Duren Manis

Duren Manis
Elena si penggoda


__ADS_3

Mereka melanjutkan


perjalanan, kali ini mereka menuju mansion kakek karena waktu makan siang


hampir terlewat. Rebecca sudah mengatur makan siang mereka di pinggir kolam


renang.


Rebecca : “Kalian


bisa berenang dulu sambil menikmati makan siang.”


Riri & Kaori :


“Berenang?”


Riri : “Tapi aku


gak bawa baju renang. Gimana dong?”


Rebecca : “Tenang


saja, nona Riri. Semua yang kalian perlukan sudah disiapkan.”


Elo : “Bukan bikini


kan?”


Rebecca : “Mau


bikini juga ada. Tuan muda mau melihat beberapa modelnya untuk nona Riri?”


Riri : “Mana? Lihat


dong.”


Riri dan Kaori


mengapit Rebecca dan memilih-milih baju renang yang akan mereka pakai nanti.


Rio : “Kaori, pakai


bikini merah dong.”


Kaori : “Ogah! Ntar


kamu mesum di kolam. Gak mau.”


Rio : “Terus mau


pakai apa?”


Kaori : “Baju selam


ada?” Kaori bertanya pada Rebecca yang langsung mengangguk.


Rio : “Yah, gak


seru.”


Elo jadi deg-degan,


Riri bakalan pakai baju renang seperti apa ya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Limosin yang


membawa mereka berhenti di depan sebuah gerbang besar yang dijaga penjaga


bersenjata. Rebecca membuka kaca belakang dan menunjukkan ID-nya. Mereka


dipersilahkan masuk dengan hormat.


Jarak antara pintu


gerbang dengan bangunan utama cukup jauh. Bangunan utama ada diatas bukit


dengan pemandangan kota negara S yang memukau. Sepanjang jalan, dipenuhi pohon


besar dan juga padang rumput yang luas.


Elo : “Kakek biasa


bermain golf disana.” Elo menunjuk beberapa bendera yang berkibar di tengah


padang rumput.


Rebecca : “Kita


sudah sampai.”


Mereka turun di


depan pintu besar bangunan utama yang megah. Pilar-pilar besar tampak di depan


sebuah pintu coklat yang sudah terbuka lebar. Beberapa pelayan tampak berdiri


di sisi kiri dan kanan pintu. Rebecca berjalan masuk duluan, memberi tanda pada


pelayan untuk segera menyiapkan apa yang tuan muda dan tamunya inginkan.


Rebecca : “Nona


Riri dan nona Kaori silakan ikut saya. Tuan muda dan tuan Rio, silakan ke kolam


renang duluan. Pakaian renang sudah disiapkan disana.”


Mereka berpisah


jalan, Elo membawa Rio ke sebelah kanan yang langsung terhubung dengan kolam


renang.


Rio : “Wow, ini


seru sekali.”


Ia melihat makan


siang sudah siap di pinggir kolam dan pelayan pria membawakan beberapa celana


renang untuk keduanya.


Elo : “Rio, ayo


ganti baju dulu.”


Mereka berganti


baju di tempat yang sudah disediakan dan duduk-duduk di pinggir kolam. Elo


mengambil jus untuk Rio dan dirinya.


Elo : “Asyik, kan.


Aku paling suka mansion kakek yang ini. Tempatnya tenang, adem, dan yang paling


penting banyak buku tersimpan disini.”


Rio : “Ada video game


gak kak?”


Elo : “Ada di


lantai 2. Kamu mau main?”


Rio : “Mau nyoba


aja.”


Elo : “Nanti ya,


sambil nunggu aku selesai bicara sama kakek.”


Rio : “Ok, kak.”


Keduanya menoleh


melihat kedua cewek-cewek sudah selesai ganti baju. Keduanya memakai baju

__ADS_1


renang one piece berwarna cerah dengan kain pantai terikat di pinggang mereka.


Elo & Rio :


“Wow...”


Kaori : “Rio, bagus


gak?”


Rio tidak menjawab,


ia masih melongo mengagumi lekuk tubuh Kaori.


Kaori : “Rio, kamu


kenapa berdarah?”


Riri : “Rio,


mimisan!”


Elo mengambil


serbet dengan cepat dan memberikannya pada Rio yang kebingungan melihat darah


menetes di tangannya.


Rebecca membawa Rio


ke dalam mansion untuk beristirahat. Kaori tidak jadi berenang dan memilih


menemani Rio. Sementara Riri makan siang di pinggir kolam bersama Elo.


Elo : “Saking


terpesonanya sama Kaori sampai mimisan.”


Riri : “Pikirannya


kelewat mesum sich. Kakak kenapa gak mimisan juga?”


Elo : “Aku gak


mikir mesum...”


Riri : “Masa?”


Elo :


“Kadang-kadang sich. Hehe...”


Tiba-tiba ada


seseorang yang datang mengganggu makan siang mereka berdua.


Elo : “Elena?!”


Elena, sepupu Elo


itu datang dari ruang tengah sudah memakai bikini hitam yang sangat seksi. Aset


depannya sampai hampir tumpah saking mininya bikini itu.


Elena : “Halo,


sepupuku sayang. Lama gak ketemu.”


Riri terpana


menatap Elena, mata hitamnya melihat keseluruhan tubuh Elena yang sangat bagus.


Benar-benar sempurna dengan kulit putih mulus tanpa bulu. Elena menyibakkan


rambutnya yang hitam panjang, ia duduk di samping Elo. Menempel ketat pada


tubuh Elo yang hampir beranjak dari duduknya.


Elena : “Aku hanya


ingin menyapamu, sayang. Kau keberatan?”


