
Extra part 55
Alan & Ginara
Keduanya kembali mengecek CCTV untuk mencari pelaku yang menyerang Ginara. Mereka cukup sulit melakukannya karena pelaku itu tahu letak kamera CCTV dan juga blind spot CCTV. Belum lagi jeda waktu untuk memanipulasi CCTV, membuat X dan Guntur pusing terus-terusan memutar ulang CCTV agar bisa
melihat wajah pelaku yang sebenarnya.
“Tetap tidak kelihatan, kita harus bagaimana?” tanya Guntur hampir putus asa.
Tring! Tring! Ponsel X berbunyi, nomor asing menelponnya.
“Halo?” sapa X.
“Halo, pah. Papa, ini Alan. Pah, pelakunya sudah ketangkep. Dia ada di depan kantor om Jodi sekarang.” Alan bicara dengan cepat lalu menutup telponnya begitu saja.
X segera berlari keluar gedung, Guntur mengejarnya sambil menanyakan apa yang terjadi. Pertanyaan Guntur segera terjawab saat melihat seorang pria memiting seseorang yang memakai pakaian petugas keamanan di
lantai. X langsung membantu pria itu dan Guntur mengenali pria yang sedang dipiting itu.
“Dia petugas yang tadi!” teriak Guntur mengagetkan X.
Guntur menahan amarahnya melihat pria yang diduga menyakiti putrinya itu. X menanyakan siapa pria yang memiting pelaku itu dan pria itu mengaku sebagai orang suruhan Alan. Lagi-lagi X semakin pusing memikirkan apa sebenarnya pekerjaan Alan.
Petugas keamanan yang dipanggil Guntur, mengenali pria itu sebagai salah satu dari mereka. Tapi pria itu baru masuk sekitar sebulan. Guntur mempertanyakan bagaimana seleksi petugas keamanan di kantor itu
pada kepala keamanan yang datang dengan cepat. Kepala keamanan mengatakan kalau pria itu memiliki hasil seleksi yang sangat baik. Jadi mereka juga kecolongan sebenarnya.
Pelakunya dibawa ke kantor petugas keamanan untuk diinterogasi sampai bukti-bukti terkumpul semua. Guntur dan X menginterogasi sendiri pria yang bernama Junaedi itu. X yang berpengalaman dalam mengorek
keterangan dari seseorang, segera mengintimidasi Junaedi agar mengatakan yang sebenarnya.
Pria itu memang sudah mengincar Ginara sejak pertama melihat gadis itu. Senyuman dan sikap ramah Ginara membuat Junaedi terpikat sampai ingin memiliki gadis itu. Tentu saja tidak akan mudah karena kedudukan orang tua Ginara yang cukup tinggi di kantor itu.
Akhirnya Junaedi hanya bisa menunggu kesempatan Ginara pulang sendirian seperti hari ini. Ia selalu mengambil shift sore ke malam hari dengan alasan kalau di pagi hari ia harus mengantar adiknya ke sekolah.
Tentu saja itu hanya alasan saja. Setelah mengetahui kalau hari ini Ginara terlambat pulang dan masih bersama Alan, Junaedi mengambil kesempatan menyergap gadis itu ketika ia sendirian di ruangannya.
Tugasnya sebagai petugas keamanan memudahkan Juanedi untuk mengetahui blind spot agar ia bisa bersembunyi dari CCTV. Sampai tempat-tempat yang cukup sepi untuk memuluskan aksinya, juga sudah diketahui Juanedi. Setelah menyergap Ginara, Junaedi langsung menarik gadis itu ke ruangan kosong tempat menaruh file-file dan juga stock barang. Selanjutnya, Junaedi mulai melakukan aksinya untuk menodai gadis itu. Sebelum Alan memergoki ulahnya.
Pengakuan Junaedi direkam sebagai salah satu bukti selain hasil visum dan juga test sampel DNA yang akan keluar secepatnya. Junaedi dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
__ADS_1
Ginara yang tersadar satu jam kemudian, tampak kebingungan melihat keberadaannya di ruang rawat inap. Ia langsung terduduk lalu mengecek tubuhnya dengan ekspresi ketakutan.
“Nona Ginara, tenang dulu ya,” pinta perawat yang menjaganya.
“Ka—kamu siapa? Di—dimana ini?” tanya Ginara ketakutan.
“Nona, saya perawat yang bertugas menjaga nona. Ibu nona ada disini, sedang tidur disana. Nona ada di rumah sakit,” jelas perawat itu sambil menunjuk Anisa dan Melda yang tertidur di sofa.
“A—aku... huhu... hiks...,” tangisan Ginara mulai terdengar di ruang rawat inap itu.
Perawat yang setia di sampingnya, memeluk Ginara untuk menenangkannya. Suara tangisan Ginara terdengar Melda yang terbangun dan langsung mendekati gadis itu.
“Ginara sayang, ada apa? Dimana yang sakit?” tanya Melda cemas.
“Ada orang jahat, tante!” jerit Ginara mengagetkan Anisa yang langsung terbangun.
Anisa segera ganti memeluk Ginara yang mulai menangis histeris. Perawat segera menyiapkan suntikan dengan dosis yang lebih rendah lagi untuk menenangkan Ginara. Setelah disuntik, Ginara mulai bisa tenang dan fokus melihat keberadaan dirinya yang sudah aman.
“Sayang, kamu sudah aman. Orang jahatnya sudah pergi,” kata Anisa yang berusaha kuat untuk Ginara.
“Ta—tapi aku takut, mah. Sakit. Dia pukul aku, mah. Hu... hu... hiks...,” tangisan Ginara masih saja terdengar ketika ia menceritakan apa yang diingatnya.
