
Kaori : “Aku mimisan lagi, bajuku kena darah. Udah kugantung di kamar mandi.”
Rio masuk ke kamar mandi dan mengeluarkan kemeja Kaori yang sedikit basah. Ia menjemurnya di tempat jemuran agar cepat kering. Sungguh situasinya bisa gawat kalau Kaori terus-terusan memakai bathrobe saja.
Rio : “Kita makan dulu ya. Habis tuch kamu istirahat. Kalau masih gak enak badan, kita ke rumah sakit.”
Kaori hanya mengangguk, Rio membuka bungkus makanan dan memberikannya pada Kaori. Kaori tersenyum menatap Rio,
Rio : “Jangan senyum-senyum gitu.”
Kaori : “Apa sich? Perasaan aku salah melulu.”
Rio : “Kamu gak tahu rasanya menahan diri dari kamu.”
Kaori : “Ngapain kamu menahan diri? Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan.”
Rio : “Kau akan menyesali kata-katamu nanti.”
Kaori : “Try me.”
Kaori merasa dirinya sudah gila, entah setan apa yang mendorongnya memprovokasi Rio agar mulai mendekatinya. Rio mendekati Kaori, mulai mencium bibir Kaori. Tangannya menahan tengkuk Kaori agar tidak
bisa melepaskan ciuman mereka.
Ciuman mereka membuat Kaori merasakan cinta Rio untuknya. Entah kenapa, Kaori menginginkan Rio hari ini. Ia membiarkan saja Rio menyentuh tubuhnya, menambahkan ciuman cinta padanya. Mereka hampir melakukan sesuatu yang terlalu jauh saat Rio menghentikan semuanya.
Rio : “Kau benar-benar mengujiku ya.”
Rio menatap mata Kaori yang sayu menatapnya dengan sangat menggoda. Kaori menarik tubuh Rio dan memeluknya dengan erat. Sangat erat sampai Rio mengira tubuhnya akan remuk dipelukan Kaori.
Rio : “Kenapa, sayang?”
Kaori : “Aku sangat mencintaimu, Mario. Aku ingin menjadi milikmu.”
Rio : “Saat kita menikah, semua itu akan terwujud, Kaori, cintaku. Sekarang kita makan dulu ya.”
Kaori : “Males makan.”
Rio : “Aku suapin ya.”
Kaori tersenyum senang melihat Rio menyendok makanan dan mengarahkannya ke mulut Kaori. Sesekali Rio mendekatkan gelas ke bibir Kaori. Ia tersenyum melihat tingkah manja kekasihnya itu. Setelah makanan
__ADS_1
mereka habis, Kaori kembali berulah.
Ia menarik tangan Rio dan berjalan mendekati tempat tidur. Kaori mendorong tubuh Rio agar jatuh di atas tempat tidur. Keduanya berbaring dengan nyaman diatas tempat tidur dengan Kaori memeluk tubuh Rio. Ia
mulai menangis entah karena apa.
Rio : “Kamu kenapa, sayang? Dimana yang sakit?”
Kaori : “Aku capek.”
Rio : “Sudah tidur. Aku disini.”
Kaori : “Jangan pergi ya.”
Rio : “Iya, aku gak akan pergi. Tidur.”
Rio mengelus kepala Kaori hingga terasa pelukan kekasihnya itu mulai mengendur. Kaori sudah tertidur pulas, menyisakan tanda tanya besar di benak Rio apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu?
*****
Malam semakin larut, Kaori tidak juga bangun dari tidurnya. Rio menutup buku mereka, ia baru selesai mengerjakan tugasnya dan Kaori. Rio merenggangkan tubuhnya yang kaku, ia mulai menguap. Lebih baik
mereka menginap disini, dan kembali ke asrama besok pagi-pagi sekali.
Kaori : “Hmm... Rio...”
Entah apa yang sedang diimpikan Kaori saat itu. Rio tersenyum mendengar namanya disebut bahkan dalam mimpi. Rio bergerak ke atas tubuh Kaori, ia mendekat ke wajah Kaori dan mencium keningnya.
