
Pagi yang cerah,
matahari hampir menampakkan diri sepenuhnya. Ratna sedang menikmati minum teh
yang disajikan Pak Kim di meja makan. Sarapan sudah siap, tapi Riri dan Elo
bahkan belum bangun dari tidurnya.
Ratna : “Pak Kim,
Angelo sudah bangun?”
Pak Kim : “Belum
ada pergerakan...”
Riri :
“Aaaarrggggg...!!!”
Lili :
“Aaaarrggggg...!!!”
Tiba-tiba terdengar
teriakan dari kamar Elo dan kamar Dion. Ratna tertegun sejenak, ia meneguk
teh-nya lagi dengan tenang,
Ratna : “Pak Kim,
kenapa teriakannya ada dua?”
Pak Kim : “Itu
teriakan Lili, Ny. Ratna. Semalam Lili berjaga di kamar Dion.”
Ratna : “Oh,
astaga. Apa Dion melakukan sesuatu pada Lili?”
Pak Kim : “Saya
akan mengeceknya, Ny.”
Ratna : “Ach,
jangan. Itu urusan anak muda.”
Ratna menikmati
sarapannya dengan santai.
Sementara itu di
kamar Dion, Lili sedang memukuli Dion dengan bantal.
Dion : “Stop! Stop
dulu!”
Lili : “Kamu
ngapain tidur disini! Mau nyari kesempatan ya?”
Dion : “Kamu tuch
yang cari kesempatan!”
Lili : “Enak aja.”
Pagi itu Lili
terbangun diatas tempat tidur bersama Dion. Lili shock dan mengira Dion sudah
melakukan sesuatu padanya.
Dion : “Semalam
kamu kan tidur di sofa. Kamu sendiri yang pindah ke tempat tidur.”
Lili : “Hah?!
Kamu...”
Lili mengingat
kejadian semalam, ia sempat terbangun dan kebelet buang air. Mungkin karena
masih mengantuk, tanpa sadar Lili tidur di samping Dion. Lili bangun dengan sangat
cepat, ia masuk ke kamar mandi dan keluar 10 menit kemudian sudah terlihat
segar dan cantik.
Brak! Lili membuka
pintu kamar Dion dan keluar sambil membanting pintu dengan keras. Dion
geleng-geleng kepala, ia tersenyum mengingat kejadian semalam. Dirinya
terbangun saat Lili masuk ke kamar mandi semalam, ia diam saja saat Lili
mendekati tempat tidurnya dan berbaring di sampingnya.
Kejadian di kamar
Elo tidak seheboh di kamar Dion. Riri yang terbangun dan melihat Elo sangat
dekat di depannya, berteriak keras membangunkan Elo yang langsung mendekapnya.
Mencium bibir gadis itu agar diam.
Riri : “Mmm...
mas... mmm...”
Elo : “Ntar...
dulu...”
Riri kewalahan
diserang Elo sepagi itu. Ia berusaha mendorong Elo, tapi malah membuat Elo
semakin menghimpitnya.
Riri : “Hiii....”
Tubuh Riri
__ADS_1
merinding saat Elo mencium lehernya. Riri meronta mencoba menggerakkan seluruh
tubuhnya agar Elo berhenti menciuminya. Tapi Elo yang sudah lupa diri, tidak
bergeming sedikitpun.
Riri : “Mas...
berat... sesak...”
Riri berpikir
cepat, ia teringat pelajaran menjaga diri yang dikatakan Lili beberapa saat
lalu. Dengan cepat Riri meraih jemari Elo dan memelintirnya.
Elo : “Addooww...
Aduch!”
Bruk! Elo jatuh
dari atas tempat tidur, Riri duduk dengan cepat memegangi dadanya yang berdetak
cepat. Ia menatap Elo yang masih mengerang kesakitan.
Riri : “Maaf, mas.
Tapi kamu keterlaluan.”
Riri turun dari
tempat tidur dan berjalan cepat mendekati pintu kamar Elo. Ia membukanya dan
melihat Lili berdiri didepannya.
Lili : “Nona...”
Riri dengan cepat
menarik tangan Lili masuk ke kamarnya. Lili kebingungan melihat Riri duduk di
pinggir tempat tidur sambil mengusap sudut matanya.
Lili : “Nona
kenapa?”
Riri : “Mas Elo
nyebelin.”
Lili melihat tanda
merah di bawah leher Riri. Riri yang melihat arah tatapan Lili, refleks
menyilangkan tangannya di depan dada.
Lili : “Nona
sebaiknya mandi dulu. Sarapan sudah siap.”
Riri : “Tapi baju
saya ada di kamar mas Elo, gimana dong?”
Tok, tok, tok... Lili
agar Lili menyingkir.
