Duren Manis

Duren Manis
Extra part 40


__ADS_3

Extra part 40


Bilar malah mempersilakan Keira untuk masuk ke


mobilnya. Ia ingin mentraktir Keira makan siang. Harusnya Keira bisa menolak,


tapi tidak untuk hari ini. Pesona Bilar membuat otaknya blank dan menuruti


permintaan pria itu. Saat Keira sudah duduk di bangku penumpang, ia menoleh ke


belakang dan melihat buket bunga yang besar sekali di belakang sana.


“Wow! Besar sekali. Buat siapa, Bi,” tanya Keira.


“Buat kamu. Selamat udah lulus kuliah. Bentar lagi


nikah, dong,” kata Bilar menggoda Keira.


“Big no! Aku mau kerja dulu, have fun sama cowok-cowok


ganteng. Sama om-om tampan suami orang,” ucap Keira asal.


Bilar terdiam, ia mengendarai mobilnya cukup


kencang keluar dari lingkungan kampus. Keira menarik sabuk pengaman dengan


cepat lalu memakainya.


“Bilar!!! Jangan kenceng-kenceng!!” jerit Keira


shock.


Mobil berhenti dipinggir jalan dekat jurang. Keira


menatap ngeri ke pinggir sana. Tiba-tiba sandaran kursi yang diduduki Keira


terjatuh ke belakang. Bilar menyudutkan Keira ke kursi mobilnya.


“Kamu udah gila! Ach! Sss...” Keira mengaduh


merasakan sakit di lehernya. Bilar menggigit leher Keira sampai sedikit


berdarah. “Apa kamu vampir?! Suka banget gigit leherku. Sakit!”


Keira memukul-mukul punggung Bilar, sampai pria itu


menegakkan tubuhnya lagi. “Setelah lihat tanda itu, pria lain tidak akan bisa


mendekatimu,” ucap Bilar sambil tersenyum smirk.


Plak! Tamparan keras mengenai pipi Bilar. Seumur


hidupnya, Keira belum pernah digigit sampai seperti itu. Reynold bahkan tidak pernah


meninggalkan jejak di tubuhnya saat mereka bersama. Tapi anak mami yang satu


ini menggerogotinya seperti Keira itu adalah sebuah apel.


“Bilar, aku mau pulang. Pulang!” rengek Keira.


Bilar terpaksa menunda makan siangnya dengan Keira


dan memilih mengantar gadis itu pulang ke apartmentnya..


**


Keira memutuskan mempercepat keberangkatannya


menyusul Reynold. Kebetulan pria itu mengirim jet pribadinya untuk mengambil


sesuatu. Jadi Keira bisa sekalian nebeng. Keira ingin menghindari Bilar yang


semakin gencar mengejarnya.


Sejujurnya Keira juga mengharapkan Bilar, ia


mencintai pria itu. Tapi penolakan Bianca membuat Keira berpikir dua kali untuk


bersama Bilar. Satu-satunya cara adalah menghilang dari kehidupan Bilar sampai


pria itu bisa melupakannya.


Sebuah koper besar dan tas laptop tampak berdiri di


samping Keira yang sedang menunggu taxi online di depan apartmentnya. Tak perlu


menunggu lama, sebuah mobil dengan ciri-ciri yang sama dengan yang ditunjukkan


pada aplikasi di ponselnya, tampak memasuki halaman apartment.


Sopir turun dari mobil dan langsung memasukkan


koper Keira ke bagasi. Keira memilih duduk di kursi belakang.


“Sesuai aplikasi ya, bu,” ucap sopir itu.


“Iya, pak. Ke bandara,” sahut Keira tanpa


memperhatikan sopir itu lagi.


Keira memasang headset di telinganya, lalu mulai

__ADS_1


mendengarkan lagu yang ia putar lewat MP3. Terlalu fokus mendengarkan lagu,


Keira tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di bandara. Keira mengarahkan


mobil menuju hangar pesawat setelah melewati pemeriksaan khusus. Gadis itu


memberikan selembar uang seratusribuan pada sopir dan memintanya menyimpan


kembaliannya.


Salah satu bodyguard Reynold yang mengenali Keira, segera


menghampiri gadis itu dan membungkuk hormat.


“Nona, silakan menunggu sebentar. Kami sedang


mereload barang yang dipesan tuan Reynold,” jelas bodyguard itu.


Keira menunggu di kursi yang ada di dekat pesawat.


Ia kembali mendengarkan musik dari MP3 dan kepalanya mulai bergerak seiring


irama musik yang didengarnya. Tibat-tiba ada seseorang yang berjalan cepat


menghampiri Keira.


“Keira! Ikut pulang sama aku,” ajak Bilar yang


langsung menarik tangan Keira.


“Kamu lagi!! Aarggghhh!!! Pergi sana!” teriak Keira


seperti orang gila. Ia menampik tangan Bilar lalu berjalan cepat menjauh dari


pria itu. Mereka berdua berkejar-kejaran di dalam hangar pesawat itu, membuat


orang-orang kebingungan melihat mereka.


“Jangan kejar aku! Cowok gila!” pekik Keira sambil


terus menghindar dari jarak tangkap Bilar.


Keira ingin meminta tolong pada body guard Reynold


tapi mereka kalah jumlah dengan orang-orang berpakaian hitam yang datang dengan


Bilar. Body guard Reynold hanya bisa melihat dari jauh ketika Keira dipanggul


Bilar.


