
DM2 – Ancaman
Mia yang mendengarnya, langsung berteriak
lewat telpon memanggil dokter kandungannya itu.
“Dokter! Dokter! Angkat telponnya.”teriak
Mia heboh.
“Iya, Mia. Kenapa? Susternya belum
kembali.”
“Pasien itu. Kinanti. Apa yang terjadi sama
dia?”
“Mia, kamu tahu kan etika dokter. Tidak
boleh sembarangan memberitahu kondisi pasien pada orang yang bukan
keluarganya.”
“Iya, saya tahu. Tapi Kinanti ini sedang
hamil 7 bulan, apa yang terjadi sama dia?”
“Bagaimana kamu bisa tahu? Apa hubunganmu
dengan Kinanti?”
“Panjang ceritanya, dokter. Tolong kasih
tau apa dia sakit? Kenapa masuk ruang ICU?”
Akhirnya dokter kandungan itu hanya
mengatakan kalau Kinanti sudah melahirkan melalui operasi cesar dan belum
sadar. Mia langsung mengucapkan terima kasih dan menutup telponnya. Padahal ia
masih menunggu kabar tentang keadaan Gadis.
“Waduh, gimana ini?”tanya Mia panik. “Aku
harus kasi tau Rara kalau Kinanti sudah melahirkan.”
Mia mengetik chat di grup chat dengan
cepat. Ia mengatakan kalau Kinanti sudah melahirkan lewat operasi cesar yang
mungkin sedang dirawat di ICU. Mia meminta Rara mengecek kebenaran berita itu
di rumah sakit.
Ditangga darurat, Gadis terdorong ke
dinding dengan keras. Endy mengukungnya dengan kedua tangannya. “Apa yang kau
lakukan?!”teriak Gadis. Ia menatap tajam Endy, tidak takut pada pria itu.
“Kalau kau berani mengatakan apa yang
kukatakan tadi pada seseorang, Rio-mu itu akan kubuat celaka.”desis Endy
mengancam Gadis.
“Kau tidak akan berani. Kinanti tidak akan
membiarkanmu melakukan itu.”kata Gadis yakin. “Dia tidak akan memaafkanmu kalau
kau melakukan itu.”
Kata-kata Gadis sepertinya mempengaruhi
Endy, padahal ia hanya asal saja mengatakan semua itu. Gadis belum tahu sejauh
mana Endy bisa berkorban untuk Kinanti. Tapi membantu kekasih sendiri untuk
mendapatkan pria lain, bukankah artinya Endy memang sangat mencintai Kinanti.
Seringai licik muncul di wajah Endy, “Aku
akan mengaturnya dengan baik sampai Kinanti tidak akan tahu apa yang akan
kulakukan pada Rio. Heh! Berani mengancamku. Kau sudah bosan hidup ya.”
__ADS_1
Endy kembali mencekik Gadis, wanita itu
meronta, memukul wajah Endy sampai pria itu mundur merasa kesakitan pada
wajahnya.
“Coba saja kalau kau berani menghancurkan
Kinanti, aku tidak akan membuat hidup kalian tenang.”ancam Endy menakuti Gadis.
“Kalau tidak bisa menghancurkan Rio, aku masih bisa bermain-main dengan
Reynold.”
Deg! Gadis tercekat, ia mengepalkan
tangannya. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Endy. “Kau!”lengking Gadis
marah. “Kau berani mengancam anakku!”
Gadis maju memukuli lengan Endy, menendang
kakinya hingga Endy tertunduk kesakitan. Saat Endy lengah, Gadis hampir
menampar pipinya lagi. Tapi Endy dengan cepat menahan tangan Gadis, “Jangan
main-main denganku! Kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa!”
“Aku gak peduli, kau mengancam putraku! Kau
pria b*ji*gan!”sengit Gadis masih berusaha menendang Endy.
Bruk! Endy mendorong Gadis dengan keras
sampai tubuhnya membentur dinding. Klek! Pintu tangga darurat terbuka, “Hei!
Siapa kamu!”teriak suster bersama security. Keduanya melihat tubuh Gadis
melorot jatuh ke lantai. Endy bergerak cepat menangkap Gadis.
“Nona, anda tidak apa-apa? Tolong, tadi ada
orang yang mau merampok nona ini.”kata Endy menunjuk pintu keluar di belakang
mereka.
mengejar entah siapa di balik pintu itu. Endy membantu Gadis berdiri sambil
berbisik, “Ingat kata-kataku. Atau rasakan akibatnya.”
