
Selesai makan malam, Anisa sebenarnya masih ingin
mengobrol dengan Guntur, tapi ia harus segera pulang.
Anisa : “Katty, aku pulang dulu ya. Kalau
kemaleman, nanti nenekmu ribut nyariin.”
Guntur : “Aku juga mau pulang. Nisa, aku anter ya.”
Anisa : “Tapi, bukannya rumah kita beda arah ya?”
Guntur : “Gak pa-pa. Kalau boleh, sekalian aku mau
ketemu orang tuamu.”
Katty : “Inget bawa martabak ya.”
Guntur : “Oh, iya. Nanti kita beli sambil jalan
ya.”
Anisa : “Kenapa bawa martabak? Papa sama mama kan
sukanya donut.”
Katty : “Buat calon mertua. Hihihi...”
Guntur : “Aku boleh mampir dong?”
Anisa : “Eh, apa?”
Anisa gak berkutik saat Katty menjebaknya
menyebutkan apa kesukaan kakek dan nenek Katty. Guntur mengemasi tasnya dan
bersiap mengantar Anisa pulang.
Jodi : “Hati-hati di jalan, Guntur. Ingat diantar
sampai rumah ya. Jangan mampir lagi.”
Guntur : “Iya, pak. Permisi.”
Anisa melambaikan tangannya pada Katty dan Jodi
yang mengantar mereka sampai ke depan gerbang rumah.
Guntur terus tersenyum selama menyetir mobilnya
dengan Anisa yang duduk di sampingnya.
Anisa : “Kenapa kamu senyum-senyum terus?”
Guntur : “Aku seneng bisa ketemu kamu lagi. Apa
selama ini kamu pernah pacaran?”
Anisa : “Aku gak mau pacaran. Kebanyakan laki-laki
yang deketin aku maunya pacaran sich.”
Guntur : “Berarti langkahku tepat dong, langsung
nglamar kamu.”
Anisa : “Belum tentu juga orang tuaku nerima.”
Guntur menghentikan mobilnya di pinggir jalan,
Anisa kebingungan,
Anisa : “Kenapa berhenti?”
Guntur : “Aku beli donut dulu ya. Itu di seberang.”
Anisa : “Gak usah, omongan Katty tadi gak usah di
dengerin.”
Guntur : “Gak ada salahnya usaha, kan. Kalau yang
ini gak berhasil, aku coba cara lain lagi.”
Anisa tidak bisa menghentikan Guntur yang sudah
keluar dari mobil dan menyebrang jalan setelah memastikan jalanan cukup
lengang. Ia melihat Guntur masuk ke salah satu toko yang khusus menjual donut.
Guntur segera kembali membawa 2 kotak donut yang besar dan kecil.
Anisa : “Kok banyak banget?”
Guntur : “Iya, aku gak tahu orang tuamu suka rasa
apa. Jadi aku beli semuanya satu-satu. Taruh di kulkas, besok kan bisa dimakan
sambil minum teh atau kopi.”
Anisa : “Kamu baik banget sich.”
Guntur : “Dari dulu kan aku dah baik.”
Anisa : “Ih, geer.” Anisa memukul lengan Guntur
yang langsung memegang tangannya.
Guntur : “Eh, maaf. Kita jalan lagi.”
Guntur kembali tersenyum, ia merasakan kelembutan
tangan Anisa yang tadi digenggamnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit,
mereka tiba di rumah Anisa.
Anisa : “Ayo turun.”
Guntur : “Iya.”
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah,
Anisa : “Ibu, Nisa pulang.”
Ibu : “Nisa, kamu sama siapa?”
Anisa : “Ibu masih ingat sama Guntur? Teman sekolah
Nisa dulu.”
Ibu : “Guntur?”
Guntur : “Saya Guntur, tante. Teman SMA Nisa. Saya
pernah kesini dulu waktu ada tugas kelompok. Tante pernah ngasih saya mangga.”
Guntur menyalami ibu Nisa dan mencium tangannya.
Ibu : “Loh, Guntur yang kurus itu? Kok sekarang
ganteng gini ya. Sudah nikah?”
Anisa : “Ibu... Kok nanya gitu sich?”
Guntur : “Saya belum menikah, tante. Kalau
boleh...”
