
Jodi meneliti setiap berkas proposal pengajuan kerja sama yang dikirimkan perusahaan Arnold sebelum mereka bertemu. Ia bisa saja langsung menerima proposal itu tapi tim seleksi sudah memilihkan beberapa perusahaan lain untuk dipilih.
Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan termasuk perusahaan Arnold, Jodi meminta sekretarisnya untuk menyiapkan janji temu dengan 3 perusahaan yang ia pilih.
Sepuluh menit kemudian, ia mendapat konfirmasi temu janji besok jam 10 pagi. Jodi menerima pesan chat dari Arnold.
Arnold : "Besok kita ketemu, aku ajak Rara. Apa kau tidak masalah?"
Jodi : "Tidak masalah."
Arnold : "Ok, CU."
Jodi : "CU."
Jodi meletakkan ponselnya, ia memijat keningnya yang sakit. Memikirkan akan bertemu Rara besok membuat perasaannya tidak menentu.
π·π·π·π·π·
Arnold meletakkan ponselnya, ia menatap Rara yang sedang membahas dokumen dengan Ilham. Rara tampak antusias belajar dan Ilham harus sabar mengajarinya.
Arnold : "Rara, sayang..."
Rara : "Ya, mas?"
Arnold : "Besok aku ada meeting, kamu ikut ya. Nanti Ilham yang ngajarin dokumen yang harus kita bawa."
Rara : "Ok, siap bos."
Arnold tersenyum, melihat Rara yang kembali sibuk bicara dengan Ilham. Arnold tidak mengatakan kalau mereka akan bertemu dengan Jodi. Ia ingin melihat apa Rara bisa bersikap profesional atau tidak.
π·π·π·π·π·
Rara merapikan penampilannya di ruang istirahat Arnold. Mereka akan segera berangkat ke tempat pertemuan di sebuah hotel.
Arnold melongok ke dalam, ia ingin tahu apa yang membuat Rara lama. Dilihatnya istrinya itu sedang mengancingkan branya. Kening Arnold berkerut,
Arnold : "Sayang, kamu ngapain?" Rara menoleh menatap Arnold yang berdiri di belakangnya.
Rara : "Aku ganti bra-ku. Warnanya kontras sama baju yang kupakai. Gak bagus dilihat."
Arnold memeluk pinggang Rara, mencium pundak Rara.
Arnold : "Yang, masi pagi nich. Gak bisa gak godain ya."
Rara : "Sapa sich yang godain, mas? Aku cuma..."
Arnold mencium bibir Rara, tangannya menyusup masuk membuat Rara melotot. Ini bukan waktu yang tepat, mereka akan terlambat.
Rara : "Maasss... Jangan sekarang!"
Arnold : "Bentar aja gak boleh."
Rara : "Kita bisa telat meeting... Hmmmppp..."
Arnold mencium Rara lagi, membuat istrinya megap-megap kehilangan pasokan oksigen. Arnold menatap Rara, tersenyum puas bisa membuat istrinya itu harus memoleskan lipstik lagi.
Ilham yang menunggu mereka di ruang kerja Arnold, hampir minggat dari sana mendengar suara-suara yang biasa ia buat juga dengan Bianca. Ketika Arnold keluar duluan dan menghampirinya. Rara juga keluar dari sana dengan wajah merah.
Ilham : "Hampir aku tinggal. Sudah siap?"
__ADS_1
Arnold : "Ayo, jalan."
Arnold menggandeng tangan Rara berjalan menuju lift yang terbuka di lobby. Mobil Arnold sudah siap di depan sana.
Arnold dan Rara sudah masuk ke dalam mobil, Ilham tidak ikut ke hotel. Ia stand by di kantor mengawasi kantor sambil memonitor meeting mereka.
Sopir mulai menjalankan mobil menuju hotel tempat mereka meeting. Dengan keahlian sopir yang dipilih Ilham, mereka bisa sampai di hotel dalam waktu 20 menit.
Sopir menghentikan mobil di lobby hotel dan petugas hotel membukakan pintu mobil. Arnold dan Rara beriringan berjalan ke ruang conference di sebelah restauran.
Mereka tiba tepat waktu, segera setelah mereka duduk, sekretaris Jodi maju ke depan memulai acara meeting kali ini.
Ketiga peserta perwakilan perusahaan masing-masing diberi waktu 20 menit untuk presentasi dan masih ada waktu 10 menit untuk memperbaiki presentasi sekarang dengan waktu yang disesuaikan.
Rara membuka laptopnya bukan untuk memperbaiki presentasi tapi ia sudah siap memulainya. Kemarin Ilham membantunya membuat presentasi untuk 30 menit.
