
Mia : “Kasi...
jeda...”
Alex : “Waktunya
gak cukup...”
Tubuh keduanya menegang
sampai akhirnya jatuh bersisian di atas tempat tidur. Mia bangkit dengan cepat,
memukul lengan Alex sambil merapikan pakaiannya yang berantakan.
Alex : “Kenapa aku
dipukul?”
Mia : “Mas nich,
kebiasaan. Udah mau kesiangan, mas gak ke kantor?”
Alex : “Romi bilang
meetingnya jam 10, aku masih mau tidur tadi, kamunya dateng godain sich.”
Mia memonyongkan
bibirnya dengan wajah cemberut pada Alex, ia harus segera kembali ke meja makan
atau mertuanya akan mulai berpikir yang tidak-tidak. Mia keluar dari kamar,
meninggalkan Alex yang belum mau bangun. Tubuhnya terasa segar setelah
pelepasan mereka tadi, Alex mengambil ponselnya.
Mia melihat Rio dan
Kaori sudah duduk di meja makan, mulai sarapan dengan roti bakar dan susu
hangat. Wajah keduanya merona ketika Mia bergabung dengan mereka. Apalagi Mia
senyum-senyum gak jelas mengingat apa yang dilihatnya tadi.
Rio : “Pagi, mah...”
Kaori : “Pagi, kak.”
Mia : “Pagi. Tidur
kalian nyenyak?”
Uhuk! Uhuk! Kaori
tersedak susu yang baru diminumnya, Rio menyodorkan tisu sambil menepuk-nepuk
punggung Kaori. Nenek yang melihat reaksi Kaori, jadi curiga dan semakin kepo.
Nenek kembali bertanya pada Mia apa yang membuatnya tertawa tadi.
Mia mengatakan
kalau tadi Mia mendengar gombalan Rio yang gak ditanggapi Kaori dengan
romantis. Semakin merahlah wajah Rio dan Kaori karena Mia memergoki kelakuan
mereka pagi itu.
Tidak ingin
menggoda keduanya lagi, Mia menyuruh keduanya agar cepat sarapan dan berangkat.
Ketika nenek
menanyakan dimana Alex, Mia menjawab kalau Alex mengeluh kurang tidur dan ingin
berangkat lebih siang ke kantornya. Rio menyelesaikan memakan sarapannya, ia
ingin memanaskan mobilnya lebih dulu. Sementara Kaori mencuci piring dan gelas
susu yang mereka berdua gunakan tadi.
Mia : “Kaori rajin
sekali ya. Sudah cocok jadi istri.”
Kaori : “Ach, gak
gitu, kak. Kalau dibiasakan, kan jadinya bagus. Habis makan cuci piring.”
Kaori mengeringkan
tangannya, ia mengambil tasnya yang tergeletak di ruang tengah. Saat itu
ponselnya berdering nyaring, Kaori mengambil ponselnya dan melihat mama
calling.
Kaori mengangkat
__ADS_1
telpon dari mamanya yang terdengar panik, mengabarkan kalau papa Kaori masuk
rumah sakit. Kaori bertanya dengan suara serak menahan tangisannya, dimana
rumah sakit tempat papanya dirawat dan mamanya menyebutkan salah satu rumah
sakit yang dekat dengan rumah mereka.
Rio masuk lagi ke
dalam rumah, ia melihat Kaori menangis, segera menghampirinya.
Rio : “Ada apa?”
Kaori : “Papa masuk
rumah sakit, Rio!”
Mia : “Rio, antar
dulu Kaori ke rumah sakit. Tapi gimana kuliah kalian?”
Rio : “Rio coba
ijin sama ketua kelas dulu. Rio pergi ya, mah. Ayo, Kaori.”
Kekasihnya itu sudah
menangis mengkhawatirkan kondisi papanya. Rio menenangkan Kaori dengan
memeluknya, mengatakan papanya akan baik-baik saja. Mereka segera ke rumah
sakit untuk menengok papa Kaori.
*****
Riri menggeliat
dari tidur panjang yang nyaman. Tubuhnya mengirimkan signal kepanasan karena AC
yang dimatikan Elo sejak semalam. Riri menendang selimut yang menutupi kakinya, semilir angin
yang mengenai kakinya, membuatnya merasa lebih sejuk.
Tapi tubuhnya mulai
berkeringat dan terasa lengket. Tangan Riri bergerak mengipasi tubuhnya. Ia
menggumam panas. Riri merasakan gerakan di atas tempat tidur itu dan suara AC
dihidupkan. Hembusan angin dingin AC mulai menyentuh kulit tubuh Riri yang
Merasa lebih
dingin, tangan Riri bergerak mengelap keringat yang membasahi leher dan
dadanya. Ia meraba dadanya dengan mata yang masih terpejam. Tapi sedetik
kemudian, matanya terbuka lebar menyadari sesuatu.
