
Menahan diri
Setelah diijinkan keluar dari rumah sakit, Arnold masih harus menjalani terapi pasca operasi dan pemulihan. Dokter menyarankan agar Arnold untuk sementara tinggal terpisah dari rumah Alex.
Semua alat terapi dan kesehatan disiapkan di apartment Arnold agar ia bisa konsentrasi dan lebih tenang. Padahal kenyataannya, hal itu hanya sebuah kamuflase saja.
Arnold sudah membaik bahkan ketika ia keluar dari rumah sakit. Kakinya sudah baik-baik saja dan ia bisa berjalan meskipun harus dibantu tongkat sementara. Untuk menyempurnakan sandiwaranya, Arnold bahkan menyewa perawat untuk tinggal bersamanya di apartment.
Rara selalu mengunjungi Arnold di jam-jam tertentu karena dokter melarangnya melihat saat Arnold terapi. Bau obatnya tidak baik untuk ibu hamil seperti dirinya, itu kata dokternya.
Belum lagi Rara harus menghandle pekerjaan Arnold sebelumnya. Jabatannya sebagai direktur mengharuskannya harus selalu berada di kantor Arnold.
Padahal kehamilannya yang semakin besar mulai membuatnya kesulitan bergerak. Ia sering terbangun di malam hari karena lapar dari harus keluar kamar sendirian untuk ke dapur mengambil makanan.
Pada minggu-minggu awal setelah kepulangan Arnold, Rara masih baik-baik saja. Meskipun kadang Mia suka menengoknya dimalam hari saat si kembar sudah tertidur bersama Alex, Rara benar-benar membutuhkan Arnold untuk berada disisinya sepenuhnya.
Jodi masih setia mengantar Rara kemanapun dia pergi. Tapi untuk menjaga hubungan mereka sebatas pertemanan, Rara tidak pernah mengeluh pada Jodi tentang kerinduannya pada Arnold.
Sore hari setelah pulang dari kantor, Rara merasa sangat lelah. Ia langsung tertidur setelah masuk ke mobil Jodi. Melihat Rara kelelahan, Jodi melajukan mobil perlahan saja.
Saat itu Arnold menelponnya,
Jodi : "Halo, Arn."
Arnold : "Apa Rara sama kamu?"
Jodi : "Ya, aku baru jemput dia. Tapi dia lagi tidur."
Panggilan berubah jadi v-call. Jodi memperlihatkan posisi Rara yang tertidur di kursi penumpang.
Arnold : "Dia keliatan capek banget."
Jodi : "Makanya cepet sembuh. Bantuin dia kerja di kantor, sekarang banyak proyek baru karena kerja kerasnya."
Arnold : "Iya, aku tahu. Ilham sering menelponku juga."
Jodi : "Eh, penjual gorengan uda buka."
Arnold melihat Jodi seperti menghentikan mobilnya dan berjalan keluar dari mobil.
Jodi : "Bang, pisang goreng bungkus 10ribu ya. Sama tahu isi 10rb."
Penjual gorengan membungkus pesanan Jodi dan Jodi kembali berjalan masuk ke dalam mobil.
Arnold : "Ngapain kamu beli gorengan? Laper?"
Jodi : "Kamu gak tau kalau Rara ngidam ini? Dan harus penjualΒ gorengan yang tadi itu. Gak mau yang lain."
Arnold : "Rara gak pernah cerita." Ada sedikit rasa cemburu dari nada suaranya mendengar Jodi lebih memahami Rara sekarang.
Jodi : "Dia gak mau kamu kepikiran kali. Namanya ibu hamil banyak maunya. Dan kalau gak dapet sampe nangis guling-guling."
Arnold : "Rara sampe gitu? Nangis guling-guling?"
Jodi : "Gak sampe gitu sih. Kayaknya anakmu takut sama aku. Hehehe... Aku baca di google lah."
Arnold : "Kamu sampe browsing buat Rara?"
Jodi : "Aku kan lagi usaha bikin Katty hamil. Jadi aku banyak browsing. Untung ada Rara, jadi aku belajar juga dari dia."
__ADS_1
Arnold : "Ooh..."
Jodi : "Kamu lagi ngapain?"
Arnold : "Biasa habis terapi. Kok geli ya aku dengernya."
Jodi : "Geli gimana? Biasa aja."
Arnold : "Gak tau, geli aja denger kamu bilang gitu."
Jodi : "Mungkin karena aku tambah ganteng."
Arnold memasang wajah aneh melihat Jodi sok ganteng. Ia sedikit lega karena Jodi tidak menunjukkan rasa sukanya pada Rara.
Rara tampak menggeliat dan membuka matanya. Ia tersenyum melihat wajah Arnold yang pertama ia lihat saat terbangun.
Arnold : "Sayang... Kamu uda bangun. Capek ya."
Rara : "Mas... Eh, aku ketiduran ya. Bau apa nich?"
Jodi menyodorkan bungkusan gorengan yang tadi ia beli. Ia sibuk mengemudi lagi karena jalanan cukup padat.
