Duren Manis

Duren Manis
Menjaga diri


__ADS_3

Setelah Mia memutuskan sambungan v-call, Rio menoleh menatap Kaori. Tadi ia mendekati gadis itu, ingin menciumnya tapi mamanya menelpon tepat waktu dan menghentikannya.


Kaori : "Aku ganti baju dulu ya."


Rio : "Emangnya uda kering? Pake aja kemejaku dulu."


Kaori : "Gak pa-pa. Uda gak terlalu basah, kok."


Rio : "Pake aja kemejaku. Sampai rumah, baru kamu ganti lagi."


Kaori : "Trus kamu pake apa?"


Rio : "Masih ada kaos."


Kaori : "Kaosmu loh masih basah."


Rio : "Ada jaket, kan. Ayo, siap-siap. Kita pulang."


Kaori ingin bangkit dari ranjang tapi ia terbelit selimut di kakinya. Bruk! Ia terjatuh menimpa Rio.


Kaori : "Adduuchh..."


Kaori membuka matanya, ia melihat tangannya menyentuh otot perut Rio yang keras dan tangan satunya nangkring di paha pacarnya itu.


Wajah Kaori memerah ketika melihat sesuatu mulai timbul dari bawah perut Rio. Ia buru-buru bangkit membuat Rio terlentang diatas ranjang.


Kaori : "Maaf, gak sengaja..."


Rio menatap wajah Kaori yang bersemu merah. Entah apa yang merasuki Rio saat ia menarik tengkuk Kaori dan mencium gadis itu.


Kaori : "Mmmpphh... Rio..."


Rio terus mencium Kaori, membuat gadis itu terjatuh dalam pelukannya. Kaori memukul-mukul dada Rio karena ia tidak bisa bernafas.


Tapi Rio tetap menciumnya, entah dimana Rio belajar saat ia menggigit bibir Kaori hingga terbuka.


Mata Kaori terbelalak, ia merasakan tubuh mereka berputar dan Rio kini ada diatasnya, mengukung Kaori dengan kedua lengan kekarnya.


Saat Rio mendekat lagi, Kaori menahan tubuh Rio.


Kaori : "Rio...Jangan..."


Rio tersadar melotot melihat kondisi Kaori yang berantakan dibawah kungkungannya. Dengan cepat ia bangkit dari atas tubuh Kaori dan memakai kaosnya.


Kaori juga cepat-cepat bangun, merapikan penampilannya dan juga ranjang motel yang berantakan.


Keduanya terdiam untuk sesaat, Rio berbalik dan mulai berjalan mendekati Kaori lagi.


Rio : "Maaf. Aku..."


Kaori : "Gak pa-pa. Kita pulang yuk."


Rio : "Boleh peluk?"


Kaori mengangguk, Rio memang selalu minta peluk pada Kaori. Dan Rio sangat suka kalau tangan halus Kaori mengelus rambutnya saat ia memeluk gadis itu.

__ADS_1


Rio : "Aku sayang kamu. Maaf tadi aku kasar."


Kaori : "Aku juga sayang kamu. Tolong habis ini jangan ajak aku ke motel lagi. Aku takut..."


Rio : "Kamu takut sama aku?"


Kaori : "Aku takut kita kebablasan. Kita masih kuliah, Rio."


Rio : "Iya, aku inget. Maaf..."


Mereka melepaskan pelukan satu sama lain dengan canggung dan berjalan keluar kamar motel.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Rio dan Kaori baru tiba di rumah Alex tepat jam 6 sore. Mereka berjalan masuk dengan gontai tampak kelelahan dan pucat.


Mia yang sudah menunggu mereka, tampak duduk manis di ruang keluarga.


Mia : "Kalian uda pulang. Sini duduk dulu."


Rio duduk disamping Mia, nemplok di pundak mamanya itu. Sementara Kaori ijin ke kamar mandi dulu.


Mia : "Capek, sayang?"


Rio : "Iya, mah. Nyetir saat hujan itu gak banget. Capeknya dua kali lipat."


Mia : "Mau mandi dulu?"


Rio : "Ntar aja, mah. Uda mandi tadi di motel."


Mia : "Kamu beneran gak ngapa-ngapain Kaori kan? Inget loh."


Kedua mama dan anak itu bisik-bisik membicarakan kejadian tadi siang.


