Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 17


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 17


Ken bernafas lega ketika dirinya dan Kaori sudah aman keluar dari rumah keluarga Wibowo. Kaori bersandar dengan nyaman di pelukan Ken, ia sempat merasa cemas saat sadar tadi dan mendapati dirinya di tempat yang asing. Anthony Wibowo sengaja menculik Kaori untuk mengancam Ken. Tapi ternyata putranya, Andika,


tertarik pada wanita itu.


“Kamu nggak apa-apa kan, sayang? Maafin aku nggak bisa jagain kamu. Aku sudah menghukum semua body guard yang tidak becus menjagamu, sayang,” ucap Ken manis.


“Mereka nggak salah, Ken. Aku yang terlalu gegabah ingin jalan-jalan di taman. Untung saja tadi Andika mau kerja sama,” ucap Kaori merasa lega.


“Gimana ceritanya, sayang? Aku sudah ketakutan setengah mati tadi. Takut kamu kenapa-napa.” Ken mengusap pergelangan tangan Kaori yang sedikit memerah.


“Tadi waktu aku sadar, aku ada di dalam kamar. Waktu mau bangun, tanganku terikat kencang banget. Nah, Andika tiba-tiba masuk sambil lari-lari. Namanya ada anak kecil kan aku coba menyapa dia. Ternyata anaknya baik banget mau ngelepasin aku, Ken.” Kaori menarik tangan Ken memeluk lehernya.


Ken mulai berpikir apa yang membuat Anthony mau melepaskan Kaori begitu saja. Ada sesuatu yang mencurigakan yang mengganggu pikirannya saat itu. Tiba-tiba, Kaori teringat sesuatu, “Gimana dengan Aunty Renata? Apa sudah ketemu?” tanya Kaori cemas.


Ia menegakkan tubuhnya menatap Ken dengan raut wajah cemas. Ken mengeluarkan ponselnya dan menelpon Alfian. Pria itu tidak mengangkatnya. Ken beralih kepada asistennya yang terus menelpon seseorang sejak tadi. Pencarian Renata masih terus dilakukan. Sebagian orang sudah mencari di sekitar taman dan sepertinya sudah menemukan sesuatu di gudang dekat sana.


[]”Apa? Nona Renata menghilang lagi?” kata asisten Ken.


[]”Disini hanya ada pakaiannya saja, pak. Dan juga seorang pria yang sudah tidak bernyawa,” ujar orang yang menemukan jejak Renata.


[]”Cari tahu kemana nona Renata pergi. Cepat!” titah asisten Ken. Pria itu menutup  telponnya dan memutar tubuhnya menghadap Ken.


“Bagaimana? Renata sudah ketemu?” tanya Ken tidak sabaran.


“Lapor, Tuan muda. Jejak nona Renata ditemukan di gudang dekat taman. Tapi hanya pakaiannya saja. Ditemukan seorang pria yang sudah tidak bernyawa juga disana. Kami masih melakukan pencarian lagi,” ucap asistennya.


“Ada yang meninggal? Ken, apa aunty Renata baik-baik saja?” tanya Kaori semakin cemas.


“Aku yakin, aunty baik-baik saja, sayang. Alfian pasti sudah menemukannya duluan.


Kenapa dia tidak mengangkat telponku?” ucap Ken gusar.


**


Orang yang ditunggu Ken, sedang berdiri menghadap pintu, menunggu perintah dari bosnya. Ia berada di salah satu kamar dengan dekorasi yang unik. Di dinding kamar itu ada deretan rak berisi banyak sekali miniatur. Sepertinya benda di seluruh dunia bisa ditemukan disana dalam bentuk miniatur. Alfian juga melihat cat di kamar itu berwarna lebih soft selayaknya kamar untuk perempuan.


Tampak seorang dokter dibantu suster sedang memeriksa keadaan Renata yang terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur besar dengan seprai soft pink. Sesekali dokter memberikan instruksi untuk mengambilkan obat atau peralatannya. Semua luka dan goresan yang ada di tubuh Renata, dicatat dengan seksama dan sangat detail. Dokter wanita bernama Christina itu menanyakan pada Reynold yang masih memakai topengnya tentang pemeriksaan menyeluruh.


