
Sekembalinya dengan pouch make up di tangannya, Jodi kembali ke mobilnya. Ia masuk ke dalam dan tidak melihat Rara di dalam sana.
Jodi : "Ra?! Kemana dia?"
Jodi keluar lagi dari mobil, ia celingukan mencari tukang parkir. Dan menemukan yang bersangkutan sedang duduk di bawah pohon.
Jodi : "Pak, lihat wanita hamil jalan keluar?"
Tukang parkir itu cuma geleng-geleng kepala. Jodi mulai frustasi, ia mencoba menelpon Rara. Rara tidak mengangkat telpon Jodi.
Jodi : "Shit, kemana dia? Rara! Rara!"
Jodi terus berusaha menelpon Rara, ia berlari ke sekitar restauran tapi tetap gak ketemu. Ia mengingat lagi, dirinya hanya meninggalkan Rara selama 5 menit mungkin.
Berarti Rara gak mungkin jalan kaki. Ia naik kendaraan dan pergi entah kemana.
Pikiran Jodi mulai berkelana, jangan sampai terjadi sesuatu dengan Rara atau Arnold akan menggantungnya.
Jodi : "Arnold!"
Jodi cepat-cepat menelpon Arnold, yang ditelpon baru selesai makan dan minum obat.
Arnold : "Halo, Jodi."
Jodi : "Dengarkan aku, jangan tanya apapun. Rara menghilang."
Arnold : "Apa? Bagaimana bisa?"
Jodi : "Bantu aku mencarinya. Pikirkan sesuatu, bro! Kemana Rara akan pergi?"
Arnold : "Bukankah kau lebih tahu?"
Jodi : "Apa? Apa maksudmu?"
Arnold : "Kau lebih mengenalnya dari aku."
Jodi : "Jadi karena ini? Karena kecemburuanmu yang tidak beralasan kau membuat istrimu sendiri menanggung penderitaan."
Arnold : "..."
Jodi : "Pantas saja Rara begitu kecewa. Lupakan. Jangan sampai aku temukan dia duluan atau aku akan membawanya pergi jauh darimu bersama bayinya."
Arnold terperangah mendengar kata-kata Jodi.
Tut, tut, tut! Telpon terputus, Arnold tidak bisa berpikir lagi. Ia memakai celananya dengan cepat. Mengambil ponselnya yang lowbat dan juga dompet.
Arnold keluar dari kamar, tidak peduli dengan keadaannya yang bahkan belum membaik. Alex mencegatnya,
Alex : "Kamu mau kemana, Arn? Kamu belum sembuh."
Arnold : "Arnold mau nyari Rara, pah. Arnold harus minta maaf sekarang juga."
Alex : "Tunggu, papa anter."
Arnold : "Gak usah, pah. Arnold kuat sendiri."
Arnold sudah menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Alex.
Ia terus berpikir kemana Rara pergi? Arnold harus menemukan Rara secepatnya atau Jodi akan membawa Rara pergi.
Arnold tahu Jodi bisa melakukan itu. Dia tahu seberapa besar kekuasaan keluarga Jodi.
Arnold mengusap kasar wajahnya, ia mulai mengantuk karena pengaruh obat.
kemana Rara pergi kalau sedang sedih. Dimana tempat kesukaan Rara. Ia mengendarai mobilnya ke sebuah restaurant tempat ia biasa makan dengan Rara.
Tapi Arnold tidak masuk ke dalam sana, entah kenapa ia merasa Rara tidak ada disana.
Arnold memukul kepalanya, ia berhenti di pinggir jalan. Setiap hari ia mendengarkan cerita Rara. Dirinya memang koma tapi ia bisa mendengar suara Rara.
Hanya tubuhnya tidak bisa digerakkan. Setiap hari Rara menceritakan kegiatannya.
Arnold menundukkan kepalanya ke setir mobil dan tiba-tiba menghantamkan kepalanya ke setir mobil dengan kencang.
Arnold : "Shit! Kenapa aku bisa lupa!"
__ADS_1
Arnold melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah taman yang ada air mancurnya.
