
Elo dan Riri
berjalan perlahan menuruni tangga dan memasuki ruang tengah rumah itu yang
sudah disulap jadi tempat resepsi pernikahan yang salah satu bagiannya
diletakkan kursi pelaminan. Riri melambaikan tangannya pada Mia dan Alex ketika
ia melihat mereka duduk di dekat pelaminan.
Kedua pengantin
baru itu diminta duduk di pelaminan dan satu persatu tamu undangan mulai naik
ke pelaminan untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama. Jodi mengambilkan
makanan untuk Katty yang asyik menonton bos-bos besar beberapa perusahaan
berfoto dengan Elo dan Riri.
Ia mengenali
beberapa bos itu karena pernah berkerjasama dengannya. Bos-bos itu juga
mengenali Katty dan sempat mengajaknya ngobrol tadi. Sedang asyik memperhatikan
undangan lainnya, seseorang sudah berdiri di samping Katty.
Pak Brian : “Katty!
Sedang apa kamu disini?”
Katty : “Halo, pak
Brian. Saya...”
Anton : “Hai,
Brian. Dia menantuku.”
Pak Brian : “Kau
istrinya Jodi? Tunggu, kenapa aku tidak diundang ke pernikahan kalian. Anton...”
Katty : “Tidak, pak
Brian. Pernikahannya belum dilaksanakan. Saya baru calon...” Katty sibuk
menjalaskan pada Brian.
Anton : “Sejak kau
mengandung cucuku, tentu saja kau sudah jadi menantuku. Masih saja sungkan.”
Pak Brian : “Selamat
atas kehamilanmu dan ingat untuk mengundangku. Hadiah apa yang kau mau Katty?”
Katty : “Apa ya...
tidak usah merepotkan pak Brian.”
Anton : “Minta saja
yang mahal. Dia cukup kaya untuk membelikannya, ya kan Brian.”
Anton berkata
begitu sambil merangkul pundak pak Brian. Katty melihat keakraban Anton dan Brian
seperti keakraban Arnold dan Jodi.
Katty : “Bagaimana
kalau sponsor untuk melahirkan?”
Pak Brian : “Ach,
menantumu ini hampir jadi sepertimu Anton. Tidak mau melewatkan kesempatan
untuk menyusahkan aku.”
Anton : “Karena itu
aku setuju dia jadi menantuku. Bagaimana?”
Pak Brian : “Anggap
saja sudah beres. Aku punya dokter kandungan yang bagus, dia juga bisa
dipanggil ke rumah. Akan kuminta asistenku untuk menghubungimu. Kapan jadwal
cek kandungan berikutnya?”
Katty : “Minggu
depan, pak Brian. Apa permintaanku terlalu berlebihan?”
Pak Brian : “Permintaanmu
terlalu sedikit, Katty. Apa kau masih bisa bekerja?”
Katty : “Untuk saat
ini masih bisa, pak. Jodi yang ngidam. Hihi...”
Pak Brian dan Anton
saling pandang, Anton mengacungkan jempolnya pada Katty yang melakukan hal yang
sama. Kasian banget Jodi ya, gak papanya, gak Katty senang sekali menyusahkan
__ADS_1
dirinya.
Pak Brian : “Bagus.
Aku punya produk yang harus dijual. Besok kau bisa datang ke kantorku?”
Katty : “Siap, pak.”
Ratna yang sejak
awal memperhatikan kedatangan Brian, berbisik pada seseorang di sampingnya.
Orang itu segera memberitahu latar belakang Brian dan juga kedatangannya dengan
seorang wanita cantik tadi.
Ratna : “Bukanlah
dia yang bersama Elena?”
Orang di samping
Ratna mengangguk, dan memberitahu kalau keberadaan Elena saat ini masih di luar
negeri.
Ratna : “Bagus,
jangan sampai ada kesalahan. Anak dan menantuku tidak boleh terganggu sama
sekali. Dan aku akan segera punya cucu. Hehe...”
Ratna tersenyum
senang tapi segera memasang mode waspada lagi saat melihat tante Dewi
menyelinap diantara para tamu undangan.
Ratna : “Ada tugas
lagi untukmu. Beritahu Dion, ada pengganggu lagi disini.” Bisik Ratna pada
orang dibelakangnya.
Orang itu
membungkuk dan segera menghilang dari sana. Ratna kembali memperhatikan Brian
yang naik ke pelaminan dan berfoto bersama Anton, Katty dan Jodi.
