Duren Manis

Duren Manis
Bakat alam lelaki


__ADS_3

Sampai di rumah besar, Riri dan Elo beneran langsung masuk ke kamar mereka dan minta


makan malam diantarkan ke kamar saja. Mereka ingin memberi waktu pada Dion dan


Lili untuk menyelesaikan urusan mereka. Toh, mereka bisa mengintip keduanya


dari balkon kamar mereka.


Dion meminta Lili untuk mandi dan menemuinya di taman belakang. Lili menimang kotak


kecil di tangannya. Ia kembali bingung apa yang harus ia jawab pada Dion.


Maukah pria itu menunggu sampai ia lebih dewasa? Atau Lili harus mau menikah


sekarang?


Sambil melamun, Lili mulai mandi dan memakai sabun sampai dua kali. Ia juga kembali ke


kamarnya dengan tubuh yang masih basah berbalut handuk. Lili duduk di tempat


tidurnya, ia menatap lemarinya yang terbuka lebar. Bingung mau pakai baju apa.


Lili bahkan tidak sadar saat seseorang masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sesuatu.


Dion : “Kalau kau terus seperti ini, kita lupakan saja.”


Lili : “Hah?! Apa?”


Dion : “Lupakan saja tentang lamaranku. Anggap saja aku tidak beruntung.”


Lili menyadari sesuatu, ia melihat kebawah dan spontan mengambil selimut dari atas


tempat tidurnya.


 Lili : “Ap...apa yang kau lakukan disini?! Keluar!”


Dion membungkam mulut Lili dengan tangannya.


Dion : “Teriak lagi lebih keras dan lihat apa yang akan kulakukan...”


Lili merapatkan selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Dion melepaskan tangannya dari


mulut Lili dan duduk di tempat tidur wanita itu.


Lili : “Kamu mau ngapain kesini?”


Dion : “Tadinya mau ngasi dress ini, tapi liat kamu nglamun gini, aku jadi ngrasa


lamaranku terlalu cepat.”


Lili : “Memang terlalu cepat.”


Dion : “Kalau gitu, kita pacaran?”


Lili mengambil kotak kecil yang tadi ia taruh di bawah bantalnya. Ia memberikannya


pada Dion, Dion menerima kotak itu, menatapnya dengan kecewa. Lili menahan


senyumnya, ia mengulurkan tangannya pada Dion.


Lili : “Setahuku wanita yang akan bertunangan, cincinnya dipakaikan oleh pasangannya.


Bukan dipakai sendiri.”


Dion : “Serius?”


Lili mengangguk, Dion membuka kotak itu dan memasangkan cincin di jari manis Lili.


Dion menarik tangan Lili dan mencium punggung tangan wanita yang sangat ia


cintai itu.


Tiba-tiba, tok, tok, tok...


Pelayan : “Lili? Kamu didalam? Aku masuk ya...” tanya pelayan sambil membuka pintu


kamar Lili

__ADS_1


Dion langsung bersembunyi di belakang Lili yang masih memakai selimut di tubuhnya.


Lili : “Tunggu...! Ada apa, kak?”


Pelayan : “Kamu lagi ngapain? Kok ngomong sendiri?”


Lili : “Aku baru habis mandi, kak. Belum pake baju, kakak salah denger kali.”


Pelayan : “Oh, mungkin. Kamu sudah makan? Ayo, kita makan dulu.”


Lili merasakan tangan Dion menyentuh perutnya, bibir Dion juga mulai mencium


punggungnya. Tubuh Lili menegang seketika, keringat dingin tampak mengalir di


pelipisnya.


Lili : “Ntar... aku nyusul ya, kak.”


Lili tersenyum lebar mencoba menyembunyikan tubuhnya yang gemetar karena


sentuhan-sentuhan Dion.


Pelayan : “Kamu yakin baik-baik aja? Mukamu pucet gitu.”


Lili : “Aku belum pake lipstik, kak. Kakak duluan aja ya.”


Pelayan itu sudah hampir keluar dari kamar Lili, tapi kembali lagi.


Pelayan : “Kamu gak nyium wangi parfum cowok?”


Lili : “Gak, kak.”


Pelayan : “Aneh banget. Dari tadi aku nyium parfum cowok di dekat sini.”


Lili : “Mungkin dari bajuku tadi, kak. Aku kan baru datang, tadi keluar sama Dion.”


Pelayan : “Oh, mungkin juga. Ya, udah aku duluan ke dapur ya. Cepetan nyusul.”