Ia mencoba mencari taman itu. Setelah browsing, Arnold menemukan satu taman yang berisi air mancur. Ia memarkir mobilnya sembarangan dan berlari ke sekitar taman.
Nafasnya hampir putus saat melihat Rara duduk di salah satu bangku taman. Arnold tersenyum lega, ia berjalan cepat ingin menghampiri istrinya itu.
Tapi sesosok pria sudah berdiri di depan Rara. Jodi menemukan Rara duluan. Ia melihat Rara tersenyum pada Jodi dan memegang tangannya.
Arnold menepis semua pikiran negatifnya. Ia merasakan tubuhnya terbakar lagi. Demamnya bahkan belum sembuh dan Arnold sudah terkena angin lagi.
Arnold : "Rara!"
Keduanya menoleh menatap Arnold yang kondisinya terlihat kacau. Dia bahkan belum mandi dan mungkin sedikit bau ketek.
Arnold : "Ra, maaf..."
Ketiganya membeku di tempat, Rara mengalihkan pandangannya dari Arnold. Dia belum memaafkan suaminya itu.
Hati Arnold hancur melihat penolakan Rara. Ia menatap Jodi yang menatapnya tanpa ekspresi. Arnold menatap Rara lagi, dan berakhir menatap tangan Rara yang memegang tangan Jodi.
Arnold berbalik, ia berjalan cepat kembali ke tempat ia memarkir mobilnya. Sampai disana, bukannya melihat mobilnya di tempat ia meninggalkannya, mobilnya sudah di derek petugas karena melanggar parkir.
Arnold membiarkan saja mobil itu dibawa petugas. Padahal ia bisa saja mengambil mobil itu langsung. Arnold memilih duduk di salah satu bangku di taman itu.
Ia meraba keningnya yang panas lagi. Arnold melamun memikirkan Rara dan bayinya. Apa dia sudah makan? Sekarang jam berapa?
Arnold mencari ponselnya, ia menepuk keningnya. Ponselnya sudah mati kehabisan baterai.
Ia mencari dompetnya, dompetnya sepertinya ketinggalan di mobil.
Arnold diam lagi.
Bukan Arnold namanya kalau gak bisa menarik perhatian kaum hawa. Meskipun dengan tampang kacau dan belum mandi, visualnya yang sempurna membuat beberapa perempuan yang sedang ada di taman itu mulai mengerumuninya.
Arnold mengabaikan mereka semua, ia hanya terbayang wajah Rara.
Gadis 1 : "Hai, ganteng. Kamu ngapain nglamun disini?"
Gadis 2 : "Ganteng-ganteng gini kok diem aja sich?"
Gadis 1 : "Apa dia tuli?"
Arnold tidak peduli jadi tontonan orang.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Rara yang masih galau, ditinggalkan Jodi yang mengejar Arnold. Jodi melihat semua kejadian yang dialami Arnold dan kembali menemui Rara.
Jodi : "Suamimu itu benar-benar bucin."
Rara : "Maksud kakak?"
Jodi : "Aku gak tau kenapa dia bisa tau tempat ini. Tapi mobilnya baru saja di derek dan dia tidak bereaksi apa-apa. Ponselnya juga mati, dia cuma bengong aja. Dan sepertinya dia mencari dompet yang entah dimana dia tinggalkan. Kamu masih gak mau ketemu dia?"
Rara : "Dimana dia, kak?"
Jodi : "Tuch, jadi tontonan cewek-cewek di pinggir jalan. Meski tampangnya gak jelas gitu, banyak yang bilang dia ganteng. Emang ganteng sich."
Rara : "Biarin aja, kak. Aku masih mumet."
Jodi : "Aku ngerti, tapi kamu kan gak perlu melarikan diri begini. Aku pusing nyari kamu, trus diteror Ilham. Mungkin dia pikir aku nglariin bosnya."
Rara : "Maaf ya, kak."
Jodi : "Gak dimaafin sampai kamu baikan sama Arnold.
Rara menunduk memainkan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, Alex menelponnya.
