
DM2 – Kabar baik
“Kamu tunggu sini dulu ya. Mama mau lihat
antrian dokternya.”kata Mia meminta Gadis duduk di ruang tunggu di depan loket
obat. Mia meletakkan dulu resep obat Kaori disana sebelum berjalan ke tempat
dokter praktek kandungan. Gadis tidak menyadari seseorang sudah
memperhatikannya dari jauh.
Orang itu terus menatap Kaori, sesekali ia
tersenyum melihat Kaori yang sudah tertidur pulas dalam gendongan Gadis. Gadis
yang gemas melihat pipi gembul Kaori, sesekali menciuminya. “Mb baby cantik.”kata
Gadis.
Tak lama Mia kembali, ia mengajak Gadis ke
ruang praktek dokter kandungan. Gadis tidak memperhatikan papan nama dokter
karena Kaori sudah terbangun. Bayi itu terlihat tidak bersemangat karena efek
suntikan imunisasi mulai dirasakannya. Badan Kaori sedikit hangat.
“Mah, kayaknya badan Kaori panas dech.”kata
Gadis.
“Eh, lupa ngambil obatnya. Ntar mama balik
ke loket obat dulu ya.”kata Mia meninggalkan Gadis di ruang tunggu dokter
kandungan.
“Ibu Gadis.”panggil suster.
Gadis berdiri, ia mendekati suster dan
dipersilahkan masuk ke ruang dokter. Mia yang sudah kembali, tidak melihat
Gadis, ia celingukan mengintip ke dalam ruangan periksa. Dilihatnya Gadis masih
berdiri menggendong Kaori.
“Permisi.”kata Mia masuk ke ruangan praktek
dokter.
“Ya, silakan.”kata suster.
“Sini, mama gendong Kaori bentar.”kata Mia
mengambil Kaori dari gendongan Gadis.
“Ada keluhan apa ya?”tanya dokter.
“Menantu saya ini badannya sering demam
akhir-akhir ini. Pernah waktu itu mual sampai muntah-muntah. Dan sepertinya
haidnya juga terlambat, dokter.”jelas Mia yang lebih paham kondisi Gadis.
Gadis cuma diam sambil sesekali mengangguk.
Ia masih merasa sedikit demam sampai pagi ini.
“Apa mau test dulu?”kata dokter sambil mengeluarkan
sebuah wadah kecil.
Gadis diminta menampung air seninya di wadah
itu. Gadis menurut, ia tidak sempat berpikir apa-apa karena demamnya. Setelah
kembali dari kamar mandi, dokter memberikan test pack pada Gadis.
“Silakan di celupkan sendiri.”kata dokter.
Gadis mencelupkan ujung test pack ke dalam
air seni-nya sendiri. Setelah beberapa detik kemudian,
Gadis melihat test pack di tangannya, ia
melihat garis merah muncul dengan sangat jelas disana.
“Mah, ini artinya apa?”tanya Gadis pada
Mia. Padahal ada dokter kandungan disana.
“Coba saya lihat dulu.”dokter itu mengambil
testpack di tangan Gadis. Ia tersenyum, lalu meminta Gadis berbaring di bed
__ADS_1
rumah sakit. “Sebentar saya cek ya.”
Suster mengoleskan gel yang terasa dingin
di perut Gadis. Mia dan Gadis sama-sama menatap layar monitor saat dokter itu
menempelkan alat di perut Gadis. Sebuah bulatan hitam yang sudah cukup besar,
tampak di layar itu. Sebenarnya dua bulatan besar, satunya tersembunyi di
belakang bulatan lainnya.
“Gadis, selamat ya!!”pekik Mia sangat
gembira. “Kamu hamil.”
“Aku? Hamil?”tanya Gadis bingung. Kebingungan
muncul di wajah Gadis, Mia yang masih menimang baby Kaori, terpaksa keluar
karena bayi itu kaget mendengar teriakan Mia dan mulai menangis.
“Beneran, dokter?”tanya Gadis masih tidak
percaya. Setelah 8 tahun ia menanti, akhirnya ada kabar baik. Tapi Gadis belum
bisa percaya.
“Iya, bu. Disini umurnya sudah sekitar 8
minggu. Memangnya ibu tidak merasakannya? Ngidam? Mual?”
Gadis menggeleng. “Biasa saja, dokter. Tapi
saya sering lemas dan gampang tertidur lelap.”kata Gadis melihat bulatan di
perutnya. Dokter memperhatikan dengan seksama bulatan besar itu.
“Dokter, itu bayinya?”tanya Gadis lagi.
“Iya. Ini kantung kehamilannya dan
sepertinya bayinya kembar. Tunggu sebentar ya.”
