Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kabar baik


__ADS_3

DM2 – Kabar baik


“Kamu tunggu sini dulu ya. Mama mau lihat


antrian dokternya.”kata Mia meminta Gadis duduk di ruang tunggu di depan loket


obat. Mia meletakkan dulu resep obat Kaori disana sebelum berjalan ke tempat


dokter praktek kandungan. Gadis tidak menyadari seseorang sudah


memperhatikannya dari jauh.


Orang itu terus menatap Kaori, sesekali ia


tersenyum melihat Kaori yang sudah tertidur pulas dalam gendongan Gadis. Gadis


yang gemas melihat pipi gembul Kaori, sesekali menciuminya. “Mb baby cantik.”kata


Gadis.


Tak lama Mia kembali, ia mengajak Gadis ke


ruang praktek dokter kandungan. Gadis tidak memperhatikan papan nama dokter


karena Kaori sudah terbangun. Bayi itu terlihat tidak bersemangat karena efek


suntikan imunisasi mulai dirasakannya. Badan Kaori sedikit hangat.


“Mah, kayaknya badan Kaori panas dech.”kata


Gadis.


“Eh, lupa ngambil obatnya. Ntar mama balik


ke loket obat dulu ya.”kata Mia meninggalkan Gadis di ruang tunggu dokter


kandungan.


“Ibu Gadis.”panggil suster.


Gadis berdiri, ia mendekati suster dan


dipersilahkan masuk ke ruang dokter. Mia yang sudah kembali, tidak melihat


Gadis, ia celingukan mengintip ke dalam ruangan periksa. Dilihatnya Gadis masih


berdiri menggendong Kaori.


“Permisi.”kata Mia masuk ke ruangan praktek


dokter.


“Ya, silakan.”kata suster.


“Sini, mama gendong Kaori bentar.”kata Mia


mengambil Kaori dari gendongan Gadis.


“Ada keluhan apa ya?”tanya dokter.


“Menantu saya ini badannya sering demam


akhir-akhir ini. Pernah waktu itu mual sampai muntah-muntah. Dan sepertinya


haidnya juga terlambat, dokter.”jelas Mia yang lebih paham kondisi Gadis.


Gadis cuma diam sambil sesekali mengangguk.


Ia masih merasa sedikit demam sampai pagi ini.


“Apa mau test dulu?”kata dokter sambil mengeluarkan


sebuah wadah kecil.


Gadis diminta menampung air seninya di wadah


itu. Gadis menurut, ia tidak sempat berpikir apa-apa karena demamnya. Setelah


kembali dari kamar mandi, dokter memberikan test pack pada Gadis.


“Silakan di celupkan sendiri.”kata dokter.


Gadis mencelupkan ujung test pack ke dalam


air seni-nya sendiri. Setelah beberapa detik kemudian,


Gadis melihat test pack di tangannya, ia


melihat garis merah muncul dengan sangat jelas disana.


“Mah, ini artinya apa?”tanya Gadis pada


Mia. Padahal ada dokter kandungan disana.


“Coba saya lihat dulu.”dokter itu mengambil


testpack di tangan Gadis. Ia tersenyum, lalu meminta Gadis berbaring di bed

__ADS_1


rumah sakit. “Sebentar saya cek ya.”


Suster mengoleskan gel yang terasa dingin


di perut Gadis. Mia dan Gadis sama-sama menatap layar monitor saat dokter itu


menempelkan alat di perut Gadis. Sebuah bulatan hitam yang sudah cukup besar,


tampak di layar itu. Sebenarnya dua bulatan besar, satunya tersembunyi di


belakang bulatan lainnya.


“Gadis, selamat ya!!”pekik Mia sangat


gembira. “Kamu hamil.”


“Aku? Hamil?”tanya Gadis bingung. Kebingungan


muncul di wajah Gadis, Mia yang masih menimang baby Kaori, terpaksa keluar


karena bayi itu kaget mendengar teriakan Mia dan mulai menangis.


“Beneran, dokter?”tanya Gadis masih tidak


percaya. Setelah 8 tahun ia menanti, akhirnya ada kabar baik. Tapi Gadis belum


bisa percaya.


“Iya, bu. Disini umurnya sudah sekitar 8


minggu. Memangnya ibu tidak merasakannya? Ngidam? Mual?”


Gadis menggeleng. “Biasa saja, dokter. Tapi


saya sering lemas dan gampang tertidur lelap.”kata Gadis melihat bulatan di


perutnya. Dokter memperhatikan dengan seksama bulatan besar itu.


“Dokter, itu bayinya?”tanya Gadis lagi.


“Iya. Ini kantung kehamilannya dan


sepertinya bayinya kembar. Tunggu sebentar ya.”


