
Seperti yang dijanjikan sebelumnya, hari Minggu ini Ilham dan Bianca akan menemui papa Bianca. Ia sudah bersiap dari pagi dan memutuskan berangkat lebih awal dengan ojol menuju rumah Bianca.
Ilham tidak malu menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia tidak ingin berpura-pura kaya hanya untuk merebut perhatian wanita.
Tak perlu waktu lama untuk sanpai di rumah papa Bianca. Ilham mendekati gerbang rumah yang sangat tinggi itu dan menekan bel di pintu.
Seorang bertubuh tinggi tegap keluar dari pintu kecil dan langsung menanyakan keperluan Ilham.
Ilham : "Saya mau ketemu Pak Jonathan."
Security : "Dengan bapak siapa? Apa sudah ada janji sebelumnya?"
Ilham : "Saya Ilham, saya mau ketemu Pak Jonathan."
Tin! Suara klakson mobil membuat keduanya menoleh. Bianca turun dari mobilnya, ia menghampiri Ilham,
Bianca : "Ilham, bawa mobilku ke dalam." Bianca meminta security membukakan pintu gerbang.
Ilham : "Ok."
Ilham mengendarai mobil Bianca memasuki halaman rumah pak Jonathan. Cukup jauh jarak antara pintu gerbang dengan bangunan rumah.
Selain dilengkapi areal parkir yang luas, terdapat fasilitas lapangan basket di depan rumah. Bianca menunjuk parkiran kosong nomor 5 dari pintu depan rumahnya.
Bianca : "Ini parkiran bagianku. Sepertinya di rumah lagi rame. Apa kita batalkan aja ya?"
Ilham : "Kenapa?"
Bianca : "Aku takut kamu gak nyaman."
Ilham : "Memangnya kita kesini mau ngapain?"
Bianca : "Aku mau membicarakan perjodohan kita. Maksudku, aku gak akan memaksakan kalau kamu... gak suka sama aku." Nafas Bianca jadi sesak saat mengatakan hal itu.
Ilham : "Oh gitu? Ayo turun."
Bianca : "... Ayo."
Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki pintu rumah. Ilham memandang sekeliling ruang tamu yang cukup luas tanpa banyak perabotan.
Bianca memintanya duduk di ruang tamu sementara ia mencari papanya.
Bayi Luna : "Gugu... Aaa..."
Ilham menoleh menatap seorang bayi yang sedang berjalan ke arahnya. Bayi laki-laki itu melangkah tertatih dan sesekali berhenti untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Saat dilihatnya bayi itu hampir jatuh membentur kursi, Ilham dengan sigap menahan tubuhnya. Ilham memegang kedua tangan bayi itu dan mulai membantunya berjalan.
Bayi Luna : "Haha... ihik..."
Bayi Luna tergelak dengan suara nyaring. Sesekali ia melompat-lompat dengan tangan menggenggam erat jemari Ilham.
Ilham tertawa melihat kelucuan bayi itu, sekaligus bingung mencari ibunya. Itu anak siapa sebenarnya.
Beberapa saat kemudian, Ilham mendengar suara panik dari arah ruangan disamping tangga. Semua orang termasuk Bianca tampak kebingungan mencari sesuatu.
Ilham menggendong bayi di tangannya yang tampak mulai mengantuk tapi masih ingin bermain. Bayi di tangannya mulai menggerakkan tubuhnya dengan kepala beberapa kali terjatuh karena ngantuk.
Bianca yang melihat Ilham menggendong bayi Luna, spontan berlari mendekatinya.
__ADS_1
Bianca : "Hadeh, baby Luna. Kamu nakal ya."
Bianca mengambil alih baby Luna dari tangan Ilham, membuat bayi itu langsung menangis kencang. Kakak ipar Bianca yang mendengar suara tangis bayinya, langsung berlari ke ruang tamu.
Wulan : "Luna, sayang. Kamu kemana aja? Jangan nangis, sayang."
Baby Luna tetap tidak mau diam dan tangisannya semakin kencang. Ditengah kekalutan, Ilham memcolek lengan Bianca,
Ilham : "Boleh aku gendong?"
Bianca : "Siapa? Aku?" Karena panik, Bianca salah mengira dirinya yang akan digendong Ilham. Ngarep.com.
Ilham : "Bayinya..."
Bianca : "Oh..." Dengan wajah merah, Bianca meminta baby Luna pada Wulan dan menyerahkannya pada Ilham. Bayi 11 bulan itu langsung tenang dalam pelukan Ilham.
Wulan dan Bianca melongo melihat baby Luna tertidur pulas dalam dekapan Ilham.
Wulan : "Siapa dia?" Wulan berbisik pada Bianca.
Bianca : "Dia Ilham, calon ayah dari anak-anakku." Bianca tersipu.
Wulan : "Whaat!!"
