Duren Manis

Duren Manis
Rio = Alex


__ADS_3

Rio baru bangun dari tidurnya lagi, ia membuka matanya dan melihat wajah bidadari ileran tertidur disampingnya. Rio tersenyum menyadari iler Kaori mengenai lengannya.


Ia bergeser ke samping Kaori dan mengambil tisu mengusap iler yang membasahi sudut bibir Kaori dan juga lengannya.


Rio duduk disamping Kaori, memperhatikan wajah manis pacarnya itu. Ia melihat sekeliling, sepertinya tadi ia ketiduran waktu sarapan. Sudah jam berapa sekarang? Rio melihat jam dinding, sudah hampir jam makan siang.


Suasana rumah sepi, kemana semua orang? Rio memegangi perutnya yang lapar lagi. Ia menatap wajah Kaori, ingin menjahilinya.


Rio menoel-noel pipi Kaori, ingin membangunkannya. Kaori menggeliat, membalik tubuhnya. Ia hanya melakukan itu dan lanjut tidur.


Rio : "Kaori, bangun. Ada es krim."


Kaori : "Hmm... Mana?"


Kaori membuka matanya menatap sekeliling dengan linglung. Ia berbaring lagi dan kembali molor. Bahkan dengan posisi yang lebih sembarangan.


Rio terkikik geli melihatnya, ia semakin iseng. Kali ini ia sengaja mencari nada dering penjual es krim di pinggir jalan dan memutarnya di dekat telinga Kaori.


Perlahan Kaori mulai menggeliat, dan telinganya memang tidak salah dengar.


Kaori : "Es krim?"


Kaori menegakkan tubuhnya, mengucek matanya dan mendengarkan baik-baik asal suara itu. Ia menoleh menatap Rio yang tersenyum jahil dengan ponsel ditangannya.


Kaori : "Iih.. Rio nakal. Aku masih ngantuk. Aduh..!"


Kaori mencoba mengangkat tangan kanannya yang susah diangkat. Ia ingin memukul lengan Rio, tapi tangannya malah sakit.


Kaori : "Tanganku mati rasa. Ini gara-gara kamu."


Rio : "Loh, kok aku."


Kaori : "Badan kamu nimpa badanku tau waktu kamu tidur tadi. Sakit..."


Kaori merengek memegangi tangannya. Rio ingin sekali mencium bibir Kaori yang terlihat menggemaskan di mata Rio. Ia mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus bagaimana.


Nenek muncul dari dalam kamarnya, membawa minyak angin yang mantap baunya. Kening Rio sampai berkernyit mencium bau menyengat dari minyak angin itu.


Nenek : "Sudah nenek kira dah bakalan begini. Nih, pijitin Kaori."


Rio menerima minyak angin itu dan mengernyit mencium baunya. Bau nenek-nenek banget. Ia menjauhkan minyak itu dari hidungnya. Rio berkata pada Kaori,


Rio : "Buka bajumu."


Kaori refleks menyilangkan tangannya ke depan dada dan nenek memukul kepala Rio.


Nenek : "Kamu gila. Masa anak gadis disuruh buka baju disini."


Rio : "Emangnya dia anak gadis? Cerewet kayak tante-tante."


Kaori : "Apa kamu bilang?"


Rio : "Tuh kan, nek. Sekarang kayak kucing garong. Meong."


Kaori memonyongkan bibirnya kesal mendengar kata-kata Rio. Nenek menengahi mereka.


Nenek : "Sudah, sudah. Kaori ikut nenek ya. Ganti sarung di kamar. Kasian juga nanti bajunya jadi bau minyak angin."


Rio : "Tanganku juga jadi bau minyak angin, nek."


Dan sekali lagi pukulan melayang ke kepala Rio.


Setelah mengganti kaosnya dengan sarung yang diberikan nenek, Kaori duduk lagi di depan Rio. Ia menyodorkan tangan kanannya sambil tersenyum manis.


Rio : "Masih berani senyum."


Kaori : "Emang enak kena jitak dua kali. Makanya jangan iseng sama aku."


Kaori memeletkan lidahnya pada Rio yang tersenyum smirk. Rio mengusap sudut bibirnya, mengingatkan pada KaoriΒ  bagaimana ciuman laki-laki di depannya ini sudah menguasai pikirannya.


Bluss! Wajah Kaori memerah, ia mulai mengipasi tubuhnya yang kepanasan. Belum lagi rabaan Rio pada lengan kanannya. Rio sengaja meraba, bukan memijat tangannya.


Rio : "Kamu kenapa? Minyaknya terlalu panas."


Kaori : "Apa? Iy... Iya..."

__ADS_1


Gak mungkin Kaori mengakui ia kepanasan karena ingat ciuman mereka. Bisa-bisa Rio akan meledeknya lagi. Atau mungkin menciumnya lagi. Kaori sampai bengong memikirkan kedua kemungkinan itu.


Memikirkan sesuatu yang belum tentu benar membuat Kaori semakin gencar mengipasi tubuhnya. Keringat tampak mengalir dari pelipisnya.


Rio terkekeh geli. Ia mendekat ke telinga Kaori dan berbisik padanya,


Rio : "Bilang aja kamu inget ciuman kita."


Kaori : "Nggakk!!"


Kaori menutup mulutnya yang tiba-tiba ngegas. Ia celingukan mencari penghuni rumah lainnya. Tapi gak ada siapa-siapa.


Nenek juga tetap diam di kamarnya setelah membantunya ganti baju. Kaori menatap Rio yang sangat dekat dengannya.


Kaori : "Aduch... Tanganku sakit."


Kaori pura-pura kesakitan pada tangannya. Rio kembali memijat lengan Kaori.