Saat Guntur dan X kembali ke rumah sakit, Ginara mulai tidak nyaman melihat pria ada di kamarnya. Ginara juga menolak menatap papanya ketika Guntur ingin memeluk putrinya itu. Melihat Ginara yang trauma,
perawat itu mengusulkan untuk berbicara dengan psikiater. Dan untuk sementara tidak ada pria yang mendekati Ginara dulu.
Akhirnya X dan Melda memilih pulang dulu, sedangkan Guntur menunggui Ginara di luar kamar. Perawat itu mengirimkan chat pada Alan, memberitahu kondisi terbaru Ginara. Alan yang masih menunggu kabar tentang
keadaan Ginara, memikirkan sesuatu di tempat ia berada saat itu.
Keesokan harinya, seorang psikiater berkunjung ke kamar rawat inap Ginara. Wanita berkacamata itu segera mendapat perhatian dari Ginara karena keramahannya. Seperti dua orang teman lama yang baru bertemu,
mereka berdua mengobrol ringan sebelum psikiater itu memulai sesi terapi.
Metode hipnoterapi digunakan psikiater itu agar Ginara bisa rileks dan fokus untuk mengendalikan perasaan dan emosi negatif akibat peristiwa penyerangan itu. Awalnya terapi itu berjalan dengan Ginara yang terus menangis tanpa henti. Anisa dan Guntur yang memegangi putrinya itu sampai ikut sedih. Tapi lambat laun, tangisan Ginara mulai mereda dan akhirnya ia terbangun dengan kondisi yang lebih baik.
Saat melihat papanya, Ginara langsung memeluk pria itu dengan erat. Guntur merasa sedikit lega karena Ginara sudah mau melihat dirinya lagi. Tapi sepertinya trauma Ginara masih belum sepenuhnya pulih. Saat
dokter pria memeriksanya, gadis itu menolak disentuh. Ia juga bersembunyi di bawah selimut, sampai-sampai perawat khusus yang menjaganya lah yang harus melakukan pemeriksaan.
Kondisi Ginara memang sudah membaik tapi psikisnya belum sembuh benar. Ia masih takut jika bertemu dengan pria, apalagi yang mirip dengan sosok pria yang menyerangnya. Akibatnya Ginara hanya bisa tinggal di rumah untuk sementara waktu.
__ADS_1
Sekembalinya Alan dari tugasnya, ia menunggu Melda dan X kembali dari kantor mereka. Kepulangan Alan membawa misteri yang ingin ditanyakan X dan Melda tapi pemuda itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
“Pah, mah, aku mau melamar Ginara,” kata Alan.
“Apa??!!” pekik Melda sedikit lebay.
“Kamu yakin, Alan? Gadis itu masih trauma sampai sekarang. Belum berani bertemu dengan pria selain papanya. Papa rasa akan sedikit sulit membuatnya setuju,” jelas X.
“Tapi kalau Ginara mau menikah, rumah ini terlalu kecil untuk kita tinggal sama-sama,” kata Melda.
Alan tersenyum melihat kekuatiran orang tuanya. Ia hanya ingin persetujuan orang tuanya mengenai calon pasangannya.
“Pah, mah, ayo ikut. Kita pindah ke rumah baru,” ajak Alan.
“Kamu bercanda ya. Uang darimana? Kamu nyicil rumah?” tanya Melda yang tidak yakin dengan kata-kata Alan.
“Nggak kok. Ikut yuk,” pintu Alan sambil bangkit dari duduknya di sofa.
Alan menggandeng tangan Melda, dan X mengikuti mereka berdua keluar rumah. Mereka bertiga naik ke mobil X, lalu berangkat menuju rumah baru yang sudah disiapkan Alan. Pemuda itu mengebut pengerjaan rumahnya setelah bertemu dengan Ginara. Dan pagi itu ketika ia datang, Alan langsung mengemasi barang-barang orang tuanya untuk dibawa ke rumah baru mereka.
Rumah baru Alan tidak terlalu jauh dari kantor Alex, Alan sengaja mencari rumah yang dekat dengan kantor mamanya agar Melda bisa cepat sampai di rumah.
“Alan, kamu serius nich?” tanya Melda lagi.
Mereka sudah berhenti di depan sebuah rumah yang lebih sederhana dari rumah Alex. Rumah berlantai dua itu memiliki halaman depan yang cukup luas. Alan menekan semacam remote yang membuat gerbang rumah itu terbuka. Seorang pria dan wanita langsung keluar dari dalam rumah, menyambut kedatangan mereka.
“Tuan Alan, tuan besar dan nyonya besar, selamat datang,” sapa keduanya kompak.
“Alan, mereka siapa?” tanya Melda.
“Mah, ini Ina, ART disini. Dan... Ina, ngapain suamimu disini?” tanya Alan.
“Tuan Alan, tuan besar minta suami saya pindah kerja kesini untuk keamanan tuan Alan dan keluarga,” jelas ART itu.
Alan mengkerutkan keningnya, sepertinya Endy mulai overprotektif menjaga Alan agar tidak terkena masalah lagi. Pria bernama Adi itu membungkuk lagi ketika Alan memperkenalkannya pada Melda dan X.
“Alan, ini beneran rumah kamu? Kamu beli sendiri? Atau masih nyicil?” tanya Melda masih mengorek keterangan dari Alan.
“Udah lunas, mah. Aku nabung untuk membeli rumah ini. Jadi mama sama papa bisa terus sama-sama aku setelah aku nikah nanti,” kata Alan.
Mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama dan berkeliling melihat-lihat seisi rumah yang hampir lengkap itu. Melda fokus memperhatikan dapur dan perabotannya. Ia mengatakan kalau perabotan di rumah lama masih bisa dipakai untuk mengisi dapur dirumah baru.
__ADS_1