Duren Manis

Duren Manis
Lupa uda sah


__ADS_3

Mia : “Kasi...


jeda...”


Alex : “Waktunya


gak cukup...”


Tubuh keduanya menegang


sampai akhirnya jatuh bersisian di atas tempat tidur. Mia bangkit dengan cepat,


memukul lengan Alex sambil merapikan pakaiannya yang berantakan.


Alex : “Kenapa aku


dipukul?”


Mia : “Mas nich,


kebiasaan. Udah mau kesiangan, mas gak ke kantor?”


Alex : “Romi bilang


meetingnya jam 10, aku masih mau tidur tadi, kamunya dateng godain sich.”


Mia memonyongkan


bibirnya dengan wajah cemberut pada Alex, ia harus segera kembali ke meja makan


atau mertuanya akan mulai berpikir yang tidak-tidak. Mia keluar dari kamar,


meninggalkan Alex yang belum mau bangun. Tubuhnya terasa segar setelah


pelepasan mereka tadi, Alex mengambil ponselnya.


Mia melihat Rio dan


Kaori sudah duduk di meja makan, mulai sarapan dengan roti bakar dan susu


hangat. Wajah keduanya merona ketika Mia bergabung dengan mereka. Apalagi Mia


senyum-senyum gak jelas mengingat apa yang dilihatnya tadi.


Rio : “Pagi, mah...”


Kaori : “Pagi, kak.”


Mia : “Pagi. Tidur


kalian nyenyak?”


Uhuk! Uhuk! Kaori


tersedak susu yang baru diminumnya, Rio menyodorkan tisu sambil menepuk-nepuk


punggung Kaori. Nenek yang melihat reaksi Kaori, jadi curiga dan semakin kepo.


Nenek kembali bertanya pada Mia apa yang membuatnya tertawa tadi.


Mia mengatakan


kalau tadi Mia mendengar gombalan Rio yang gak ditanggapi Kaori dengan


romantis. Semakin merahlah wajah Rio dan Kaori karena Mia memergoki kelakuan


mereka pagi itu.


Tidak ingin


menggoda keduanya lagi, Mia menyuruh keduanya agar cepat sarapan dan berangkat.


Ketika nenek


menanyakan dimana Alex, Mia menjawab kalau Alex mengeluh kurang tidur dan ingin


berangkat lebih siang ke kantornya. Rio menyelesaikan memakan sarapannya, ia


ingin memanaskan mobilnya lebih dulu. Sementara Kaori mencuci piring dan gelas


susu yang mereka berdua gunakan tadi.


Mia : “Kaori rajin


sekali ya. Sudah cocok jadi istri.”


Kaori : “Ach, gak


gitu, kak. Kalau dibiasakan, kan jadinya bagus. Habis makan cuci piring.”


Kaori mengeringkan


tangannya, ia mengambil tasnya yang tergeletak di ruang tengah. Saat itu


ponselnya berdering nyaring, Kaori mengambil ponselnya dan melihat mama


calling.


Kaori mengangkat

__ADS_1


telpon dari mamanya yang terdengar panik, mengabarkan kalau papa Kaori masuk


rumah sakit. Kaori bertanya dengan suara serak menahan tangisannya, dimana


rumah sakit tempat papanya dirawat dan mamanya menyebutkan salah satu rumah


sakit yang dekat dengan rumah mereka.


Rio masuk lagi ke


dalam rumah, ia melihat Kaori menangis, segera menghampirinya.


Rio : “Ada apa?”


Kaori : “Papa masuk


rumah sakit, Rio!”


Mia : “Rio, antar


dulu Kaori ke rumah sakit. Tapi gimana kuliah kalian?”


Rio : “Rio coba


ijin sama ketua kelas dulu. Rio pergi ya, mah. Ayo, Kaori.”


Kekasihnya itu sudah


menangis mengkhawatirkan kondisi papanya. Rio menenangkan Kaori dengan


memeluknya, mengatakan papanya akan baik-baik saja. Mereka segera ke rumah


sakit untuk menengok papa Kaori.


*****


Riri menggeliat


dari tidur panjang yang nyaman. Tubuhnya mengirimkan signal kepanasan karena AC


yang dimatikan Elo sejak semalam. Riri menendang  selimut yang menutupi kakinya, semilir angin


yang mengenai kakinya, membuatnya merasa lebih sejuk.


Tapi tubuhnya mulai


berkeringat dan terasa lengket. Tangan Riri bergerak mengipasi tubuhnya. Ia


menggumam panas. Riri merasakan gerakan di atas tempat tidur itu dan suara AC


dihidupkan. Hembusan angin dingin AC mulai menyentuh kulit tubuh Riri yang


Merasa lebih


dingin, tangan Riri bergerak mengelap keringat yang membasahi leher dan


dadanya. Ia meraba dadanya dengan mata yang masih terpejam. Tapi sedetik


kemudian, matanya terbuka lebar menyadari sesuatu.


