
Extra part 40
Bilar malah mempersilakan Keira untuk masuk ke
mobilnya. Ia ingin mentraktir Keira makan siang. Harusnya Keira bisa menolak,
tapi tidak untuk hari ini. Pesona Bilar membuat otaknya blank dan menuruti
permintaan pria itu. Saat Keira sudah duduk di bangku penumpang, ia menoleh ke
belakang dan melihat buket bunga yang besar sekali di belakang sana.
“Wow! Besar sekali. Buat siapa, Bi,” tanya Keira.
“Buat kamu. Selamat udah lulus kuliah. Bentar lagi
nikah, dong,” kata Bilar menggoda Keira.
“Big no! Aku mau kerja dulu, have fun sama cowok-cowok
ganteng. Sama om-om tampan suami orang,” ucap Keira asal.
Bilar terdiam, ia mengendarai mobilnya cukup
kencang keluar dari lingkungan kampus. Keira menarik sabuk pengaman dengan
cepat lalu memakainya.
“Bilar!!! Jangan kenceng-kenceng!!” jerit Keira
shock.
Mobil berhenti dipinggir jalan dekat jurang. Keira
menatap ngeri ke pinggir sana. Tiba-tiba sandaran kursi yang diduduki Keira
terjatuh ke belakang. Bilar menyudutkan Keira ke kursi mobilnya.
“Kamu udah gila! Ach! Sss...” Keira mengaduh
merasakan sakit di lehernya. Bilar menggigit leher Keira sampai sedikit
berdarah. “Apa kamu vampir?! Suka banget gigit leherku. Sakit!”
Keira memukul-mukul punggung Bilar, sampai pria itu
menegakkan tubuhnya lagi. “Setelah lihat tanda itu, pria lain tidak akan bisa
mendekatimu,” ucap Bilar sambil tersenyum smirk.
Plak! Tamparan keras mengenai pipi Bilar. Seumur
hidupnya, Keira belum pernah digigit sampai seperti itu. Reynold bahkan tidak pernah
meninggalkan jejak di tubuhnya saat mereka bersama. Tapi anak mami yang satu
ini menggerogotinya seperti Keira itu adalah sebuah apel.
“Bilar, aku mau pulang. Pulang!” rengek Keira.
Bilar terpaksa menunda makan siangnya dengan Keira
dan memilih mengantar gadis itu pulang ke apartmentnya..
**
Keira memutuskan mempercepat keberangkatannya
menyusul Reynold. Kebetulan pria itu mengirim jet pribadinya untuk mengambil
sesuatu. Jadi Keira bisa sekalian nebeng. Keira ingin menghindari Bilar yang
semakin gencar mengejarnya.
Sejujurnya Keira juga mengharapkan Bilar, ia
mencintai pria itu. Tapi penolakan Bianca membuat Keira berpikir dua kali untuk
bersama Bilar. Satu-satunya cara adalah menghilang dari kehidupan Bilar sampai
pria itu bisa melupakannya.
Sebuah koper besar dan tas laptop tampak berdiri di
samping Keira yang sedang menunggu taxi online di depan apartmentnya. Tak perlu
menunggu lama, sebuah mobil dengan ciri-ciri yang sama dengan yang ditunjukkan
pada aplikasi di ponselnya, tampak memasuki halaman apartment.
Sopir turun dari mobil dan langsung memasukkan
koper Keira ke bagasi. Keira memilih duduk di kursi belakang.
“Sesuai aplikasi ya, bu,” ucap sopir itu.
“Iya, pak. Ke bandara,” sahut Keira tanpa
memperhatikan sopir itu lagi.
Keira memasang headset di telinganya, lalu mulai
__ADS_1
mendengarkan lagu yang ia putar lewat MP3. Terlalu fokus mendengarkan lagu,
Keira tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di bandara. Keira mengarahkan
mobil menuju hangar pesawat setelah melewati pemeriksaan khusus. Gadis itu
memberikan selembar uang seratusribuan pada sopir dan memintanya menyimpan
kembaliannya.
Salah satu bodyguard Reynold yang mengenali Keira, segera
menghampiri gadis itu dan membungkuk hormat.
“Nona, silakan menunggu sebentar. Kami sedang
mereload barang yang dipesan tuan Reynold,” jelas bodyguard itu.
Keira menunggu di kursi yang ada di dekat pesawat.
Ia kembali mendengarkan musik dari MP3 dan kepalanya mulai bergerak seiring
irama musik yang didengarnya. Tibat-tiba ada seseorang yang berjalan cepat
menghampiri Keira.
“Keira! Ikut pulang sama aku,” ajak Bilar yang
langsung menarik tangan Keira.
“Kamu lagi!! Aarggghhh!!! Pergi sana!” teriak Keira
seperti orang gila. Ia menampik tangan Bilar lalu berjalan cepat menjauh dari
pria itu. Mereka berdua berkejar-kejaran di dalam hangar pesawat itu, membuat
orang-orang kebingungan melihat mereka.
“Jangan kejar aku! Cowok gila!” pekik Keira sambil
terus menghindar dari jarak tangkap Bilar.
Keira ingin meminta tolong pada body guard Reynold
tapi mereka kalah jumlah dengan orang-orang berpakaian hitam yang datang dengan
Bilar. Body guard Reynold hanya bisa melihat dari jauh ketika Keira dipanggul
Bilar.
