juga menatapnya.


Alex : "Kenapa? Sakit ya? Kita ke rumah sakit?"


Mia : "Gak sakit, mas. Cuma agak laper."

__ADS_1


Alex : "Ayo makan. Eh, tapi mandi dulu ya. Masi belepotan."


Alex nyengir lebar melihat hasil perbuatannya. Ia membantu Mia bangun dan mereka menghabiskan 15 menit di dalam kamar mandi.


🌹🌹🌹🌹🌹


Di ruang makan, semuanya sudah berkumpul kecuali si kembar yang tinggal di asrama. Rara melirik perut Mia yang membuncit. Ia tidak bisa duduk tegak karenanya.


Alex sudah mengambilkan bantal kecil untuk menyangga punggung Mia agar bisa lebih nyaman duduk di meja makan.


Mia menyantap makan malamnya dengan nikmat, ia makan dengan lahap sampai hampir tersedak. Alex memberinya air yang langsung diminum Mia.


Alex : "Pelan-pelan dong. Gak ada yang mau ngambil makananmu."


Mia : "Aku laper banget, mas."


Rara : "Kasi aja, pah. Mama kan bawa 3 perut. Wajar kan."


Rara menyantap makanannya sambil sesekali melirik Mia. Arnold yang melihat arah pandangan Rara, memegang tangannya dan tersenyum. Rara menoleh menatap Arnold dan ikut tersenyum.


Mia yang merasa Rara lebih banyak diam, mulai memperhatikannya. Setelah mereka selesai makan malam dan membantu mb Minah membereskan meja makan, mereka semua kecuali nenek dan mb Minah duduk di ruang keluarga.


Mia : "Ra, mama perhatiin kamu lebih banyak diam. Kenapa?"


Rara melirik Alex yang sudah menatapnya kepo. Mia paham kalau Rara hanya ingin women talk. Jadi ia memberi tanda pada Alex untuk pergi dari sana.


Alex cemberut dan menghela nafas,


Alex : "Kasian amat kalo anak sama mamanya mau curhat, papanya pasti gak boleh denger. Arnold, ayo ikut. Temenin papa main game."


Arnold dan Alex bangkit berdiri dan berjalan ke ruang kerja Alex. Alex biasa main game sepak bola disana.


Mia kembali menatap Rara yang sudah mengelus perutnya. Mia memegang tangan Rara dan menahannya tetap disana.


Mia : "Sebentar lagi kamu juga bisa merasakannya, Ra."


Rara : "Mungkin juga gak bisa, mah."


Mia : "Kenapa?"


Rara : "Kami uda cek, mah. Mas Arnold tulang belakangnya retak, itu bekas kecelakaan sebelumnya. Itu yang buat dia sering sakit pinggang. Spermanya juga kurang aktif. Kalau dioperasi, kemungkinannya bisa lumpuh. Mas Arnold gak mau."


Mia : "Trus gak ada solusi gitu?"


Rara : "Mas Arnold mau ikut terapi dan minum obat. Tapi itu minimal 3 bulan. Rara gak tega lihat dia kesakitan, mah."


Mia : "Dia gak mau operasi ya? Kamu harus terus dampingi dan kuatkan dia, Ra. Ini memang akibat dari masa lalunya, tapi kamu harus ingat kalian sudah disatukan bersama untuk menjalani masa depan."


Rara : "Iya, mah. Rara gak kebayang bagaimana mas Arnold menjalani pengobatan dulu. Siapa yang nemenin dia. Sesakit apa dia sampai gak mau operasi lagi."


Mia : "Mungkin dia trauma dioperasi berkali-kali, Ra. Kamu harus sabar ya. Semasih belum dikarunia sekarang, mungkin kamu bisa bantu mama ngurus yang ini dulu."


Mia menunjuk perutnya dan Rara langsung memeluk mamanya.


Rara : "Mama memang the best. Bisa jadi semuanya dan sekarang siap jadi ibu seutuhnya."

__ADS_1


Mia : "Mama pernah gagal, Ra. Dan rasanya sakit sekali. Kalau gak ada kamu dan si kembar, entah apa mama bisa kuat."


Rara : "Maaf, ma. Rara ngingetin mama sama adik yang uda pergi."


Mia : "Gak, Ra. Adik belum bisa sama kita, uda ada yang ngatur. Kita hanya bisa menjalani saja. Kamu terlahir sebagai perempuan dan setiap perempuan pada akhirnya akan jadi seorang ibu. Caranya hanya Tuhan yang tahu."


Rara : "Makasi ya, mah. Makasi uda mau jadi mama Rara. Kalau gak ada mama, mungkin Rara uda nyerah dengan semuanya."


Mia : "Makasi juga uda ngasi mama kesempatan jadi mamamu. Kalau dulu kamu gak restuin, mungkin mama gak jadi nikah sama papamu."


Rara : "Seandainya itu terjadi apa yang akan mama lakukan?"


Mia : "Apa ya? Mungkin mama akan patah hati, kuliah yang bener, trus kerja dan kerja aja."


Rara : "Apa papa sehebat itu?"


Mia : "Hebat? Papamu itu segalanya buat mama. Sejak pertama kali ketemu, kamu ingat kan?"


Rara : "Ketemu disini kan? Di ruang tamu."


Mia : "Iya, mama sama sekali gak pernah merasakan debaran seperti itu sebelumnya. Pada pria manapun, papamu yang bisa menahan hati mama."


Rara : "Hihi... Mama bucin."


Mia : "Papamu tuch yang bucin. Mau tahu gak?"


Rara : "Apa mah?"


Mia : "Inget waktu pertama aku nginep disini. Aku mau ambil air tengah malem kan."


Rara : "Iya, mah. Apa yang terjadi?"


Mia : "Mama keciduk dong sama papamu. Dan tahu gak papamu ngapain mama?"


Rara : "Apa? Cepetan bilang, bikin penasaran dech."


Mia : "Mama ditarik ke dalam kamar dan langsung dicium gak pake permisi."


Rara : "Masa mah? Wah, papa nakal ya. Eh, bukannya waktu itu kita masih sekolah ya."


Mia : "Nah itu dia. Untung aja umur mama uda cukup waktu itu. Kalau seumuran kamu, apa jadinya."


Keduanya terkikik geli membuka rahasia Alex yang belum pernah ia ceritakan pada orang lain sebelumnya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2