Dokter mengarahkan alat seperti senter di


bagian perut Gadis yang lain. Terlihat bulatan itu bergerak dan memisahkan


diri. “Lihat, bulatannya ada 2 kan? Bayi ibu kembar.”


tersenyum senang.


“Iya, bu. Selain lemas, ada keluhan lain?”tanya


dokter lagi.


“Gak ada sich, dokter. Tapi saya agak malas


makan.”kata Gadis.


“Itu biasa di awal kehamilan. Saya akan


berikan resep vitamin dan juga asam folat dulu ya.”


“Dokter, beneran saya hamil?”tanya Gadis


lagi.


“Iya, bu. Ini foto USG-nya dan bayi ibu,


kembar. Selamat ya, bu. Dijaga makannya, boleh juga didampingi susu hamil juga.


Kalau ada keluhan, bisa telpon saya. Ini nomor telponnya.”tunjuk dokter itu.


Gadis mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Masih dengan wajah bingung, Gadis keluar


dari ruang periksa dokter. Mia mendekati Gadis, “Gimana, Gadis?”tanya Mia. “Kamu


beneran hamil kan? Gimana bayinya?”tanya Mia lagi.


Gadis mengangguk, “Bayinya kembar, mah.”


“Wah, Rio emang the best. Ngomong-ngomong


kapan kalian melakukan itu?”tanya Mia kepo.


“Ach, mama. Waktu itu aku khilaf. Padahal


cuma mau cium aja, taunya kebablasan.”kata Gadis malu-malu.


“Emangnya Rio bisa gitu?”kejar Mia.


“Aku yang duluan inisiatif, mah. Udah, ach.


Disuruh tebus obat ini, mah.”

__ADS_1


“Sini, mama yang ke loket obat.”


Mia menyerahkan Kaori yang sudah tertidur


lagi pada Gadis. Gadis duduk di kursi tunggu. Orang tadi mengikutinya, masih


menunggu di tempat yang tadi. Kinanti tersenyum menatap Kaori dan Gadis. “Akhirnya


kamu bisa hamil lagi, Gadis. Aku juga sedang hamil anak Endy. Semoga kalian


selalu bahagia.”kata Kinanti sambil memegang perutnya.


“Sedang apa kamu disini?”tanya Mia tiba-tiba


sudah ada di belakang Kinanti.


Kinanti berbalik dengan cepat, ia melirik


Gadis sambil bergeser menyembunyikan dirinya. “Tante. Saya cuma...”Kinanti


membungkuk sejenak tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Ia ingin segera pergi


dari sana tanpa menunjukkan dirinya pada Gadis. Tapi Mia menahannya tetap


berdiri di depannya.


“Kamu ngikutin kami?”tanya Mia dingin.


Kinanti menggeleng. “Saya gak sengaja lihat


Kaori sama Gadis tadi. Saya pergi dulu, tante.”


“Tunggu. Kamu lagi hamil?”tanya Mia ketika


melihat buku kehamilan ditangan Kinanti.


“...Iya, tante. Baru 8 minggu.”kata


Kinanti.


Mereka terdiam, larut dalam pikiran


masing-masing. “Kamu gak mau ketemu Kaori?”tanya Mia.


“Mau, tante.”saut Kinanti cepat, tapi


dengan cepat Kinanti meralat kata-katanya. “Gak, tante. Saya gak mau merusak


suasana bahagia Gadis. Gadis juga lagi hamil, kan?”tanya Kinanti sambil


tersenyum tipis. “Saya permisi, tante.”


“Kinanti, datanglah kerumah malam ini. Sama


Endy. Kalian harus selesaikan masalah Kaori dulu.”pinta Mia.


“Maksud, tante?”tanya Kinanti bingung.


“Datang saja ke rumah ya. Kita bicara


disana.”


Kinanti berpikir sejenak, “Baik, tante.


Saya akan datang sama Endy. Permisi, tante.”


Mia menatap kepergian Kinanti sebelum


kembali mendekati Gadis. Mia tidak mengatakan kalau dirinya bertemu dengan


Kinanti tadi. Ia tidak mau Gadis jadi kepikiran dan akhirnya stress. Masalah


status Kaori harus diselesaikan secepatnya agar dikemudian hari, Kinanti tidak


datang untuk mengambil Kaori dari Gadis.


“Sudah, mah?”tanya Gadis ketika melihat Mia


mendekat.


“Udah, nich. Kita pulang sekarang? Gak mau


makan sesuatu dulu?”tanya Mia.


“Mmm... rujak kayaknya enak, mah.”


“Ayo, kita beli rujak sebelum pulang.”


Mia menuntun Gadis keluar dari rumah sakit


menuju parkiran tempat Pak Yanto sudah menunggu mereka.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2