Panik, Riri menarik


selimut menutupi tubuh polosnya. Ia melihat sekeliling kamar dan hampir bangun


dari tidurannya, saat dirasakannya tubuh bagian bawahnya perih.


Riri : “Aoowww... Sss...”


Elo : “Riri, dimana


yang sakit?”


Riri : “Aarrgghhh...!!!”


Teriakan terdengar


dari kamar pengantin Riri dan Elo. Semua orang yang mendengar teriakan Riri


spontan menghentikan kegiatannya dan menatap kearah kamar pengantin itu. Lili


yang masih ada di dapur, berlari dengan cepat ketika mendengar Riri berteriak.


Ia menaiki tangga


dengan terburu-buru dan hampir mendobrak pintu kamar Elo kalau tidak melihat


hiasan bunga di depan pintu kamar itu. Lili berdiri gelisah tidak tau apa yang


seharusnya ia lakukan. Di satu sisi ia mengkhawatirkan Riri, disisi lain Riri


sudah aman bersama Elo. Dan entah apa yang sudah mereka lakukan di dalam sana.


Riri memegangi


dadanya yang berdebar kencang, ia sangat terkejut saat bangun dalam keadaan


yang sama-sama polos bersama Elo. Elo tersenyum manis menatap Riri yang pucat,


Elo : “Sayang...

__ADS_1


kamu gak pa-pa?”


Riri : “Oh... lupa.”


Riri menarik


selimut menutupi wajahnya yang merah padam. Ia benar-benar lupa kalau mereka


sudah resmi menikah dan apa yang terjadi semalam sudah sah mereka lakukan. Elo


menarik selimut yang menutup wajah Riri, tapi Riri menahannya dengan kuat.


Akhirnya Elo masuk


ke bawah selimut juga. Selimut itu bergerak sesuai dengan gerakan pemiliknya di


dalam sana. Suara-suara semalam kembali terdengar dari kamar pengantin Elo dan


Riri. Lili menempelkan telinganya ke pintu kamar itu. Sungguh, ia tidak ingin


menguping, tapi ada suara yang menarik perhatiannya.


Dion : “Kamu


ngapain?” tegur Dion pada Lili


Dion sudah berdiri


di belakang Lili. Wanita itu sangat terkejut sampai tubuhnya hampir jatuh kalau


Dion tidak segera menangkapnya. Keduanya saling pandang sangat dalam. Untuk


sesaat Lili menunjukkan rasa sukanya lewat pandangan mereka. Tapi ia tersadar


kalau sedang bertugas dan akhirnya memilih mendorong Dion.


Lili : “Ada suara


aneh didalam. Tuch, nona Riri menjerit. Apa yang terjadi?” kata Lili sambil


berusaha menguping lagi.


Dion : “Aku sudah


mendengarnya sejak semalam. Kalau terus begitu, mereka akan segera mendapatkan


tuan muda kecil. Kau ingin anak laki-laki atau perempuan? Atau keduanya?”


Lili : “Aku suka


keduanya. Anak laki-laki dan anak perempuan... eh, apa maksud pertanyaanmu itu?”


Dion : “Aku bisa


bantu kalau kau mau keduanya...”


Lili menoleh


menatap Dion, ia baru akan bertanya lagi ketika menangkap maksud ucapan Dion.


Wajah Lili memerah menahan rasa malunya. Dion yang menyadari kegugupan Lili,


tersenyum smirk. Ia mendengar langkah kaki seseorang mendekat dari arah tangga


dan menarik Lili dengan cepat ke balik korden.


Mereka melihat


seorang pelayan membawa peralatan kebersihan berhenti sebentar di depan kamar


pengantin Elo. Pelayan itu tersenyum malu mendengar suara dari dalam sana dan


beranjak meneruskan langkahnya untuk mengerjakan tugasnya.


Lili bernafas lega,


ia menyadari lengan Dion masih melingkar di pinggangnya. Dan saat Lili


mendongak, Dion menunduk mencium bibirnya. Keduanya terhanyut dalam ciuman


manis yang memabukkan. Setelah Dion menghentikan ciuman mereka.


Dion : “Apa aku


boleh...”


🌻🌻🌻🌻🌻


“Apa aku boleh


minta vote buat novel ini?” kata Dion dengan wajah menyeramkan.


Author berdiri di


belakang Dion bawa pentungan. Minta vote apa malak?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2