Duren Manis

Duren Manis
Menjauh lagi


__ADS_3

Menjauh lagi


Gadis menyandarkan dirinya di dinding apartment. Ia


mencoba berjalan lebih cepat menuju lift tapi tidak bisa. Harga dirinya,


kehormatannya, dirampas dengan paksa oleh orang yang paling ingin ia lupakan


seumur hidupnya. Baginya yang paling sakit adalah Rio melakukannya sambil


memanggil nama Kaori.


Gadis menahan air matanya agar tidak jatuh sebelum


ia sampai di mobilnya. Memikirkan dirinya harus ke kantor secepatnya membuat


Gadis melupakan rasa sakitnya. Ia memacu mobilnya pulang kerumah dan beralasan


pada pelayannya kalau dirinya menginap di kantor dan pulang hanya untuk mandi


dan ganti baju saja.


*****


Rio tidak berusaha mengejar Gadis, bahkan tidak


merasa kasihan padanya. Ditariknya selimut yang menutupi tubuhnya dan Rio


tertegun melihat bercak darah di atas seprai tempat tidur itu.


Rio : “Apa yang sudah kulakukan?! Aarrgghhh...!!”


Dirinya belum terlalu mabuk semalam tapi ia tidak


bisa menahan dirinya ketika melihat bayangan Kaori ada pada Gadis. Rio terlalu


merindukan Kaori sampai memperlakukan Gadis seperti ia memperlakukan Kaori dan


ia melupakan batasannya.


Rio bangkit dengan cepat, ia membersihkan dirinya


dan bersiap pergi ke kantor. Gadis juga melakukan hal yang sama, meski masih


terasa sakit dan tidak nyaman, ia tetap datang ke kantor.


Keduanya berpapasan di depan lift kantor. Gadis


menekan tombol lift dan menunggu. Rio yang merasa sedikit bersalah ingin


mengajak Gadis bicara tapi gadis itu bahkan tidak mau melihatnya.


Gadis masuk ke dalam lift dengan cepat. Ia berdiri


di belakang bersama beberapa karyawan lainnya. Ketika pintu lift tertutup, ia


sudah tidak peduli Rio mau ikut masuk atau tidak. Satu persatu karyawan turun


di lantai tempat mereka bekerja. Menyisakan Rio dan Gadis di dalam lift yang


membawa mereka ke lantai paling atas dari kantor Alex.


Rio melirik bayangan Gadis yang muncul di cermin di


depannya. Gadis hanya menunduk, menunggu lift terbuka.


Rio : “Apa kau puas sekarang?!”


Gadis tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam seolah


Rio tidak mengatakan apa-apa barusan. Rio mengepalkan tangannya. Ia berbalik


dan menghentakkan tubuh Gadis ke dinding lift. Gadis bahkan masih kesakitan


pada tubuhnya karena perbuatan Rio semalam. Rio melihat Gadis meringis dan


mengendurkan tekanannya.


Gadis : “Minggir.” kata Gadis dingin pada Rio.


Gadis menatap mata Rio dengan pandangan marah dan terluka.


Pintu lift sudah terbuka, Gadis benar-benar tidak ingin menyentuh Rio lagi.


Tangannya mengepal menahan tangis, Rio melihat tubuh Gadis gemetar dan memilih


menyingkir darinya.


Gadis berjalan dengan cepat keluar dari lift. Ia


langsung duduk di kursinya dan meringis sendiri karena merasa perih. Gadis

__ADS_1


menghidupkan laptop di mejanya. Ia mulai bekerja membaca semua e-mail masuk dan


membalasnya satu persatu. Ia juga mengecek jadwal Alex dan Romi dan  mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan


meeting.


Rio masuk ke ruang kerja Romi, mereka bisa saling


menatap dari meja masing-masing. Tapi Gadis tetap mengacuhkan Rio. Sampai Romi datang


disusul Alex. Gadis menenggelamkan dirinya dalam kesibukan membantu Alex dengan


meetingnya.


Alex : “Apa kau baik-baik saja, Gadis? Wajahmu


pucat sekali.”


Gadis : “Saya tidak apa-apa, pak. Mungkin karena


kecapean saja.”


Alex, Romi, Gadis, dan Rio sedang duduk bersama di


ruang kerja Alex. Mereka baru selesai meeting dan sedang membahas langkah


proyek selanjutnya.


Alex : “Kalau kamu mau, istirahat saja di rumah. Habis


ini juga kita gak ada meeting lagi, kan.”


Gadis : “Saya istirahat di meja saya saja, pak.


Terima kasih.”


