Duren Manis

Duren Manis
Sogokan buat camer


__ADS_3

Selesai makan malam, Anisa sebenarnya masih ingin


mengobrol dengan Guntur, tapi ia harus segera pulang.


Anisa : “Katty, aku pulang dulu ya. Kalau


kemaleman, nanti nenekmu ribut nyariin.”


Guntur : “Aku juga mau pulang. Nisa, aku anter ya.”


Anisa : “Tapi, bukannya rumah kita beda arah ya?”


Guntur : “Gak pa-pa. Kalau boleh, sekalian aku mau


ketemu orang tuamu.”


Katty : “Inget bawa martabak ya.”


Guntur : “Oh, iya. Nanti kita beli sambil jalan


ya.”


Anisa : “Kenapa bawa martabak? Papa sama mama kan


sukanya donut.”


Katty : “Buat calon mertua. Hihihi...”


Guntur : “Aku boleh mampir dong?”


Anisa : “Eh, apa?”


Anisa gak berkutik saat Katty menjebaknya


menyebutkan apa kesukaan kakek dan nenek Katty. Guntur mengemasi tasnya dan


bersiap mengantar Anisa pulang.


Jodi : “Hati-hati di jalan, Guntur. Ingat diantar


sampai rumah ya. Jangan mampir lagi.”


Guntur : “Iya, pak. Permisi.”


Anisa melambaikan tangannya pada Katty dan Jodi


yang mengantar mereka sampai ke depan gerbang rumah.


Guntur terus tersenyum selama menyetir mobilnya


dengan Anisa yang duduk di sampingnya.


Anisa : “Kenapa kamu senyum-senyum terus?”


Guntur : “Aku seneng bisa ketemu kamu lagi. Apa


selama ini kamu pernah pacaran?”


Anisa : “Aku gak mau pacaran. Kebanyakan laki-laki


yang deketin aku maunya pacaran sich.”


Guntur : “Berarti langkahku tepat dong, langsung


nglamar kamu.”


Anisa : “Belum tentu juga orang tuaku nerima.”


Guntur menghentikan mobilnya di pinggir jalan,


Anisa kebingungan,


Anisa : “Kenapa berhenti?”


Guntur : “Aku beli donut dulu ya. Itu di seberang.”


Anisa : “Gak usah, omongan Katty tadi gak usah di


dengerin.”


Guntur : “Gak ada salahnya usaha, kan. Kalau yang


ini gak berhasil, aku coba cara lain lagi.”


Anisa tidak bisa menghentikan Guntur yang sudah


keluar dari mobil dan menyebrang jalan setelah memastikan jalanan cukup


lengang. Ia melihat Guntur masuk ke salah satu toko yang khusus menjual donut.


Guntur segera kembali membawa 2 kotak donut yang besar dan kecil.


Anisa : “Kok banyak banget?”


Guntur : “Iya, aku gak tahu orang tuamu suka rasa


apa. Jadi aku beli semuanya satu-satu. Taruh di kulkas, besok kan bisa dimakan


sambil minum teh atau kopi.”


Anisa : “Kamu baik banget sich.”


Guntur : “Dari dulu kan aku dah baik.”


Anisa : “Ih, geer.” Anisa memukul lengan Guntur


yang langsung memegang tangannya.


Guntur : “Eh, maaf. Kita jalan lagi.”


Guntur kembali tersenyum, ia merasakan kelembutan


tangan Anisa yang tadi digenggamnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit,


mereka tiba di rumah Anisa.


Anisa : “Ayo turun.”


Guntur : “Iya.”


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah,


Anisa : “Ibu, Nisa pulang.”


Ibu : “Nisa, kamu sama siapa?”


Anisa : “Ibu masih ingat sama Guntur? Teman sekolah


Nisa dulu.”


Ibu : “Guntur?”


Guntur : “Saya Guntur, tante. Teman SMA Nisa. Saya


pernah kesini dulu waktu ada tugas kelompok. Tante pernah ngasih saya mangga.”


Guntur menyalami ibu Nisa dan mencium tangannya.


Ibu : “Loh, Guntur yang kurus itu? Kok sekarang


ganteng gini ya. Sudah nikah?”


Anisa : “Ibu... Kok nanya gitu sich?”