Reynold yang menyamar menjadi direktur FoRena Group, tampak menunggu dokter dengan cemas. Ketenangannya masih tetap terusik meskipun sudah menghabisi pria brengsek yang sudah menculik Renata. Pria itu hanya mengangguk ketika dokter Christina meminta ijin untuk pemeriksaan penuh.


Alfian melirik sosok bos di sampingnya, ia tidak pernah menyangka kalau pria itu sanggup menghabisi seseorang demi Renata. Masih segar dalam ingatannya saat mereka sampai di depan pintu gudang dan mendengar teriakan Renata yang menyayat  hati. Tanpa menunggu bantuan, Reynold lan menendang pintu gudang hingga terbuka lalu menerobos masuk.


Reynold menarik tubuh Abdi hingga terjengkang ke belakang. Ia melepas jubahnya lalu melemparkannya pada Alfian yang sudah masuk mengikutinya. Pria itu cepat tanggap memakai jubah itu untuk menutupi tubuh Renata yang terekspos jelas. Renata yang melihat wajah Alfian langsung tidak sadarkan diri. Setelah melepaskan ikatan tangan Renata, Alfian menoleh melihat perkelahian antara Reynold dan Abdi.


“Kau brengsek!!” teriak Reynold ke arah Abdi. Bug! Plak! Bug! Syut! Suara pukulan dan tendangan semakin keras terdengar di dalam gudang berbau pengap itu. Abdi sama sekali tidak diberi kesempatan membalas serangan Reynold. Pria itu jadi bulan-bulanan kemurkaan seorang Reynold.


“Pak,  hentikan! Dia bisa mati!” pekik Alfian mencoba menahan Reynold yang sedang mencekik Abdi.


Reynold menyentakkan tubuh Abdi ke lantai gudang yang dingin berdebu. Pria itu masih bergerak saat Reynold berbalik mendekati Renata yang pingsan. Tanpa mereka sadari, Abdi sudah berdiri sambil membawa sebuah pisau di tangannya. Tujuannya untuk melukai Reynold dan Renata. Belum sempat Abdi sampai di dekat mereka, Reynold menodongkan pistol dari balik jasnya dan menembak Abdi tepat di dadanya.

__ADS_1


Karena pistol itu berisi peredam, suara tembakannya tidak terdengar kemana-mana. Alfian tertegun melihat tubuh Abdi terjatuh dengan keras. Dirinya baru saja menjadi saksi pembunuhan. Reynold menatap Alfian yang juga menatapnya.


“Siapkan mobil,” titah Reynold lalu mengangkat tubuh Renata.


Alfian tidak sempat bereaksi apa-apa, ia segera berlari keluar lebih dulu untuk menyiapkan mobil yang membawa mereka ke mansion mewah milik Reynold. Diantara lamunannya, dokter yang memeriksa Renata tampak mendekati Reynold.


“Tuan muda, ada beberapa luka lebam dan goresan di tubuhnya. Tapi kondisinya sudah stabil. Selain itu, kami tidak menemukan kerusakan pada organ intim nona Renata. Semuanya masih terjaga dengan baik,” ucap dokter itu dengan jelas.



“Kapan dia akan sadar?” tanya Reynold dingin.



“Saat ini sedang dalam pengaruh obat penenang. Dosisnya saya berikan untuk dua jam ke depan. Kalau dalam dua jam nona Renata belum sadar, kita harus membawanya ke rumah sakit, Tuan muda,” sahut dokter Christina.



Reynold melambaikan tangannya, mengusir semua orang agar keluar dari kamar itu. Alfian yang terakhir hendak keluar, ditahan Reynold.



“Alfian, kau tetap disini,” titah Reynold.



Alfian menurut, kembali ke tempat semula ia berdiri, menghadap ke pintu. Reynold berjalan mendekati Renata yang terbaring tenang. Tercium aroma alkohol yang cukup kuat dari tubuh gadis itu. Tubuh Renata sudah dibersihkan dari jejak yang ditinggalkan Abdi. Reynold tidak mau melihat bahkan seuntai rambut Abdi masih tertinggal di tubuh Renata.




“Sudah enam tahun, pak Direktur,” sahut Alfian tegas.