Rio melirik Gadis yang tampak sedikit gemetar dengan


keringat dingin menetes di keningnya. Ia tahu dari internet kalau seorang gadis


yang baru melepas keperawanannya tidak akan bisa bergerak dengan mudah.


Rio : “Pulang sana. Gak ada yang ngurusin kalau


kamu pingsan disini.”bisik Rio di samping Gadis.


Gadis : “Bukan urusanmu.”kata Gadis cuek.


memperhatikan Alex yang sedang bicara dengan Romi. Sesekali ia mencatat


perintah Alex dan bertanya pada Alex tentang perintah yang belum dimengertinya.


Rio mengepalkan tangannya, sikap cuek Gadis


membuatnya semakin merasa bersalah. Semuanya akan lebih mudah bagi Rio kalau


Gadis menangis meminta dirinya bertanggung jawab. Tapi gadis itu malah semakin


menghindarinya. Mereka seperti bermain petak umpet di kantor Alex.


Gadis selalu menghindar saat bertemu dengan Rio. Ia


memakai berbagai alasan untuk bisa tidak dekat-dekat dengan Rio. Rio yang gemas


sendiri, membiarkan saja Gadis melakukan apa yang ia mau.


*****


Lili berbaring diatas tempat tidurnya, ia sudah


sangat mengantuk dan ingin tidur secepatnya. Tapi keberadaan Dion membuatnya


terganggu. Pasalnya Dion sudah merentangkan tangan dan kakinya menindih tubuh


Lili.


Lili : “Dion, minggir dikit. Aku gak bisa nafas.”


Dion : “Gak mau. Susah payah aku membujukmu tidur


di sampingku dan gak di sofa lagi. Ntar kamu pergi lagi.”


Lili : “Aku gak pergi. Tapi jangan gini dong.”


Lili membalik badannya membelakangi Dion. Ia merasakan


tubuh Dion merangsek menempel di punggungnya. Lili tersenyum geli, Dion


menghembuskan nafas panasnya ke tengkuk Lili. Lili memikirkan sesuatu dengan


cepat, ia membalik badannya lagi kini menghadap Dion.

__ADS_1


Lili menatap dalam mata Dion, ia maju sedikit


hingga tubuh keduanya menempel lagi.


Lili : “Dion, apa kau mencintaiku?”


Dion : “Ya, aku cinta sama kamu. Tapi kamu gak


cinta aku.”


Lili : “Dasar bodoh. Dion bodoh.”


Dion : “Berani kamu ngatain aku?”


Lili : “Emangnya kenapa?”


Dion : “Mau aku hukum?”


Lili cemberut, pasti ujung-ujungnya minta cium.


Lili memilih memejamkan matanya dari pada menjawab pertanyaan Dion. Tangannya


menyentuh pipi Dion, mengusap-usap surai rambut yang tumbuh di depan telinga


Dion.


Lili : “Apa masih sakit?”


Dion : “Apanya?”


Lili : “Luka bakarnya.”


Dion : “Kadang-kadang menyengat kalau terlalu


panas. Tapi ada yang lebih sakit.”


Lili : “Jangan bilang hatimu lagi. Capek dengernya.


Gombal.”


Dion : “Bukan, lebih dibawah lagi.”


Lili : “Mesum!” teriak Lili ketika melihat arah


yang ditunjuk Dion.


Lili : “Kamu pikirannya cuma kesitu aja. Makanya


mau nikahin aku cepet-cepet kan?”


Dion : “Mending aku terus terang toh kamu calon


istriku.”


Lili : “Ssstt... Diam, aku mau tidur.”


Lili memejamkan matanya lagi, Dion tersenyum


mendengar dengkuran halus Lili.


Dion : “Kalo imut gini, gak jadi dihukum dech.”


Keduanya terlelap saling berpelukan satu sama lain


tanpa melakukan hal-hal seperti yang terjadi di kamar sebelah.


Lagi, Elo dan Riri sibuk menghabiskan malam panjang


mereka dengan melakukan sesuatu yang memabukkan. Keduanya bahkan tidak menoleh


ketika ponsel Riri terus berdengung. Riri baru menyadari ada yang mengiriminya


chat ketika Elo akhirnya melepaskan dirinya.


Elo : “Dari siapa?”


Riri : “Gak tau, mas. Coba aku buka dulu...Elena


lagi.”


Elo mengambil ponsel Riri dan mem-block nomor yang


mengirimi Riri chat permintaan tolong dan foto lain Elena yang babak belur. Ia


mengirimkan screen shot nomor itu dan mengirimkannya ke nomornya sendiri.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2