
Jodi mengantar Arnold pulang setelah ia merasa lebih baik. Arnold masih belum bisa mempercayai Jodi, ia akan menyelidiki semuanya sampai jelas. Tapi untuk menjaga keselamatan Rara, sebaiknya Arnold bekerja sama dengannya untuk saat ini.
Tiba di rumah Alex, Arnold turun dari mobil. Jodi menemaninya berjalan sampai ke depan gerbang.
Jodi : "Kau bisa masuk sendiri?"
Arnold : "Ya. Kondisiku sudah lebih baik."
Jodi : "Kalau gitu, aku balik ya. Hubungi aku kalau ada apa-apa."
Arnold : "Memangnya apa yang akan terjadi?"
Jodi : "Kau tahu apa yang kumaksud."
Jodi berbalik hendak berjalan ke mobilnya, tapi kata-kata Arnold berikutnya membuatnya berbalik lagi.
Arnold : "Bro, apa kau masih ingat salam kita dulu?"
Jodi : "Tentu saja."
Arnold dan Jodi adalah teman sekolah. Meskipun beda kelas, mereka bisa akrab karena balap mobil. Bahkan Arnold pernah menyelamatkan Jodi saat ia terlibat masalah dengan geng motor.
Arnold sangat mengenal Jodi, sifat dan wataknya. Karena itu ia tahu kalau Jodi mencintai Rara. Mereka melakukan salam yang dulu sering mereka lakukan dan berakhir dengan sebuah pelukan.
Saat itu Alex dan Mia yang baru kembali dari kantor, melihat mereka tertawa bersama sambil berpelukan. Alex hampir menghampiri Jodi dan ingin memukulnya kalau saja Mia tidak menahannya.
Mia : "Sabar, mas."
Alex : "Laki-laki ******** itu ngapain disini?! Sama Arnold lagi."
Mereka turun dari mobil dan mendekati keduanya. Jodi yang terkejut melihat kedatangan Alex dan Mia, mundur selangkah dari Arnold.
Arnold : "Papa, mama sudah pulang?"
Arnold melihat Alex mengepalkan tangannya dan Mia yang berusaha menahan Alex. Jodi menunduk, tidak berani menatap keduanya.
Alex : "Ngapain kamu kesini?!"
Jodi : "...Saya permisi, om."
Arnold : "Dia nolong Arnold, pah. Tadi sakit pinggang Arnold kumat waktu mau pulang. Kebetulan ketemu Jodi, dia yang bantuin Arnold."
Alex : "Dia?"
Arnold : "Jodi teman sekolah Arnold, pah. Kami sama-sama suka balap mobil dulu. Tapi setelah kecelakaan itu, kami lost contact. Emangnya kamu kemana?"
Jodi : "Aku ke luar negeri waktu itu. Papaku mendadak sakit dan aku harus menggantikannya."
Jodi menatap Mia sebentar dan kembali menunduk. Ia melangkah mundur saat Mia berjalan mendekatinya.
Alex : "Sayang, hati-hati."
Jodi melihat perut buncit Mia, ia berhenti melangkah mundur dan berdiri tegak menghadap Mia.
Mia : "Terima kasih atas bantuanmu."
Jodi : "Tidak. Maksud saya, maaf atas perbuatan saya dulu. Saya sangat jahat pada anda dan Rara."
Mia : "Formal sekali. Kita seumuran, bicara biasa saja. Bagaimana kalau kita masuk?"
Jodi : "Saya harus pergi..."
Mia : "Bukannya kau harus minta maaf pada Rara secara langsung?"
__ADS_1
Jodi : "Ach, iya benar. Tapi kalau Rara tidak mau ketemu, saya akan segera pergi."
Jodi terlihat gugup, ia menggenggam tangannya dengan erat. Cepat atau lambat ia harus bertemu semua orang yang pernah ia sakiti.
Mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah Alex. Jodi dan Arnold duduk di ruang tamu. Sementara Alex menuntun Mia masuk.
Alex : "Sayang, kamu tunggu di ruang keluarga aja ya. Jangan terlalu stress. Biar aku yang panggil Rara."
Mia : "Kasi Jodi kesempatan, mas. Aku lihat sepertinya dia sudah menyadari kesalahannya."
Alex : "Kita gak tau, sayang. Aku cuma waspada. Kalau memang dia sudah berubah, itu bagus. Tapi kalau ini bagian dari rencana balas dendamnya, aku tidak akan biarkan."
Mia : "Ya sudah sana. Temenin Rara ya. Jangan emosi."
Alex mengetuk pintu kamar Rara dan Rara membukanya.
Rara : "Papa? Kenapa pah?"
Alex : "Ikut papa ya. Ada yang mau ketemu kamu."
Rara : "Siapa?"
Alex : "Jodi."
Rara : "Jodi?! Ngapain dia kesini?"
Alex : "Katanya mau minta maaf. Dia sama Arnold di depan. Kamu tahu kalau Jodi teman sekolah Arnold?"
