
Cuek tapi sayang
Rio tidak beranjak dari tempat tidur itu, ia terus
bicara pada foto Kaori seolah kekasihnya itu mengajaknya bicara. Tanpa sadar
dirinya mulai tertidur lelap tanpa mandi dan makan.
Keesokan harinya, Rio terbangun dengan keadaan
tidak nyaman pada tubuhnya. Ia sedikit demam dan merasa pusing. Ia memicingkan matanya
melihat matahari sudah menembus masuk ke kamar apartment itu.
Ponselnya berdering sejak tadi, itu telpon dari Romi.
Romi : “Rio, kamu dimana? Kenapa belum datang ke kantor?”
Rio : “Maaf, om. Kayaknya Rio ijin untuk hari ini. Kepala Rio sakit, panas juga.”
Romi : “Kamu dimana?”
Rio : “Di apartment, om.”
Romi : “Kamu masih bawa flashdisk yang isinya presentasi meeting hari ini?”
Rio : “Iya, ada om.”
Romi : “Tunggu ya, om kesana sekalian bawa makanan dan obat.”
Rio : “Makasi, om.”
Rio meletakkan ponselnya kembali, ia memegang
kepalanya yang berdenyut. Ia bangkit perlahan dan masuk ke kamar mandi. Setelah
mencuci wajahnya dan sekedar membersihkan dirinya, Rio keluar lagi dan
mengganti pakaiannya.
Ting! Tong! Rio berjalan ke pintu apartment dan
membukanya. Ia melihat Romi di depan pintu dan membuka pintu lebih lebar.
Rio : “Masuk, om.”
Romi masuk bersama Gadis yang tampak enggan masuk
ke dalam apartment itu. Tapi saat melirik ada foto Kaori di dalam sana, Gadis
berjalan tanpa sadar ingin mendekati foto itu.
Romi : “Kamu udah baikan?”
Rio : “Masih pusing dikit. Itu flashdisk-nya di meja, om.”
Gadis meletakkan bungkusan makanan dan obat yang
tadi dibawanya. Sungguh ia tidak tahu kalau Romi akan mengajaknya ke apartment
Rio. Ia sempat berpikir tadi malah istri Romi yang sedang sakit.
Rio : “Duduk sana.”
Gadis duduk di sofa, ia hanya menunduk sambil
sesekali melirik foto Kaori. Tanpa sadar Gadis tersenyum, air matanya
menggenang di sudut matanya. Ia mengalihkan pandangannya ke pintu apartment
Rio.
Romi menerima telpon dari seseorang. Ia beranjak ke
dekat tempat tidur dan tampak bicara serius. Gadis melihat Rio membuka kotak
__ADS_1
makanan di depannya. Ia membantu membuka sup ayam untuk Rio.
Gadis : “Terima kasih kemarin sudah mengantarku pulang.”
Rio menatap Gadis yang segera mengalihkan pandangannya.
Rio : “Terima kasihmu gak tulus.”
Gadis : “Terserah.”sahutnya dingin.
Gadis menatap foto Kaori lagi. Ia ikut tersenyum melihat senyuman manis Kaori. Rio yang masih makan, juga ikut tersenyum tipis.
Gadis mulai bosan hanya diam menunggu Romi selesai menjawab telpon.
Rio : “Tadi dari kantor?”
Gadis : “Ya.”
Rio : “Mana obatku?”
Gadis mengeluarkan obat di dalam plastik dan
membacanya sebentar. Ia menyodorkan obat demam pada Rio dan memberitahunya kalau
Rio harus minum obat itu setelah makan. Gadis celingukan mencari gelas air
minum. Ia melihatnya diatas meja makan. Gadis beranjak dari sofa dan
mengambilkan air minum untuk Rio.
Rio : “Makasih.”
Gadis : “Hmm.”
Rio : “Kamu mau sampai kapan gitu?”
Gadis : “Apanya?”
Rio : “Jutek, cuek, tapi sayang.”
