
Baru saja Mia ingin minta dibuatkan bubur, mb Minah sudah siap membawa nampan berisi bubur dan air putih.
Mia : "Pas banget, mb. Tolong dibawa ke dalam ya. Saya mau lihat si kembar dulu."
Mia berjalan ke kamarnya, ia menyempatkan melihat ponselnya. Tidak ada chat dari Rara.
Mia : "Anak ini kemana sich? Sibuk sekali sampai gak sempat liat chat."
Mia mengirimkan chat singkat mengatakan Arnold sakit dan segera masuk ke kamarnya. Nenek tampak duduk diatas ranjang sedang menggendong Reva yang tampak anteng.
Mia : "Loh, Reva uda bangun ya."
Nenek : "Iya nich, popoknya basah. Cepat diganti."
Mia : "Wah, mulai nakal ya, neneknya dikencingin."
Baby Reva menggeliat saat bedongnya dibuka dan popoknya diganti Mia. Ia bersiap-siap menangis kencang sebelum Mia memberinya ASI.
Mia : "Astaga, gak sabaran banget sich. Iya sebentar."
Baby Rava tampak masih anteng aja meskipun saudaranya menangis kencang di sebelahnya.
Mia dengan cepat menyusui baby Reva. Sementara nenek membantu mengganti popok baby Rava yang basah juga.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rara menjabat tangan client Jodi yang kini juga ingin menjadi client perusahaan Arnold. Client itu minta hari ini dikirimkan draft perjanjian kerja sama dan akan segera ditanda tangani apabila tidak ada perubahan.
Jodi memberi selamat setelah client itu pergi dari restaurant.
Jodi : "Selamat! Nambah client lagi, emang rejeki anakmu."
Rara : "Iya, kak. Anak ini memang membawa rejeki. Entah kenapa papanya malah..."
Rara tidak meneruskan ucapannya. Ia mengelus perutnya dengan sayang.
Jodi : "Papanya kenapa? Oh, karena itu ya."
Rara : "Nggak, kak. Aku duluan ya, kak. Masih ada meeting di kantor. Ayo, Ilham."
Ilham : "Mari pak Jodi."
Jodi : "Iya, hati-hati di jalan ya. Nanti kamu pulang jam biasa kan?"
Rara : "Aku dianter Ilham aja nanti, kak."
Jodi : "Oh gitu? Kamu kenapa, Ra?"
__ADS_1
Ditanya begitu, Rara malah semakin ingin menangis. Ia sudah menahannya dari berangkat bersama Jodi tadi pagi.
Rara berjalan mendekati Jodi dan memeluknya. Jodi yang mendapat perlakuan seperti itu dari Rara, sedikit berjengit. Ia sama sekali tidak balas memeluk Rara. Bahkan tangannya terangkat tinggi di sisi kepalanya.
Jodi : "Kamu kenapa, Ra? Ilham, dia kenapa?"
Ilham : "Saya juga gak tahu, pak. Dari tadi biasa-biasa aja."
Rara menangis sambil membenamkan wajahnya ke dada Jodi. Jodi bisa merasakan bajunya basah entah kena air mata atau ingus Rara.
Jodi : "Ra... Lepas dulu ya. Duduk sini."
Rara gak mau melepas pelukannya, dia belum selesai menangis. Akhirnya Jodi pasrah saja bajunya kotor kena ingus Rara.
Setelah Rara sedikit tenang, ia dan Jodi duduk lagi di tempat semula. Ilham berpamitan duluan kembali ke kantor untuk mempersiapkan meeting berikutnya.
Jodi mengelap bajunya dengan tissu. Ia menatap Rara yang sedang mengusap wajahnya.
Jodi : "Ra, kamu mau cerita?"
Rara : "Mas Arnold uda bisa jalan, kak."
Jodi : "Beneran? Bagus dong. Trus kenapa kamu nangis?"
Rara : "Dia uda bisa jalan dari waktu pertama sadar dari koma."
Rara : "Sudah sebulan yang lalu, kak. Aku bisa aja bahagia melihat dia bisa jalan lagi. Tapi..."
Rara menggeleng. Jodi paham maksud Rara. Dengan kondisi hamil besar, ia ditinggalkan tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup 2.500 karyawan yang sudah mengabdi puluhan tahun pada keluarga Arnold.
Rara bahkan tidak pernah mengeluh padanya dan Jodi jadi belajar memahami Rara. Memahami semua perubahan sikap dan perilakunya dan menebak-nebak apa yang diinginkannya.
Empat bulan selalu bersama, pagi dan sore hari. Gak lama, hanya 4-5 jam sehari tapi bisa membangun perasaan yang mendalam pada Rara.
Jodi tidak lagi mencintai Rara, ia mencintai Katty sekarang. Jodi hanya melihat Rara sebagai adik perempuan yang tidak pernah ia miliki.
Jodi : "Sudah kamu tanya alasannya?"
Rara : "Aku gak bisa menunggu jawabannya, kak. Hatiku sakit menatapnya."
Jodi : "Kenapa sakit?"
Rara : "Aku merasa dibohongi, dipermainkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku gak mau ketemu mas Arnold, kak."
Jodi : "Apa kau mau terus menghindarinya? Sekarang dia dimana?"
Rara : "Dirumah papaku, kak. Tadi pagi waktu kita berangkat, dia masih tidur."
__ADS_1
Jodi : "Mendingan kamu pulang, Ra. Temui dia, dengarkan alasannya. Baru putuskan langkahmu berikutnya."
Rara : "Aku belum bisa, kak. Hatiku gak sekuat itu."
Jodi : "Beri dia kesempatan, Ra. Demi bayimu, bayi kalian."
Rara mengelus perutnya, sejak kemarin ia tidak terlalu merasakan gerakan bayinya. Apa bayinya juga sama sedihnya dengan dirinya?
Rara : "Kak, bisa antar aku ke kantor? Aku masih ada meeting."
Jodi : "Kau sudah lebih baik? Bersihkan wajahmu dulu sana."
Rara mengangguk. Ia mengambil tissu basah dan pouch makeupnya. Sejak hamil memang Rara jarang memakai bedak. Ia merasa tidak nyaman dan terkadang mual melihat make up.
Agar wajahnya tidak terlihat terlalu pucat, Rara hanya memakai lip gloss pink.
Rara : "Uda, kak."
Jodi : "Astaga, bahkan gak berubah dari yang tadi. Sudahlah, ayo berangkat."
Jodi mendekati meja kasir dan mau membayar, tapi kasir bilang tagihan mereka sudah dibayar.
Jodi : "Siapa yang bayar?"
Kasir : "Bapak yang datang bersama ibu ini."
Rara : "Uda dibayar sama Ilham, kak. Ayo berangkat."
Rara dan Jodi berjalan mendekati mobil Jodi dan masuk ke dalamnya.
Rara : "Kak, kayaknya pouch make up ku ketinggalan didalam. Iya, beneran kak."
Jodi : "Aku ambilkan ya. Bentar."
Rara menatap Jodi yang berjalan memasuki restaurant lagi.
γ
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
π²π²π²π²π²