Elena bahkan tidak


tidak nyaman. Elo menatap Riri sambil mencoba melepas tangan Elena dari


lengannya.


Elo : “Aku lagi


makan, kamu berenang aja sana.”


Elena : “Ide bagus.


Temenin aku ya.”


Elo : “Ok, aku


selesaikan makanku dulu. Duluan aja.”


Riri menghentikan


gerakannya, ia meletakkan pisau dan garpu di atas piring dan mengambil gelas jus


dengan tangan gemetar. Pelan-pelan Riri mulai minum, pandangannya jauh ke


samping kolam.


Elena berdiri


dengan sangat erotis, ia berjalan melenggak-lenggok menuju pinggir kolam renang


dan bersiap menceburkan dirinya ke dalam sana.


Byur! Riak air


sedikit mengenai meja tempat Riri dan Elo sedang makan siang. Riri sudah


meletakkan gelas jusnya. Ia mengelap sudut bibirnya dengan serbet dan menunduk,


Elo : “Jangan


menunduk. Lihat aku.”


Riri menatap Elo,


ia tidak sanggup mengatakan apa-apa. Hatinya sudah kacau dengan kedatangan


Elena. Sejak dulu Elo mencintai Elena, dan sekarang mungkin masih. Riri dilema


dengan perasaannya sendiri.


Elena : “Angelo


sayang! Sini dong. Aku uda basah nich.”


Elo memejamkan


matanya menahan sesuatu yang mengesalkan. Ia bangkit dari duduknya, melangkah


ke seberang meja dan mengangkat Riri dalam gendongannya.


Elo : “Aku rasa aku


tidak bisa berenang sekarang. Aku bisa menderita gatal-gatal.”


Elo meninggalkan


kolam renang dengan tetap menggendong Riri, Elena sangat kesal dibuatnya. Tapi kekesalan


Elena tidak berlangsung lama. Ia melihat seorang body guard berjalan disisi


kolam untuk patroli rutin. Body guard itu cukup tampan dengan tubuh atletis.


Mata Elena menatap pria itu dengan intens. Ia minta ditarik dari kolam renang,


Elena : “Aduch,


tolong angkat aku. Kakiku kram.”


Body guard itu

__ADS_1


segera mengangkat tubuh Elena dari kolam renang dengan sekali tarikan.


Elena : “Bawa aku


ke bawah shower, cepat.”


Elena dan body


guard itu masuk ke shower di pinggir kolam renang. Tempat itu cukup tertutup


dari sudut pandang manapun. Setelah menurunkan Elena, body guard itu hampir


berjalan keluar tapi Elena dengan cepat menarik dasinya.


Elena : “Sekuat apa


kamu? Hmm...”


Body guard : “Saya


kuat selama anda memerlukan saya, nona.”


Elena : “Kau bisa


cepat?”


Tangan body guard


itu mulai menyusuri tubuh Elena.


Body guard :


“Tergantung... Seberapa lihai anda, nona?”


Elena : “Lakukan


dengan cepat, puaskan aku.”


Tak lama terdengar


lenguhan Elena dari dalam shower itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sebuah tanda merah


bekas telapak tangan tampak membekas di pipi kiri Rio. Kaori menampar Rio


setelah tangan Rio meremas dadanya dengan keras. Padahal gadis itu sudah


berbaik hati tidak berenang dan menemani Rio karena khawatir padanya.


Tapi Rio lagi-lagi


tidak bisa menahan hasratnya dan mencium Kaori ketika mereka ditinggalkan di


dalam kamar oleh Rebecca. Sedang menikmati ciuman manis mereka, Kaori terpekik


kesakitan karena dadanya diremas Rio.


Kaori : “Cepat


makan. Aku mau ganti baju dulu.”


Rio : “Kaori,


maaf...”


Kaori : “Basi!


Cepet makan!”


Kaori sangat kesal,


ia meninggalkan Rio dikamar sendirian dan kembali ke tempat tadi dia mengganti


pakaiannya. Lima menit kemudian, Elo juga berjalan masuk ke dalam sana sambil


membopong Riri. Mereka tidak menyadari Kaori berdiri di belakang tirai, sedang


mengganti bajunya.


Elo : “Sayang,


ganti bajumu dulu ya. Maaf tadi ada gangguan. Aku gak menyangka dia juga


kesini.”


Riri : “Mas, aku


gak nyaman kalau ada dia. Dia bersikap seolah aku gak ada disana. Kenapa dia


seperti itu, mas?”


Elo : “Dia sudah


banyak berubah, Ri. Aku sudah tidak mengenalinya lagi.”


Riri : “Mas masih


suka sama dia?” Elo menurunkan Riri tapi belum mau melepaskan pinggang gadis


itu dari lengannya.


Elo : “Rasa itu


sudah lenyap, Ri. Aku hanya mencintaimu sekarang. Ada dia atau tidak, cuma kamu


dihatiku.”


Elo menunduk


mencium Riri yang sudah merangkul leher Elo. Mereka berpelukan sangat erat,


Riri : “Mas, aku


mencintaimu.”


Elo : “Aku juga,


sayang. Ririku...”


Suhu disekitar


mereka mulai panas saat Elo membenamkan wajahnya ke leher Riri. Mendengar


suara-suara yang mulai tidak wajar di dekatnya, Kaori berdehem,


Kaori : “Maaf


ganggu, tapi tolong kasi aku keluar dulu.”


Riri : “Kaori!”


Kaori nyengir dari


balik tirai, melihat keduanya yang sudah memerah. Elo segera keluar dari


ruangan itu, membiarkan kedua gadis manis itu berganti pakaian.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk


membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu


untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah


seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan


siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi


banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk


author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2