Guntur menoleh menatap Anisa sebelum meneruskan
kata-katanya,
Guntur : “Kalau boleh, saya mau melamar Nisa,
tante.”
__ADS_1
Ibu : “Apa??!! Ayah!! Ayah, sini cepetan.”
Ayah : “Ada apa? Kenapa? Eh, ada donut. Kamu beli
dimana, Nisa?”
Ibu memukul lengan ayah yang fokus ke donut, bukan
ke Guntur yang bersiap mencium tangan ayah Nisa.
Ayah : “Kenapa sich? Eh, ini siapa?” Ayah Nisa
mengulurkan tangannya menyambut tangan Guntur yang langsung mencium tangannya.
Guntur : “Saya Guntur, om. Saya teman SMA Nisa.”
Ayah : “Oh, temen. Terus kenapa pada heboh?
Gara-gara donut.”
Ibu dan Anisa melongo melihat ayah membawa
kotak-kotak donut itu ke dalam. Ibu menyusul ayah dan menariknya ke depan.
Ibu : “Ayah nich, ibu belum selesai ngomong. Ini
Guntur mau melamar Anisa.”
Ayah : “Oh, silakan duduk dulu. Nisa, buatkan
minum.”
Guntur duduk di ruang tamu bersama ayah dan ibu
Anisa. Entah apa yang mereka bicarakan, Anisa sangat penasaran. Tapi ia harus
menunggu air di kompor meluap untuk menyeduh teh.
Setelah empat cangkir teh selesai ia buat, Anisa
membawanya ke ruang tamu. Tapi ia tidak menemukan Guntur disana. Anisa
meletakkan nampan diatas meja,
Anisa : “Bu, Guntur kemana?”
Ibunya cuma diam mematung.
Anisa : “Ayah, Guntur kemana? Kok pada diem.”
Ayahnya juga ikutan diam. Anisa hampir berjalan
keluar rumah,
Ayah : “Anisa, jangan keluar. Duduk.”
Anisa : “Tapi, Gunturnya kemana?”
Melihat ayah dan ibunya hanya diam, ia jadi takut kalau
lamaran Guntur sudah ditolak. Anisa menuruti ayahnya duduk dengan wajah cemas.
🌸🌸��🌸🌸
Elo dan Riri sedang
menikmati dinner romantis bersama Rio dan Kaori. Salah satu halaman di sisi
mansion dihias dengan lampu temaram dan juga meja penuh makanan. Mereka
berempat mengobrol sambil menikmati makanan diatas meja.
Riri dan Kaori
memakai gaun malam dengan highheels sementara para pria memakai jas. Rebecca
masih setia menjadi fotografer dan juga ada beberapa body guard yang sengaja
menjaga disekitar mereka untuk menghalau Tante Dewi dan Elena kalau mereka mau
Elo : “Kau suka
makanannya, Ri?”
Riri : “Iya, mas. Ini
enak banget. Coba boleh makan pake tangan. Pasti seru.”
Rio : “Emangnya
kita lagi makan di warteg. Ngaco aja.”
Riri : “Iya, aku
tahu. Aku kan cuma komentar.”
Kaori menikmati makanannya
tanpa banyak omong. Ia masih kesal dengan Rio, kapan sich pacarnya itu bisa
menghormati dirinya. Bahkan Elo aja gak berani menyentuh Riri dengan kurang
ajar.
Rio sesekali
melirik Kaori dan ingin bicara dengannya tapi melihat raut wajah Kaori yang
menyeramkan, Rio mengurungkan niatnya.
Belum selesai
makan, alunan musik yang lembut mulai terdengar saat beberapa orang datang
sambil memainkan alat musik.
Elo : “Riri, kita
dansa.”
Riri : ”Dansa? Aku
gak bisa, kak.”
Elo : “Aku ajarin.
Ayo.”
Riri berdiri dan
agak kesulitan berjalan di atas rumput menggunakan highheels. Elo berlutut di
depan Riri dan ingin membantunya melepas heels-nya. Tapi Riri tidak
membiarkannya,
Riri : “Mas, biar
Riri aja yang lepas. Bangun, mas.”
Riri menarik tangan
Elo agar bangun, Riri kembali duduk di kursinya dan melepas heels-nya.
