Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Ancaman


__ADS_3

DM2 – Ancaman


Mia yang mendengarnya, langsung berteriak


lewat telpon memanggil dokter kandungannya itu.


“Dokter! Dokter! Angkat telponnya.”teriak


Mia heboh.


“Iya, Mia. Kenapa? Susternya belum


kembali.”


“Pasien itu. Kinanti. Apa yang terjadi sama


dia?”


“Mia, kamu tahu kan etika dokter. Tidak


boleh sembarangan memberitahu kondisi pasien pada orang yang bukan


keluarganya.”


“Iya, saya tahu. Tapi Kinanti ini sedang


hamil 7 bulan, apa yang terjadi sama dia?”


“Bagaimana kamu bisa tahu? Apa hubunganmu


dengan Kinanti?”


“Panjang ceritanya, dokter. Tolong kasih


tau apa dia sakit? Kenapa masuk ruang ICU?”


Akhirnya dokter kandungan itu hanya


mengatakan kalau Kinanti sudah melahirkan melalui operasi cesar dan belum


sadar. Mia langsung mengucapkan terima kasih dan menutup telponnya. Padahal ia


masih menunggu kabar tentang keadaan Gadis.


“Waduh, gimana ini?”tanya Mia panik. “Aku


harus kasi tau Rara kalau Kinanti sudah melahirkan.”


Mia mengetik chat di grup chat dengan


cepat. Ia mengatakan kalau Kinanti sudah melahirkan lewat operasi cesar yang


mungkin sedang dirawat di ICU. Mia meminta Rara mengecek kebenaran berita itu


di rumah sakit.


Ditangga darurat, Gadis terdorong ke


dinding dengan keras. Endy mengukungnya dengan kedua tangannya. “Apa yang kau


lakukan?!”teriak Gadis. Ia menatap tajam Endy, tidak takut pada pria itu.


“Kalau kau berani mengatakan apa yang


kukatakan tadi pada seseorang, Rio-mu itu akan kubuat celaka.”desis Endy


mengancam Gadis.


“Kau tidak akan berani. Kinanti tidak akan


membiarkanmu melakukan itu.”kata Gadis yakin. “Dia tidak akan memaafkanmu kalau


kau melakukan itu.”


Kata-kata Gadis sepertinya mempengaruhi


Endy, padahal ia hanya asal saja mengatakan semua itu. Gadis belum tahu sejauh


mana Endy bisa berkorban untuk Kinanti. Tapi membantu kekasih sendiri untuk


mendapatkan pria lain, bukankah artinya Endy memang sangat mencintai Kinanti.


Seringai licik muncul di wajah Endy, “Aku


akan mengaturnya dengan baik sampai Kinanti tidak akan tahu apa yang akan


kulakukan pada Rio. Heh! Berani mengancamku. Kau sudah bosan hidup ya.”

__ADS_1


Endy kembali mencekik Gadis, wanita itu


meronta, memukul wajah Endy sampai pria itu mundur merasa kesakitan pada


wajahnya.


“Coba saja kalau kau berani menghancurkan


Kinanti, aku tidak akan membuat hidup kalian tenang.”ancam Endy menakuti Gadis.


“Kalau tidak bisa menghancurkan Rio, aku masih bisa bermain-main dengan


Reynold.”


Deg! Gadis tercekat, ia mengepalkan


tangannya. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Endy. “Kau!”lengking Gadis


marah. “Kau berani mengancam anakku!”


Gadis maju memukuli lengan Endy, menendang


kakinya hingga Endy tertunduk kesakitan. Saat Endy lengah, Gadis hampir


menampar pipinya lagi. Tapi Endy dengan cepat menahan tangan Gadis, “Jangan


main-main denganku! Kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa!”


“Aku gak peduli, kau mengancam putraku! Kau


pria b*ji*gan!”sengit Gadis masih berusaha menendang Endy.


Bruk! Endy mendorong Gadis dengan keras


sampai tubuhnya membentur dinding. Klek! Pintu tangga darurat terbuka, “Hei!


Siapa kamu!”teriak suster bersama security. Keduanya melihat tubuh Gadis


melorot jatuh ke lantai. Endy bergerak cepat menangkap Gadis.


“Nona, anda tidak apa-apa? Tolong, tadi ada


orang yang mau merampok nona ini.”kata Endy menunjuk pintu keluar di belakang


mereka.


mengejar entah siapa di balik pintu itu. Endy membantu Gadis berdiri sambil


berbisik, “Ingat kata-kataku. Atau rasakan akibatnya.”


