
DM2 – Keturunan
Endy berpikir bagaimana kalau papanya tahu
Endy sudah mempunyai seorang putri yang buta? Akankah papanya menyayangi
putrinya? Cucu kandungnya? Tapi Kinanti mungkin tidak akan setuju karena sejak
awal itu rencana mereka. Menggunakan anak itu sebagai jalan memuluskan rencana
Kinanti untuk mendapat Rio.
Gadis melirik Endy yang tenggelam dalam
pikirannya sendiri. Ia menegakkan kepalanya dan entah keberanian darimana,
Gadis mengatakan sesuatu yang membuat Endy kembali menatapnya.
“Dokter memberitahuku sesuatu juga. Kalau
kebutaan juga faktor keturunan.”kata Gadis tetap menatap tajam pada Endy. “Dan
setahuku, semua keturunan papa Alex selalu terlahir sempurna. Bahkan sangat
jenius. Ini sangat aneh, kan?”tanya Gadis seolah pada dirinya sendiri.
Endy mengepalkan tangannya, Gadis melihat
perubahan sikap Endy. Ia masih berusaha memancing Endy untuk mengatakan yang
sebenarnya.
“Atau mungkin bayi itu bukan anak kandung
Rio? Oh, astaga. Apa Kinanti bermain-main dengan banyak pria sembarangan.”sulut
Gadis sambil berpura-pura masih bicara pada dirinya sendiri. “Sangat murahan!”desis
Gadis.
Endy yang masih menahan dirinya, tersulut
dengan cepat saat Gadis sengaja menghina Kinanti, meragukan akhlak wanita yang
ia cintai.
“Apa katamu?!”kata Endy menatap tajam
Gadis.
“Saya tidak bicara dengan anda, tuan. Saya
hanya memikirkan kemungkinan kalau bayi yang dikandung Kinanti bukan dari suami
saya, tapi dari pria lain. Entah pria yang mana. Seharusnya itu tidak
mengganggu anda kan? Memangnya anda siapa?”tanya Gadis sarkas.
Gadis mengambil resiko dirinya akan celaka
kalau memancing kemarahan Endy. Tapi ini di rumah sakit, banyak orang di
sekitar mereka. Setidaknya mereka hanya bisa saling membentak kalau sampai Endy
mulai marah.
“Kau tidak pantas bicara seperti itu,
wanita mandul.”desis Endy kejam.
Deg! Gadis menelan salivanya mendengar
kata-kata Endy. “Anda tidak berhak mengatakan saya seperti itu. Kita baru
sebatas mengenal nama. Darimana anda bisa mengatakan saya wanita mandul. Atau
memang benar yang saya pikirkan, anda salah satu dari pria yang pernah tidur
dengan Kinanti.”cerca Gadis dengan berani.
Grep! Sebuah tangan kekar mencengkeram
leher Gadis, ia mempertahankan dirinya yang sedang tercekik dengan menggunakan
kedua tangannya. “Saya benar kan...” Semakin Gadis ingin bicara, cekikan di
lehernya semakin kuat.
“Dengar baik-baik. Akulah satu-satunya pria
__ADS_1
yang pernah meniduri Kinanti. Bayi itu, anakku.”ucap Endy sangat pelan di
telinga Gadis. Gadis melihat mata Endy membara penuh kemarahan. Ia menginginkan
kematian Gadis sekarang, tapi Gadis belum menyerah. Sekarang atau tidak sama
sekali. Kesempatan seperti ini tidak bisa dilewatkan begitu saja.
“Ti...tidak... Kinanti tidur... dengan Rio
juga... Bayi itu anak Rio... Ach...”kata Gadis terbata-bata, ia tetap memaksa
bicara meski nafasnya sudah hampir habis.
“Akulah yang tidur dengan Kinanti di kamar
hotel itu. Pria bodoh itu bahkan tidak sadar di samping kami yang bercinta
dengan panas.”kata Endy membongkar siasatnya sendiri.
Dada Gadis bergemuruh kencang mendengar
pengakuan Endy, meskipun tidak ada buktinya, pengakuan Endy sudah cukup
membuktikan Rio masih miliknya seutuhnya. Mata Gadis hampir hilang, menyisakan
bagian putihnya saja. Cekikan Endy sudah hampir pada batasnya saat pintu ruang
observasi Kinanti terbuka. Perawat mendorong bed Kinanti keluar dari sana. Endy
melepaskan tangannya dari leher Gadis yang langsung terbatuk-batuk dengan
keras.
Setiap aliran oksigen yang masuk ke
paru-paru Gadis, mendesak jantungnya berpacu lebih cepat lagi. Samar dilihatnya
Endy sudah berjalan mendekati bed Kinanti, Gadis masih mencoba mengatur aliran
nafasnya saat bed Kinanti dibawa masuk ke ruang ICU.
