Duren Manis

Duren Manis
Terlalu manis


__ADS_3

Pagi yang cerah,


matahari hampir menampakkan diri sepenuhnya. Ratna sedang menikmati minum teh


yang disajikan Pak Kim di meja makan. Sarapan sudah siap, tapi Riri dan Elo


bahkan belum bangun dari tidurnya.


Ratna : “Pak Kim,


Angelo sudah bangun?”


Pak Kim : “Belum


ada pergerakan...”


Riri :


“Aaaarrggggg...!!!”


Lili :


“Aaaarrggggg...!!!”


Tiba-tiba terdengar


teriakan dari kamar Elo dan kamar Dion. Ratna tertegun sejenak, ia meneguk


teh-nya lagi dengan tenang,


Ratna : “Pak Kim,


kenapa teriakannya ada dua?”


Pak Kim : “Itu


teriakan Lili, Ny. Ratna. Semalam Lili berjaga di kamar Dion.”


Ratna : “Oh,


astaga. Apa Dion melakukan sesuatu pada Lili?”


Pak Kim : “Saya


akan mengeceknya, Ny.”


Ratna : “Ach,


jangan. Itu urusan anak muda.”


Ratna menikmati


sarapannya dengan santai.


Sementara itu di


kamar Dion, Lili sedang memukuli Dion dengan bantal.


Dion : “Stop! Stop


dulu!”


Lili : “Kamu


ngapain tidur disini! Mau nyari kesempatan ya?”


Dion : “Kamu tuch


yang cari kesempatan!”


Lili : “Enak aja.”


Pagi itu Lili


terbangun diatas tempat tidur bersama Dion. Lili shock dan mengira Dion sudah


melakukan sesuatu padanya.


Dion : “Semalam


kamu kan tidur di sofa. Kamu sendiri yang pindah ke tempat tidur.”


Lili : “Hah?!


Kamu...”


Lili mengingat


kejadian semalam, ia sempat terbangun dan kebelet buang air. Mungkin karena


masih mengantuk, tanpa sadar Lili tidur di samping Dion. Lili bangun dengan sangat


cepat, ia masuk ke kamar mandi dan keluar 10 menit kemudian sudah terlihat


segar dan cantik.


Brak! Lili membuka


pintu kamar Dion dan keluar sambil membanting pintu dengan keras. Dion


geleng-geleng kepala, ia tersenyum mengingat kejadian semalam. Dirinya


terbangun saat Lili masuk ke kamar mandi semalam, ia diam saja saat Lili


mendekati tempat tidurnya dan berbaring di sampingnya.


Kejadian di kamar


Elo tidak seheboh di kamar Dion. Riri yang terbangun dan melihat Elo sangat


dekat di depannya, berteriak keras membangunkan Elo yang langsung mendekapnya.


Mencium bibir gadis itu agar diam.


Riri : “Mmm...


mas... mmm...”


Elo : “Ntar...


dulu...”


Riri kewalahan


diserang Elo sepagi itu. Ia berusaha mendorong Elo, tapi malah membuat Elo


semakin menghimpitnya.


Riri : “Hiii....”


Tubuh Riri

__ADS_1


merinding saat Elo mencium lehernya. Riri meronta mencoba menggerakkan seluruh


tubuhnya agar Elo berhenti menciuminya. Tapi Elo yang sudah lupa diri, tidak


bergeming sedikitpun.


Riri : “Mas...


berat... sesak...”


Riri berpikir


cepat, ia teringat pelajaran menjaga diri yang dikatakan Lili beberapa saat


lalu. Dengan cepat Riri meraih jemari Elo dan memelintirnya.


Elo : “Addooww...


Aduch!”


Bruk! Elo jatuh


dari atas tempat tidur, Riri duduk dengan cepat memegangi dadanya yang berdetak


cepat. Ia menatap Elo yang masih mengerang kesakitan.


Riri : “Maaf, mas.


Tapi kamu keterlaluan.”


Riri turun dari


tempat tidur dan berjalan cepat mendekati pintu kamar Elo. Ia membukanya dan


melihat Lili berdiri didepannya.


Lili : “Nona...”


Riri dengan cepat


menarik tangan Lili masuk ke kamarnya. Lili kebingungan melihat Riri duduk di


pinggir tempat tidur sambil mengusap sudut matanya.


Lili : “Nona


kenapa?”


Riri : “Mas Elo


nyebelin.”


Lili melihat tanda


merah di bawah leher Riri. Riri yang melihat arah tatapan Lili, refleks


menyilangkan tangannya di depan dada.


Lili : “Nona


sebaiknya mandi dulu. Sarapan sudah siap.”


Riri : “Tapi baju


saya ada di kamar mas Elo, gimana dong?”