Panik, Riri menarik
selimut menutupi tubuh polosnya. Ia melihat sekeliling kamar dan hampir bangun
dari tidurannya, saat dirasakannya tubuh bagian bawahnya perih.
Riri : “Aoowww... Sss...”
Elo : “Riri, dimana
yang sakit?”
Riri : “Aarrgghhh...!!!”
Teriakan terdengar
dari kamar pengantin Riri dan Elo. Semua orang yang mendengar teriakan Riri
spontan menghentikan kegiatannya dan menatap kearah kamar pengantin itu. Lili
yang masih ada di dapur, berlari dengan cepat ketika mendengar Riri berteriak.
Ia menaiki tangga
dengan terburu-buru dan hampir mendobrak pintu kamar Elo kalau tidak melihat
hiasan bunga di depan pintu kamar itu. Lili berdiri gelisah tidak tau apa yang
seharusnya ia lakukan. Di satu sisi ia mengkhawatirkan Riri, disisi lain Riri
sudah aman bersama Elo. Dan entah apa yang sudah mereka lakukan di dalam sana.
Riri memegangi
dadanya yang berdebar kencang, ia sangat terkejut saat bangun dalam keadaan
yang sama-sama polos bersama Elo. Elo tersenyum manis menatap Riri yang pucat,
Elo : “Sayang...
__ADS_1
kamu gak pa-pa?”
Riri : “Oh... lupa.”
Riri menarik
selimut menutupi wajahnya yang merah padam. Ia benar-benar lupa kalau mereka
sudah resmi menikah dan apa yang terjadi semalam sudah sah mereka lakukan. Elo
menarik selimut yang menutup wajah Riri, tapi Riri menahannya dengan kuat.
Akhirnya Elo masuk
ke bawah selimut juga. Selimut itu bergerak sesuai dengan gerakan pemiliknya di
dalam sana. Suara-suara semalam kembali terdengar dari kamar pengantin Elo dan
Riri. Lili menempelkan telinganya ke pintu kamar itu. Sungguh, ia tidak ingin
menguping, tapi ada suara yang menarik perhatiannya.
Dion : “Kamu
ngapain?” tegur Dion pada Lili
Dion sudah berdiri
di belakang Lili. Wanita itu sangat terkejut sampai tubuhnya hampir jatuh kalau
Dion tidak segera menangkapnya. Keduanya saling pandang sangat dalam. Untuk
sesaat Lili menunjukkan rasa sukanya lewat pandangan mereka. Tapi ia tersadar
kalau sedang bertugas dan akhirnya memilih mendorong Dion.
Lili : “Ada suara
aneh didalam. Tuch, nona Riri menjerit. Apa yang terjadi?” kata Lili sambil
berusaha menguping lagi.
Dion : “Aku sudah
mendengarnya sejak semalam. Kalau terus begitu, mereka akan segera mendapatkan
tuan muda kecil. Kau ingin anak laki-laki atau perempuan? Atau keduanya?”
Lili : “Aku suka
keduanya. Anak laki-laki dan anak perempuan... eh, apa maksud pertanyaanmu itu?”
Dion : “Aku bisa
bantu kalau kau mau keduanya...”
Lili menoleh
menatap Dion, ia baru akan bertanya lagi ketika menangkap maksud ucapan Dion.
Wajah Lili memerah menahan rasa malunya. Dion yang menyadari kegugupan Lili,
tersenyum smirk. Ia mendengar langkah kaki seseorang mendekat dari arah tangga
dan menarik Lili dengan cepat ke balik korden.
Mereka melihat
seorang pelayan membawa peralatan kebersihan berhenti sebentar di depan kamar
pengantin Elo. Pelayan itu tersenyum malu mendengar suara dari dalam sana dan
beranjak meneruskan langkahnya untuk mengerjakan tugasnya.
Lili bernafas lega,
ia menyadari lengan Dion masih melingkar di pinggangnya. Dan saat Lili
mendongak, Dion menunduk mencium bibirnya. Keduanya terhanyut dalam ciuman
manis yang memabukkan. Setelah Dion menghentikan ciuman mereka.
Dion : “Apa aku
boleh...”
🌻🌻🌻🌻🌻
“Apa aku boleh
minta vote buat novel ini?” kata Dion dengan wajah menyeramkan.
Author berdiri di
belakang Dion bawa pentungan. Minta vote apa malak?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1