Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Keturunan


__ADS_3

DM2 – Keturunan


Endy berpikir bagaimana kalau papanya tahu


Endy sudah mempunyai seorang putri yang buta? Akankah papanya menyayangi


putrinya? Cucu kandungnya? Tapi Kinanti mungkin tidak akan setuju karena sejak


awal itu rencana mereka. Menggunakan anak itu sebagai jalan memuluskan rencana


Kinanti untuk mendapat Rio.


Gadis melirik Endy yang tenggelam dalam


pikirannya sendiri. Ia menegakkan kepalanya dan entah keberanian darimana,


Gadis mengatakan sesuatu yang membuat Endy kembali menatapnya.


“Dokter memberitahuku sesuatu juga. Kalau


kebutaan juga faktor keturunan.”kata Gadis tetap menatap tajam pada Endy. “Dan


setahuku, semua keturunan papa Alex selalu terlahir sempurna. Bahkan sangat


jenius. Ini sangat aneh, kan?”tanya Gadis seolah pada dirinya sendiri.


Endy mengepalkan tangannya, Gadis melihat


perubahan sikap Endy. Ia masih berusaha memancing Endy untuk mengatakan yang


sebenarnya.


“Atau mungkin bayi itu bukan anak kandung


Rio? Oh, astaga. Apa Kinanti bermain-main dengan banyak pria sembarangan.”sulut


Gadis sambil berpura-pura masih bicara pada dirinya sendiri. “Sangat murahan!”desis


Gadis.


Endy yang masih menahan dirinya, tersulut


dengan cepat saat Gadis sengaja menghina Kinanti, meragukan akhlak wanita yang


ia cintai.


“Apa katamu?!”kata Endy menatap tajam


Gadis.


“Saya tidak bicara dengan anda, tuan. Saya


hanya memikirkan kemungkinan kalau bayi yang dikandung Kinanti bukan dari suami


saya, tapi dari pria lain. Entah pria yang mana. Seharusnya itu tidak


mengganggu anda kan? Memangnya anda siapa?”tanya Gadis sarkas.


Gadis mengambil resiko dirinya akan celaka


kalau memancing kemarahan Endy. Tapi ini di rumah sakit, banyak orang di


sekitar mereka. Setidaknya mereka hanya bisa saling membentak kalau sampai Endy


mulai marah.


“Kau tidak pantas bicara seperti itu,


wanita mandul.”desis Endy kejam.


Deg! Gadis menelan salivanya mendengar


kata-kata Endy. “Anda tidak berhak mengatakan saya seperti itu. Kita baru


sebatas mengenal nama. Darimana anda bisa mengatakan saya wanita mandul. Atau


memang benar yang saya pikirkan, anda salah satu dari pria yang pernah tidur


dengan Kinanti.”cerca Gadis dengan berani.


Grep! Sebuah tangan kekar mencengkeram


leher Gadis, ia mempertahankan dirinya yang sedang tercekik dengan menggunakan


kedua tangannya. “Saya benar kan...” Semakin Gadis ingin bicara, cekikan di


lehernya semakin kuat.


“Dengar baik-baik. Akulah satu-satunya pria

__ADS_1


yang pernah meniduri Kinanti. Bayi itu, anakku.”ucap Endy sangat pelan di


telinga Gadis. Gadis melihat mata Endy membara penuh kemarahan. Ia menginginkan


kematian Gadis sekarang, tapi Gadis belum menyerah. Sekarang atau tidak sama


sekali. Kesempatan seperti ini tidak bisa dilewatkan begitu saja.


“Ti...tidak... Kinanti tidur... dengan Rio


juga... Bayi itu anak Rio... Ach...”kata Gadis terbata-bata, ia tetap memaksa


bicara meski nafasnya sudah hampir habis.


“Akulah yang tidur dengan Kinanti di kamar


hotel itu. Pria bodoh itu bahkan tidak sadar di samping kami yang bercinta


dengan panas.”kata Endy membongkar siasatnya sendiri.


Dada Gadis bergemuruh kencang mendengar


pengakuan Endy, meskipun tidak ada buktinya, pengakuan Endy sudah cukup


membuktikan Rio masih miliknya seutuhnya. Mata Gadis hampir hilang, menyisakan


bagian putihnya saja. Cekikan Endy sudah hampir pada batasnya saat pintu ruang


observasi Kinanti terbuka. Perawat mendorong bed Kinanti keluar dari sana. Endy


melepaskan tangannya dari leher Gadis yang langsung terbatuk-batuk dengan


keras.


Setiap aliran oksigen yang masuk ke


paru-paru Gadis, mendesak jantungnya berpacu lebih cepat lagi. Samar dilihatnya


Endy sudah berjalan mendekati bed Kinanti, Gadis masih mencoba mengatur aliran


nafasnya saat bed Kinanti dibawa masuk ke ruang ICU.