Guntur : “Saya belum menikah, tante. Kalau


boleh...”


Guntur menoleh menatap Anisa sebelum meneruskan


kata-katanya,


Guntur : “Kalau boleh, saya mau melamar Nisa,


tante.”

__ADS_1


Ibu : “Apa??!! Ayah!! Ayah, sini cepetan.”


Ayah : “Ada apa? Kenapa? Eh, ada donut. Kamu beli


dimana, Nisa?”


Ibu memukul lengan ayah yang fokus ke donut, bukan


ke Guntur yang bersiap mencium tangan ayah Nisa.


Ayah : “Kenapa sich? Eh, ini siapa?” Ayah Nisa


mengulurkan tangannya menyambut tangan Guntur yang langsung mencium tangannya.


Guntur : “Saya Guntur, om. Saya teman SMA Nisa.”


Ayah : “Oh, temen. Terus kenapa pada heboh?


Gara-gara donut.”


Ibu dan Anisa melongo melihat ayah membawa


kotak-kotak donut itu ke dalam. Ibu menyusul ayah dan menariknya ke depan.


Ibu : “Ayah nich, ibu belum selesai ngomong. Ini


Guntur mau melamar Anisa.”


Ayah : “Oh, silakan duduk dulu. Nisa, buatkan


minum.”


Guntur duduk di ruang tamu bersama ayah dan ibu


Anisa. Entah apa yang mereka bicarakan, Anisa sangat penasaran. Tapi ia harus


menunggu air di kompor meluap untuk menyeduh teh.


Setelah empat cangkir teh selesai ia buat, Anisa


membawanya ke ruang tamu. Tapi ia tidak menemukan Guntur disana. Anisa


meletakkan nampan diatas meja,


Anisa : “Bu, Guntur kemana?”


Ibunya cuma diam mematung.


Anisa : “Ayah, Guntur kemana? Kok pada diem.”


Ayahnya juga ikutan diam. Anisa hampir berjalan


keluar rumah,


Ayah : “Anisa, jangan keluar. Duduk.”


Anisa : “Tapi, Gunturnya kemana?”


Melihat ayah dan ibunya hanya diam, ia jadi takut kalau


lamaran Guntur sudah ditolak. Anisa menuruti ayahnya duduk dengan wajah cemas.


🌸🌸��🌸🌸


Elo dan Riri sedang


menikmati dinner romantis bersama Rio dan Kaori. Salah satu halaman di sisi


mansion dihias dengan lampu temaram dan juga meja penuh makanan. Mereka


berempat mengobrol sambil menikmati makanan diatas meja.


Riri dan Kaori


memakai gaun malam dengan highheels sementara para pria memakai jas. Rebecca


masih setia menjadi fotografer dan juga ada beberapa body guard yang sengaja


menjaga disekitar mereka untuk menghalau Tante Dewi dan Elena kalau mereka mau


Elo : “Kau suka


makanannya, Ri?”


Riri : “Iya, mas. Ini


enak banget. Coba boleh makan pake tangan. Pasti seru.”


Rio : “Emangnya


kita lagi makan di warteg. Ngaco aja.”


Riri : “Iya, aku


tahu. Aku kan cuma komentar.”


Kaori menikmati makanannya


tanpa banyak omong. Ia masih kesal dengan Rio, kapan sich pacarnya itu bisa


menghormati dirinya. Bahkan Elo aja gak berani menyentuh Riri dengan kurang


ajar.


Rio sesekali


melirik Kaori dan ingin bicara dengannya tapi melihat raut wajah Kaori yang


menyeramkan, Rio mengurungkan niatnya.


Belum selesai


makan, alunan musik yang lembut mulai terdengar saat beberapa orang datang


sambil memainkan alat musik.


Elo : “Riri, kita


dansa.”


Riri : ”Dansa? Aku


gak bisa, kak.”


Elo : “Aku ajarin.


Ayo.”


Riri berdiri dan


agak kesulitan berjalan di atas rumput menggunakan highheels. Elo berlutut di


depan Riri dan ingin membantunya melepas heels-nya. Tapi Riri tidak


membiarkannya,


Riri : “Mas, biar


Riri aja yang lepas. Bangun, mas.”