Lili : “Iya, kak.”


Pelayan itu pergi bersama pelayan lain yang sudah selesai mandi. Lili bernafas lega,


tetap duduk diam.


Lili : “Tanganmu bisa diem gak? Jangan sentuh sembarangan.”


Dion : “Kamu pake sabun apa? Wangi banget.”


Lili : “Sabun cuci piring. Keluar sana.”


Dion : “Kita baru aja tunangan, kenapa aku diusir. Lagian kamu yakin, diluar udah


sepi?”


Lili : “Aku mau pakai baju dulu.”


Dion tetap gak mau melepas pelukannya, ia kembali menciumi punggung Lili. Lili


memejamkan matanya, ia merasakan bagian wajah Dion yang menempel di


punggungnya. Terasa sedikit tidak rata dan empuk, mungkin itu pipi Dion. Hembusan


nafas panas Dion, menerpa tengkuk Lili. Lili tanpa sadar tersenyum karena


merasa geli.


Dion : “Kalau kamu senyum gitu, lebih cantik.”


Lili : “Udah cukup, Dion. Aku mau pake baju. Laper.”


Dion : “Pake dress itu ya. Aku gak liat kok.”


Dion melepaskan pelukannya dan berbaring menghadap ke tembok. Lili menarik nafas panjang,


menyingkirkan selimut dan mendekati lemarinya. Ia memakai pakaian dalamnya


tanpa melepas handuknya. Lili mengangkat dress dari dalam paper bag. Ia segera

__ADS_1


memakai dress itu dan melihat penampilannya di cermin.


Lili menarik lepas ikatan rambutnya, ia mengambil sisir dan hampir menyisir


rambutnya sendiri, tapi Dion mengambil alih sisir itu. Dion menyisir rambut


Lili pelan-pelan, sesekali pandangan mata mereka bertemu.


Dion : “Ayo, kita makan. Pak Kim sudah menyiapkan sesuatu untuk kita di taman belakang.”


Lili : “Kau memberitahu Pak Kim?!”


Dion : “Bukan, nonamu yang memintanya melakukan itu.”


Lili membuka pintu kamarnya, ia menengok ke kanan ke kiri seperti orang mau nyebrang


jalan raya. Setelah yakin tidak ada seorangpun di sana, ia berjalan cepat keluar


dari kamarnya meninggalkan Dion. Bisa gawat kalau mereka ketahuan keluar dari


kamar Lili.


Lili sampai di taman belakang, ada meja dengan lilin disana. Mereka akan dinner


lagi. Dion sudah berdiri disana, entah bagaimana ia melakukannya. Dion menarik


kursi untuk Lili, membantunya duduk seperti lelaki sejati.


Pelayan mulai menghidangkan makan malam untuk mereka dan menuangkan minuman.


Dion : “Makasih uda mau terima aku.”


Lili : “Tapi kamu gak akan berubah lagi kan? Mengabaikan aku cuma karena wajahmu... Hatiku


sakit kamu gitu.”


Dion : “Aku sudah tahu kamu cinta sama aku dengan tulus. Aku janji gak akan bersikap


gitu lagi.”


Lili : “Bener ya. Janji.”


Dion : “Iya, janji.”


Keduanya menautkan jari kelingking mereka sambil tersenyum bahagia.


*****


Sementara itu di balkon kamar Elo, Riri senyum-senyum melihat Lili dan Dion saling


menautkan kelingking mereka. Pak Kim sudah menyiapkan tempat yang nyaman untuk


mereka melakukan pengintaian sambil makan malam romantis di balkon kamar


mereka.


Riri : “Oh, sweet banget sich. Kak Dion bisa romantis juga ya.”


Elo : “Bakat alam laki-laki kalo ngejar cewek. Sok romantis. Anaknya tengil gitu.”


Riri : “Jadi, romantisnya mas tuch bakat alam?”


Elo : “Kalo aku emang romantis dari dulu, sayangku. Ih, gemes. Pengen kugigit.”


Elo mencubit pipi Riri dengan gemas. Mereka menoleh lagi menatap kedua pasangan baru yang


sedang ngobrol sambil sesekali tertawa bersama.


*****


Next apalagi ya? Jangan lupa vote kk.


Caranya : Klik detail, cari di bawah foto profil


author klik tulisan vote. Trus klik lagi tulisan vote. Masukkan berapa yang mau


divote untuk author ya. Gratis kok.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk)


__ADS_2