
Mereka melanjutkan
perjalanan, kali ini mereka menuju mansion kakek karena waktu makan siang
hampir terlewat. Rebecca sudah mengatur makan siang mereka di pinggir kolam
renang.
Rebecca : “Kalian
bisa berenang dulu sambil menikmati makan siang.”
Riri & Kaori :
“Berenang?”
Riri : “Tapi aku
gak bawa baju renang. Gimana dong?”
Rebecca : “Tenang
saja, nona Riri. Semua yang kalian perlukan sudah disiapkan.”
Elo : “Bukan bikini
kan?”
Rebecca : “Mau
bikini juga ada. Tuan muda mau melihat beberapa modelnya untuk nona Riri?”
Riri : “Mana? Lihat
dong.”
Riri dan Kaori
mengapit Rebecca dan memilih-milih baju renang yang akan mereka pakai nanti.
Rio : “Kaori, pakai
bikini merah dong.”
Kaori : “Ogah! Ntar
kamu mesum di kolam. Gak mau.”
Rio : “Terus mau
pakai apa?”
Kaori : “Baju selam
ada?” Kaori bertanya pada Rebecca yang langsung mengangguk.
Rio : “Yah, gak
seru.”
Elo jadi deg-degan,
Riri bakalan pakai baju renang seperti apa ya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Limosin yang
membawa mereka berhenti di depan sebuah gerbang besar yang dijaga penjaga
bersenjata. Rebecca membuka kaca belakang dan menunjukkan ID-nya. Mereka
dipersilahkan masuk dengan hormat.
Jarak antara pintu
gerbang dengan bangunan utama cukup jauh. Bangunan utama ada diatas bukit
dengan pemandangan kota negara S yang memukau. Sepanjang jalan, dipenuhi pohon
besar dan juga padang rumput yang luas.
Elo : “Kakek biasa
bermain golf disana.” Elo menunjuk beberapa bendera yang berkibar di tengah
padang rumput.
Rebecca : “Kita
sudah sampai.”
Mereka turun di
depan pintu besar bangunan utama yang megah. Pilar-pilar besar tampak di depan
sebuah pintu coklat yang sudah terbuka lebar. Beberapa pelayan tampak berdiri
di sisi kiri dan kanan pintu. Rebecca berjalan masuk duluan, memberi tanda pada
pelayan untuk segera menyiapkan apa yang tuan muda dan tamunya inginkan.
Rebecca : “Nona
Riri dan nona Kaori silakan ikut saya. Tuan muda dan tuan Rio, silakan ke kolam
renang duluan. Pakaian renang sudah disiapkan disana.”
Mereka berpisah
jalan, Elo membawa Rio ke sebelah kanan yang langsung terhubung dengan kolam
renang.
Rio : “Wow, ini
seru sekali.”
Ia melihat makan
siang sudah siap di pinggir kolam dan pelayan pria membawakan beberapa celana
renang untuk keduanya.
Elo : “Rio, ayo
ganti baju dulu.”
Mereka berganti
baju di tempat yang sudah disediakan dan duduk-duduk di pinggir kolam. Elo
mengambil jus untuk Rio dan dirinya.
Elo : “Asyik, kan.
Aku paling suka mansion kakek yang ini. Tempatnya tenang, adem, dan yang paling
penting banyak buku tersimpan disini.”
Rio : “Ada video game
gak kak?”
Elo : “Ada di
lantai 2. Kamu mau main?”
Rio : “Mau nyoba
aja.”
Elo : “Nanti ya,
sambil nunggu aku selesai bicara sama kakek.”
Rio : “Ok, kak.”
Keduanya menoleh
melihat kedua cewek-cewek sudah selesai ganti baju. Keduanya memakai baju
__ADS_1
renang one piece berwarna cerah dengan kain pantai terikat di pinggang mereka.
Elo & Rio :
“Wow...”
Kaori : “Rio, bagus
gak?”
Rio tidak menjawab,
ia masih melongo mengagumi lekuk tubuh Kaori.
Kaori : “Rio, kamu
kenapa berdarah?”
Riri : “Rio,
mimisan!”
Elo mengambil
serbet dengan cepat dan memberikannya pada Rio yang kebingungan melihat darah
menetes di tangannya.
Rebecca membawa Rio
ke dalam mansion untuk beristirahat. Kaori tidak jadi berenang dan memilih
menemani Rio. Sementara Riri makan siang di pinggir kolam bersama Elo.
Elo : “Saking
terpesonanya sama Kaori sampai mimisan.”
Riri : “Pikirannya
kelewat mesum sich. Kakak kenapa gak mimisan juga?”
Elo : “Aku gak
mikir mesum...”
Riri : “Masa?”
Elo :
“Kadang-kadang sich. Hehe...”
Tiba-tiba ada
seseorang yang datang mengganggu makan siang mereka berdua.
Elo : “Elena?!”
Elena, sepupu Elo
itu datang dari ruang tengah sudah memakai bikini hitam yang sangat seksi. Aset
depannya sampai hampir tumpah saking mininya bikini itu.
Elena : “Halo,
sepupuku sayang. Lama gak ketemu.”
Riri terpana
menatap Elena, mata hitamnya melihat keseluruhan tubuh Elena yang sangat bagus.
Benar-benar sempurna dengan kulit putih mulus tanpa bulu. Elena menyibakkan
rambutnya yang hitam panjang, ia duduk di samping Elo. Menempel ketat pada
tubuh Elo yang hampir beranjak dari duduknya.
Elena : “Aku hanya
ingin menyapamu, sayang. Kau keberatan?”