Suster membantu Gadis naik ke lantai atas,
sementara Endy mengikuti mereka. Rara tidak sengaja melihat Gadis dibawa
suster, ia mengejar mereka. Dirinya sempat berpapasan dengan Endy yang langsung
kembali ke ruang ICU.
“Gadis!”panggil Rara. “Kamu darimana?”
Rara mengimbangi langkah kaki suster dan
Gadis, mata Rara terbelalak melihat keadaan Gadis yang meringis dengan bekas
kebiruan di lehernya. “Apa yang terjadi? Gadis, kamu kenapa?”
“Ibu Gadis hampir di rampok orang, bu.
Sekarang mau saya bawa ke ruang dokter kandungan dulu.”
“Apa?! Kamu gak pa-pa, kan Gadis?”tanya
Rara panik.
Gadis sudah ingin mengatakan tentang semua
kebenaran kelakuan Kinanti dan status bayinya, tapi Gadis mengingat ancaman Endy.
Ia menyimpannya untuk sekarang, Gadis ingin bicara dulu dengan Kinanti untuk
meluruskan masalah mereka.
Rara mengirimkan chat pada Mia, mengatakan
tentang kejadian yang diceritakan Gadis tentang kejadian perampokan bohongannya
dan juga proses kelahiran baby Kinanti. Grup chat langsung ramai dengan
__ADS_1
banyaknya chat menanyakan kondisi Gadis yang sedang diobati.
Gadis terpaksa melanjutkan kebohongan Endy
untuk mengamankannya dari pertanyaan tentang siapa Endy saat ini. Gadis hanya
mengatakan kalau dia tidak sengaja melihat Kinanti di rumah sakit. Mungkin
Kinanti yang kaget bertemu dengan Gadis sampai gak sadar berjalan ke tangga
darurat dan terjatuh disana.
Dokter terpaksa mengoperasi cesar Kinanti
untuk menyelamatkan dia dan bayinya. Gadis tidak punya banyak waktu menelpon Mia
karena dia juga panik saat itu. Dalam hatinya Gadis terus-terusan memohon maaf
untuk setiap kebohongan yang ia katakan pada keluarganya.
Gadis tidak takut kalau dirinya atau Rio
yang diancam, tapi kalau sampai Reynold juga dibawa-bawa, Gadis tidak akan sanggup
melihat putra yang sudah dirawatnya selama 5 tahun itu celaka. Setelah Gadis
selesai diobati, ia mengajak Rara melihat Kinanti di ICU.
Endy masih ada di sana, duduk di depan
ruang ICU. Gadis pura-pura tidak mengenalnya, ia bertanya pada suster tentang
keadaan Kinanti.
“Ibu Kinanti baru saja sadar. Silakan masuk
kalau mau menjenguk, tapi satu-satu ya.”
Gadis melirik Endy yang hampir berdiri, ia
menunggu sebentar tapi sepertinya Endy menahan dirinya untuk tidak masuk duluan
ke ruang ICU. Gadis ingin menemui Kinanti duluan. Ia masuk ke ruang ICU dan
mendekati bilik yang ditunjuk suster.
Gadis menyibak tirai sedikit, Kinanti
menoleh menatapnya, “Gadis, dimana anakku?”tanya Kinanti.
“...Dia di ruang bayi. Bayi itu
perempuan.”ujar Gadis terdiam sejenak. “Kinanti, aku gak bermaksud bilang ini
sekarang. Tapi cepat atau lambat kamu akan tahu juga. Dokter bilang kalau
bayimu tidak sempurna.”
“Apa maksudmu? Tidak sempurna gimana? Dia
cacat?”tanya Kinanti bertubi-tubi.
“Dia buta, Kinanti.”saut Gadis. “Sekarang dia
masih ada di inkubator, beratnya kurang dari bayi normal.”
Kinanti terdiam, ia tidak menyangka bayinya
akan cacat seperti itu. “Aku sudah tahu kalau bayi itu bukan milik Rio.”kata
Gadis berikutnya membuat Kinanti sangat terkejut sampai tekanan darahnya
tiba-tiba tidak stabil.
Suster meminta Gadis keluar dari ruang ICU,
mereka memeriksa kondisi Kinanti dengan cepat. Tapi Kinanti tidak membiarkan
Gadis pergi dari sisinya. Ia menggenggam tangan Gadis sampai Gadis meringis
kesakitan.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1