Rara : "Asyik ada gorengan."
Arnold melihat Rara melahap satu persatu gorengan dalam bungkusan itu dengan terburu-buru. Ia terlihat sangat kelaparan dan akhirnya tersedak.
Rara : "Uhuk! Uhuk!"
Arnold : "Rara! Pelan-pelan makannya."
Jodi menyodorkan botol minuman pada Rara yang langsung meminumnya. Ia kembali konsen menyetir di jalanan dekat rumah Rara.
Arnold membayangkan dirinya yang ada di samping Rara saat ini. Jodi juga mendekatkan tisu ke dekat Riri.
Jodi : "Kamu gak pa-pa?"
Rara : "Gak, kak. Uhuk! Aduh! Perutku..."
Arnold : "Kamu kenapa?! Jodi, bawa Rara ke rumah sakit!"
Jodi : "Dia kram lagi. Bentar."
Jodi membantu Rara menurunkan kursi penumpang dan membantunya berbaring dengan nyaman. Jodi juga mengambil bantal dari kursi belakang untuk mengganjal pinggang Rara.
Tin! Tin! Klakson mobil dibelakang mereka membuat Jodi menoleh. Ia kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah berganti hijau.
Jodi : "Rara mengalami kram perut. Dokter bilang karena dia kebanyakan duduk dan terlalu tegang. Tapi kalau sudah berbaring, biasanya mendingan. Kamu tadi gak sempat baring ya di kantor?"
Rara : "Iya, kak. Full meeting, makanya aku capek."
Arnold : "Maaf, sayang..."
Rara : "Gak pa-pa, mas. Ntar lagi mendingan kok."
Jodi masih sibuk memperhatikan jalanan, mereka baru masuk kompleks perumahan Rara dan situasi cukup ramai dengan penghuni perumahan yang sedang berada di luar rumah.
Sore-sore seperti itu memang biasanya jalan perumahan Rara cukup ramai. Saat Jodi menghentikan mobilnya di depan rumah Rara, beberapa ibu-ibu sedang berdiri di dekat rumah Alex.
Mereka menatap Jodi yang sedang membantu Rara turun dari mobilnya. Sambungan v-call Arnold masih tersambung dan ponsel Jodi sudah dibawa Rara.
__ADS_1
Jodi membawa tas dan bungkusan gorengan Rara. Sementara Rara berjalan duluan mendekati pagar rumah Alex.
Ibu 1 : "Duh, enaknya dianter jemput 'sopir pribadi' ya mb Rara. Suaminya mana nich?"
Rara : "Oh, suami saya masih berobat, bu. Dan ini bukan sopir saya."
Ibu 2 : "Bukan sopir, mb? Kok dikasi ya anter jemput gitu. Inget loh lagi hamil mb Rara."
Rara : "Apa hubungannya ya bu?"
Ibu 1 : "Jangan ngomong gitu dong, bu. Kan suaminya cacat. Ya harus punya 'serep' dong."
Rara sudah mau membalas kata-kata pedas ibu-ibu kompleks itu tapi Jodi sudah memintanya masuk ke dalam rumah.
Jodi : "Mau kamu ladenin sampai kapan? Gak usah ditanggepin ibu-ibu stres!"
Ibu-ibu itu keki dibilang stres sama Jodi. Arnold yang mendengarnya juga ikut marah. Dia tidak cacat!
Jodi menatap tajam pada ibu-ibu yang masih bisik-bisik di belakang mereka. Rese banget sich!
Rara duduk pelan-pelan di ruang keluarga, ia melihat layar ponsel Jodi masih menampakkan wajah Arnold.
Arnold : "Mereka sudah sering bicara gitu?"
Rara : "Kayaknya, mas. Biasanya kak Jodi buru-buru nyuruh aku masuk. Mungkin mereka gak tahan nyapa aku."
Arnold : "Kamu gak pa-pa?"
Rara : "Aku gak pa-pa, mas." Rara mencoba tersenyum.
Arnold : "Aku tutup dulu ya. Ntar malem aku telpon lagi."
Rara : "Iya, mas. Muaachh..."
Arnold : "Muaachh..."
Jodi : "Woi... Ponselku basah nich..."
Rara nyengir saat Jodi menyerahkan ponselnya kembali. Ia menatap Rara sebentar dan mengangguk-angguk.
Rara : "Kenapa, kak?"
Jodi : "Cuma mau memastikan."
Rara : "Aku gak akan nangis, kak. Sepele cuma masalah kecil."
Jodi : "Kita lihat besok aja, bengkak gak matamu."
Rara tersenyum samar, ia pasti nangis lagi nanti malam dan Jodi sudah hafal itu. Sungguh menyakitkan mendengar kata-kata ibu-ibu tadi. Bilang suaminya cacat, dirinya yang dianggap selingkuh.
Jodi berpamitan pada Rara, ia ingin segera sampai di rumah Katty yang sudah menunggunya.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²