*****
Dion sedang berada
di tempat favoritnya dengan segelas minuman di tangan, matanya tetap waspada
mengawasi Elo dan Riri. Lili yang merasa sedikit pegal dengan heels yang
dipakainya, menyelinap ke tempat Dion berdiri. Ia tidak tahu kalau Dion ada
Lili : “Ach,
leganya. Seharusnya aku pakai sepatu kets saja tadi.”
Dion tersenyum
mendengar kata-kata Lili. Mana ada orang berkebaya malah pakai sepatu kets.
Lili juga tertawa sendiri menertawai kata-katanya barusan.
Lili : “Ngaco saja.
Oh, aku lapar. Tapi belum boleh makan.”
Lili melongok ke
dalam dari tempat ia berdiri setelah melepas heelsnya. Dilihatnya Riri masih
sibuk dengan para tamu undangan.
Lili : “Apa nona
juga lapar? Eh, tadi kan nona sempat makan. Aku tanya nanti saja dech.”
Dion : “Kau ini
suka bicara sendiri ya?”
Lili : “Dion! Kau
ngagetin aku!!” Lili memasang kuda-kuda dan hampir menendang Dion yang muncul
tiba-tiba. Ia memegangi dadanya yang berdetak kencang, ia benar-benar merasa
dirinya sedang sendiri tadi. Dion sangat pintar menyembunyikan dirinya agar
tidak terlihat.
Dion : “Tenang, Lili.
Aku gak bisa bayangkan apa yang akan kau lakukan kalau aku menyelinap ke dalam
kamarmu.”
Lili : “Kau tidak
akan bisa membayangkannya karena kau sudah mati saat itu!” Ketus Lili sambil
merapikan penampilannya lagi.
Dion : ‘Kau bahkan
__ADS_1
tidak bergerak saat aku mengusap kepalamu semalam...”
Lili : “Kauu!!! Apa
yang kau lakukan di kamarku?!”
Dion : “Hanya
mengecek keamanan sekitar rumah. Kamarmu tidak dikunci jadi aku masuk saja. Kau
tahu, kau tidak bisa menggoda pria dengan piyama pink bercorak hello kitty itu.”
Lili refleks
memasang kuda-kuda dan melayangkan tendangannya pada Dion. Tentu saja Dion
menghindar dengan cepat, matanya melirik ke dalam dan Elo tampak akan
meninggalkan pelaminan.
Dion : “Hentikan
dulu. Nonamu sudah turun dari pelaminan.”
Lili dengan cepat
memakai heelsnya lagi dan berjalan masuk ke ruang tengah. Ia segera mengikuti
kemana langkah Riri sambil sesekali merapikan ujung gaun yang menjuntai di
belakang Riri.
Dion tertawa senang
melihat wajah Lili yang sangat murka padanya. Ia menggeleng menepis rasa hangat
yang sempat mengalir di tubuhnya. Sungguh ia tidak sengaja membuka kamar Lili
saat melakukan patroli semalam.
Dio menghabiskan
minumannya saat melihat seseorang berjalan cepat mendekatinya dan langsung
berbisik padanya.
Dion : “Oh, belum
kapok. Aku akan mengawasi tuan muda, kau suruh seseorang mengawasi dia.
Laporkan dimana dia. Akan kulakukan sesuatu nanti.”
Orang itu berjalan
kembali ke dekat Ratna dan memberi instruksi pada seseorang yang tadi
menggantikannya berdiri di dekat Ratna. Dengan cepat Dion mendapat informasi
keberadaan tante Dewi yang sedang asyik menikmati makanan sambil ngobrol dengan
teman-teman kayanya.
Dion : “Heh! Awas
saja nanti.”
*****
Dansa pertama sudah
dimulai. Riri benar-benar menunjukkan kalau dia bisa berdansa, meskipun dengan
langkah yang sederhana. Elo menikmati dansanya dengan Riri sampai ia melupakan
waktu yang berjalan dengan cepat. Satu lagu selesai, berganti lagu yang lain.
Kedua pengantin
baru itu benar-benar merasa sedang ada di dunianya sendiri. Mereka bahkan tidak
merasa lelah karena berdansa. Pelukan tangan Elo pada pinggang Riri dan
rangkulan tangan Riri di leher Elo. Sesekali Elo mengangkat tubuh Riri yang seringan
kapas.
Ok fix author
terlalu halu.
Tepuk tangan para
tamu undangan menghentikan gerakan mereka yang sangat intim. Keduanya mengedarkan
pandangan dan tertuju pada satu orang yang berdiri di depan mereka. Riri melepaskan
tangannya dari Elo dan berjalan mendekati...
🌻🌻🌻🌻🌻
Mendekati author
yang datang ke undangan resepsi pernikahan Elo dan Riri.
Kalian diundang
juga gak guys?
Makanya vote biar
diundang juga ya...
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).