“Rio...”bisik Gadis tidak kuasa menahan air


matanya lagi. Ia sangat bahagia mengetahui kenyataan bahwa bayi Kaori bukan


anak Rio. Ia ingin memberitahukan hal penting itu pada Mia.


tasnya. Ia mencari kontak Mia di ponselnya, tapi sebelum ia sempat menekan


tombol hijau, seseorang merampas ponselnya. Gadis menatap pria jangkung di


hadapannya, “Kau ikut aku.” Gadis tidak bisa menahan tubuhnya yang ditarik


paksa menuju pintu darurat.


Sementara itu di rumah Alex, Mia mulai


cemas memikirkan keberadaan Gadis. Seharusnya sesi terapinya sudah selesai


sejam yang lalu. Tapi dokter kandungannya malah menelpon Mia dan menanyakan apa


Gadis akan datang atau tidak. Dokter menelpon Mia karena ponsel Gadis tidak


bisa dihubungi dan Gadis juga tidak datang ke tempat prakteknya sesuai janji


temu mereka.


“Haduh, Gadis kemana sich? Tumben banget


seperti ini.”Mia berjalan mondar-mandir di kamar Rio. Ia menjaga Rio sejak


kepergian Gadis dan Kinanti.


Mia mengambil ponselnya, ia mencoba


menghubungi Gadis tapi tetap tidak diangkat. Dengan kesal, ia mendudukkan


dirinya di samping Rio. “Istrimu itu kemana ya?”tanya Mia seolah Rio bisa


mendengarnya, merespon kata-katanya.


Nyatanya Rio mendengar kata-kata Mia, ia


juga mulai cemas tapi tidak bisa mengatakan apa-apa ataupun bergerak. Mia


mengirimkan chat ke grup chat untuk membahas Kinanti. Ia minta tolong pada


siapapun yang bisa mengecek keberadaan Gadis.

__ADS_1


Jodi segera memberikan jawaban kalau signal


ponsel Gadis terlacak di sebuah rumah sakit. Mia mengenali rumah sakit itu


tempat Gadis melakukan terapi kesuburan. “Tepatnya di bagian mana, Jodi?”ketik


Mia dengan cepat.


“Di lantai 4, sepertinya di tangga darurat.”


Deg! Mia mulai membayangkan Gadis jatuh di


tangga dan mungkin pingsan. Jadi dia tidak bisa mengangkat telpon dari


siapapun. “Tolong bantu cek kesana! Aku masih di rumah jagain Rio.”


Riri mengatakan kalau Elo sudah mengirim


orang kesana untuk mengecek Gadis. Kebetulan orang yang Elo kirim sedang berada


di dekat rumah sakit itu.


“Kinanti juga terlihat di rumah sakit yang


sama, Mia.”tulis Jodi.


“Apa?! Tapi, Kinanti bilang mau ke mall. Apa


yang terjadi?”tanya Mia gemas. Ia semakin kesal karena tidak bisa meninggalkan


Rio sendirian.


“Sabar, mah. Orang yang dikirim mas Elo


akan segera memberi laporan.”ketik Riri.


“Aku akan coba cek kesana juga, mah.”ketik


Rara.


Mia meremas ponselnya dengan keras, ia


harus bersabar menunggu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gadis. Mia


teringat pada dokter kandungannya, ia menelpon dokter itu dan mengatakan kalau


Gadis ada di tangga darurat di lantai 4.


“Dokter bisa minta tolong di cek kesana?


Saya takut dia mungkin jatuh atau gimana.”


“Saya coba suruh suster cek kesana ya.


Pantas saja tidak bisa dihubungi, ditangga itu memang signalnya agak susah. Mia


jangan cemas ya.”


“Gimana saya gak cemas, dokter. Gadis tidak


pernah pergi selama ini tanpa memberitahu sebelumnya. Dia pasti bilang kalau


terlambat pulang.”


“Iya, sabar ya. Suster, coba cek ke tangga


darurat. Lihat ibu Gadis ada disana atau tidak.”pinta dokter itu yang didengar


Mia dari telepon.


Mia belum mau menutup telponnya, ia masih


menunggu kabar dari seberang sana. Seseorang masuk ke ruangan dokter itu dan


mengatakan kalau dia habis menangani pasien bernama Kinanti.


“Tolong gantikan aku memeriksa pasien


bernama Kinanti di ruang ICU, setengah jam lagi. Ini berkasnya. Aku harus pergi


sekarang. Ada kondisi darurat.”


“Baiklah.”jawab dokter kandungan Mia.


Mia yang mendengarnya, langsung berteriak


lewat telpon memanggil dokter kandungannya itu.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2