Elena bahkan tidak
tidak nyaman. Elo menatap Riri sambil mencoba melepas tangan Elena dari
lengannya.
Elo : “Aku lagi
makan, kamu berenang aja sana.”
Elena : “Ide bagus.
Temenin aku ya.”
Elo : “Ok, aku
selesaikan makanku dulu. Duluan aja.”
Riri menghentikan
gerakannya, ia meletakkan pisau dan garpu di atas piring dan mengambil gelas jus
dengan tangan gemetar. Pelan-pelan Riri mulai minum, pandangannya jauh ke
samping kolam.
Elena berdiri
dengan sangat erotis, ia berjalan melenggak-lenggok menuju pinggir kolam renang
dan bersiap menceburkan dirinya ke dalam sana.
Byur! Riak air
sedikit mengenai meja tempat Riri dan Elo sedang makan siang. Riri sudah
meletakkan gelas jusnya. Ia mengelap sudut bibirnya dengan serbet dan menunduk,
Elo : “Jangan
menunduk. Lihat aku.”
Riri menatap Elo,
ia tidak sanggup mengatakan apa-apa. Hatinya sudah kacau dengan kedatangan
Elena. Sejak dulu Elo mencintai Elena, dan sekarang mungkin masih. Riri dilema
dengan perasaannya sendiri.
Elena : “Angelo
sayang! Sini dong. Aku uda basah nich.”
Elo memejamkan
matanya menahan sesuatu yang mengesalkan. Ia bangkit dari duduknya, melangkah
ke seberang meja dan mengangkat Riri dalam gendongannya.
Elo : “Aku rasa aku
tidak bisa berenang sekarang. Aku bisa menderita gatal-gatal.”
Elo meninggalkan
kolam renang dengan tetap menggendong Riri, Elena sangat kesal dibuatnya. Tapi kekesalan
Elena tidak berlangsung lama. Ia melihat seorang body guard berjalan disisi
kolam untuk patroli rutin. Body guard itu cukup tampan dengan tubuh atletis.
Mata Elena menatap pria itu dengan intens. Ia minta ditarik dari kolam renang,
Elena : “Aduch,
tolong angkat aku. Kakiku kram.”
Body guard itu
__ADS_1
segera mengangkat tubuh Elena dari kolam renang dengan sekali tarikan.
Elena : “Bawa aku
ke bawah shower, cepat.”
Elena dan body
guard itu masuk ke shower di pinggir kolam renang. Tempat itu cukup tertutup
dari sudut pandang manapun. Setelah menurunkan Elena, body guard itu hampir
berjalan keluar tapi Elena dengan cepat menarik dasinya.
Elena : “Sekuat apa
kamu? Hmm...”
Body guard : “Saya
kuat selama anda memerlukan saya, nona.”
Elena : “Kau bisa
cepat?”
Tangan body guard
itu mulai menyusuri tubuh Elena.
Body guard :
“Tergantung... Seberapa lihai anda, nona?”
Elena : “Lakukan
dengan cepat, puaskan aku.”
Tak lama terdengar
lenguhan Elena dari dalam shower itu.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sebuah tanda merah
bekas telapak tangan tampak membekas di pipi kiri Rio. Kaori menampar Rio
setelah tangan Rio meremas dadanya dengan keras. Padahal gadis itu sudah
berbaik hati tidak berenang dan menemani Rio karena khawatir padanya.
Tapi Rio lagi-lagi
tidak bisa menahan hasratnya dan mencium Kaori ketika mereka ditinggalkan di
dalam kamar oleh Rebecca. Sedang menikmati ciuman manis mereka, Kaori terpekik
kesakitan karena dadanya diremas Rio.
Kaori : “Cepat
makan. Aku mau ganti baju dulu.”
Rio : “Kaori,
maaf...”
Kaori : “Basi!
Cepet makan!”
Kaori sangat kesal,
ia meninggalkan Rio dikamar sendirian dan kembali ke tempat tadi dia mengganti
pakaiannya. Lima menit kemudian, Elo juga berjalan masuk ke dalam sana sambil
membopong Riri. Mereka tidak menyadari Kaori berdiri di belakang tirai, sedang
mengganti bajunya.
Elo : “Sayang,
ganti bajumu dulu ya. Maaf tadi ada gangguan. Aku gak menyangka dia juga
kesini.”
Riri : “Mas, aku
gak nyaman kalau ada dia. Dia bersikap seolah aku gak ada disana. Kenapa dia
seperti itu, mas?”
Elo : “Dia sudah
banyak berubah, Ri. Aku sudah tidak mengenalinya lagi.”
Riri : “Mas masih
suka sama dia?” Elo menurunkan Riri tapi belum mau melepaskan pinggang gadis
itu dari lengannya.
Elo : “Rasa itu
sudah lenyap, Ri. Aku hanya mencintaimu sekarang. Ada dia atau tidak, cuma kamu
dihatiku.”
Elo menunduk
mencium Riri yang sudah merangkul leher Elo. Mereka berpelukan sangat erat,
Riri : “Mas, aku
mencintaimu.”
Elo : “Aku juga,
sayang. Ririku...”
Suhu disekitar
mereka mulai panas saat Elo membenamkan wajahnya ke leher Riri. Mendengar
suara-suara yang mulai tidak wajar di dekatnya, Kaori berdehem,
Kaori : “Maaf
ganggu, tapi tolong kasi aku keluar dulu.”
Riri : “Kaori!”
Kaori nyengir dari
balik tirai, melihat keduanya yang sudah memerah. Elo segera keluar dari
ruangan itu, membiarkan kedua gadis manis itu berganti pakaian.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk
membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu
untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah
seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan
siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi
banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk
author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