Tok, tok, tok... Lili


agar Lili menyingkir.


Riri : “Pak Kim...”


Riri kembali menunduk malu.


Pak Kim meletakkan


satu set pakaian untuk Riri dan sekotak make up.


Pak Kim : “Lili,


bantu nona Riri bersiap-siap. Sarapan akan diantar ke kamar sebentar lagi.”


Riri beranjak ke


kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Pak Kim mendekati Lili dan sedikit


berbisik,


Pak Kim : “Di dalam


kotak ada foundation untuk menutupi leher nona Riri.”


Lili : “Saya


mengerti Pak Kim.”


Pak Kim : “Habis


sarapan, kalau nona Riri ingin bertemu, tuan muda ada di kamarnya. Tapi kalau


tidak, antar nona Riri pulang ke rumahnya.”


Lili : “Baik pak


Kim.”


Pak Kim keluar dari


kamar Riri dan bertemu dengan Elo yang sudah menunggunya di depan kamarnya.


Elo : “Apa Riri


masih marah?”


Pak Kim :


“Sepertinya iya, tuan muda. Saya sudah menyampaikan pesan anda pada Lili.”


Elo : “Ok.”


Elo masuk ke dalam


kamarnya dan menutup pintu. Pak Kim menatap pintu kamar Elo dan juga pintu


kamar Riri. Dirinya berjalan menuruni tangga bersiap meminta pelayan membawa


sarapan untuk Elo dan Riri, serta melaporkan kejadian tadi pada Ratna.


*****


Setelah sarapan

__ADS_1


dengan Lili, Riri memutuskan kembali ke rumah Alex tanpa bertemu dengan Elo.


Riri hanya sempat bertemu Ratna dan berpamitan padanya saja. Sesekali Riri


melihat lehernya dengan cermin kecil, memastikan tanda merah itu tidak terlihat


dengan jelas.


Riri : “Sampaikan


terima kasihku pada Pak Kim nanti. Maaf foundationnya aku bawa. Aku gak tahu


tanda ini akan hilang kapan.” Kata Riri pada Lili.


Lili : “Baik,


nona.”


Mereka sudah sampai


di depan rumah Alex dan Riri berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Ia bahkan


hampir menabrak mb Minah yang ingin membuang sampah keluar rumah.


Riri celingukan


mencari Mia, mama tirinya itu tampak sedang duduk di ruang keluarga, seperti


biasa menyusui salah satu bayi kembarnya. Mb Roh tampak mengganti pokok bayi


satunya.


Mia : “Riri sayang.


Kamu sudah pulang.”


Mia melihat mata


Riri yang sembab, ia tersenyum pada Riri dan meletakkan baby Reva pelan-pelan


di atas tempat tidur mininya.


Mia : “Kenapa,


sayang?”


Riri ingin bicara


tapi ia masih malu dengan mb Roh. Mia mengajak Riri ke kamarnya,


Mia : “Ada apa,


sayang.”


Riri : “Mah... Riri


kayaknya uda bikin mas Elo marah.”


Mia : “Emang apa


yang terjadi?”


Riri menarik


nafasnya dan mulai bercerita apa yang terjadi di rumah Elo tadi. Mia melihat


bekas ciuman Elo di leher Riri. Tangannya mengelus rambut Riri, dan mencium


pipi Riri.


Mia : “Kamu manis


banget ya.”


Riri : “Apa sich,


mah.”


Riri tersipu


mendengar pujian Riri, Mia kembali mencium pipi Riri yang merona.


Mia : “Mama aja gak


tahan pengen nyium kamu terus, gimana mas Elo-mu itu bisa kuat menahan dirinya


gak nyium kamu.”


Riri : “Tapi Riri


kasar sama mas Elo tadi, mah.”


Mia : “Mama mau


tanya kenapa Riri berbuat gitu tadi?”


Riri : “Riri takut,


mah. Kami kan belum nikah. Lagian geli banget...”


Mia mengelus rambut


Riri dan tersenyum mendengar kata-katanya.


Riri : “Mas Elo


pasti marah kan, mah? Apalagi tadi Riri gak pamit pulang.”


Mia : “Mungkin


malah Elo yang ngira kamu marah sama dia.”


Riri : “Riri gak


marah, kok mah. Tapi malu banget.”


Mia : “Iih, gemes


dech. Coba chat sana. Eh, kayaknya ada tamu dech. Mungkin itu penjahitnya.”


Riri menatap layar ponselnya,


belum ada chat atau telpon dari Elo. Ia ragu untuk mengirim chat duluan.


Situasi juga sama dirasakan Elo. Mereka sama-sama menatap keluar jendela,


melihat langit biru yang bersih tanpa awan.


🌻🌻🌻🌻🌻


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2