Rio : “Aku sangat mencintaimu, sayangku.”
Rio jatuh tertidur di sisi Kaori, keduanya tanpa sadar semakin mendekat satu sama lain sampai pagi menjelang.
*****
Kaori membuka matanya, ia merasakan kepalanya pusing lagi. Tapi kali ini terasa lebih ringan dari biasanya. Ia melihat kesamping, wajah tampan Rio ada disampingnya. Kaori tersenyum, ia membelai wajah tampan Rio dan ingin menciumnya. Tapi saat bibir mereka hampir bersentuhan, Kaori merasakan meraba bibirnya yang basah.
Di jarinya ada darah, Kaori kembali mimisan. Ia bangkit dengan cepat, menahan rasa sakit di kepalanya dan berjalan masuk ke kamar mandi. Kaori mencuci darah yang mengalir dari hidungnya, ia menatap ngeri pada
wastafel yang berubah kemerahan.
Kaori : “Apa yang terjadi padaku? Aku harus ke rumah sakit.”
__ADS_1
Kaori melihat wajahnya di cermin, bekas darah masih membekas di pipinya. Kepalanya menoleh ke arah pintu kamar mandi, kearah tempat tidur dengan Rio yang masih tertidur disana. Kaori menggeleng, ia tidak ingin
Rio tahu kalau dirinya sedang sakit atau apalah itu. Kaori memutuskan akan ke rumah sakit sendirian.
Setelah menyegarkan dirinya, Kaori kembali ke atas tempat tidur. Ia sempat melihat kalau saat itu masih jam 4 pagi. Ia bisa tidur sebentar lagi sebelum matahari terbit. Rio membuka matanya saat Kaori sudah
berbaring dengan nyaman di sampingnya.
Rio : “Kamu bangun?”
Kaori : “Iya, aku kebelet. Tidur lagi ya. Eh, iya aku belum buat tugasku.”
Kaori hampir bangun lagi dari tidurannya, tapi Rio memeluk tubuhnya.
Rio : “Tugasmu sudah selesai. Ayo, kita tidur lagi.”
Kaori tersenyum menatap Rio, ia mengelus rambut di belakang telinga Rio dan bergerak mendekat. Digigitnya telinga Rio perlahan, Rio diam saja dengan mata terpejam. Kaori bergerak turun, mencium leher Rio,
kening Rio mengkerut sedikit. Kaori turun lagi, kali ini tangannya menyusup masuk ke balik kaos Rio dan mengusap-usap perutnya. Kaori juga sengaja menyentuh paha Rio dengan pahanya.
Rio : “Jangan bergerak.”
Kaori : “Gak mau.”
Kaori terus melakukan apa yang ia inginkan, mengeksplor tubuh Rio sampai Rio harus menangkap tangan Kaori dan membelenggunya.
Rio : “Jangan pancing aku, sayang.”
Kaori mencium bibir Rio sambil mengusap-usap perutnya, mata Rio terbuka sempurna. Hasratnya mulai memuncak dan kini sudah terlambat bagi Rio untuk menahan dirinya.
Rio : “Sayang, aku menginginkanmu sekarang.” bisik Rio dengan suara serak.
Kaori : “Aku milikmu, Mario.”
Rio menarik tali bathrobe di pinggang Kaori, meloloskan bathrobe itu dari tubuh Kaori dan melemparnya ke bawah ranjang. Rio menegakkan tubuhnya menatap tubuh polos Kaori dibawahnya.
Rio : “Boleh?”
Kaori mengangguk sambil tersenyum manis, Rio mulai menciumi leher Kaori, membuat gadis itu melayang dalam kenikmatan.
*****
__ADS_1
Nah loh, apa yang barusan itu tanda-tanda MP Rio dan Kaori? Tunggu upa berikutnya. jangan lupa votenya kk
Klik profil author ya, ada novel karya author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).