
Menjauh lagi
Gadis menyandarkan dirinya di dinding apartment. Ia
mencoba berjalan lebih cepat menuju lift tapi tidak bisa. Harga dirinya,
kehormatannya, dirampas dengan paksa oleh orang yang paling ingin ia lupakan
seumur hidupnya. Baginya yang paling sakit adalah Rio melakukannya sambil
memanggil nama Kaori.
Gadis menahan air matanya agar tidak jatuh sebelum
ia sampai di mobilnya. Memikirkan dirinya harus ke kantor secepatnya membuat
Gadis melupakan rasa sakitnya. Ia memacu mobilnya pulang kerumah dan beralasan
pada pelayannya kalau dirinya menginap di kantor dan pulang hanya untuk mandi
dan ganti baju saja.
*****
Rio tidak berusaha mengejar Gadis, bahkan tidak
merasa kasihan padanya. Ditariknya selimut yang menutupi tubuhnya dan Rio
tertegun melihat bercak darah di atas seprai tempat tidur itu.
Rio : “Apa yang sudah kulakukan?! Aarrgghhh...!!”
Dirinya belum terlalu mabuk semalam tapi ia tidak
bisa menahan dirinya ketika melihat bayangan Kaori ada pada Gadis. Rio terlalu
merindukan Kaori sampai memperlakukan Gadis seperti ia memperlakukan Kaori dan
ia melupakan batasannya.
Rio bangkit dengan cepat, ia membersihkan dirinya
dan bersiap pergi ke kantor. Gadis juga melakukan hal yang sama, meski masih
terasa sakit dan tidak nyaman, ia tetap datang ke kantor.
Keduanya berpapasan di depan lift kantor. Gadis
menekan tombol lift dan menunggu. Rio yang merasa sedikit bersalah ingin
mengajak Gadis bicara tapi gadis itu bahkan tidak mau melihatnya.
Gadis masuk ke dalam lift dengan cepat. Ia berdiri
di belakang bersama beberapa karyawan lainnya. Ketika pintu lift tertutup, ia
sudah tidak peduli Rio mau ikut masuk atau tidak. Satu persatu karyawan turun
di lantai tempat mereka bekerja. Menyisakan Rio dan Gadis di dalam lift yang
membawa mereka ke lantai paling atas dari kantor Alex.
Rio melirik bayangan Gadis yang muncul di cermin di
depannya. Gadis hanya menunduk, menunggu lift terbuka.
Rio : “Apa kau puas sekarang?!”
Gadis tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam seolah
Rio tidak mengatakan apa-apa barusan. Rio mengepalkan tangannya. Ia berbalik
dan menghentakkan tubuh Gadis ke dinding lift. Gadis bahkan masih kesakitan
pada tubuhnya karena perbuatan Rio semalam. Rio melihat Gadis meringis dan
mengendurkan tekanannya.
Gadis : “Minggir.” kata Gadis dingin pada Rio.
Gadis menatap mata Rio dengan pandangan marah dan terluka.
Pintu lift sudah terbuka, Gadis benar-benar tidak ingin menyentuh Rio lagi.
Tangannya mengepal menahan tangis, Rio melihat tubuh Gadis gemetar dan memilih
menyingkir darinya.
Gadis berjalan dengan cepat keluar dari lift. Ia
langsung duduk di kursinya dan meringis sendiri karena merasa perih. Gadis
__ADS_1
menghidupkan laptop di mejanya. Ia mulai bekerja membaca semua e-mail masuk dan
membalasnya satu persatu. Ia juga mengecek jadwal Alex dan Romi dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan
meeting.
Rio masuk ke ruang kerja Romi, mereka bisa saling
menatap dari meja masing-masing. Tapi Gadis tetap mengacuhkan Rio. Sampai Romi datang
disusul Alex. Gadis menenggelamkan dirinya dalam kesibukan membantu Alex dengan
meetingnya.
Alex : “Apa kau baik-baik saja, Gadis? Wajahmu
pucat sekali.”
Gadis : “Saya tidak apa-apa, pak. Mungkin karena
kecapean saja.”
Alex, Romi, Gadis, dan Rio sedang duduk bersama di
ruang kerja Alex. Mereka baru selesai meeting dan sedang membahas langkah
proyek selanjutnya.
Alex : “Kalau kamu mau, istirahat saja di rumah. Habis
ini juga kita gak ada meeting lagi, kan.”
Gadis : “Saya istirahat di meja saya saja, pak.
Terima kasih.”