Riri menarik tangan


Elo agar bangun, Riri kembali duduk di kursinya dan melepas heels-nya.


Riri : “Mas jangan


berlutut gitu lagi ya. Apalagi sampe megang kaki aku. Aku gak enak, kan mas


lebih tua.”


Elo tersenyum, ia


menarik tangan Riri dan memeluk pinggangnya erat. Riri mulai mengikuti langkah


Elo meskipun sesekali tanpa sengaja menginjak kaki Elo.


Elo : “Ri, injak

__ADS_1


kakiku.”


Riri : “Maaf, mas.”


Elo : “Bukan, taruh


kakimu diatas kakiku. Ayo.”


Riri berpegangan


erat pada Elo saat Elo mulai bergerak mengikuti alunan musik. Tubuh Riri


bergerak bersama tubuh Elo. Riri tersenyum senang bisa menikmati dansa dengan


Elo.


Pasangan lagi satu


masih betah duduk di meja sambil menonton Elo dan Riri berdansa sangat mesra.


Rio : “Kaori, kita


dansa yuk.”


Kaori : “Memangnya


kamu bisa?”


Rio : “Jangan


cemberut lagi dong. Aku kan sudah berkali-kali minta maaf.”


Kaori : “Kamu terus


aja ngulang kesalahan yang sama. Gak bisa sedikitpun nghargai aku.”


Rio memilih diam,


ia beranjak dari kursi dan berjalan menuju kolam renang. Ia mengendurkan


dasinya dan melepas jasnya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Rio duduk di salah


satu kursi di pinggir kolam renang. Matanya menatap jauh ke atas, langit malam


sangat cerah dan banyak bintang bertaburan.


Rio memejamkan


matanya, ia membayangkan wajah Kaori yang kesal padanya. Bahkan saat mereka


liburan seperti itu, Kaori juga memasang wajah kesal.


Rio : “Arrgghh!!


Kacau semuanya.”


Rio tidak menyadari


kalau Kaori mengikutinya, Kaori mengendap-endap ke samping Rio dan duduk


disebelahnya. Rio membuka matanya saat merasakan tubuhnya sedikit berat.


Rio : “Kaori!”


Rio kebingungan


mendapati Kaori menelungkup diatas tubuhnya. Wajah gadis itu memerah entah


karena apa?


Rio : “Kamu kenapa


kesini?”


Kaori : “Rio...”


Rio mencium bau


aneh dari mulut Kaori.


Rio : “Kamu mabuk?”


Kaori bergerak


mendekati wajah Rio dan terus menciumnya sampai Rio tidak bisa menghindar.


Tangan Rio menahan tangan Kaori yang menggerayangi tubuhnya.


Rio : “Kaori, kamu


mabuk. Ayo balik ke kamar.”


Rio mengangkat


tubuh Kaori yang memeluknya dengan erat. Ia membawa Kaori ke kamarnya dan


membaringkan Kaori diatas ranjang.


Rio melepas kemeja


dan celana panjangnya. Rebecca tadi memberikan pakaian kepada mereka khusus


untuk makan malam. Ia menggantungnya di lemari dan mengambil baju kaos dan


celana pendeknya dari dalam koper.


Rio mengambil satu


kaos lagi dan berjalan mendekati Kaori. Setelah menimbang cukup lama, Rio mulai


melepas gaun yang dipakai Kaori dan menggantinya dengan kaosnya. Ia melakukannya


sambil tetap menjaga tubuh Kaori tertutup selimut. Rio mengelus kening Kaori


dan mendekat untuk mengambil bantal di samping Kaori.


Laki-laki tampan


itu berjalan mendekati sofa yang lebar dan nyaman, ia mengambil selimut dari


dalam lemari dan merebahkan tubuhnya di sofa itu. Perlahan rasa kantuk mulai


menyerangnya dan Rio tertidur pulas.


Mendengar suara


dengkuran halus Rio, Kaori membuka matanya. Ia tersenyum melihat Rio yang sudah


tertidur. Kaori berpura-pura mabuk tadi atas saran Rebecca, ia ingin menguji


sejauh mana Rio berani menyentuhnya saat ia mabuk.


Ternyata Rio sangat


bertanggung jawab menjaganya dan tidak mencoba mengambil kesempatan dalam


kesempitan.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2