Alfian memang sudah menjadi asisten Reynold sejak perusahaan FoRena Group baru terkenal. Reynold memilihnya karena Alfian buka tipe orang kepo yang selalu penasaran dengan kemisteriusan direktur FoRena Group. Pria itu hanya bekerja, pulang, bekerja, dan pulang lagi. Tanpa gosip, tanpa teman yang dekat, kecuali Merry. Masa lalu Alfian juga sangat lurus. Sekolah, kuliah, lalu bekerja di beberapa tempat sebelum menambatkan hatinya pada FoRena Group.



“Apa kau takut padaku sekarang?” tanya Reynold lagi.



“Takut untuk apa, pak? Karena kejadian tadi? Dari yang saya lihat, bapak hanya membela diri,” pungkas Alfian tanpa ekspresi.



Reynold tersenyum, ia meminta Alfian mendekat. Pria itu berbalik, lalu fokus menatap Reynold tanpa rasa takut. Sampai di depan Reynold, Alfian baru menyadari kalau proporsi tubuh mereka sama. Hanya warna rambut saja yang sedikit berbeda. Mata mereka juga berbeda, Reynold berwarna hitam gelap, sedangkan Alfian lebih ke coklat gelap.


__ADS_1


“Bisakan kau membantuku, Alfian? Aku mencintai gadis ini lebih dari hidupku. Tapi hubungan keluarga memisahkan kami, sampai aku harus menyamar seperti ini,” ucapReynold sambil melepas topengnya di hadapan Alfian.



Mata Alfian hanya membesar sepersekian detik ketika melihat wajah super tampan Reynold yang bahkan tidak tergores sama sekali. Reynold mengulurkan tangannya memasangkan topeng itu ke wajah Alfian. Sekilas, mereka seperti pinang di belah dua. Dengan postur tubuh yang sama, dan guratan wajah yang hampir sama.



“Namaku Reynold, aku bisa dibilang ponakan aunty Renata,” ucap Reynold sambil mengulurkan tangannya pada Alfian.



Alfian mengulurkan tangannya menjabat tangan Reynold. Mereka benar-benar terlihat seperti cermin dengan wajah tertutup topeng. “Apa yang bisa saya bantu, pak direktur?”



“Mungkin besok atau lusa, keluargaku akan menjemput Renata pulang. Kamu akan jadi direktur FoRena Group saat itu. Tidak usah bicara, cukup menatap mereka dari atas tangga. Biar aku yang urus sisanya,” titah Reynold.



“Baik, pak Direktur,” sahut Alfian sopan.



Saat itu Alfian baru menyadari kalau telponnya berdering terus sejak tadi. Tangan Alfian meraih ponsel di saku jasnya dan melihat nama Ken Wiranata tertera disana.



“Pak Direktur, Tuan muda Ken menelpon. Apa perlu saya jawab?” tanya Alfian.



“Jawab saja. Katakan Renata sudah aman tapi masih belum sadarkan diri. Mereka bisa kesini besok untuk menjemputnya,” sahut Reynold.



Alfian mengangkat telpon dari Ken dan mengatakan sesuai dengan apa yang dikatakan Reynold. Ia menambahkan sedikit kalau Renata sudah ditangani oleh dokter terbaik dan kondisinya stabil. Alfian berjanji akan menghubungi Ken kalau ada perkembangan lagi.



[]”Tunggu, aku perlu tahu. Apa pria yang di gudang itu, yang menculik Renata?” tanya Ken.



[]”Iya, tuan muda. Dia staf yang sudah kami pecat dan sepertinya memiliki perasaan suka pada Renata. Mengenai kondisinya, kami hanya melakukan pembelaan diri saat dia menyerang kami,” sahut Alfian.



[]”Aku mengerti. Sampaikan terima kasihku pada pak Direktur dan terima kasih juga untukmu, Alfian. Besok pagi kami akan menjemput Renata pulang,” ucap Ken sebelum menutup telponnya.


__ADS_1


Reynold menoleh menatap Renata lagi, ia duduk dipinggir tempat tidur. Diraihnya tangan Renata yang dingin, Reynold berusaha menghangatkan Renata. Jam di tangannya baru melangkah dua puluh menit, tapi Reynold merasa sudah berlalu berjam-jam. Kegelisahan kembali melanda hatinya, ia mengulurkan tangan meminta topengnya kembali. Setelah memakai kembali topeng di wajahnya, Reynold memerintahkan untuk memanggil dokter Christina.


__ADS_2