“Rio...”bisik Gadis tidak kuasa menahan air
matanya lagi. Ia sangat bahagia mengetahui kenyataan bahwa bayi Kaori bukan
anak Rio. Ia ingin memberitahukan hal penting itu pada Mia.
tasnya. Ia mencari kontak Mia di ponselnya, tapi sebelum ia sempat menekan
tombol hijau, seseorang merampas ponselnya. Gadis menatap pria jangkung di
hadapannya, “Kau ikut aku.” Gadis tidak bisa menahan tubuhnya yang ditarik
paksa menuju pintu darurat.
Sementara itu di rumah Alex, Mia mulai
cemas memikirkan keberadaan Gadis. Seharusnya sesi terapinya sudah selesai
sejam yang lalu. Tapi dokter kandungannya malah menelpon Mia dan menanyakan apa
Gadis akan datang atau tidak. Dokter menelpon Mia karena ponsel Gadis tidak
bisa dihubungi dan Gadis juga tidak datang ke tempat prakteknya sesuai janji
temu mereka.
“Haduh, Gadis kemana sich? Tumben banget
seperti ini.”Mia berjalan mondar-mandir di kamar Rio. Ia menjaga Rio sejak
kepergian Gadis dan Kinanti.
Mia mengambil ponselnya, ia mencoba
menghubungi Gadis tapi tetap tidak diangkat. Dengan kesal, ia mendudukkan
dirinya di samping Rio. “Istrimu itu kemana ya?”tanya Mia seolah Rio bisa
mendengarnya, merespon kata-katanya.
Nyatanya Rio mendengar kata-kata Mia, ia
juga mulai cemas tapi tidak bisa mengatakan apa-apa ataupun bergerak. Mia
mengirimkan chat ke grup chat untuk membahas Kinanti. Ia minta tolong pada
siapapun yang bisa mengecek keberadaan Gadis.
__ADS_1
Jodi segera memberikan jawaban kalau signal
ponsel Gadis terlacak di sebuah rumah sakit. Mia mengenali rumah sakit itu
tempat Gadis melakukan terapi kesuburan. “Tepatnya di bagian mana, Jodi?”ketik
Mia dengan cepat.
“Di lantai 4, sepertinya di tangga darurat.”
Deg! Mia mulai membayangkan Gadis jatuh di
tangga dan mungkin pingsan. Jadi dia tidak bisa mengangkat telpon dari
siapapun. “Tolong bantu cek kesana! Aku masih di rumah jagain Rio.”
Riri mengatakan kalau Elo sudah mengirim
orang kesana untuk mengecek Gadis. Kebetulan orang yang Elo kirim sedang berada
di dekat rumah sakit itu.
“Kinanti juga terlihat di rumah sakit yang
sama, Mia.”tulis Jodi.
“Apa?! Tapi, Kinanti bilang mau ke mall. Apa
yang terjadi?”tanya Mia gemas. Ia semakin kesal karena tidak bisa meninggalkan
Rio sendirian.
“Sabar, mah. Orang yang dikirim mas Elo
akan segera memberi laporan.”ketik Riri.
“Aku akan coba cek kesana juga, mah.”ketik
Rara.
Mia meremas ponselnya dengan keras, ia
harus bersabar menunggu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gadis. Mia
teringat pada dokter kandungannya, ia menelpon dokter itu dan mengatakan kalau
Gadis ada di tangga darurat di lantai 4.
“Dokter bisa minta tolong di cek kesana?
Saya takut dia mungkin jatuh atau gimana.”
“Saya coba suruh suster cek kesana ya.
Pantas saja tidak bisa dihubungi, ditangga itu memang signalnya agak susah. Mia
jangan cemas ya.”
“Gimana saya gak cemas, dokter. Gadis tidak
pernah pergi selama ini tanpa memberitahu sebelumnya. Dia pasti bilang kalau
terlambat pulang.”
“Iya, sabar ya. Suster, coba cek ke tangga
darurat. Lihat ibu Gadis ada disana atau tidak.”pinta dokter itu yang didengar
Mia dari telepon.
Mia belum mau menutup telponnya, ia masih
menunggu kabar dari seberang sana. Seseorang masuk ke ruangan dokter itu dan
mengatakan kalau dia habis menangani pasien bernama Kinanti.
“Tolong gantikan aku memeriksa pasien
bernama Kinanti di ruang ICU, setengah jam lagi. Ini berkasnya. Aku harus pergi
sekarang. Ada kondisi darurat.”
“Baiklah.”jawab dokter kandungan Mia.
Mia yang mendengarnya, langsung berteriak
lewat telpon memanggil dokter kandungannya itu.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.