Duren Manis

Duren Manis
Rasa hangat


__ADS_3

Elo dan Riri


berjalan perlahan menuruni tangga dan memasuki ruang tengah rumah itu yang


sudah disulap jadi tempat resepsi pernikahan yang salah satu bagiannya


diletakkan kursi pelaminan. Riri melambaikan tangannya pada Mia dan Alex ketika


ia melihat mereka duduk di dekat pelaminan.


Kedua pengantin


baru itu diminta duduk di pelaminan dan satu persatu tamu undangan mulai naik


ke pelaminan untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama. Jodi mengambilkan


makanan untuk Katty yang asyik menonton bos-bos besar beberapa perusahaan


berfoto dengan Elo dan Riri.


Ia mengenali


beberapa bos itu karena pernah berkerjasama dengannya. Bos-bos itu juga


mengenali Katty dan sempat mengajaknya ngobrol tadi. Sedang asyik memperhatikan


undangan lainnya, seseorang sudah berdiri di samping Katty.


Pak Brian : “Katty!


Sedang apa kamu disini?”


Katty : “Halo, pak


Brian. Saya...”


Anton : “Hai,


Brian. Dia menantuku.”


Pak Brian : “Kau


istrinya Jodi? Tunggu, kenapa aku tidak diundang ke pernikahan kalian. Anton...”


Katty : “Tidak, pak


Brian. Pernikahannya belum dilaksanakan. Saya baru calon...” Katty sibuk


menjalaskan pada Brian.


Anton : “Sejak kau


mengandung cucuku, tentu saja kau sudah jadi menantuku. Masih saja sungkan.”


Pak Brian : “Selamat


atas kehamilanmu dan ingat untuk mengundangku. Hadiah apa yang kau mau Katty?”


Katty : “Apa ya...


tidak usah merepotkan pak Brian.”


Anton : “Minta saja


yang mahal. Dia cukup kaya untuk membelikannya, ya kan Brian.”


Anton berkata


begitu sambil merangkul pundak pak Brian. Katty melihat keakraban Anton dan Brian


seperti keakraban Arnold dan Jodi.


Katty : “Bagaimana


kalau sponsor untuk melahirkan?”


Pak Brian : “Ach,


menantumu ini hampir jadi sepertimu Anton. Tidak mau melewatkan kesempatan


untuk menyusahkan aku.”


Anton : “Karena itu


aku setuju dia jadi menantuku. Bagaimana?”


Pak Brian : “Anggap


saja sudah beres. Aku punya dokter kandungan yang bagus, dia juga bisa


dipanggil ke rumah. Akan kuminta asistenku untuk menghubungimu. Kapan jadwal


cek kandungan berikutnya?”


Katty : “Minggu


depan, pak Brian. Apa permintaanku terlalu berlebihan?”


Pak Brian : “Permintaanmu


terlalu sedikit, Katty. Apa kau masih bisa bekerja?”


Katty : “Untuk saat


ini masih bisa, pak. Jodi yang ngidam. Hihi...”


Pak Brian dan Anton


saling pandang, Anton mengacungkan jempolnya pada Katty yang melakukan hal yang


sama. Kasian banget Jodi ya, gak papanya, gak Katty senang sekali menyusahkan

__ADS_1


dirinya.


Pak Brian : “Bagus.


Aku punya produk yang harus dijual. Besok kau bisa datang ke kantorku?”


Katty : “Siap, pak.”


Ratna yang sejak


awal memperhatikan kedatangan Brian, berbisik pada seseorang di sampingnya.


Orang itu segera memberitahu latar belakang Brian dan juga kedatangannya dengan


seorang wanita cantik tadi.


Ratna : “Bukanlah


dia yang bersama Elena?”


Orang di samping


Ratna mengangguk, dan memberitahu kalau keberadaan Elena saat ini masih di luar


negeri.


Ratna : “Bagus,


jangan sampai ada kesalahan. Anak dan menantuku tidak boleh terganggu sama


sekali. Dan aku akan segera punya cucu. Hehe...”


Ratna tersenyum


senang tapi segera memasang mode waspada lagi saat melihat tante Dewi


menyelinap diantara para tamu undangan.


Ratna : “Ada tugas


lagi untukmu. Beritahu Dion, ada pengganggu lagi disini.” Bisik Ratna pada


orang dibelakangnya.


Orang itu


membungkuk dan segera menghilang dari sana. Ratna kembali memperhatikan Brian


yang naik ke pelaminan dan berfoto bersama Anton, Katty dan Jodi.