Rara : "Iya, pah. Mas Arnold pernah cerita."
Alex : "Kamu mau ketemu dia atau nggak?"
Rara memikirkan sesuatu, setiap masalah harus dihadapi atau tidak akan selesai. Arnold mengajarkannya seperti itu.
Alex dan Rara berjalan melewati Mia yang sudah duduk dengan nyaman di ruang keluarga. Mia tersenyum pada keduanya sambil mengelus-elus perutnya.
✨✨✨✨✨
Sementara menunggu Alex memanggil Rara, Arnold mencoba bicara dengan Jodi.
Arnold : "Jangan tegang."
Jodi : "Apa terlihat jelas?"
Arnold : "Ya, seperti saat kepala geng motor hampir menghancurkan kepalamu."
Jodi : "Kau masih ingat?"
Arnold : "Aku ingat dirimu yang dulu tidak seperti sekarang ini. Apa yang terjadi?"
Jodi : "Bilang saja aku terseret pergaulan yang tidak benar. Kau tahu, uang bisa merubah segalanya bahkan caraku menyelesaikan masalah. Sekali waktu aku berhasil menyelesaikan masalah dengan uang dan setan mulai menyeretku kedalam lingkaran itu."
Arnold : "Kenapa kamu tidak mencariku?"
Jodi : "Aku juga tidak tahu. Teman-teman baruku terlalu menyibukkan aku. Aku juga tidak tahu kau kecelakaan..."
Arnold menatap ke belakang Jodi, ia tersenyum melihat kedatangan Rara. Jodi menarik nafas yang entah kenapa udara terasa sangat tipis.
Jodi memberanikan diri menoleh menatap Rara. Rara mundur selangkah menabrak papanya ketika melihat Jodi yang sudah berdiri.
Jodi terlihat sedih dengan reaksi Rara, ia menunduk dengan canggung.
Jodi : "Aku sebaiknya pergi. Maafkan aku, Ra." Jodi hampir keluar dari rumah Alex,
__ADS_1
Rara : "Kau belum minta maaf dengan benar."
Jodi berbalik lagi dan berlutut, menjatuhkan dirinya di hadapan semua orang di ruang tamu rumah itu.
Jodi : "Aku minta maaf, Ra. Untuk semua yang aku lakukan. Maafkan aku."
Arnold membantu Jodi berdiri,
Rara : "Aku sudah memaafkan kakak. Kakak bisa pergi."
Jodi : "Terima kasih, Ra. Aku pamit."
Jodi meninggalkan rumah Alex, ia sempat menoleh menatap Rara yang masih berdiri di ruang keluarganya.
Ia terlihat lebih cantik dan dewasa. Setahun lebih ia tidak melihat wanita yang ia cintai itu. Ya, Jodi mencintai Rara sejak pertama bertemu gadis itu.
Tapi saat cintanya tidak berbalas, sakit hatinya berubah menjadi obsesi yang menyakiti Rara. Sekarang Rara sudah memaafkannya, hidupnya bisa lebih tenang.
Sepeninggalan Jodi, Rara memeluk Arnold yang duduk di ruang keluarga.
Rara : "Mas, kok bisa sama dia?"
Arnold : "Tadi aku selesai meeting, kambuh sakitnta. Pas banget ketemu dia, trus dia bawa aku ke rumah sakit." Arnold terpaksa berbohong agar Rara tidak cemas.
Rara : "Kok mas gak hubungi aku?"
Arnold : "Aku gak mau kamu cemas. Uda ada dokter juga tadi. Sekarang aku baik-baik saja."
Alex : "Kapan kamu mulai terapi?"
Arnold : "Besok, pah. Ada dokter Kevin juga. Kamu mau ikut, Ra?"
Rara : "Iya, mas. Aku pasti nemenin kamu terus."
Arnold : "Ra, mulai sekarang bantuin aku di kantor ya. Kamu belajar bisnis juga. Berdua kan bisa lebih ringan kerjaanku."
Rara : "Boleh, mas? Kan mas yang gak ngasi dulu. Kata mas biar gak kecapean."
Arnold : "Ya, mas minta sekarang kamu bantu mas. Semuanya sampai meeting dengan client juga."
Alex : "Bagus kalau kalian kompak urus perusahaan. Rara masih muda dan perlu bimbingan kamu, jadi Arnold harus sabar ya. Rara juga belajar yang serius."
Rara : "Iya, pah."
Ketiganya terdiam mendengar sesuatu yang terdengar familiar. Mereka kompak menoleh kearah Mia yang sudah tertidur pulas dengan tubuh bersandar pada sofa besar.
Alex : "Astaga! Dia belum mandi dan makan, gimana nich?"
Rara : "Kasi mama tidur bentar, pah. Kasian kecapean."
Alex membetulkan posisi tidur Mia dan menyelimuti kakinya sampai ke perut. Ia duduk di samping istrinya, menunggu Mia terbangun.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1