Mia : "Kamu nakal banget ya. Persis papamu. Inget loh itu anak gadis orang. Kamu punya kakak cewek juga. Jangan main-main."


Rio : "Rio gak main-main, mah. Rio mau nikah sama Kaori. Gak mau yang lainnya."


Kaori : "Apa??!!"


Kaori syok mendengar kata-kata Rio ketika ia kembali dari kamar mandi. Mia yang sudah melihat Kaori balik, sengaja memancing Rio.


Rio : "Aku... Mah..."


Rio malu berat karena kata hatinya diketahui Kaori. Ia belum ingin mengatakan yang sebenarnya takut Kaori gak mau menikah dengannya karena belum mapan.


Rio menunduk tidak berani menatap Kaori yang sudah duduk di depannya. Keduanya hanya diam mematung larut dalam pikiran masing-masing.


Mia : "Kok pada diem?"


Keduanya menatap Mia dan kembali menunduk.


Mia : "Rio, jelasin kata-katamu tadi."


Rio : "Itu... Aku serius, Kaori. Tapi gak sekarang juga. Kita harus lulus kuliah dulu, trus kerja. Baru memikirkan pernikahan. Itupun kalau kamu mau nikah sama aku."

__ADS_1


Rio mengatakan itu sambil menatap mata Kaori. Kaori yang tidak menyangka akan dilamar dengan cara seperti ini cuma bisa senyum malu.


Mia : "Ok, sekarang Rio mandi dulu. Habis itu Kaori juga mandi, kita makan malam. Kaori jadi nginep disini?"


Kaori : "Iya, kak. Dirumah lagi sepi. Papa sama mama keluar kota. Kakak juga gak ada di rumah."


Mia : "Oh, Kaori punya kakak."


Kaori : "Punya kakak cewek. Dia uda kerja dan jarang banget tidur di rumah."


Mia : "Kenapa gitu?"


Rio melangkah meninggalkan keduanya yang asyik ngrumpi.


Kaori : "Kaori juga gak tahu, kak. Yang jelas, kakak gak sejalan sama papa. Sering bertengkar. Kan papa maunya kakak yang gantiin papa mengelola usaha. Tapi kakak gak mau."


Mia : "Emangnya kakak Kaori kerja jadi apa?"


Kaori : "Marketing freelance, kak. Kerjanya sering keluar negeri gitu. Pernah sampe sebulan gak pulang-pulang. Papa sampai sakit waktu itu."


Mia : "Ya ampun. Kakakmu kok gitu ya. Kapan-kapan mau dong dikenali."


Kaori : "Nanti Kaori ajak kesini ya. Gitu-gitu kakak sayang banget sama Kaori. Apapun yang Kaori minta pasti dikasi."


Mia tersenyum melihat senyum manis Kaori.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Jodi baru sampai di club malam. Ia ada janji dengan salah satu client Arnold. Demi persahabatan mereka, Jodi rela disibukkan menghandle entertaintment dengan client-client Arnold.


Dengan keadaan Arnold dan Rara saat ini, mereka gak mungkin melakukan itu. Ilham tentu saja hanya mempertemukan mereka dengan client dan ia akan segera pergi.


Sampai di ruangan VIP, Jodi membuka pintu dan melihat Ilham sudah duduk di salah satu kursi yang tersedia.


Ilham berdiri menyambut Jodi dan langsung memperkenalkannya dengan client Arnold. Pak Brian salah satu client Arnold yang suka dugem itu menyalami Jodi.


Pak Brian : "Oho, ini yang katanya bro-nya Pak Arnold ya. Ayo duduk. Mau minum apa?"


Jodi menyebutkan salah satu minuman favoritnya dan Pak Brian bertepuk tangan.


Pak Brian : "Oh, aku suka ini. Pasti seru."


Jodi : "Seru? Apa maksudnya, pak?"


Pak Brian : "Katty... Kenapa kau datang terlambat?"


Jodi menoleh kearah pintu masuk. Seorang wanita bertubuh sintal memakai pakaian ketat yang menunjukkan setiap inci lekuk tubuhnya tampak memasuki ruangan.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain โ€˜Menantu untuk Ibuโ€™, โ€˜Perempuan IDOLโ€™, โ€˜Jebakan Cintaโ€™ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ


__ADS_2