“Aarrgghh!! Lepasin!” teriak Keira histeris.
termasuk Keira-nya juga, dibawa masuk ke dalam sana. Body guard Reynold cuma
bisa melapor kalau Keira tidak jadi ikut dengan mereka. Ketika Reynold bertanya
apa alasannya Keira membatalkan perjalanannya, body guard itu hanya mengatakan
kalau Keira dibawa lari oleh kekasihnya.
Di dalam mobil mewah itu, Keira mendorong Bilar
agar menjauh darinya. Gadis itu mengomeli Bilar dan memerintahkan Bilar
mengembalikannya ke bandara.
“Kau mau pergi ninggalin aku kan? Mau menghindar?
Jangan harap kamu bisa kabur,” kata Bilar sambil menyergap Keira lagi.
“Papa!! Opa Jang!!” jerit Keira berharap ada
seseorang yang menolongnya.
“Diem, Kei. Atau aku cium kamu sekarang,” ancam
Bilar.
Keira langsung diam, duduk manis disamping Bilar. Ia
memperhatikan jalanan, entah kemana pria itu akan membawanya.
“Bilar, kita mau kemana? Aku mau pulang, Bi,” pinta
Keira bersikap seperti anak kucing ilang.
“Hentikan, Kei. Atau aku akan melakukannya sekarang
disini,” ucap Bilar dingin.
Keira melihat raut kesal di wajah Bilar. Gadis itu
berpikir cepat bagaimana caranya membujuk Bilar agar mau melepaskannya. Keira
berpikir untuk merayu Bilar dengan cara biasanya, tapi ia takut dilihat sopir
Bilar. Akhirnya Keira hanya pasrah kemana Bilar akan membawanya.
Mobil berhenti di sebuah villa yang entah berada
dimana. Bilar menarik Keira agar turun bersamanya. Keira melihat dekorasi di
__ADS_1
dalam villa yang cukup simpel itu. Udara di dalam villa sepertinya bisa diatur,
wangi yang menguar dari pelembab udara membuat tubuh Keira mulai rileks.
Keira berjalan mendekati jendela besar, ia
menggeser jendela itu terbuka dan berjalan ke balkon. Dibawah sana ada beberapa
bangunan yang cukup gelap. Hanya beberapa lampu jalan yang menerangi bangunan-bangunan itu. Pemandangan
kota dengan gemerlap lampu juga tampak dibawah sana.
“Kei...,” panggil Bilar.
Keira menoleh menatap Bilar yang ikut berdiri di
sampingnya. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba tersenyum geli sendiri. Bilar
menarik pinggang Keira lalu memeluk gadis itu.
“Kenapa ketawa? Aku hampir mati ketakutan, Kei.
Kalau om X nggak bilang tentang kepergianmu, entah gimana aku bisa menemukanmu,”
ucap Bilar sambil memeluk erat tubuh Keira.
“Kamu kan punya om X. Masa dia nggak bisa nyari
aku? Bi, ngapain kita kesini?” tanya Keira.
“Aku mau ngurung kamu disini, biar nggak bisa lari dari
pengawasanku,” kata Bilar serius.
Keira tersenyum geli, ia menyentuh otot perut Bilar.
Menyentuh semua otot yang tampak sangat keras itu. Keira sampai menarik kaos
Bilar keatas untuk menatap otot perutnya. Bilar membiarkan Keira melakukan apa
yang ia inginkan. Ia suka mendapat perlakuan seperti itu dari Keira.
“Kei, jadi pacarku ya,” pinta Bilar.
Keira menatap Bilar, pria itu serius dengan
kata-katanya. Kepala Keira menggeleng, ia merasa tidak cukup baik untuk
mendampingi Bilar.
“Bilar, selama ini kamu sudah jadi anak yang baik
untuk keluargamu. Mamamu benar, kamu berubah sejak kenal aku. Entah itu baik
atau tidak, tapi mamamu sudah melihatku sebagai gadis liar yang nggak punya
sopan santun. Percuma kalau kita mau bersama.” Keira meminta Bilar duduk di
kursi santai yang tersedia di balkon itu.
Keira ikut duduk di pangkuan pria itu, memeluk
tubuh Bilar yang wangi parfum cowok banget. Senyum manis mengembang di bibir Bilar.
Meskipun Keira bicara banyak hal, gadis itu tidak menjauh lagi darinya. Bilar
menatap mata Keira setelah gadis itu menegakkan tubuhnya lagi.
“Boleh aku cium kamu?” tanya Bilar.
“Ciuman ini bukan ciuman pertamaku, Bilar. Lebih
baik kamu ciuman sama gadis yang belum pernah ciuman,” kata Keira sambil
menutup bibirnya dengan telapak tangan menghadap keluar.
“Tapi ini ciuman pertama kita, buatku nggak ada
bedanya,” kata Bilar.
Berlatar belakang malam pekat yang dihiasi
bintang-bintang, hembusan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, Bilar mengecup
lembut bibir pink Keira. Gadis itu pelan-pelan menggerakkan bibirnya,
menggunakan keahliannya untuk mengajari Bilar.
Mereka berciuman sampai hampir kehabisan nafas. Keduanya
saling menatap dengan senyum malu-malu. Biar bagaimanapun Bilar baru pertama
kali berciuman sedasyat itu.
“Kei, sekali lagi ya,” pinta Bilar ketagihan.
Keira menggeleng, ia merasa lapar dan minta makan pada
Bilar. Bisa gawat kalau mereka terus-terusan berduaan dengan posisi yang sangat
dekat.
__ADS_1