Bau minyak angin menguar di sekitar ruang keluarga. Kaori tidak berani menatap Rio lagi. Ia pura-pura menatap penuh minat pada karpet bulu empuk di bawahnya.


Rio bergeser semakin dekat dengan Kaori duduk, membuat Kaori tidak nyaman.


Kaori : "Rio, kamu terlalu dekat."


Rio : "Apa sich? Pegel tau mijitin kamu jauh-jauh."


Kaori : "Iya, tapi gak sedekat ini juga."


Rio : "Tumben gak mau deket-deket aku. Kenapa? Kamu grogi ya?"


Kaori : "Panas tau."


Rio : "Ada kipas angin gini, panas dari mana? Diluar juga hujan."


Kaori : "Pokoknya panas."


Rio : "Kaori?"


Kaori : "Ya?"


Kaori : "Kamu gila. Ini dirumahmu, ntar dilihat orang rumah. Kamu gak malu?"


Kaori merendahkan suaranya agar tidak terdengar penghuni rumah lainnnya.


Rio : "Gak ada siapa-siapa. Bentar aja."


Kaori : "Nggak... Malu..." Kaori mulai menjauh dari Rio yang tidak mau menyerah.


Rio menarik tengkuk Kaori dan mencium bibir pacarnya itu. Rio menahan tangan Kaori hingga tidak bisa berontak.


Kaori : "Hhmmpp... Rio..."


Rio mencium Kaori tanpa sadar kalau Mia dan Alex sedang mengintip mereka berdua dari ruang sebelah.


Mia menahan nafasnya melihat intensnya ciuman Rio pada Kaori yang tidak bisa menghindar. Mia mendengar suara tawa tertahan Alex dibelakangnya.


Mia : "Mas, kasian Kaorinya. Tegur sana."


Alex : "Biarin aja. Emangnya bisa sejauh apa mereka disini. Ini loh rumah kita."


Mia : "Tapi, mas. Mereka gak boleh kayak gitu."


Mia melotot melihat tangan Rio mendorong Kaori hingga mereka semakin berbaring di karpet ruang keluarga. Masi mencium Kaori, tangan Rio mulai *****-***** ke tubuh Kaori.


Mia : "Mas, liat tuch."


Alex cuma bengong melihat putranya itu sangat nakal. Persis seperti dirinya saat mendekati Mia dulu.


Alex : "Kalau aku keluar sekarang, mereka bisa malu. Tunggu bentar."


Mia : "Tapi, mas. Itu tangannya Rio mau ngapain?"


Alex memicingkan matanya dan malah salfok melihat dada Mia yang berdiri di depannya. Mia menutup mulutnya yang hampir menjerit ketika Alex menekan dadanya.


Mia : "Mas nakal."

__ADS_1


Alex : "Habisnya kamu nggemesin. Gak usa khawatir napa sich?"


Mia : "Tapi..."


Mia hampir protes lagi ketika mendengar suara Kaori,


Kaori : "Rio... Geli..."


Keduanya menoleh melihat bagaimana Rio mencium leher Kaori sekarang. Kaori terlihat mencoba mendorong Rio, tapi ia kalah tenaga.


Mia : "Ini anak..."


Mia celingukan mencari sesuatu untuk menimpuk Rio. Ia menemukan bantal kecil yang biasa dipakainya untuk mengganjal pinggangnya.


Mengambil ancang-ancang sedikit dengan Alex berjaga-jaga dibelakangnya takut Mia akan menggelinding, Mia melempar bantal itu sekuat tenaganya.


Syut! Buk! Bantal itu tepat mengenai kepala Rio. Anaknya nanti pasti bisa jadi pemain kasti yang hebat.


Rio : "Aduh!"


Rio bangkit dari atas tubuh Kaori sambil memegangi kepalanya yang sedikit sakit. Ia mengambil apa yang menimpuknya tadi dan melihat ke ruang sebelah.


Kaori : "Kenapa?"


Rio : "Ada yang nimpuk aku. Pake bantal ini."


Kaori : "Disini gak ada orang, siapa dong? Jangan nakut-nakutin dech."


Rio : "Aku serius nich."


Sepi, tidak ada siapapun disana. Mia dan Alex langsung sembunyi setelah menimpuk Rio. Mereka sampai menempel ke dinding pura-pura jadi cicak.


Buk! Pukulan bantal lagi-lagi mengenai wajah Rio kali ini. Kaori menatap Rio dengan kesal. Rio menatap keadaan Kaori yang sedikit berantakan.


Kaori : "Kamu kelewatan!"


Rio : "Maaf..."


Rio melongo melihat bibir Kaori yang bengkak karena ulahnya. Ia bingung bagaimana memperbaiki kesalahannya kali ini.


Untung saja Kaori tidak menangis. Ia bangkit dari depan Rio dan berjalan ke tangga.


Rio : "Kamu mau kemana?"


Kaori : "Mau ganti baju sekalian mandi."


Rio : "Boleh ikut?"


Kaori : "Mimpi aja sana."


Rio tersenyum sambil mengacak-acak rambutnya. Ia berbaring terlentang, meraba bibirnya yang masih ada rasa lipstik Kaori.


🌼🌼🌼🌼🌼


Giliran Alex yang mencium Mia sekarang. Mia duduk bersandar di ranjang dan Alex menciumnya.


Mia : "Mas, kamu sama aja sama Rio. Nyium tapi tangannya *****-*****."


Alex : "Rio kan anakku, wajar gitu."


Mia : "Kalian tuch ya."


Mia balas mencium Alex, mengalungkan lengannya ke leher suaminya itu.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2