Riri : “Mas jangan
berlutut gitu lagi ya. Apalagi sampe megang kaki aku. Aku gak enak, kan mas
lebih tua.”
Elo tersenyum, ia
menarik tangan Riri dan memeluk pinggangnya erat. Riri mulai mengikuti langkah
Elo meskipun sesekali tanpa sengaja menginjak kaki Elo.
Elo : “Ri, injak
__ADS_1
kakiku.”
Riri : “Maaf, mas.”
Elo : “Bukan, taruh
kakimu diatas kakiku. Ayo.”
Riri berpegangan
erat pada Elo saat Elo mulai bergerak mengikuti alunan musik. Tubuh Riri
bergerak bersama tubuh Elo. Riri tersenyum senang bisa menikmati dansa dengan
Elo.
Pasangan lagi satu
masih betah duduk di meja sambil menonton Elo dan Riri berdansa sangat mesra.
Rio : “Kaori, kita
dansa yuk.”
Kaori : “Memangnya
kamu bisa?”
Rio : “Jangan
cemberut lagi dong. Aku kan sudah berkali-kali minta maaf.”
Kaori : “Kamu terus
aja ngulang kesalahan yang sama. Gak bisa sedikitpun nghargai aku.”
Rio memilih diam,
ia beranjak dari kursi dan berjalan menuju kolam renang. Ia mengendurkan
dasinya dan melepas jasnya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Rio duduk di salah
satu kursi di pinggir kolam renang. Matanya menatap jauh ke atas, langit malam
sangat cerah dan banyak bintang bertaburan.
Rio memejamkan
matanya, ia membayangkan wajah Kaori yang kesal padanya. Bahkan saat mereka
liburan seperti itu, Kaori juga memasang wajah kesal.
Rio : “Arrgghh!!
Kacau semuanya.”
Rio tidak menyadari
kalau Kaori mengikutinya, Kaori mengendap-endap ke samping Rio dan duduk
disebelahnya. Rio membuka matanya saat merasakan tubuhnya sedikit berat.
Rio : “Kaori!”
Rio kebingungan
mendapati Kaori menelungkup diatas tubuhnya. Wajah gadis itu memerah entah
karena apa?
Rio : “Kamu kenapa
kesini?”
Kaori : “Rio...”
Rio mencium bau
aneh dari mulut Kaori.
Rio : “Kamu mabuk?”
Kaori bergerak
mendekati wajah Rio dan terus menciumnya sampai Rio tidak bisa menghindar.
Tangan Rio menahan tangan Kaori yang menggerayangi tubuhnya.
Rio : “Kaori, kamu
mabuk. Ayo balik ke kamar.”
Rio mengangkat
tubuh Kaori yang memeluknya dengan erat. Ia membawa Kaori ke kamarnya dan
membaringkan Kaori diatas ranjang.
Rio melepas kemeja
dan celana panjangnya. Rebecca tadi memberikan pakaian kepada mereka khusus
untuk makan malam. Ia menggantungnya di lemari dan mengambil baju kaos dan
celana pendeknya dari dalam koper.
Rio mengambil satu
kaos lagi dan berjalan mendekati Kaori. Setelah menimbang cukup lama, Rio mulai
melepas gaun yang dipakai Kaori dan menggantinya dengan kaosnya. Ia melakukannya
sambil tetap menjaga tubuh Kaori tertutup selimut. Rio mengelus kening Kaori
dan mendekat untuk mengambil bantal di samping Kaori.
Laki-laki tampan
itu berjalan mendekati sofa yang lebar dan nyaman, ia mengambil selimut dari
dalam lemari dan merebahkan tubuhnya di sofa itu. Perlahan rasa kantuk mulai
menyerangnya dan Rio tertidur pulas.
Mendengar suara
dengkuran halus Rio, Kaori membuka matanya. Ia tersenyum melihat Rio yang sudah
tertidur. Kaori berpura-pura mabuk tadi atas saran Rebecca, ia ingin menguji
sejauh mana Rio berani menyentuhnya saat ia mabuk.
Ternyata Rio sangat
bertanggung jawab menjaganya dan tidak mencoba mengambil kesempatan dalam
kesempitan.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1