Dokter mengarahkan alat seperti senter di
bagian perut Gadis yang lain. Terlihat bulatan itu bergerak dan memisahkan
diri. “Lihat, bulatannya ada 2 kan? Bayi ibu kembar.”
tersenyum senang.
“Iya, bu. Selain lemas, ada keluhan lain?”tanya
dokter lagi.
“Gak ada sich, dokter. Tapi saya agak malas
makan.”kata Gadis.
“Itu biasa di awal kehamilan. Saya akan
berikan resep vitamin dan juga asam folat dulu ya.”
“Dokter, beneran saya hamil?”tanya Gadis
lagi.
“Iya, bu. Ini foto USG-nya dan bayi ibu,
kembar. Selamat ya, bu. Dijaga makannya, boleh juga didampingi susu hamil juga.
Kalau ada keluhan, bisa telpon saya. Ini nomor telponnya.”tunjuk dokter itu.
Gadis mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Masih dengan wajah bingung, Gadis keluar
dari ruang periksa dokter. Mia mendekati Gadis, “Gimana, Gadis?”tanya Mia. “Kamu
beneran hamil kan? Gimana bayinya?”tanya Mia lagi.
Gadis mengangguk, “Bayinya kembar, mah.”
“Wah, Rio emang the best. Ngomong-ngomong
kapan kalian melakukan itu?”tanya Mia kepo.
“Ach, mama. Waktu itu aku khilaf. Padahal
cuma mau cium aja, taunya kebablasan.”kata Gadis malu-malu.
“Emangnya Rio bisa gitu?”kejar Mia.
“Aku yang duluan inisiatif, mah. Udah, ach.
Disuruh tebus obat ini, mah.”
__ADS_1
“Sini, mama yang ke loket obat.”
Mia menyerahkan Kaori yang sudah tertidur
lagi pada Gadis. Gadis duduk di kursi tunggu. Orang tadi mengikutinya, masih
menunggu di tempat yang tadi. Kinanti tersenyum menatap Kaori dan Gadis. “Akhirnya
kamu bisa hamil lagi, Gadis. Aku juga sedang hamil anak Endy. Semoga kalian
selalu bahagia.”kata Kinanti sambil memegang perutnya.
“Sedang apa kamu disini?”tanya Mia tiba-tiba
sudah ada di belakang Kinanti.
Kinanti berbalik dengan cepat, ia melirik
Gadis sambil bergeser menyembunyikan dirinya. “Tante. Saya cuma...”Kinanti
membungkuk sejenak tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Ia ingin segera pergi
dari sana tanpa menunjukkan dirinya pada Gadis. Tapi Mia menahannya tetap
berdiri di depannya.
“Kamu ngikutin kami?”tanya Mia dingin.
Kinanti menggeleng. “Saya gak sengaja lihat
Kaori sama Gadis tadi. Saya pergi dulu, tante.”
“Tunggu. Kamu lagi hamil?”tanya Mia ketika
melihat buku kehamilan ditangan Kinanti.
“...Iya, tante. Baru 8 minggu.”kata
Kinanti.
Mereka terdiam, larut dalam pikiran
masing-masing. “Kamu gak mau ketemu Kaori?”tanya Mia.
“Mau, tante.”saut Kinanti cepat, tapi
dengan cepat Kinanti meralat kata-katanya. “Gak, tante. Saya gak mau merusak
suasana bahagia Gadis. Gadis juga lagi hamil, kan?”tanya Kinanti sambil
tersenyum tipis. “Saya permisi, tante.”
“Kinanti, datanglah kerumah malam ini. Sama
Endy. Kalian harus selesaikan masalah Kaori dulu.”pinta Mia.
“Maksud, tante?”tanya Kinanti bingung.
“Datang saja ke rumah ya. Kita bicara
disana.”
Kinanti berpikir sejenak, “Baik, tante.
Saya akan datang sama Endy. Permisi, tante.”
Mia menatap kepergian Kinanti sebelum
kembali mendekati Gadis. Mia tidak mengatakan kalau dirinya bertemu dengan
Kinanti tadi. Ia tidak mau Gadis jadi kepikiran dan akhirnya stress. Masalah
status Kaori harus diselesaikan secepatnya agar dikemudian hari, Kinanti tidak
datang untuk mengambil Kaori dari Gadis.
“Sudah, mah?”tanya Gadis ketika melihat Mia
mendekat.
“Udah, nich. Kita pulang sekarang? Gak mau
makan sesuatu dulu?”tanya Mia.
“Mmm... rujak kayaknya enak, mah.”
“Ayo, kita beli rujak sebelum pulang.”
Mia menuntun Gadis keluar dari rumah sakit
menuju parkiran tempat Pak Yanto sudah menunggu mereka.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1