Teriakan Wulan membuat baby Luna menangis karena kaget. Ilham sampai harus berjalan keliling ruang tamu untuk menenangkannya.
Setelah kehebohan dengan baby Luna, Ilham siap bertemu dengan Pak Jonathan. Bianca sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan kalau Ilham tidak akan jadi miliknya.
Jonathan : "Apa kabar, Ilham?"
Ilham : "Baik pak. Apa kabar, bapak?"
Jonathan : "Seperti yang kau lihat. Sehat saja. Ada apa kalian kemari?"
Bianca : "Pah, kayaknya hubungan kami tidak bisa..."
Ilham : "Tidak bisa menunggu lagi untuk diresmikan."
Bianca terkejut mendengar perkataan Ilham, semalam mereka sudah membicarakan hal ini. Tunggu dulu, Bianca mengingat kembali kata-kata Ilham semalam. Mereka sama sekali tidak membahas mengenai perubahan status hubungan mereka.
Ilham hanya menanyakan jam berapa mereka akan bertemu di rumah papanya. Dan apa Bianca mau berangkat bersama atau sendiri-sendiri. Yang dijawab ia akan berangkat sendiri karena paginya masih sibuk beres-beres.
Wajah Bianca bersemu merah, jantungnya berdebar kencang. Itu artinya Ilham bisa menerima hubungan ini. Sebuah pernikahan akan memghampiri Bianca sekarang.
Jonathan : "Oh, kalian serius? Jadi status kalian pacaran atau..."
Ilham : "Saya tidak mau pacaran, tidak ada waktu. Kalau bapak setuju, kami bisa segera menikah."
Jonathan : "Bianca, bagaimana pendapatmu?"
Bianca terlalu shock mendengar lamaran Ilhan, ia hanya melongo, pikirannya tidak fokus dan perasaannya benar-benar kacau sekarang. Semua yang baru saja terjadi benar-benar diluar ekspetasinya.
Jonathan : "Bianca? Nak?"
Bianca : "Ya pah? Kenapa?"
Bianca bingung kenapa Ilham dan papanya memandang dirinya.
__ADS_1
Jonathan : "Kamu nglamun apa sich? Belum resmi menikah uda nglamun jorok ya."
Bianca : "Siapa yang nglamun? Gak ada. Papa nanya apa tadi?" Wajah Bianca tidak bisa menyembunyikan rasa yang berkecamuk di hatinya.
Jonathan : "Ilham sedang melamar kamu, mau terima atau tidak?"
Bianca : "Iya, mau... Eh..."
Ilham tersenyum menatap Bianca yang menjawabnya dengan gugup. Jonathan tampak tersenyum bahagia, akhirnya putrinya akan menikah juga.
-----
Bianca mengajak Ilham bicara di balkon kamarnya di lantai dua. Ia masih belum bisa percaya kalau tiga bulan lagi mereka akan menikah.
Bianca : "Apa kau serius?"
Ilham : "Menurutmu?"
Bianca : "Tapi kau tidak pernah mengatakannya."
Ilham : "Apa aku harus mengatakannya? Perbuatanku padamu belum cukup?"
Bianca : "Aku kan gak ngerti."
Ilham : "Kamu gak harus ngerti, cukup nikmati saja jadi wanitaku."
Wajah Bianca merona mendengar rayuan Ilham. Ilham menatap sekeliling halaman rumah Bianca yang luas.
Ilham : "Tapi aku belum bisa memberimu rumah sebesar ini. Apa kamu gak masalah?"
Bianca : "Buat apa rumah sebesar ini? Apa kau mau aku kecapean karena membersihkannya seorang diri?"
Ilham : "Kau tidak keberatan dengan rumah sederhana?"
Bianca : "Memangnya disini kau punya rumah? Aku gak maksud ngejek, tapi orang tuamu kan tinggal di kampung. Kalau kamu punya rumah disini, kenapa orang tuamu gak tinggal disini juga?"
Ilham : "Aku ngontrak rumah disini. Tapi di kampung aku punya tanah yang lebih luas dua kali lipat dari rumah papamu. Orang tuaku mengurus tanah itu hingga menghasilkan uang untuk mereka."
Bianca : "Jadi, kamu gak mengirimi mereka uang? Kita bisa tinggal di apartmentku, itu benar-benar milikku. Maksudku aku masih mencicilnya sampai saat ini."
Ilham : "Gak pernah lagi sejak panen kedua. Ayahku bilang, aku harus banyak menabung untuk pernikahanku."
Bianca : "...Mmm... Kita pulang yuk. Uda malem."
Ilham menahan Bianca dengan mengukungnya diantara kedua tangannya.
Ilham : "Apa aku boleh menciummu?"
Bianca : "Boleh gak ya..."
Bianca melingkarkan tangannya ke leher Ilham dan mulai menciumnya. Ilham yang terkejut, tersenyum sambil membalas ciuman Bianca.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------