“Aarrgghh!! Lepasin!” teriak Keira histeris.


termasuk Keira-nya juga, dibawa masuk ke dalam sana. Body guard Reynold cuma


bisa melapor kalau Keira tidak jadi ikut dengan mereka. Ketika Reynold bertanya


apa alasannya Keira membatalkan perjalanannya, body guard itu hanya mengatakan


kalau Keira dibawa lari oleh kekasihnya.


Di dalam mobil mewah itu, Keira mendorong Bilar


agar menjauh darinya. Gadis itu mengomeli Bilar dan memerintahkan Bilar


mengembalikannya ke bandara.


“Kau mau pergi ninggalin aku kan? Mau menghindar?


Jangan harap kamu bisa kabur,” kata Bilar sambil menyergap Keira lagi.


“Papa!! Opa Jang!!” jerit Keira berharap ada


seseorang yang menolongnya.


“Diem, Kei. Atau aku cium kamu sekarang,” ancam


Bilar.


Keira langsung diam, duduk manis disamping Bilar. Ia


memperhatikan jalanan, entah kemana pria itu akan membawanya.


“Bilar, kita mau kemana? Aku mau pulang, Bi,” pinta


Keira bersikap seperti anak kucing ilang.


“Hentikan, Kei. Atau aku akan melakukannya sekarang


disini,” ucap Bilar dingin.


Keira melihat raut kesal di wajah Bilar. Gadis itu


berpikir cepat bagaimana caranya membujuk Bilar agar mau melepaskannya. Keira


berpikir untuk merayu Bilar dengan cara biasanya, tapi ia takut dilihat sopir


Bilar. Akhirnya Keira hanya pasrah kemana Bilar akan membawanya.


Mobil berhenti di sebuah villa yang entah berada


dimana. Bilar menarik Keira agar turun bersamanya. Keira melihat dekorasi di

__ADS_1


dalam villa yang cukup simpel itu. Udara di dalam villa sepertinya bisa diatur,


wangi yang menguar dari pelembab udara membuat tubuh Keira mulai rileks.


Keira berjalan mendekati jendela besar, ia


menggeser jendela itu terbuka dan berjalan ke balkon. Dibawah sana ada beberapa


bangunan yang cukup gelap. Hanya beberapa lampu jalan yang  menerangi bangunan-bangunan itu. Pemandangan


kota dengan gemerlap lampu juga tampak dibawah sana.


“Kei...,” panggil Bilar.


Keira menoleh menatap Bilar yang ikut berdiri di


sampingnya. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba tersenyum geli sendiri. Bilar


menarik pinggang Keira lalu memeluk gadis itu.


“Kenapa ketawa? Aku hampir mati ketakutan, Kei.


Kalau om X nggak bilang tentang kepergianmu, entah gimana aku bisa menemukanmu,”


ucap Bilar sambil memeluk erat tubuh Keira.


“Kamu kan punya om X. Masa dia nggak bisa nyari


aku? Bi, ngapain kita kesini?” tanya Keira.


“Aku mau ngurung kamu disini, biar nggak bisa lari dari


pengawasanku,” kata Bilar serius.


Keira tersenyum geli, ia menyentuh otot perut Bilar.


Menyentuh semua otot yang tampak sangat keras itu. Keira sampai menarik kaos


Bilar keatas untuk menatap otot perutnya. Bilar membiarkan Keira melakukan apa


yang ia inginkan. Ia suka mendapat perlakuan seperti itu dari Keira.


“Kei, jadi pacarku ya,” pinta Bilar.


Keira menatap Bilar, pria itu serius dengan


kata-katanya. Kepala Keira menggeleng, ia merasa tidak cukup baik untuk


mendampingi Bilar.


“Bilar, selama ini kamu sudah jadi anak yang baik


untuk keluargamu. Mamamu benar, kamu berubah sejak kenal aku. Entah itu baik


atau tidak, tapi mamamu sudah melihatku sebagai gadis liar yang nggak punya


sopan santun. Percuma kalau kita mau bersama.” Keira meminta Bilar duduk di


kursi santai yang tersedia di balkon itu.


Keira ikut duduk di pangkuan pria itu, memeluk


tubuh Bilar yang wangi parfum cowok banget. Senyum manis mengembang di bibir Bilar.


Meskipun Keira bicara banyak hal, gadis itu tidak menjauh lagi darinya. Bilar


menatap mata Keira setelah gadis itu menegakkan tubuhnya lagi.


“Boleh aku cium kamu?” tanya Bilar.


“Ciuman ini bukan ciuman pertamaku, Bilar. Lebih


baik kamu ciuman sama gadis yang belum pernah ciuman,” kata Keira sambil


menutup bibirnya dengan telapak tangan menghadap keluar.


“Tapi ini ciuman pertama kita, buatku nggak ada


bedanya,” kata Bilar.


Berlatar belakang malam pekat yang dihiasi


bintang-bintang, hembusan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, Bilar mengecup


lembut bibir pink Keira. Gadis itu pelan-pelan menggerakkan bibirnya,


menggunakan keahliannya untuk mengajari Bilar.


Mereka berciuman sampai hampir kehabisan nafas. Keduanya


saling menatap dengan senyum malu-malu. Biar bagaimanapun Bilar baru pertama


kali berciuman sedasyat itu.


“Kei, sekali lagi ya,” pinta Bilar ketagihan.


Keira menggeleng, ia merasa lapar dan minta makan pada


Bilar. Bisa gawat kalau mereka terus-terusan berduaan dengan posisi yang sangat


dekat.

__ADS_1


__ADS_2