Dan Rara mencoba membuat presentasi yang lebih singkat lagi. Sekretaris Jodi menanyakan peserta yang sudah siap dan Rara mengangkat tangannya.
Rara tersenyum pada Arnold dan maju ke depan dekat layar proyektor. Rara memperkenalkan dirinya sebelum memulai presentasi.
Ia tampil memukau dan terlihat sangat bersinar. Arnold tersenyum puas melihat penampilan istrinya. Ia juga sedikit cemburu melihat bagaimana Jodi terpesona menatap Rara.
Saat presentasi usai, Jodi mengajukan pertanyaan pada Rara. Rara menarik nafas perlahan, ia melirik Arnold dan mengangguk.
Rara mulai menjawab setiap pertanyaan dan sanggahan Jodi. Pria itu menunjukkan profesionalitasnya dengan terus menekan Rara. Semuanya bisa ditangkis Rara dengan mudah.
Arnold hampir bertepuk tangan ketika jawaban terakhir Rara akhirnya membungkam Jodi. Jodi melirik Arnold dan tersenyum tipis. Mereka berhasil membuat Rara mengeluarkan semua potensinya.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Flash back...
Arnold : "Aku rasa proposalku cukup bagus untuk bisa masuk kualifikasi kerja sama dengan perusahaanmu, Jodi."
Jodi : "Ya, sudah kulihat. Mau aku setujui langsung?"
Arnold : "Lakukan sesuatu, masukkan perusahaanku dalam meeting final. Kita lihat kemampuan Rara."
Jodi : "Maksudmu?"
Arnold : "Aku mau Rara siap menggantikan aku."
Jodi : "Menggantikanmu? Kau tidak sedang..."
Arnold : "Bro, aku harus konsentrasi dengan terapiku kan? Dan aku tidak bisa meninggalkan perusahaanku begitu saja."
Jodi : "Aku mengerti. Tapi apa tidak masalah melakukan ini pada Rara? Bagaimana kalau dia kecewa?"
Arnold : "Kau tidak mau terlihat jelek dimatanya?"
Jodi : "Aku sudah jelek dimatanya. Aku hanya tidak suka melihatnya kecewa."
Arnold : "Kita lihat saja nanti. Deal?"
Jodi : "Baiklah, deal. Aku akan berhenti jika dia menyerah."
Arnold : "Ok, bro."
Flash back end...
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉ
Setelah semua peserta meeting selesai presentasi, perusahaan Arnold dinyatakan sebagai pemenangnya. Mereka akan bekerja sama dalam satu proyek pengadaan material bangunan.
Jodi menjabat tangan Arnold dan Rara. Sekretarisnya sudah menyiapkan draft kerja sama yang bisa segera mereka bahas dan tanda tangani.
Rara membaca semua draft dengan seksama dan menanyakan beberapa poin langsung pada Jodi. Ia mendengarkan penjelasan Jodi dan menghubungi Ilham.
Ketika Rara sedang bicara serius dengan Ilham, Arnold memberi kode pada Jodi untuk mengikutinya bicara di dekat jendela.
Arnold : "Kau lihat kan? Istriku tidak mengecewakan."
Jodi : "Aku terkesan dan kau tidak perlu menjelaskannya kalau Rara istrimu."
Arnold : "Apa kau cemburu?"
Jodi : "Ngaco. Bro, kau akan menua bersamanya. Bisakah kau carikan aku pasangan?"
Arnold : "Kau tahu aku tidak akan bisa melakukannya."
Jodi : "Kenapa? Kau tidak mau membantuku?"
Arnold : "Para gadis akan mengejarku duluan sebelum aku bilang kau yang perlu pasangan."
Jodi : "Oh, aku lupa kau kan idola dari dulu. Salah minta bantuan nich."
Arnold : "Tolong jaga Rara..."
Jodi : "Bro, ngomong gitu lagi..., jangan ngomong sama aku lagi."
Arnold : "Kamu ngambek?"
Jodi : "Ntar dulu, kenapa rasanya geli gitu ya denger kamu ngomong gitu."
Arnold : "Masa sich?"
Jodi : "Bro, kamu belum belok kan?"
Arnold : "Sialan!"
Jodi tertawa geli sambil menepuk bahu Arnold. Arnold juga tertawa sambil memeluk Jodi. Melihat kedua pria yang sedang peluk-pelukan di depan mereka membuat Rara dan sekretaris Jodi saling pandang.
Rara : "Suamiku..."
Sekretaris Jodi : "Bosku..."
Kedua wanita itu hampir memanggil mereka ketika keduanya saling melepaskan diri dan berdehem.
Kedua pria normal itu kembali duduk ke tempat semula dan dokumen kerja sama sudah siap ditanda tangani.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
π²π²π²π²π²