Rio melirik Gadis yang tampak sedikit gemetar dengan
keringat dingin menetes di keningnya. Ia tahu dari internet kalau seorang gadis
yang baru melepas keperawanannya tidak akan bisa bergerak dengan mudah.
Rio : “Pulang sana. Gak ada yang ngurusin kalau
kamu pingsan disini.”bisik Rio di samping Gadis.
Gadis : “Bukan urusanmu.”kata Gadis cuek.
memperhatikan Alex yang sedang bicara dengan Romi. Sesekali ia mencatat
perintah Alex dan bertanya pada Alex tentang perintah yang belum dimengertinya.
Rio mengepalkan tangannya, sikap cuek Gadis
membuatnya semakin merasa bersalah. Semuanya akan lebih mudah bagi Rio kalau
Gadis menangis meminta dirinya bertanggung jawab. Tapi gadis itu malah semakin
menghindarinya. Mereka seperti bermain petak umpet di kantor Alex.
Gadis selalu menghindar saat bertemu dengan Rio. Ia
memakai berbagai alasan untuk bisa tidak dekat-dekat dengan Rio. Rio yang gemas
sendiri, membiarkan saja Gadis melakukan apa yang ia mau.
*****
Lili berbaring diatas tempat tidurnya, ia sudah
sangat mengantuk dan ingin tidur secepatnya. Tapi keberadaan Dion membuatnya
terganggu. Pasalnya Dion sudah merentangkan tangan dan kakinya menindih tubuh
Lili.
Lili : “Dion, minggir dikit. Aku gak bisa nafas.”
Dion : “Gak mau. Susah payah aku membujukmu tidur
di sampingku dan gak di sofa lagi. Ntar kamu pergi lagi.”
Lili : “Aku gak pergi. Tapi jangan gini dong.”
Lili membalik badannya membelakangi Dion. Ia merasakan
tubuh Dion merangsek menempel di punggungnya. Lili tersenyum geli, Dion
menghembuskan nafas panasnya ke tengkuk Lili. Lili memikirkan sesuatu dengan
cepat, ia membalik badannya lagi kini menghadap Dion.
__ADS_1
Lili menatap dalam mata Dion, ia maju sedikit
hingga tubuh keduanya menempel lagi.
Lili : “Dion, apa kau mencintaiku?”
Dion : “Ya, aku cinta sama kamu. Tapi kamu gak
cinta aku.”
Lili : “Dasar bodoh. Dion bodoh.”
Dion : “Berani kamu ngatain aku?”
Lili : “Emangnya kenapa?”
Dion : “Mau aku hukum?”
Lili cemberut, pasti ujung-ujungnya minta cium.
Lili memilih memejamkan matanya dari pada menjawab pertanyaan Dion. Tangannya
menyentuh pipi Dion, mengusap-usap surai rambut yang tumbuh di depan telinga
Dion.
Lili : “Apa masih sakit?”
Dion : “Apanya?”
Lili : “Luka bakarnya.”
Dion : “Kadang-kadang menyengat kalau terlalu
panas. Tapi ada yang lebih sakit.”
Lili : “Jangan bilang hatimu lagi. Capek dengernya.
Gombal.”
Dion : “Bukan, lebih dibawah lagi.”
Lili : “Mesum!” teriak Lili ketika melihat arah
yang ditunjuk Dion.
Lili : “Kamu pikirannya cuma kesitu aja. Makanya
mau nikahin aku cepet-cepet kan?”
Dion : “Mending aku terus terang toh kamu calon
istriku.”
Lili : “Ssstt... Diam, aku mau tidur.”
Lili memejamkan matanya lagi, Dion tersenyum
mendengar dengkuran halus Lili.
Dion : “Kalo imut gini, gak jadi dihukum dech.”
Keduanya terlelap saling berpelukan satu sama lain
tanpa melakukan hal-hal seperti yang terjadi di kamar sebelah.
Lagi, Elo dan Riri sibuk menghabiskan malam panjang
mereka dengan melakukan sesuatu yang memabukkan. Keduanya bahkan tidak menoleh
ketika ponsel Riri terus berdengung. Riri baru menyadari ada yang mengiriminya
chat ketika Elo akhirnya melepaskan dirinya.
Elo : “Dari siapa?”
Riri : “Gak tau, mas. Coba aku buka dulu...Elena
lagi.”
Elo mengambil ponsel Riri dan mem-block nomor yang
mengirimi Riri chat permintaan tolong dan foto lain Elena yang babak belur. Ia
mengirimkan screen shot nomor itu dan mengirimkannya ke nomornya sendiri.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1