Suster membantu Gadis naik ke lantai atas,


sementara Endy mengikuti mereka. Rara tidak sengaja melihat Gadis dibawa


suster, ia mengejar mereka. Dirinya sempat berpapasan dengan Endy yang langsung


kembali ke ruang ICU.


“Gadis!”panggil Rara. “Kamu darimana?”


Rara mengimbangi langkah kaki suster dan


Gadis, mata Rara terbelalak melihat keadaan Gadis yang meringis dengan bekas


kebiruan di lehernya. “Apa yang terjadi? Gadis, kamu kenapa?”


“Ibu Gadis hampir di rampok orang, bu.


Sekarang mau saya bawa ke ruang dokter kandungan dulu.”


“Apa?! Kamu gak pa-pa, kan Gadis?”tanya


Rara panik.


Gadis sudah ingin mengatakan tentang semua


kebenaran kelakuan Kinanti dan status bayinya, tapi Gadis mengingat ancaman Endy.


Ia menyimpannya untuk sekarang, Gadis ingin bicara dulu dengan Kinanti untuk


meluruskan masalah mereka.


Rara mengirimkan chat pada Mia, mengatakan


tentang kejadian yang diceritakan Gadis tentang kejadian perampokan bohongannya


dan juga proses kelahiran baby Kinanti. Grup chat langsung ramai dengan

__ADS_1


banyaknya chat menanyakan kondisi Gadis yang sedang diobati.


Gadis terpaksa melanjutkan kebohongan Endy


untuk mengamankannya dari pertanyaan tentang siapa Endy saat ini. Gadis hanya


mengatakan kalau dia tidak sengaja melihat Kinanti di rumah sakit. Mungkin


Kinanti yang kaget bertemu dengan Gadis sampai gak sadar berjalan ke tangga


darurat dan terjatuh disana.


Dokter terpaksa mengoperasi cesar Kinanti


untuk menyelamatkan dia dan bayinya. Gadis tidak punya banyak waktu menelpon Mia


karena dia juga panik saat itu. Dalam hatinya Gadis terus-terusan memohon maaf


untuk setiap kebohongan yang ia katakan pada keluarganya.


Gadis tidak takut kalau dirinya atau Rio


yang diancam, tapi kalau sampai Reynold juga dibawa-bawa, Gadis tidak akan sanggup


melihat putra yang sudah dirawatnya selama 5 tahun itu celaka. Setelah Gadis


selesai diobati, ia mengajak Rara melihat Kinanti di ICU.


Endy masih ada di sana, duduk di depan


ruang ICU. Gadis pura-pura tidak mengenalnya, ia bertanya pada suster tentang


keadaan Kinanti.


“Ibu Kinanti baru saja sadar. Silakan masuk


kalau mau menjenguk, tapi satu-satu ya.”


Gadis melirik Endy yang hampir berdiri, ia


menunggu sebentar tapi sepertinya Endy menahan dirinya untuk tidak masuk duluan


ke ruang ICU. Gadis ingin menemui Kinanti duluan. Ia masuk ke ruang ICU dan


mendekati bilik yang ditunjuk suster.


Gadis menyibak tirai sedikit, Kinanti


menoleh menatapnya, “Gadis, dimana anakku?”tanya Kinanti.


“...Dia di ruang bayi. Bayi itu


perempuan.”ujar Gadis terdiam sejenak. “Kinanti, aku gak bermaksud bilang ini


sekarang. Tapi cepat atau lambat kamu akan tahu juga. Dokter bilang kalau


bayimu tidak sempurna.”


“Apa maksudmu? Tidak sempurna gimana? Dia


cacat?”tanya Kinanti bertubi-tubi.


“Dia buta, Kinanti.”saut Gadis. “Sekarang dia


masih ada di inkubator, beratnya kurang dari bayi normal.”


Kinanti terdiam, ia tidak menyangka bayinya


akan cacat seperti itu. “Aku sudah tahu kalau bayi itu bukan milik Rio.”kata


Gadis berikutnya membuat Kinanti sangat terkejut sampai tekanan darahnya


tiba-tiba tidak stabil.


Suster meminta Gadis keluar dari ruang ICU,


mereka memeriksa kondisi Kinanti dengan cepat. Tapi Kinanti tidak membiarkan


Gadis pergi dari sisinya. Ia menggenggam tangan Gadis sampai Gadis meringis


kesakitan.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2