*****


Dion sedang berada


di tempat favoritnya dengan segelas minuman di tangan, matanya tetap waspada


mengawasi Elo dan Riri. Lili yang merasa sedikit pegal dengan heels yang


dipakainya, menyelinap ke tempat Dion berdiri. Ia tidak tahu kalau Dion ada


Lili : “Ach,


leganya. Seharusnya aku pakai sepatu kets saja tadi.”


Dion tersenyum


mendengar kata-kata Lili. Mana ada orang berkebaya malah pakai sepatu kets.


Lili juga tertawa sendiri menertawai kata-katanya barusan.


Lili : “Ngaco saja.


Oh, aku lapar. Tapi belum boleh makan.”


Lili melongok ke


dalam dari tempat ia berdiri setelah melepas heelsnya. Dilihatnya Riri masih


sibuk dengan para tamu undangan.


Lili : “Apa nona


juga lapar? Eh, tadi kan nona sempat makan. Aku tanya nanti saja dech.”


Dion : “Kau ini


suka bicara sendiri ya?”


Lili : “Dion! Kau


ngagetin aku!!” Lili memasang kuda-kuda dan hampir menendang Dion yang muncul


tiba-tiba. Ia memegangi dadanya yang berdetak kencang, ia benar-benar merasa


dirinya sedang sendiri tadi. Dion sangat pintar menyembunyikan dirinya agar


tidak terlihat.


Dion : “Tenang, Lili.


Aku gak bisa bayangkan apa yang akan kau lakukan kalau aku menyelinap ke dalam


kamarmu.”


Lili : “Kau tidak


akan bisa membayangkannya karena kau sudah mati saat itu!” Ketus Lili sambil


merapikan penampilannya lagi.


Dion : ‘Kau bahkan

__ADS_1


tidak bergerak saat aku mengusap kepalamu semalam...”


Lili : “Kauu!!! Apa


yang kau lakukan di kamarku?!”


Dion : “Hanya


mengecek keamanan sekitar rumah. Kamarmu tidak dikunci jadi aku masuk saja. Kau


tahu, kau tidak bisa menggoda pria dengan piyama pink bercorak hello kitty itu.”


Lili refleks


memasang kuda-kuda dan melayangkan tendangannya pada Dion. Tentu saja Dion


menghindar dengan cepat, matanya melirik ke dalam dan Elo tampak akan


meninggalkan pelaminan.


Dion : “Hentikan


dulu. Nonamu sudah turun dari pelaminan.”


Lili dengan cepat


memakai heelsnya lagi dan berjalan masuk ke ruang tengah. Ia segera mengikuti


kemana langkah Riri sambil sesekali merapikan ujung gaun yang menjuntai di


belakang Riri.


Dion tertawa senang


melihat wajah Lili yang sangat murka padanya. Ia menggeleng menepis rasa hangat


yang sempat mengalir di tubuhnya. Sungguh ia tidak sengaja membuka kamar Lili


saat melakukan patroli semalam.


Dio menghabiskan


minumannya saat melihat seseorang berjalan cepat mendekatinya dan langsung


berbisik padanya.


Dion : “Oh, belum


kapok. Aku akan mengawasi tuan muda, kau suruh seseorang mengawasi dia.


Laporkan dimana dia. Akan kulakukan sesuatu nanti.”


Orang itu berjalan


kembali ke dekat Ratna dan memberi instruksi pada seseorang yang tadi


menggantikannya berdiri di dekat Ratna. Dengan cepat Dion mendapat informasi


keberadaan tante Dewi yang sedang asyik menikmati makanan sambil ngobrol dengan


teman-teman kayanya.


Dion : “Heh! Awas


saja nanti.”


*****


Dansa pertama sudah


dimulai. Riri benar-benar menunjukkan kalau dia bisa berdansa, meskipun dengan


langkah yang sederhana. Elo menikmati dansanya dengan Riri sampai ia melupakan


waktu yang berjalan dengan cepat. Satu lagu selesai, berganti lagu yang lain.


Kedua pengantin


baru itu benar-benar merasa sedang ada di dunianya sendiri. Mereka bahkan tidak


merasa lelah karena berdansa. Pelukan tangan Elo pada pinggang Riri dan


rangkulan tangan Riri di leher Elo. Sesekali Elo mengangkat tubuh Riri yang seringan


kapas.


Ok fix author


terlalu halu.


Tepuk tangan para


tamu undangan menghentikan gerakan mereka yang sangat intim. Keduanya mengedarkan


pandangan dan tertuju pada satu orang yang berdiri di depan mereka. Riri melepaskan


tangannya dari Elo dan berjalan mendekati...


🌻🌻🌻🌻🌻


Mendekati author


yang datang ke undangan resepsi pernikahan Elo dan Riri.


Kalian diundang


juga gak guys?


Makanya vote biar


diundang juga ya...

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2