Rara : "Ya, pah."
Alex : "Akhirnya. Rara, kamu dimana? Kamu sudah ketemu Arnold?"
Rara : "Uda, pah. Kenapa papa kayak khawatir gitu?"
Alex : "Gimana gak khawatir? Dia lari keluar dari rumah buat nyari kamu katanya mau minta maaf. Dia gak mau papa anter padahal demamnya belum turun."
__ADS_1
Rara : "Mas Arnold demam?! Tapi dia..."
Rara mengingat visual kacau Arnold dan melihat wajahnya memerah dengan nafas ngos-ngosan. Rara tidak mengira kalau Arnold sedang demam saat ini.
Alex : "Ra? Rara? Kamu sama Arnold kan? Kalian bisa ke rumah sakit?"
Rara : "Sebentar, pah. Rara mau cari mas Arnold dulu."
Rara mematikan sambungan telpon. Ia menarik Jodi untuk mencari keberadaan Arnold.
Jodi : "Arnold sakit?"
Rara : "Kata papa, mas Arnold demam. Dimana dia, kak? Cepat!"
Jodi membawa Rara ke tempat tadi ia mengintip Arnold. Dan tempat itu sudah kosong.
Rara : "Mana dia, kak? Mana suamiku?"
Jodi : "Beneran aku lihat dia duduk disini tadi. Gini, kamu tunggu disini, aku coba keliling nyari ya."
Rara menurut, ia sudah mulai lelah dan sedikit lapar. Pinggangnya juga sakit. Rara duduk di bangku yang tadi diduduki Arnold.
Seorang wanita bertubuh gemuk duduk di sebelah Rara, melemaskan kakinya yang sepertinya pegal.
Tak lama, Arnold muncul entah dari mana. Ia duduk di sebelah wanita gemuk itu. Keduanya tidak saling melihat karena terhalang wanita gemuk itu.
Saat wanita gemuk tadi bangun dari duduknya, Rara dan Arnold saling menatap. Rara segera mendekati Arnold,
Rara : "Mas! Mas sakit?"
Rara memegang kening Arnold dan bisa merasakan tubuh suaminya itu panas tinggi. Dipegang Rara, rasa terbakar dalam tubuh Arnold perlahan mulai mereda.
Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap wajah istrinya saja.
Rara : "Mas kenapa diem aja? Kita ke rumah sakit sekarang."
Arnold menahan lengan Rara dan memeluknya dengan erat. Arnold menjaga agar anak mereka tidak tergencet.
Arnold : "Maafin aku, Ra. Aku tahu salahku. Aku benar-benar menyesal."
Rara : "Iya, mas. Maafin aku juga. Mas sampai demam gini."
Arnold melepaskan pelukannya dengan cepat.
Arnold : "Jangan dekat-dekat aku, Ra."
Rara : "Kenapa, mas? Mas gak mau deket aku lagi?"
Mata Rara mulai berkaca-kaca. Arnold menggeleng dengan cepat.
Arnold : "Aku lagi sakit, nanti kamu ketularan. Ikutan demam juga."
Rara malah memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.
Rara : "Mas kenapa bohong bilang lumpuh?"
Rara memberanikan diri bertanya pada Arnold. Dia harus tahu jawabannya sekarang juga.
Arnold : "Aku cemburu, Ra. Aku merasa hubunganmu dengan Jodi terlalu dekat. Dia lebih memahami kamu daripada aku."
Rara : "Mas gak percaya sama aku?"
Arnold : "Aku berusaha mempercayaimu waktu itu tapi aku gak pede, Ra. Aku mulai ragu dan memutuskan berbohong. Aku benar-benar menyesal, Ra."
Rara : "Kalau sekarang, mas percaya."
Arnold : "Ya. Aku sepenuhnya percaya sama kamu. Cintamu cuma buat aku. Apa yang tadi aku lihat seolah menjelaskan seperti apa hubungan kalian. Aku bisa melihat tatapan Jodi seperti kakak laki-laki yang khawatir sama adik perempuannya."
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²