Gadis berdecih mendengar kata-kata Rio. Ia tahu Rio hanya sekedar basa-basi padanya.
Rio menoleh melihat Romi sedang ngobrol serius
dalam bahasa asing. Tring! Tring! Gadis mengeluarkan ponselnya dari dalam tas,
Alex menelponnya.
Alex : “Kalian dimana? Kenapa lama sekali?”
Gadis : “Kami masi di apartment Rio, pak. Pak Romi
masih ngobrol di telpon, sepertinya dengan Mr.John. Saya akan balik ke kantor
duluan, pak.”
Alex : “Ya, cepat ya Gadis. Aku perlu presentasi itu.”
Gadis memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menyambar flashdisk diatas meja.
Gadis : “Disini kan presentasinya?”
Rio : “Iya. Kamu naik apa?”
Gadis : “Taxi.”
Rio : “Bawa mobilku. Tuch kuncinya diatas meja makan.”
Gadis menyambar kunci itu tanpa berpikir lagi, ia
harus segera kembali ke kantor atau Alex akan terlambat presentasi ke client
mereka. Untung saja Gadis membawa mobil Rio, ia sampai di kantor dengan cepat.
Dan menyerahkan flashdisk pada Alex untuk diperiksa.
__ADS_1
Alex : “Bagus. Gadis, kamu temani aku meeting. Catat semuanya.”
Gadis : “Baik, pak.”
Selama 2 jam berikutnya, Gadis menemani Alex
meeting. Bolak-balik mengambil dokumen yang diperlukan Alex sampai meeting
berakhir dengan kerja sama baru di tangan mereka. Gadis mengantar client itu ke
lift dan mengucapkan sampai jumpa lagi.
Alex tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya pada
Gadis. Romi yang datang dengan terburu-buru, meminta maaf karena terlalu lama
bicara dengan salah satu client mereka.
Alex : “Kamu naik apa kesini, Gadis?”
Gadis : “Mobilnya Rio, pak.”
Alex : “Kamu kembalikan sana. Sekalian belikan
makan siang buat Rio. Ini uangnya. Kamu beli makanan juga sana.”
Gadis : “Tapi...”
Alex : “Sudah, makan dulu sana. Nanti balik kesini lagi.”
Gadis : “Baik, pak.”
Gadis membeli dua kotak nasi dan membawanya ke
apartment Rio lagi. Ia memarkir mobil Rio di tempat semula dan masuk ke dalam
lift. Sampai di lantai 14, ia celingak-celinguk mencoba mengingat nomor kamar
Rio.
Kesal dan lapar, Gadis terpaksa menelpon Rio dan
memintanya keluar dari kamar. Gadis melihat salah satu pintu terbuka dan Rio
melongok dari dalam sana. Gadis segera menghampirinya,
Gadis : “Ini kunci mobilmu. Aku parkir di tempat semula. Dan ini makan siangmu.”
Gadis memberikan satu kotak nasi pada Rio dan membawa satunya lagi.
Rio : “Kamu belum makan?”
Gadis : “Aku makan di kantor. Bye.”
Rio : “Makan dulu sini.”
Gadis : “Aku belum lapar.”
Krukk! Perut Gadis berbunyi tepat saat ia hampir pergi dari hadapan Rio.
Rio : “Makan dulu. Gak akan habis waktumu.”
Rio sudah berjalan masuk, membiarkan pintu apartmentnya tetap terbuka. Gadis mau gak mau masuk juga dan duduk di sofa. Rio mengambilkan dua gelas air putih untuk mereka. Gadis mulai makan dengan cepat.
Rio : “Kamu segitunya gak mau deket aku ya?”
Gadis : “Cuma perasaanmu aja.”
Rio : “Trus ngapain kesini bawain makanan?”
*****
Gadis : "Buat nyogok kamu biar mau vote novel ini lah. Gitu aja masa gak tau."
Rio : "Trus aja gitu. Gak tulus."
__ADS_1
Gadis : "Terserah."
Klik profil author ya, ada novel karya author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).