Riri : “Pak Kim...”
Riri kembali menunduk malu.
Pak Kim meletakkan
satu set pakaian untuk Riri dan sekotak make up.
Pak Kim : “Lili,
bantu nona Riri bersiap-siap. Sarapan akan diantar ke kamar sebentar lagi.”
Riri beranjak ke
kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Pak Kim mendekati Lili dan sedikit
berbisik,
Pak Kim : “Di dalam
kotak ada foundation untuk menutupi leher nona Riri.”
Lili : “Saya
mengerti Pak Kim.”
Pak Kim : “Habis
sarapan, kalau nona Riri ingin bertemu, tuan muda ada di kamarnya. Tapi kalau
tidak, antar nona Riri pulang ke rumahnya.”
Lili : “Baik pak
Kim.”
Pak Kim keluar dari
kamar Riri dan bertemu dengan Elo yang sudah menunggunya di depan kamarnya.
Elo : “Apa Riri
masih marah?”
Pak Kim :
“Sepertinya iya, tuan muda. Saya sudah menyampaikan pesan anda pada Lili.”
Elo : “Ok.”
Elo masuk ke dalam
kamarnya dan menutup pintu. Pak Kim menatap pintu kamar Elo dan juga pintu
kamar Riri. Dirinya berjalan menuruni tangga bersiap meminta pelayan membawa
sarapan untuk Elo dan Riri, serta melaporkan kejadian tadi pada Ratna.
*****
Setelah sarapan
__ADS_1
dengan Lili, Riri memutuskan kembali ke rumah Alex tanpa bertemu dengan Elo.
Riri hanya sempat bertemu Ratna dan berpamitan padanya saja. Sesekali Riri
melihat lehernya dengan cermin kecil, memastikan tanda merah itu tidak terlihat
dengan jelas.
Riri : “Sampaikan
terima kasihku pada Pak Kim nanti. Maaf foundationnya aku bawa. Aku gak tahu
tanda ini akan hilang kapan.” Kata Riri pada Lili.
Lili : “Baik,
nona.”
Mereka sudah sampai
di depan rumah Alex dan Riri berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Ia bahkan
hampir menabrak mb Minah yang ingin membuang sampah keluar rumah.
Riri celingukan
mencari Mia, mama tirinya itu tampak sedang duduk di ruang keluarga, seperti
biasa menyusui salah satu bayi kembarnya. Mb Roh tampak mengganti pokok bayi
satunya.
Mia : “Riri sayang.
Kamu sudah pulang.”
Mia melihat mata
Riri yang sembab, ia tersenyum pada Riri dan meletakkan baby Reva pelan-pelan
di atas tempat tidur mininya.
Mia : “Kenapa,
sayang?”
Riri ingin bicara
tapi ia masih malu dengan mb Roh. Mia mengajak Riri ke kamarnya,
Mia : “Ada apa,
sayang.”
Riri : “Mah... Riri
kayaknya uda bikin mas Elo marah.”
Mia : “Emang apa
yang terjadi?”
Riri menarik
nafasnya dan mulai bercerita apa yang terjadi di rumah Elo tadi. Mia melihat
bekas ciuman Elo di leher Riri. Tangannya mengelus rambut Riri, dan mencium
pipi Riri.
Mia : “Kamu manis
banget ya.”
Riri : “Apa sich,
mah.”
Riri tersipu
mendengar pujian Riri, Mia kembali mencium pipi Riri yang merona.
Mia : “Mama aja gak
tahan pengen nyium kamu terus, gimana mas Elo-mu itu bisa kuat menahan dirinya
gak nyium kamu.”
Riri : “Tapi Riri
kasar sama mas Elo tadi, mah.”
Mia : “Mama mau
tanya kenapa Riri berbuat gitu tadi?”
Riri : “Riri takut,
mah. Kami kan belum nikah. Lagian geli banget...”
Mia mengelus rambut
Riri dan tersenyum mendengar kata-katanya.
Riri : “Mas Elo
pasti marah kan, mah? Apalagi tadi Riri gak pamit pulang.”
Mia : “Mungkin
malah Elo yang ngira kamu marah sama dia.”
Riri : “Riri gak
marah, kok mah. Tapi malu banget.”
Mia : “Iih, gemes
dech. Coba chat sana. Eh, kayaknya ada tamu dech. Mungkin itu penjahitnya.”
Riri menatap layar ponselnya,
belum ada chat atau telpon dari Elo. Ia ragu untuk mengirim chat duluan.
Situasi juga sama dirasakan Elo. Mereka sama-sama menatap keluar jendela,
melihat langit biru yang bersih tanpa awan.
🌻🌻🌻🌻🌻
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).